Gema Di Hatiku

Gema Di Hatiku
Malam Panjang


__ADS_3

Waktu pun sejenak terhenti ketika tatapan mata mereka saling mengunci satu sama lain. Ada suatu rasa yang tak bisa diartikan tengah berdesir di hati masing-masing insan yang sedang bertatapan itu. Rasa tenang dan nyaman bahkan rasa yang belum pernah Gema rasakan sebelumnya. Begitupun Alana yang masih menikmati sorotan mata Gema yang teduh itu, seakan ia melihat ketulusan yang terpancar dalam bola matanya.


(Alana, kenapa kamu terlihat cantik sekali jika dilihat semakin dekat, batin Gema).


(Kamu tampan sekali kalo lagi dekat gini Gema, batin Alana juga).


Dan tiba-tiba....


“Ehemm,” Alka pura-pura berdehem seraya tersenyum memperhatikan Alana dan Gema yang tengah nyaman dengan posisi mereka saat itu. Para penumpang bus pun saling bercuitan yang membuat wajah mereka berdua merah padam seperti kepiting rebus yang baru diangkat dari panci.


“Suitttt.. suittt,” riuh penumpang bus saat itu. Pak Alex dan Bu Anne pun senyum-senyum sendiri melihat adegan yang mirip di film-film romantis tadi.Alana dan Gema pun tersadar dari angan yang telah membumbung jauh dari pikiran mereka masing-masing. Mereka saling melepaskan tangan dan tatapan yang meneduhkan tadi.


“Maaf Alana, kamu tidak apa-apa?” tanya Gema seraya melepaskan pelukannya.


“I..Iya, aku tidak apa-apa. Makasih udah nolongin aku,” jawab Alana gugup seraya kembali duduk di kursinya. Ia mengambil air mineral yang jatuh di kursinya dan langsung meneguknya hingga tinggal setengah botol. Rasa yang tercekat dalam tenggorokannya pun sirna, ia tak berani menatap mata Gema lagi. Hingga akhirnya Gema pun kembali ke tempat duduknya.


“Gimana rasanya ditatap sama cowok ganteng macam Gema itu?” goda Alka tepat di belakang telinga Alana.

__ADS_1


Meta mencubit lengan Alka karena dari tadi suka sekali menggoda Alana. Alka pun meringis kesakitan dan kembali duduk di sebelah Meta.


Alana hanya menunduk malu seraya memasang earphonenya kembali untuk menghindari celotehan Alka. Ia melihat ke arah orang tuanya yang mungkin tadi sempat menyaksikan adegan romantis di atas bus itu. Alana hanya bisa menepiskan senyumnya seraya mengacungkan jarinya membentuk huruf V. Pak Alex malah mengedipkan sebelah matanya, sedangkan Bu Anne mengacungkan jempolnya, tanda mereka tidak sedang marah setelah melihat pertunjukkan memalukan tadi. Alana makin membelalakkan matanya melihat respon orang tuanya seperti itu. Alana pun hanya melesatkan senyum pada keduanya, yang ia pikir mungkin itu hanya kebetulan yang sering terjadi pada setiap orang. Ia segera memalingkan wajahnya ke arah jendela bus untuk meredakan gejolak di hatinya yang terdengar seperti genderang siap perang itu.


(Wah, lampu hijau dari Mama dan Papa nih kayaknya, batin Alka ketika melihat ke arah orang tuanya).


Alka pun memutuskan untuk bermain game saja di ponselnya, karena perjalanan masih sangat panjang hingga tiba di Jogja besok. Meta hanya bersandar di bahu Alka hingga ia memejamkan matanya. Tak lama kemudian, ia pun tertidur dalam posisi ternyaman itu. Pak Alex dan Bu Anne pun terlihat saling menggengamkan tangan mereka dan saling bersandar untuk menikmati perjalanan panjang itu. Alana pun terlelap sesaat setelah gemuruh hatinya itu surut. Gema mempersilahkan Pak Asep untuk beristirahat juga, karena ia masih harus menemani sopir dan asisten sopir seraya berbincang-bincang dengan mereka.


“Pak Asep tidur duluan aja, besok kita tiba di Jogja sekitar jam 4 pagi Pak,” pinta Gema dan Pak Asep pun mengiyakannya. Ia segera mengambil posisi ternyamannya agak bisa tetap segar besoknya untuk mendampingi rombongan berkeliling tempat wisata.


“Permisi, aku mau ke toilet,” ucap Alka sopan pada Gema yang sedang menulis sebuah catatan itu.


“Oh Mas Alka, silahkan Mas,” Gema pun memberi jalan pada Alka untuk masuk ke toilet.


Tak lama kemudian, Alka keluar dengan perasaan lega. Ia memperhatikan Gema yang tengah menutupkan selimut pada anak-anak yang sudah tertidur di kursi bagian tengah. Sesaat ia berpikir, Gema terlihat laki-laki yang baik, ia perhatian pada siapapun terutama anak-anak. Ia berharap Alana tidak salah menaruh perasaan pada Gema, ia juga memperhatikan bahwa Gema juga menyukai Alana. Tapi ia juga harus memantau, apa Gema tidak akan menyakiti hati adiknya itu dengan bermain hati dengan wanita lain. Ia tidak ingin adiknya terluka untuk kedua kalinya, ia membutuhkan laki-laki bertanggung jawab untuk adiknya kelak. Mengingat Alana kadang bersikap manja meskipun ia terlihat sangat cuek pada orang lain. Ia butuh seseorang yang bisa membimbing adiknya itu. Karena setelah menikah dengan Meta, ia akan tinggal terpisah dengan Alana dan orang tua mereka.


“Mas Alka, sudah selesai dari toiletnya?” tanya Gema membuyarkan lamunan Alka.

__ADS_1


“Oh iya. Sudah Gema,” jawab Alka. “Kalau boleh tau kamu udah lama kerja dengan Pak Asep?” tanyanya.


“Sudah 3 tahun ini saya kerja di tempat Pak Asep, Mas,” jawab Gema.


“Wah, lama juga ya? Pantesan kamu telaten banget bawa rombongan. Kamu asli Bandung?” Alka memulai percakapan mereka yang sambil berdiri itu.


“Enggak juga Mas, mungkin karena banyak pengalaman jadi backpacker aja dari dulu. Saya malah asli Jogja dan pindah ke Bandung setelah bertemu Pak Asep saat bawa rombongan ke Jogja dulu,” cerita Gema mengingat pertemuannya dengan Pak Asep 3 tahun lalu dan ia memutuskan untuk pindah ke Bandung bersama ibunya.


“Backpacker? Asli Jogja pula, wah.. pengalaman yang menyenangkan sekali itu,” kata Alka yang mulai mengagumi Gema juga.


“Iya Mas Alka, pengalaman yang menyenangkan sekali bagi saya itu. Saya bisa pergi kemana pun yang saya inginkan tanpa merogoh kantong lebih. Juga pengalaman yang membawa saya ke Bandung, untuk merasakan lebih banyak perjalanan wisata bersama orang-orang yang berbeda-beda setiap saat,” ucap Gema seraya menepiskan senyumnya.


“Keren kamu Gema,” puji Alka. “Oh, iya kamu di Bandung tinggal sendiri?” Alka masih mengorek informasi tentang Gema.


“Saya di Bandung bersama ibu saya. Karena kami sudah tidak punya siapa-siapa lagi di Jogja saat itu, saya dan ibu saya memutuskan untuk pindah ke Bandung sampai sekarang,” jawab Gema dan membuat Alka makin kagum dengan Gema. Terlihat ia sangat menyayangi ibunya, wanita yang telah melahirkannya ke dunia.


Mereka pun akhirnya melanjutkan perbincangan dengan hal-hal lain, kadang mereka tertawa menceritakan pengalaman masing-masing. Dan tak mereka sadari bahwa ada seorang gadis yang tengah mendengarkan percakapan mereka yang begitu menyenangkan itu.

__ADS_1


__ADS_2