Gema Di Hatiku

Gema Di Hatiku
Cantik


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Gema, ibunya dan Lita telah sampai di tempat parkir taman kota. Mereka turun dari mobil dan tak lupa membawa bungkusan kue yang tadi dibeli. Gema berjalan mendahului ibunya dan Lita untuk mencari tempat yang nyaman untuk mereka bertiga. Tak lama, ia melihat ada bangku kosong yang menghadap ke seluruh taman kota. Ia memanggil ibunya dan Lita, dan mereka bertiga duduk santai menikmati angin sore disana sambil sesekali bergurau dan tertawa bersama. Sunggu terlihat seperti keluarga yang hangat dan harmonis.


Di tempat lain, Alana tengah siap dengan baju olahraganya dan berniat pergi bersepeda keliling komplek perumahannya. Karena tadi ia bangun siang jadi ia tak sempat berolahraga. Alana berpamitan pada orang tuanya yang tengah bersantai di ruang tengah.


“Ma, Pa, Alana pergi bersepeda dulu ya” pamit Alana seraya mencium tangan ayah dan ibunya.


“Iya, Nak. Hati-hati di jalan” jawab ayah dan ibunya sambil menikmati teh hangat yang dibuatkan pelayan mereka tadi.


“Iya Ma, Pa. Alana berangkat. Daadaaa” Alana berlalu sambil melambaikan tangannya.


Alana menuju garasi dan mengeluarkan sepedanya ke depan rumah. Ia menaiki sepedanya menyusuri jalan sekitar komplek perumahannya. Sambil mendengarkan ipod ia bernyanyi mengikuti alunan lagu yang ia putar di ipodnya. Tak lupa ia menyapa hangat para tetangganya yang sedang berada di sekitar komplek perumahan itu. Banyak dari mereka juga sedang berolahraga dan jalan-jalan sore. Alana memang terkenal ramah terhadap semua orang di sekitar rumahnya. Begitupun keluarga Alana, mereka tak pernah bersikap sombong pada siapapun.


Tak lama berkeliling komplek, Alana ingin bersepeda keluar komplek menuju taman kota. Kebetulan taman kota itu dekat dengan kompleknya. Ia bersepeda di pinggir jalan raya yang terlihat lumayan sepi. Tidak biasanya jalanan itu sepi, karena memang hari Minggu, banyak orang sering menghabiskan waktu di rumah. Bahkan untuk liburan mereka kebanyakan berkunjung ke luar kota. Alana sampai di taman kota, ia berkeliling mengitari taman kota dan menikmati angin sore yang membelai wajahnya perlahan. Sesaat ia berhenti dan duduk di bangku taman sambil meneguk minuman yang ia bawa dari rumah. Ia melihat sekeliling taman yang tampak banyak sekali pengunjungnya sore itu. Setelah istirahat sejenak Alana melanjutkan bersepeda mengelilingi taman kembali.


Di sudut lain di taman itu, Gema terlihat bercengkrama bersama ibunya dan Lita. Sesekali mereka bercanda dan tertawa entah apa yang ditertawakan.


“Bu udah lama juga kita gak kesini ya?” tanya Gema pada ibunya yang tengah menikmati kue di tangannya.


“Iya Nak. Sepertinya hampir dua bulan yang lalu kita terakhir berkunjung kesini. Waktu itu sama Lita dan Mang Dadang kan ya?” ibunya seraya mengingat-ingat.


“Iya Bu, waktu itu Lita sama abah ikut kesini. Kalo nggak diajak ibu dan mas Gema, mungkin Lita mah gak pernah kesini. Abah kan jarang ngajak keluar, kalo gak ada acara penting” sahut Lita yang terlihat mulutnya penuh karena sedang makan roti.


“Iya mungkin karena Lita udah sering diajak jalan-jalan mas Gema sama ibu jadi abah gak pernah ngajak kamu, lagian motor abah kan sering mogok. Emang Lita mau dorong motor abah di pinggir jalan” kata Gema sambil tertawa, ibunya dan Lita pun ikut tertawa.

__ADS_1


“Iya juga sih. Abah tuh udah aku suruh beli motor baru yang lebih bagus, tapi gak mau, katanya sayang, motornya sangat bersejarah” jawab Lita seraya meneguk minumannya.


“Abahmu sama dengan mas Gema Lit, kalo udah sayang banget sama satu barang, ya gak bakal mau ganti, meskipun itu barang udah tua dan sering diperbaiki. Lihat motor sama mobil mas Gema, umurnya lebih tua mereka daripada kamu sama mas Gema” tambah ibu Gema menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun ia juga bangga pada Gema yang masih menyimpan serta merawat motor dan mobil peninggalan almarhum suaminya itu. Kalau anak jaman sekarang, udah pada gonta-ganti motor, tapi tidak untuk Gema. Ia lebih memilih vespa dan mobil jadul milik ayahnya yang sungguh bersejarah itu.


Senja telah tiba, Gema memotret sebentar saat matahari tengah berpamitan pada bumi untuk kembali keesokan harinya. Rasanya beberapa waktu Gema lewatkan untuk melihat senja, karena ia terlalu sibuk di kantor. Selesai mengabadikan potret senja yang indah sore itu, Gema mengajak ibunya dan Lita pulang. Mereka menuju tempat parkir yang ada di pinggir taman kota. Tiba-tiba ada seseorang yang melintas dan hampir menabrak Gema.


“Hei, hati-hati dong kalo jalan” kata Gema sedikit keras dan membuat ibunya, Lita dan orang itu sedikit terkejut.


(Kayak pernah denger suara cowok itu, batin Alana. Jangan-jangan....)


Alana yang hampir jatuh terlihat menjaga keseimbangan tubuh dan sepedanya seraya menoleh.


“Eh Gema” Alana menoleh sambil cengengesan (Tuh kan dia lagi, gumam Alana dalam hati)


“Hehehe, Gema maaf ya aku gak sengaja, tadi buru-buru mau pulang udah mau petang soalnya” kata Alana melembutkan nada bicaranya.


“Iya deh aku maafin, kalo bukan kamu udah aku marah-marahin tadi” kata Gema.


“Kamu gak apa-apa Nak?” tanya ibu Gema yang menghampiri mereka berdua.


“Aku baik-baik aja Bu. Oh iya Bu, ini Alana. Dia yang hampir nabrak Gema. Dia anak temannya Pak Asep yang pernah Gema ceritakan sama ibu” kata Gema memperkenalkan Alana pada ibunya.


“Ibu, perkenalkan saya Alana” kata Alana sambil mencium tangan ibu Gema. “Maaf saya hampir nabrak anak ibu?” imbuh Alana.

__ADS_1


“Iya Nak Alana. Perkenalkan saya Nani, ibunya Gema. Gak apa-apa Nak, Gema juga gak lecet. Kamu malah yang hampir jatuh” ucap ibu Gema seraya tersenyum dan dibalas senyuman juga oleh Alana.


“Makasih Bu. Ibu dan Gema udah mau pulang?” tanya Alana dan mendapat jawaban dari Gema.


“Iya udah mau petang, kita mau pulang. Kasian Lita nanti dicariin abahnya?” jawab Gema sambil menunjuk ke arah Lita yang ada di dalam mobil.


“Lita, pacar kamu ya?” tanya Alana yang malah ditertawakan Gema dan ibunya.


“Hahaha, Lita itu anaknya Mang Dadang tetanggaku, dia masih 15 tahun. Masa aku pacaran sama anak di bawah umur. Kamu ada-ada aja deh” Gema menggelengkan kepalanya.


“Oh, kirain pacar kamu. Hahaha, jadi malu deh aku. Aku kira tadi kamu kesini bonceng ibu pake vespa” kata Alana wajahnya merah menahan malu.


“Gema bawa mobil Nak, tadi kita berangkat bertiga. Kamu makin cantik kalo lagi malu Nak” kata ibunya Gema memuji kecantikan Alana. Dan Alana makin memerah wajahnya menahan malu. Gema hanya memperhatikan dua wanita yang sedang bercengkrama itu.


“Ah ibu bisa aja. Ibu juga cantik kok. Oh iya, Ibu dan Gema mau mampir ke rumah Alana, gak jauh kok dari sini?” pamit Alana seraya mengajak Gema dan ibunya mampir ke rumahnya.


“Emm, nggak usah Alana. Makasih, lain kali aja kita mampir” kata Gema sambil menoleh ke arah ibunya.


“Iya Nak, kapan-kapan kita mampir. Sekarang udah mulai gelap. Apa kamu aja bareng kita naik mobil biar gak capek?” ibu Gema menawarkan pada Alana untuk bareng bersama mereka.


“Enggak usah Bu, nanti malah merepotkan, Alana bawa sepeda juga” ucap Alana menolak secara halus tawaran ibu Gema.


“Iya udah kalo gitu, kamu hati-hati ya” kata Gema dan ibunya bebarengan.

__ADS_1


“Iya Ibu, Gema. Aku duluan ya. Kalian juga hati-hati di jalan” pamit Alana sambil mencium tangan ibu Gema.


__ADS_2