Gema Di Hatiku

Gema Di Hatiku
Tak Bisa Dihubungi


__ADS_3

Setelah Alana pulang, Ibu Gema segera mengunci pintu dan membereskan barang belanjaan yang dibawa Alana tadi. Ia begitu senang dengan perhatian Alana, sudah cantik baik pula. Tak lama kemudian, dering ponselnya berbunyi dari dalam kamar. Ibu Gema segera mengambil ponselnya di atas nakas sebelah ranjangnya. Ia tersenyum melihat anak semata wayangnya tengah menelepon.


“Hallo Nak,” ucap Ibu Gema.


“Hallo Ibu, dari tadi Gema telepon gak diangkat-angkat. Ibu lagi di luar rumah ya?”


Gema memang beberapa kali menelepon ke ponsel ibunya namun tidak ada jawaban sama sekali. Ia juga mencoba menghubungi Mang Dadang, tetangganya namun juga tidak ada jawaban. Ia khawatir terjadi sesuatu pada ibunya, ia tak tahu bahwa ibunya tengah bersama Alana sepanjang sore tadi.


“Maaf Nak, Ibu nggak tau kalau kamu dari tadi telepon. Ibu di rumah kok karena tadi ada tamu,” jelas ibunya yang mendengar nada khawatir dari Gema.


“Gema hanya khawatir, Ibu kan di rumah sendirian. Ada tamu siapa Bu?”


“Tadi sepulang kerja Alana mampir ke rumah, kami makan malam bersama, barusan aja dia pulang.”


“Ya ampun, jadi tamu Ibu itu Alana. Pantes aja aku juga gak bisa hubungi dia. Iya sudah kalau gitu, Ibu istirahat, jangan lupa minum obat ya,” kata Gema yang merasa lega dengan penjelasan ibunya.


“Iya Nak, Ibu mau istirahat. Dan sudah minum obat juga. Kamu hati-hati disana, jangan lupa mampir ke tempat ayah ya?” Ibunya selalu mengingatkan Gema untuk ke makam ayahnya saat anaknya itu pergi ke Jogja.


“Iya Bu, Gema nggak lupa kok. Besok pagi Gema ke tempat ayah.” Gema selalu mengingat amanat ibunya yang satu itu.


“Gema, jangan lupa kabari Alana, mungkin di sudah sampai rumah.”


“Iya Ibuku yang paling cantik. Udah dulu ya Gema tutup teleponnya. Selamat tidur Ibuku.” Gema menutup teleponnya, ia pun segera menelepon Alana namun ponselnya tidak aktif.


“Kenapa ponselnya tidak aktif? Nanti saja lah aku hubungi dia lagi.”


Gema menyimpan ponselnya di tas kecilnya. Ia berjalan masuk menuju hotel tempatnya dan rombongan menginap.

__ADS_1


Sesampainya di dalam kamar, Gema dan tim segera bergantian membersihkan diri kemudian beristirahat. Ia mencoba menghubungi Alana lagi, namun ponselnya masih tidak aktif.


Di dalam kamarnya, Alana yang baru beberapa menit sampai rumah langsung menuju kamar mandi. Ia ingin berendam air hangat untuk meredakan pegal-pegal di tubuhnya. Satu jam kemudian ia baru keluar dari kamar mandi karena ketiduran, mungkin ia memang sangat lelah hari ini. Ia mengambil ponselnya di tas karena ingin mengecek apakah ada email masuk dari beberapa klien karena laptopnya ketinggalan di kantor tadi sore. Ia terkejut saat ponselnya tidak menyala, sedari tadi ia tak menyadarinya karena ia pikir tidak ada telepon masuk jadi ia tak menyentuh ponselnya sama sekali.


“Ya ampun, ponselnya mati. Lupa dicharge dari semalam, pantesan nggak ada telepon masuk,” kata Alana seraya menepuk jidatnya.


Ia segera mencolokkan kabel charge dan meletakkan ponselnya di atas nakas. Butuh beberapa menit agar ponsel itu menyala kembali, ia menunggu seraya membaca novel-novel kesukaannya. Karena masih terlalu lelah Alana sampai ketiduran dalam posisi duduk bersandar di ranjangnya.


Di hotel, Gema masih berusaha menelepon kekasihnya itu. Dan masih seperti tadi, tidak aktif dan akhirnya ia hanya bisa mengirim pesan untuk Alana.


“Alana, apa kamu sudah sampai rumah? Dari tadi sore aku nggak bisa hubungi kamu. Aku khawatir, tapi kata Ibu kamu tadi mampir ke rumah dan makan malam bersama Ibu. Tolong nanti hubungi aku ya..”


Gema


Ia mencoba berpikiran positif, semoga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ia mencoba memejamkan matanya dan perlahan telah terbang ke alam mimpinya.


Alana membuka matanya perlahan, ia menggeliatkan tubuhnya. Ia menyadari bahwa pagi telah tiba dan segera melihat ponselnya yang lupa semalam ia tinggal membaca novel. Novelnya pun terlihat lecek karena ia tindih saat tidur.


“Jadi semalam aku ketiduran saat baca novel ini, uhh jadi lecek deh. Aku lihat ponsel dulu deh, barangkali ada email yang penting.” Alana berbicara sendiri, ia menggerutu karena semalam ia tak terjaga dari tidurnya, bahkan sampai tak memakai selimut.


Setelah menyalakan ponselnya, betapa terkejutnya Alana saat banyak panggilan tak terjawab dari sang kekasih. Dan ada satu pesan masuk dari Gema yang langsung ia baca, lalu ia segera menelelpon Gema.


Tut.. tut..tut..


Nada sambung yang berkali-kali ia dengar dari sambungan teleponnya. Gema disana masih sibuk dengan acara di hotel, dan tak tahu Alana tengah menelelponnya.


“Apa Gema masih tidur ya? Tapi nggak mungkin, biasanya ini sudah jam sarapan di hotel. Mungkin ponselnya tertinggal di kamar. Aku kirim pesan aja deh,” gumam Alana pada dirinya sendiri.

__ADS_1


“Sayang, maaf ya dari kemarin ponselku mati, dan aku ketiduran saat ponselnya aku charge. Aku siap-siap ke kantor dulu ya. Nanti aku telepon lagi setelah kamu membalas pesanku.”


Love,


Alana


Ia meletakkan ponselnya di atas kasur, dan segera menuju kamar mandi. Setengah jam kemudian ia keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian kerjanya. Ia mengenakan celana panjang warna hitam dan kemeja warna biru muda serta blazzer warna hitam. Tak lupa ia memoles sedikit wajahnya dan memakai lipgloss pink favoritnya. Tak lama Alana keluar dari kamarnya menuju meja makan seraya menenteng tasnya.


“Pagi semua,” sapa Alana pada Alka, Pak Alex dan Bu Anne yang terlihat sudah rapi juga.


“Pagi Tuan Putri,” kata Alka seraya memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Pak Alex dan Bu Anne hanya tersenyum, mereka pasti mengira akan terjadi keributan saat kedua anaknya bertemu.


“Eh Tuan Muda, udah ganteng aja,” goda Alana untuk menghindari keributan dengan kakaknya.


“Aku udah ganteng dari lahir. Baru tau ya kalau kakakmu ini ganteng.” Alka berkata dengan sombongnya, hingga membuat Alana cekikikan.


“Udah-udah, kalian makan dulu. Nanti telat lagi ke kantor.”


Mereka semua terdiam dan melanjutkan makan masing-masing. Setelah selesai, Pak Alex bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruang tamu.


“Alana, Papa tunggu di ruang tamu. Ada hal yang ingin Papa bicarakan,” kata Pak Alex dan Alana mengiyakan.


“Ada apa Pa? Kelihatannya serius banget,” ucap Alana seraya mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu itu.


“Enggak ada yang serius kok. Papa gak bisa berangkat bareng kamu pagi ini. Papa masih ada perlu, nanti Papa ke kantor sebelum meeting dengan klien dari Sleman dimulai,” jelas Pak Alex.


“Baik Pa, aku kira ada hal yang serius. Iya sudah Pa, Alana berangkat dulu. Mama Alana berangkat ya?” ucapnya seraya mencium tangan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Ia berjalan keluar diikuti Alka yang juga sudah berpamitan pada orang tua mereka. Mereka melajukan mobilnya masing-masing untuk pergi ke kantor.


__ADS_2