Gema Di Hatiku

Gema Di Hatiku
Tiba di Jogja


__ADS_3

Alana terjaga ketika mendengar kakaknya tengah bercengkrama dengan suara seseorang yang tak asing baginya. Alka terdengar sedang berbincang-bincang dengan Gema. Alana jadi tahu sedikit cerita tentang Gema, karena sejak awal pertemuan mereka yang dibahas hanya pekerjaan. Tak sempat ia menanyakan asal usul Gema, ternyata ia pemuda asli Jogja. Pantas saja ia terlihat kalem dan tak banyak bicara, bahkan sangat sopan kepada siapapun. Gema memang lelaki yang baik, terlebih ia sangat menyayangi ibunya. Kelihatan sekali saat mereka bertemu di taman kota beberapa waktu lalu.


Setelah saling bertukar cerita dengan Gema, Alka berpamitan untuk beristirahat karena semakin malam dan laju bus pun belum mencapai setengah dari perjalanan mereka. Gema juga kembali ke tempat duduknya, ia masih menyempatkan melirik wajah Alana yang terlihat pulas sekali saat tidur.


“Mungkin dia lelah, pulas sekali tidurnya,” gumam Gema pelan tanpa ia ketahui Alana sedang berpura-pura tidur.


“Barusan dia mengatakan kalau aku lelah dan tidurnya pulas sekali,” Alana menyunggingkan senyumnya dan berkata dalam hati. Ia pun mengabulkan perkataan Gema dengan tidur lagi, bahkan sangat pulas dari sebelumnya.


*Tiba di Jogja


Tepat pukul 4 pagi, rombongan gathering Alana Jaya Tekstil telah tiba di Pantai Parangtritis. Rombongan bus lain pun juga sudah memasuki area parkir kawasan Pantai Parangtritis. Gema membangunkan Pak Asep dengan pelan, dan para penumpang pun ada yang sudah terbangun saat menyadari bus telah berhenti. Pak Alex dan Bu Anne pun juga sudah terbangun, begitu juga Alka dan Meta. Lain halnya dengan Alana yang masih enggan meninggalkan mimpi indahnya. Gema lalu menghidupkan microphone untuk mengumumkan bahwa mereka telah sampai di tujuan pertama, yaitu di Pantai Parangtritis.


“Selamat pagi rombongan keluarga besar Alana Jaya Tekstil. Maaf mengganggu tidurnya, saat ini kita sudah sampai di Pantai Parangtritis, tempat pertama yang jadi tujuan kita. Kita transit dulu disini, ada penginapan yang disediakan untuk kita, para rombongan bisa membersihkan diri, bagi yang muslim boleh melaksanakan sholat subuh dulu, dan bagi yang non muslim silakan melanjutkan istirahat atau juga bisa pergi ke pantai untuk menikmati sunrise hingga jam setengah 7 nanti. Kemudian kita berkumpul kembali di restoran dekat pantai untuk sarapan selama satu jam. Setelah sarapan kita lanjutkan perjalanan kembali ke tempat wisata kedua, terima kasih.” Gema mengakhiri pengumumannya.

__ADS_1


Pengumuman Gema itu seketika membangunkan mimpi indah Alana. Ia mengerjap seraya merenggangkan tubuhnya, ia baru menyadari bahwa bus telah berhenti dan sampai di lokasi wisata pertama. Tak lama kemudian, para rombongan sudah banyak yang turun dari bus. Alana terlihat celingukan mencari orang tuanya dan kakaknya. Ia tak menemukan mereka, karena mereka sudah turun dari bus dan menuju tempat penginapan sementara.


“Kemana mereka, kok aku ditinggal sendirian sih disini?” gerutu Alana dan didengar oleh Gema yang tengah mengemasi barang-barangnya yang akan dibawa ke penginapan.


“Kenapa atuh Neng, pagi-pagi buta gini udah ngomel aja?” Gema mengagetkan Alana yang tidak menyadari dirinya masih di dalam bus karena tadi ia tengah membungkuk di kolong dashboard bus.


“Astaga, ternyata masih ada orang disini. Aku kirain udah turun semua,” kata Alana seraya mengelus dadanya yang nafasnya masih terdengar tak beraturan itu.


“Karena kamu adalah salah satu rombongan yang masih belum turun dari bus, makanya aku tungguin dulu. Kamu tidurnya pules banget sih, padahal tadi Pak Alex dan Mas Alka udah bangunin lho,” ucap Gema seraya terkekeh.


“Di sebelah kanan itu udah kelihatan penginapannya,” kata Gema seraya menunjuk ke arah penginapan yang memang dekat dengan area parkir bus itu.


“Oke makasih” Alana berlalu meninggalkan Gema yang tengah senyum-senyum sendiri melihat tingkah lucu Alana pagi itu.

__ADS_1


Alana masuk ke dalam penginapan setelah ia melihat ayahnya ada di depan kamar. Ia berlalu begitu saja melewati sang ayah yang tengah berbicara dengan Pak Asep disana. Ia masih kesal setelah mendengar cerita Gema ketika ayahnya yang sempat membangunkannya tadi tapi ia tak bangun juga. Ia menutup pintu dengan kerasnya hingga membuat Pak Alex dan Pak Asep terkejut.


“Ada apa dengan anak itu?” gumam Pak Alex setelah Pak Asep berpamitan untuk membersihkan diri di kamar sebelah.


Tak lama kemudian Alana keluar karena ia salah kamar, yaitu kamar Alka yang ia masuki. Alana terlihat mengerucutkan bibirnya dan berpapasan lagi dengan ayahnya di luar kamar.


“Kamu kenapa Nak? Dari tadi kok marah-marah sih?” tanya Pak Alex dan Alana menghentikan langkahnya.


“Papa sama Kak Alka tuh sama-sama ngeselin tau. Tadi bangunin Alana, karena Alana gak bangun lalu Alana ditinggal dan sekarang salah masuk ke kamar Kak Alka,” ucap Alana yang masih mencebik kesal.


“Gitu aja marah sih, nanti cantiknya hilang lho,” goda Pak Alex. “ Tuh kamar kamu sama Meta di sebelah sama Mama juga. Kita transit hanya sebentar, jadi kamarnya gak sendiri-sendiri. Lagian ada kamar mandi dalam kok,” ujar Pak Alex. Alana pun masuk ke dalam kamarnya. Ia masuk, menyapa ibunya dan calon kakak iparnya. Lalu ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Satu jam kemudian rombongan terlihat ada yang berjalan-jalan ke pantai untuk menikmati sunrise. Perlahan sang fajar mulai naik dan membiaskan sinarnya menerangi area sepanjang pantai. Suasana pantai seperti itu yang tidak ingin dilewatkan para wisatawan. Ada yang berjalan menyusuri sepanjang pantai, ada pula yang naik andong dan kuda yang disewakan di sekitar area pantai. Terlihat anak-anak kecil dengan riang tengah bermain air dan pasir di pinggiran pantai.

__ADS_1


Sungguh pemandangan menyejukkan di pagi hari itu. Gema yang tengah mengikuti rombongan itu pun segera mengambil kameranya untuk mengabadikan moment-moment indah itu. Para rombongan diarahkan untuk berfoto dengan banner yang bertuliskan “Jogja Fun Holiday Alana Jaya Tekstil” sebagai kenangan dan akan dibuatkan album yang akan diberikan ketika selesai perjalanan nantinya. Album foto itu juga yang menjadi salah satu bonus memakai jasa Bandung Holiday Tour and Travel dalam perjalanan wisata itu. Ide Gema yang diterapkan Pak Asep hingga kini untuk memasarkan produk mereka agar lebih menarik minat wisata masyarakat, dan sasaran utama mereka adalah pabrik-pabrik atau perusahaan besar dengan karyawan banyak. Karena bagi mereka kejenuhan di dalam pabrik atau kantor akan terlepas hanya dengan refreshing, sehingga Pak Asep membuat paket wisata yang terjangkau bagi setiap perusahaan yang ingin mengajak para karyawannya berwisata tanpa mengeluarkan banyak biaya. Keinginan Pak Asep hanya mewujudkan keinginan para pegawai yang terlalu jenuh dengan kegiatan mereka di dalam pabrik.


__ADS_2