
Keesokan harinya , Gema bangun lebih awal karena ingin menyiapkan sarapan untuk ibunya. Sebelumya ia melihat keadaan ibunya di kamar dan memastikan ibunya sudah lebih baik dari kemarin. Sebenarnya ibunya disarankan untuk opname, tapi ibunya menolak dan ingin rawat jalan saja. Ibunya tidak mau merepotkan Gema nantinya, jika ibunya harus opname maka Gema tidak akan bisa pergi bekerja. Awalnya Gema memaksa agar ibunya dirawat di rumah sakit, tapi ibunya terus menolak karena trauma dengan kejadian dulu saat ayahnya masuk rumah sakit hingga akhirnya meninggal. Gema pun tak bisa berkata-kata lagi jika sudah menyangkut tentang ayahnya. Meskipun ia tak pernah bertemu dengan sang ayah, tapi ia tetap menyayangi ayahnya dan selalu mendoakannya.
*Flashback on
Dulu saat ibunya hamil besar, ayah Gema yang bekerja di pabrik benang di daerah Sleman dikirim ke luar kota untuk mengirim contoh benang yang akan digunakan oleh sebuah pabrik tekstil. Pada saat perjalanan kembali ke Jogja tiba-tiba mobil yang dikendarai ayah Gema mengalami kecelakaan. Mobil yang dikendarai ayahnya bersama pemilik pabrik itu ditabrak oleh truk yang yang tiba-tiba menerobos lampu merah. Orang-orang yang tengah melintas jalan itu segera menolong, ada yang menelepon kantor polisi dan ada pula yang menelpon ambulans di rumah sakit terdekat. Setelah mobil polisi dan ambulans datang para korban segera dilarikan ke rumah sakit, termasuk ayah Gema, pemilik pabrik dan sopir truk tersebut.
Ketika kejadian, ibu Gema dihubungi oleh seorang polisi dan mengabarkan bahwa suaminya mengalami kecelakaan di daerah perbatasan Jogja. Karena ibu Gema sudah tidak memiliki kerabat, maka ia berangkat sendiri menuju rumah sakit dengan perasaan tak karuan, sedih takut dan gemetar jadi satu. Tapi ibunya harus kuat, ia tidak ingin terjadi sesuatu pada suaminya karena mereka akan segera memiliki anak. Dengan menaiki bus, ibunya tiba di rumah sakit, ia melihat beberapa polisi dan para saksi kecelakaan. Ibunya dengan sedikit gemetar menanyakan pada salah satu polisi dimana suaminya berada.
“Maaf Pak Polisi, saya Nani, istri mas Arya yang katanya mengalami kecelakaan di perbatasan Jogja?” ucap ibu Gema kepada salah satu polisi di depan IGD.
“Oh iya, Bu Nani, saya tadi yang menghubungi ibu karena suaminya Anda mengalami kecelakaan. Mari saya antar ke depan ruang gawat darurat. Dokter masih memeriksanya di dalam” kata polisi itu seraya mengantarkan ke depan IGD. Tak berapa lama dokter keluar dari ruang gawat darurat itu dan berbicara pada polisi disana. Dokter itu memberitahukan bahwa sopir truk dan pemilik pabrik tidak bisa diselamatkan, sedangkann ayah Gema dalam kondisi kritis dan sudah dipindahkan ke ruang ICU. Ibunya yang mendengar penuturan dokter itupun merasa lega meskipun ada sedikit rasa khawatir di hatinya. Setidaknya ayah Gema masih bisa diselamatkan, ia tak henti-hentinya berdoa agar ayah Gema segera melalui masa kritisnya. Ia berpamitan kepada polisi yang telah menghubunginya dan menuju ke ruang ICU dimana suaminya kini sedang dirawat.
__ADS_1
Ibu Gema tidak diperbolehkan masuk dan hanya bisa menunggu dari luar ruangan. Ia duduk di sebuah kursi dan tak henti melafalkan do’a untuk suaminya. Ia berharap suaminya segera sadar dan bisa menemaninya saat melahirkan nanti.
“Yaa Allah, hamba mohon selamatkan suami hamba, semoga ia segera melalui masa kritisnya. Berikan hamba kekuatan untuk menerima ujian ini” ucap ibu Gema seraya mengusap air mata yang tak bisa ia bendung setelah melihat kondisi suaminya yang penuh dengan perban dan selang di dalam ruangan itu. Ia berusaha tegar karena juga akan berpengaruh pada janin di dalam kandungannya.
Setelah satu minggu mengalami koma, ayah Gema telah melewati masa kritisnya. Ia telah sadar dari komanya dan sudah dipindahkan ke ruang rawat inap biasa. Ibunya tak henti mengucap syukur dan setia mendampingi suaminya yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu. Menurut perkiraan dokter, dalam dua minggu lagi anak mereka akan lahir ke dunia. Setelah menyuapi suaminya makan pagi itu, ibu Gema dengan telaten membersihkan badan suaminya yang telah seminggu tidak kena air. Ia mengganti baju suaminya dan menyisir rambut suaminya yang mulai panjang. Ia begitu lega akhirnya suaminya telah sadar dari koma.
“Alhamdulillah mas, akhirnya kamu sudah sadar dari koma. Semoga cepat pulih ya, biar kamu bisa menemani aku lahiran nanti” kata Ibu Gema yang tak pernah hilang senyum dari bibirnya.
“Sudah kewajibanku untuk mendampingimu mas, karena sebentar lagi kamu akan menjadi ayah. Jadi kamu harus lekas sehat. Supaya kamu bisa mengadzankan dia setelah lahir nanti”
“Aamiin. Oh iya bagaimana keadaan Pak Burhan?” tanya ayah Gema penasaran.
__ADS_1
“Maaf aku tidak memberitahu sebelumnya sama kamu mas. Pak Burhan tidak dapat diselamatkan setelah mendapat penanganan dari dokter. Dia langsung dimakamkan besoknya” jelas ibu Gema yang membuat suaminya bersedih.
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Bagaimana dengan keluarga yang ditinggalkannya sekarang? Seandainya kami tidak ke luar kota saat itu mungkin tidak akan terjadi seperti ini” ayah Gema menyesal dan seketika menitikkan air mata mengenang bosnya yang baik hati itu.
“Sudahlah mas, semua sudah menjadi takdir dari Allah. Keluarganya sudah ikhlas bahkan sudah menjengukmu saat koma. Mereka akan membiayai pengobatan kamu hingga sembuh nanti” kata ibu Gema seraya mengusap punggung tangan suaminya yang masih terbelit selang infus itu. Ayah dan ibu Gema tak pernah putus untuk bersyukur atas segala keajaiban yang Allah berikan pada mereka. Hingga dua hari kemudian ayah Gema telah diperbolehkan pulang, tetapi saat selang oksigennya dilepas tiba-tiba ia mengalami sesak nafas hebat. Ia dipindahkan ke ruang rawat intensif kembali karena mengalami penyempitan pembuluh darah jantung yang menuju paru-paru, hingga mengakibatkan ia sesak nafas. Selang beberapa jam kemudian ayah Gema semakin kritis hingga akhirnya meninggal dunia. Ibunya yang kala itu sedang menunggu di luar ruangan merasa terkejut karena tadi pagi keadaan suaminya sudah membaik hingga diperbolehkan pulang oleh dokter. Setelah mendengar penuturan dokter bahwa suaminya telah tiada, Ibu Gema tiba-tiba tak sadarkan diri.
Beberapa jam kemudian ayah Gema telah disemayamkan di rumah duka dan ibunya yang masih pingsan dibawa oleh ambulans. Setelah sadar, ibunya tak henti menangis, seakan tak percaya dengan apa yang telah terjadi di hadapannya. Ketika ia begitu bahagia dengan kesembuhan suaminya, tiba-tiba kebahagiaan itu sirna dalam sekejap tanpa firasat apapun dan berganti dengan duka yang mendalam. Bagaimana ia akan membesarkan anaknya nanti tanpa seorang suami?
*Flashback off
Sepeninggal suaminya, ibunya menjadi orang tua tunggal bagi Gema. Beruntungnya Gema tumbuh menjadi anak yang mandiri dan rajin membantu ibunya. Meskipun ia anak laki-laki ia juga tidak kalah cekatan saat di dapur. Sejam berkutat di dapur ia sudah menyiapkan hidangan di atas meja makan di rumah sederhana mereka. Gema segera memanggil ibunya untuk sarapan, ia membantu ibunya untuk berdiri dan berjalan menuju meja makan. Gema bersyukur ibunya mulai pulih dan sedikit lebih segar. Ia menikmati makan pagi itu bersama ibunya dan ingin seharian menemani ibunya karena kebetulan hari ini ia sedang libur kerja.
__ADS_1