
Pukul 10 tepat, Alana baru saja bangun dari tidurnya karena ini hari minggu. Ia sengaja bermalas-malasan di tempat tidur dan enggan untuk membersihkan diri. Bahkan ketika masih kuliah di luar negeri, hari liburnya ia habiskan dengan rebahan di kasur dan tak pernah pergi kemana-mana. Tidak ada yang berani mengganggunya ketika hari libur seperti ini, karena orang-orang di rumahnya memaklumi kegiatan Alana di luar rumah yang tengah bekerja keras mengembangkan pabrik keluarganya. Saat ingin memejamkan matanya kembali tiba-tiba terdengar suara cacing yang sedang bernyanyi di dalam perutnya. Ia dengan kesal bangun dari tempat tidur dan dengan wajah yang berantakan ia segera turun ke lantai bawah untuk mengambil makanan di dapur. Alana membuka pintu kamar dan berpapasan dengan ibunya.
“Kamu baru bangun sayang?” tanya ibunya sambil tersenyum dan Alana hanya menjawab dengan cekikikan.
“Hehehe, Mama. Maaf ya Alana bangun kesiangan, eh bukan kesiangan sih. Disiang-siangin yang benar” jawab Alana bergelendot manja pada lengan ibunya.
“Ihh masih acem nih, kamu gak mandi dulu? Joroknya anak Mama” goda ibunya.
“Enggak ah, aku mau kasih makan cacing di perut aku nih udah manggil-manggil, aku ke dapur dulu ya Ma. Mama masak enak kan?” kata Alana sambil berlari meninggalkan ibunya yang tengah menggelengkan kepalanya, heran dengan kelakuan anak gadisnya itu.
(Kebiasaan deh, belum dijawab udah main pergi aja, gumam ibu Alana).
Alana menuju meja makan yang ada di dekat dapur, ia membuka mangkuk-mangkuk besar yang berisi nasi putih, ayam panggang bumbu kecap, udang goreng tepung, perkedel kentang, sup ayam dan tak lupa sambal terasi. Hmm, sangat menggoda selera, Alana segera mengambil piring dan memenuhi piringnya dengan masakan yang telah dihidangkan di meja itu. Ia menikmati makan pagi yang kesiangan itu sendiri, karena semuanya memang sudah sarapan pagi tadi.
Selesai makan ia mencuci piring bekas makannya, meskipun di rumahnya ada banyak pelayan tapi Alana masih mau masuk dapur dan berkutat dengan cucian piring kotor. Selesai cuci piring, Alana berlari ke kamarnya untuk mandi. Tak lama kemudian, ia sudah rapi dan wangi saat keluar kamar. Ia ke ruang baca yang berada tak jauh dari kamarnya karena ayahnya sengaja mendesain kamar khusus untuk perpustakaan keluarga. Mereka sekeluarga memang suka membaca, tak salah jika mereka sering menghabiskan waktu di dalam ruangan itu. Di luar ruangan terdapat balkon yang dilengkapi dengan kursi taman dan meja yang terbuat dari besi, agar bisa membaca buku sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Alana suka membaca buku-buku favoritnya disana, tak lupa ia membuat segelas jus jeruk untuk menemaninya menghabiskan buku-buku itu.
Sore hari telah tiba, Gema ingin mengajak ibunya yang sudah sehat untuk jalan-jalan ke taman kota. Ia telah bersiap dan tengah memanaskan mobilnya. Ya, itu adalah mobil tua peninggalan sang ayah saat di Jogja dulu yang sangat ia rawat sampai sekarang. Gema jarang sekali mengendarai mobil itu, karena ia lebih suka berangkat kerja dengan vespa kesayangannya. Gema hanya menggunakan mobil itu saat mengantar ibunya periksa ke dokter, saat jalan-jalan bersama ibunya, dan setiap pulang kampung ke Jogja. Meskipun ia dan ibunya di Bandung, tak lupa mereka berdua selalu menyempatkan waktu untuk berziarah ke makam ayah Gema di Jogja. Setelah ibunya siap, ia membukakan pintu untuk ibunya. Dan ia segera mengemudikan mobilnya keluar dari pekarangan rumah, tiba-tiba Gema ngerem mendadak.
“Ada apa Nak? Apakah mobilnya rusak” tanya ibunya sedikit terkejut.
“Maaf Bu, mobilnya tidak rusak. Gema menginjak rem karena melihat Lita sedang duduk sendirian di teras rumahnya. Bagaimana kalau kita juga mengajaknya Bu?” jelas Gema pada ibunya.
__ADS_1
“Ya ampun. Ibu kira ada apa? Boleh, kamu panggil Lita sana biar ikut jalan-jalan sama kita” Gema menganggukan kepalanya dan segera turun dari mobil menemui Lita.
“Lita, kamu lagi ngapain? Ikut mas Gema yuk?” ajak Gema seraya menghampiri Lita.
“Lita gak lagi ngapa-ngapain mas. Mas Gema mau ajak kemana emangnya?” tanya Lita seraya melihat mobil Gema sudah di depan rumah.
“Mas Gema mau ajak ibu jalan-jalan ke taman kota. Ikut yuk?” ajak Gema sekali lagi.
“Kita jalan-jalan bertiga ya mas? Iya deh Lita ikut, tapi Lita ijin abah dulu ya?” seru Lita seraya beranjak dari tempat duduknya.
Tak lama kemudian, Lita keluar rumah dengan wajah yang bahagia. Ia berganti baju dan mengambil tas kecil untuk dibawa. Gema hanya geleng-geleng kepala.
Di perjalanan, tampak wajah ibu Gema sangat bahagia. Ia melihat bangunan yang berdiri kokoh di sepanjang jalan. Terlihat penjaga toko yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng melayani pengunjung dengan tersenyum ramah. Mereka tampak rapi dengan mengenakan seragam almamater dari toko masing-masing. Ia teringat akan cita-citanya sebelum ia menikah dengan ayah Gema, ia sangat ingin memiliki sebuah toko kue. Namun semua itu tak bisa terwujud karena ia harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan Gema sehingga ia melupakan akan cita-citanya tersebut.
“Bu, kita beli kue di toko depan ya untuk camilan di taman nanti?” tanya Gema. Namun ibunya masih terdiam karena ia tak mendengar pertanyaan Gema.
“Bu?” imbuh Gema dan seketika mengejutkan ibunya karena Gema memegang tangan ibunya.
“Oh ya ampun, ibu kaget Gema. Ada apa?” ibunya menatap mata anak lelakinya itu.
“Tadi Gema mau ajak ibu beli kue di toko depan situ, tapi justru ibu lagi ngelamun. Ibu mikirin apa?” Gema masih memfokuskan kemudinya seraya mendengarkan penjelasan ibunya.
__ADS_1
“Enggak ada apa-apa Gema, ibu hanya senang melihat toko-toko yang berjajar itu saja” jelas ibu Gema.
“Oh iya ayo kita beli kue untuk camilan di taman” imbuh ibu Gema seraya mencari toko kue yang dimaksud Gema.
“Hmmmm..baiklah” saut Gema singkat. Ia masih menebak-nebak apa yang dipikirkan oleh ibunya sehingga ia tak mendengar pertanyaan Gema.
Gema menghentikan mobilnya di depan toko kue yang berada di pinggir jalan itu, kebetulan juga toko itu adalah toko langganan Gema. Gema mengajak Lita turun dari mobil, sedangkan ibunya tetap menunggu di dalam mobilnya. Ia sejenak teringat pertemuannya dengan Alana yang berebut puding strawberry. Ia tersenyum sendiri mengingat kejadian itu sembari membuka pintu mobilnya dan berjalan ke toko kue tersebut.
Gema mengambil beberapa kue, ia memanggil Lita untuk memilih kue yang ia suka. Setelah itu ia membayar semua belanjaannya di kasir.
“Mas kenapa gak beli puding strawberry?” ucap mbak kasir menahan senyum.
“Oh iya, aku lupa mbak” Gema berlari mengambil puding strawberry itu dan tak butuh waktu lama ia kembali ke kasir.
“Makasih ya mbak” imbuh Gema dengan nafas yang terengah-engah.
“Total semua jadi seratus lima belas ribu ya mas” mbak kasir itu menyerahkan struk pada Gema.
“Ini mbak. Makasih” ucap Gema sambil menyerahkan uang kepada petugas kasir itu.
Gema bersama Lita kembali ke mobil dengan membawa beberapa kantong plastik. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan rendah. Ibunya masih menikmati pemandangan yang sangat indah di sore itu dari dalam mobil.
__ADS_1