
Di taman yang sedang tak ramai pengunjung itu, Alana dan Gema tengah menikmati es degan yang terasa segar meskipun hanya sekedar melepas dahaga mereka karena cuaca sore yang masih sangat panas itu. Mereka terlihat masih malu-malu satu sama lain, maklumlah baru jadian. Gema menatap mata coklat Alana sambil tersenyum.
“Alana, aku boleh tanya sesuatu sama kamu?” Gema memulai pembicaraan di antara mereka.
“Boleh, kamu mau tanya apa?” Alana menjawabnya seraya menikmati es degannya.
“Sebenarnya aku pengen tau, kenapa kamu menerima aku waktu itu?” Gema terdengar serius hingga Alana terdiam sejenak.
“Iya, aku menerima kamu waktu itu karena memang perasaan aku sama dengan perasaan kamu Gema. Kamu orang yang baik, dan harapan aku kamu bisa setia sampai kapanpun. Aku pernah merasakan sakit hati sebelum ini, dan aku tidak ingin itu terulang kembali.” Alana menjawab dengan jelas, tapi Gema masih penasaran dengan hal lainnya yang selama ini ingin ia tanyakan.
“Aku tau itu, Kak Alka sudah cerita semua sama aku. Tapi apa kamu yakin dengan aku? Aku hanya laki-laki biasa, aku bukan orang kaya dan pekerjaanku juga bukan manajer atau yang lainnya,” Gema merasa ragu dengan dirinya sendiri.
“Gema, aku memang anak orang berada, tapi itu semua milik Papa aku, aku juga tidak punya apa-apa, aku juga masih bekerja hingga sekarang. Aku tidak pernah memandang laki-laki dari kekayaan, aku melihat ketulusan hati kamu, meskipun kamu bukan laki-laki kaya, aku yakin kita bisa sama-sama mulai dari nol hingga kita bisa menjadi orang sukses nanti.”
“Terima kasih kamu sudah meyakinkan aku Alana, aku hanya ragu aja dengan diriku sendiri. Aku merasa tidak pantas berada di samping kamu.”
Alana meraih tangan Gema, dan mencoba menyakinkan Gema sekali lagi. Ia paham betul apa yang dirasakan Gema saat ini.
“Dengerin aku sekali lagi, aku nggak butuh harta ataupun tahta, yang penting tidak akan ada wanita lain di hati kamu selain aku,” ucap Alana seraya menatap tajam mata Gema.
“Tapi Alana, sampai saat ini, di hati aku ada wanita lain selain kamu, yaitu....”
“Kamu serius, jadi aku yang kedua dong?” Alana melepas genggaman tangannya sambil mengerucutkan bibirnya tak percaya perkataan Gema barusan.
“Alana jangan marah dulu dong, kamu memang yang kedua, karena yang pertama ada di hati aku adalah ibu aku.” Alana kemudian tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
“Aku kira siapa? Awas aja kalo sampai ada wanita lain selain aku dan ibu kamu.” Alana merona malu karena mengira Gema tengah berhubungan dengan wanita lain selain dirinya.
“Iya enggaklah, kamu adalah satu-satunya gadis yang pertama mengisi hati aku. Aku janji tidak akan ada gadis lain di hati ini selain kamu,” ucap Gema seraya mengarahkan tangan Alana pada dadanya menandakan keseriusan pada ucapannya. “Terima kasih Alana.”
“Iya, eh kamu udah bilang Ibu kamu tentang hubungan kita?” tanya Alana yang takut jika ibunya tidak menyetujui hubungan mereka.
“Semalam aku udah cerita sama Ibu, dan aku melihat kebahagiaan di mata Ibu. Mungkin Pak Asep benar, orang tua akan bahagia ketika melihat anak mereka telah menemukan pendamping hidupnya. Selama ini aku bodoh dan egois, karena memang wanita tidak membutuhkan harta, meskipun aku bekerja mati-matian, tapi bukan penghasilanku yang bisa membahagiakannya. Mereka akan bahagia setelah kita menemukan kebahagiaan mereka. Kamu tahu Alana, setelah pertemuan kita di taman itu, Ibuku berkali-kali membicarakan kamu, berharap kamu jadi menantunya. Eh kesampaian juga sekarang.”
“Benarkah yang kamu bilang, aku jadi malu deh,” ucap Alana dengan menutupi wajahnya dengan tangan. Gema menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
“Benar Alana, Ibu terlihat sangat bahagia dari sebelumnya. O iya, besok aku ajak kamu ke rumah ya ketemu sama Ibu, gimana?”
“Boleh, kamu jemput aku lagi ke kantor?” Alana mengiyakan ajakan Gema, meski awalnya ia khawatir dan malu bertemu dengan Ibu Gema.
“Ngapain bawa mobil, aku lebih suka naik vespa kesayangan kamu itu,” ucapnya sambil menunjuk vespa Gema yang terparkir di samping gerobak es degan di taman itu.
“Baiklah, besok aku jemput pakai vespaku. Habis ini kita mau kemana?”
Hari sudah petang, Gema masih ingin mengajak Alana jalan-jalan mumpung malam hari masih panjang. Alana yang telah lama tinggal di luar negeri tiba-tiba ingin sekali pergi ke pasar malam yang ada di dekat taman kota.
“Aku udah lama nggak pergi ke pasar malam dekat taman kota, ” gumam Alana pelan.
“Kita pergi kesana sekarang, lagian udah buka juga jam segini. Yuk.”
Alana dengan girangnya langsung berdiri dari tempat duduknya. Gema hanya geleng-geleng kepala. Gema membayar es degan yang mereka minum. Lalu mengambilkan helm Alana yang telah ia siapkan sebelum berangkat kerja tadi pagi. Mereka berkeliling kota naik motor vespa kesayangan Gema itu. Alana terlihat bahagia sekali, ia sudah tak canggung lagi saat bersama Gema. Mereka sesekali masih saling bercerita, tentang masa kecil Alana yang sangat suka sekali diajak ke taman kota oleh ayah dan ibunya. Gema tertawa sesekali mendengar cerita-cerita lucu dari Alana. Tak lama kemudian, mereka berdua telah sampai di tempat parkir pasar malam.
__ADS_1
Mereka kemudian berkeliling area pasar malam, Alana teringat beberapa wahana yang sering ia naiki dulu. Gema pun menuruti semua kemauan Alana yang seperti kembali ke masa kecilnya. Ia begitu bahagia melihat senyum Alana yang tak pernah pudar sejak bersamanya. Ketika naik biang lala, mereka berdua harus menunggu antrian terlebih dahulu karena pengunjung pasar malam saat itu ramai sekali. Tak lama mereka mendapat giliran, Alana masuk terlebih dulu seketika duduk di bangku yang terbuat dari besi itu. Lalu Gema duduk di depannya, dan wahana legenda itu berputar pelan.
Gema mengeluarkan ponselnya, ia memotret wajah Alana yang tengah menatap keluar. Alana tak menyadari Gema tengah mengambil gambar dirinya. Gema memasukkan ponselnya kembali saat Alana menoleh padanya. Alana tersenyum, ia sangat bahagia hari ini, ia tak menyangka ia akan menikmati hari-harinya bersama Gema.
“Gema, ini bisa dibilang kencan pertama kita ya, kayak di film-film jaman dulu. Hahaha.” Alana berucap sambil tertawa.
“Hahaha, iya juga. Jadul banget ya kita. Tapi nggak apa-apa, yang penting kamu senang. Justru aku lebih suka kalau kamu mau diajak ke tempat-tempat sederhana seperti ini.”
“Aku suka banget kesini daripada harus ke mall. Makasih ya, kamu udah bikin kencan pertama kita sangat berkesan,” kata Alana seraya menyunggingkan senyumnya.
“Makasih juga, kamu udah bikin kencan pertama kita lebih dari kata berkesan.”
Dua jam berkeliling pasar malam dan mampir ke kedai bakso karena lapar. Mereka akhirnya pulang, Gema mengantarkan Alana ke rumahnya yang memang dekat dengan taman kota itu. Setelah sampai di depan rumah, Alana melepaskan helmnya dan menyerahkan pada Gema.
“Kamu masuk dulu ya, Papa dan Mama udah di rumah kok,” pinta Alana.
“Lain kali aja ya aku mampir, kasihan Ibu di rumah sendiri. Aku titip salam sama Papa dan Mama kamu.”
“Baiklah, jangan lupa besok jemput aku di kantor ya.”
“Siap Tuan Putri Alana,” ucap Gema seraya mengelus kepala Alana. “ Aku pulang ya? Jangan lupa istirahat.”
“Iya, kamu hati-hati di jalan.” Gema tersenyum, ia menyalakan vespanya dan melambaikan tangan pada kekasihnya itu.
Setelah Gema tak lagi terlihat, Alana masuk ke dalam rumahnya. Ia senyum-senyum sendiri, ternyata kencan pertamanya kali ini sangat indah meskipun sederhana.
__ADS_1