
Tiba-tiba bayangan itu semakin mendekat dan mengejutkan Gema.
“Hayooo, lagi bengong aja, nanti kesambet bidadari lho,” kata Alka sambil menepuk bahu Gema.
(Gema sih gak kaget ya karena bayangannya gak kelihatan berambut panjang. Eh ternyata Alka yang datang, kirain mbak kunti yaa, author boongin nih, hehehe).
“Eh Mas Alka, enggak lagi bengong kok. Lagi cari angin juga ya Mas?” Gema menggeser tempat duduknya.
“Iya, Jogja memang panas, padahal AC di kamar udah nyala, tapi masih panas juga,” kata Alka yang tengah mengenakan kaos oblong buntung dan celana pendek saat itu. Begitu juga dengan Gema, ia juga mengenakan kaos oblong dan celana pendek agar tidak terlalu gerah.
Kemudian mereka berbincang-bincang, sesekali tertawa bersama entah lelucon apa yang tengah ditertawakan oleh mereka. Di dalam kamar Alana, terdengar suara gaduh dari luar yang membuat ia bangun dari kasurnya. Ia melihat dari balik jendela, dan menatap mereka berdua yang tengah asyik bercengkrama. Meta pun menyusul Alana ke dekat jendela dan menengok keluar. Ia melihat Alka dan Gema tengah tertawa bersama.
“Ngapain sih tuh para cowok bikin keributan aja di luar,” kata Alana terlihat jengkel.
“Apaan sih Al, mereka kan cuma ngobrol aja. Kamu terganggu?” Meta memperhatikan wajah Alana yang sedikit jengkel tapi terus mengarahkan pendangannya ke arah Gema tanpa berkedip.
“Ehem. Halloooo, Alanaaaa.” Meta sedikit teriak ke telinga Alana karena dari tadi tak menjawab pertanyaannya. Alana pun seketika menutup telinganya.
“Ihh, Kak Meta apa-apaan sih. Gak usah pakai teriak-teriak gitu dong Kak.”
“Kamu tuh yang apa-apaan. Diajak ngomong malah ngelamun. Ngelamunin apa sih? Pasti lagi ngelamunin Gema yaa?” goda Meta yang memang curiga sejak Alka menggodanya di dalam bus saat di Bandung kemarin.
“Hushhh, jangan keras-keras dong Kak, nanti kedengeran,” kata Alana seraya menutup mulut Meta. Dan Meta semakin mengeraskan suaranya agar terdengar dari luar jendela.
“Alkaaa, Alana lagi mikirin Gema nih,” kata Meta setengah berteriak, seketika Alka dan Gema di luar menatap ke arah jendela dimana terlihat Alana dan Meta di dalam kamar itu.
__ADS_1
“Ngapain sih tuh cewek-cewek lagi teriak-teriak,” kata Alka seraya bangkit dari duduknya akan menghampiri Alana dan Meta, lalu Gema menahannya.
“Udahlah Mas, biarin. Mungkin mereka sedang bercanda,” kata Gema dan Alka pun kembali ke tempat duduknya. Sejenak ia bertatapan dengan Alana, kemudian Alana mengalihkan pandangannya dan menarik tangan Meta untuk kembali ke kasurnya.
“Ihh, Kak Meta apa-apaan sih. Mereka jadi liat kesini kan, aku malu Kak,” kata Alana sambil menyembunyikan wajahnya di bawah bantal.
“Ngapain sih malu? Biasanya juga malu-maluin,” kata Meta dan seketika mereka tertawa bersama hingga terdengar dari luar.
Gema dan Alka pun memesan dua cangkir kopi untuk menemani percakapan mereka. Tak lupa Alka memesankan dua cup kopi untuk Meta dan Alana, lalu ia menyuruh Gema untuk memberikannya pada Meta dan Alana dari luar jendela kamar. Terdengar dua gadis itu masih bercanda dan tawa mereka cukup keras sekali hingga tak mendengar Gema sedang mengetuk kaca jendela kamar mereka. Gema mengulanginya lagi. Tok..tok..tok
“Kak Meta, Alana...” Suara Gema yang agak sedikit keras seketika menghentikan tawa keduanya.
Mereka pun bergegas ke arah suara itu, di balik jendela Gema tengah membawa 2 cup kopi cappucinno yang masih panas. Alana yang mengetahui itu adalah Gema seketika melangkah mundur namun Meta menahannya.
“Ada siapa sih Al?” tanya Meta seraya menengok ke arah jendela. Terlihat Gema masih sabar menunggu dua gadis itu. “Ada Gema Al, itu samperin tuh pangeran kamu,” imbuh Meta seraya mendorong Alana dan hampir terjatuh keluar jendela.
“Kalau jatuh di pelukan sang pangeran gak apa-apa dong Al,” ucap Meta kemudian. Gema yang mendengar pun hanya tersenyum namun debaran jantungnya menjadi semakin cepat. Ia sekuat tenaga menahannya agar tidak terlihat oleh Alana.
“Ada apa Gema?” tanya Alana dengan datar.
“Ini kopi untuk kalian berdua dari Mas Alka,” kata Gema seraya memberikan kopi itu pada Alana.
“Oke, makasih,” jawab Alana sambil menyahut kopi itu dari tangan Gema. Sejenak Gema terdiam, ia masih merasakan detak jantungnya yang serasa mau copot itu. Ia pun masih menatap Alana begitu dalam. Alana yang menyadari Gema tengah melamun, mencoba mengagetkannya.
“Mau sampai kapan kamu bengong disini terus,” kata Alana yang membuat Gema tergagap.
__ADS_1
“Emm, iya, iya.. Aku pergi. Jangan lupakan aku ya, eh salah, jangan lupa diminum ya kopinya.”
Belum mendapat jawaban dari Alana, Gema segera pergi dari hadapan gadis yang telah membuatnya gugup itu. Ia mempercepat langkahnya menuju arah Alka dan kembali duduk di samping Alka dengan nafas ngos-ngosan. Alka yang melihat Gema seperti itu langsung bertanya.
“Gema, kamu ini kenapa? Kayak habis dikerjar setan aja?” tanyanya sambil menyeruput kopinya yang mulai dingin karena angin malam saat itu.
“Iya Mas, aku lagi dikejar setan cantik.” Gema seketika menutup mulutnya lagi, kenapa keadaannya begitu kacau setiap dekat dengan Alana.
“Apa kamu bilang? Dimana ada setan cantik lagi ngejar-ngejar kamu?” Alka celingukan ke berbagai arah dan tak menemukan siapapun disana.
“Hehehe, enggak kok Mas. Aku hanya grogi aja kalo ketemu Alana,” jawab Gema sambil cengengesan.
“Ya ampun, emang kamu diapain sama Alana kok sampai grogi gitu?” Alka tersenyum melihat tingkah lucu Gema. Ia merasakan kalau Gema tengah menyukai adiknya itu.
“Enggak diapa-apain kok Mas,” kata Gema singkat seraya meneguk kopinya.
“Gema, apa aku boleh tanya sesuatu?”
“Iya Kak, tanya aja,” jawab Gema dan seketika Alka berdiri dari hadapan Gema.
“Apa kamu menyukai adikku?”
Alka menatap tajam mata Gema dan membuat Gema seketika gemetar mendengar pertanyaan Alka. Ia tak tahu harus menjawab apa, ia pun tak yakin dengan perasaannya sendiri. Di satu ia ingin berada di dekat Alana, dan di sisi lain ia malu jika harus bersanding dengan Alana. Ia tidak percaya diri dengan dirinya yang seorang pemuda biasa. Ia sangat takut jika kelak tidak bisa membahagiakan Alana. Ia pun hanya terdiam membisu seakan terhipnotis dengan pertanyaan Alka barusan.
“Gema, kamu dengar aku ngomong gak?” Alka mengulang pertanyaannya kembali karena Gema hanya diam dan menundukkan kepalanya. Ia tak tahu apa yang tengah mengganggu pikiran pemuda itu. Apa ia tidak suka dengan adiknya, atau ada hal lain yang ia ragukan saat ini. Alka masih menunggu jawaban dari Gema. Sekian lama, Alka pun tak sabar karena Gema hanya terdiam.
__ADS_1
“Gema, aku tanya sama kamu sebagai laki-laki. Apa kamu menyukai Alana?” ulang Alka kembali.