Gema Di Hatiku

Gema Di Hatiku
Arti Bahagia


__ADS_3

Perjalanan dari Museum Ullen Sentalu ke Merapi Landmark hanya memakan waktu kurang lebih 10 menit saja. Para rombongan sudah banyak yang turun dari bus dan menuju pintu masuk Merapi Landmark. Disana banyak wahana yang sangat seru dan menyenangkan. Di dalam tempat wisata terdapat landmark dari berbagai negara di dunia. Di antaranya ada Big Ben, Menara Eiffel, Patung Liberty, box telephone seperti di Inggris, Temple of Heaven Tiongkok, Menara Pisa dan masih banyak lagi. Para wisatawan bisa berfoto dengan berbagai macam landmark tersebut yang mirip dengan yang ada di luar negeri.


Dalam satu waktu, mengunjungi Merapi Landmark seperti mengunjungi lebih dari beberapa negara. Tempat wisata yang cocok untuk anak-anak dan dewasa sebagai tempat tujuan liburan keluarga. Rombongan Alana Jaya Tekstil memasuki area wahana, mereka takjub akan keindahan yang disuguhkan oleh Merapi Landmark. Mereka seperti berada di luar negeri bukan di Jogja lagi. Semua wahana hanya disediakan untuk berfoto-foto saja, tapi juga menikmati keindahan replika yang unik dan menarik itu. Juga terdapat taman dengan rerumputan hijau yang menghampar disertai tanaman bunga-bunga. Terlihat Gunung Merapi yang gagah dari salah satu sisi langit yang meneduhkan tempat wisata itu.


Gema dan tim masih setia mendampingi rombongan yang tengah berpencar mencari area yang menarik sendiri-sendiri. Gema pun tak lupa mengabadikan moment-moment itu, terasa hangat kebersamaan bersama tiap rombongan yang mereka dampingi untuk berwisata. Rasa kekeluargaan selalu terjalin di setiap perjalanan wisata, kesan yang diberikan selalu berbeda-beda setiap waktu. Ada rasa bangga tersendiri yang dirasakan Gema dan tim ketika mereka berhasil memdampingi rombongan dan memberikan kenangan khusus di hati mereka.


Setelah Alana berfoto sendiri, ia malah dijadikan tukang foto oleh Alka dan Meta. Begitu pula dengan Pak Alex dan Bu Anne, mereka tak segan menyuruh anak gadisnya itu untuk memotret keduanya. Alana dengan terpaksa menuruti kemauan mereka, ia hanya ingin membuat keluarganya bahagia. Mereka berpindah dari wahana satu ke wahana lainnya sambil sesekali bergurau. Gema memperhatikan kehangatan keluarga itu, ia jadi merindukan ibunya. Meskipun ia tak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki ayah, ia tetap bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Ia cukup merasakan kehangatan sebuah keluarga hanya bersama ibunya.


“Ngelamun lagi kamu?” tanya Pak Asep yang menghampiri Gema seraya menepuk pundaknya.


“Eh Pak Asep, enggak kok Pak. Saya cuma iri aja melihat kehangatan keluarga seperti keluarganya Pak Alex disana,” ucap Gema lirih.

__ADS_1


“Kamu nanti juga bisa merasakan seperti itu jika sudah berkeluarga. Sudahlah Gema, masih ada ibumu, Tuhan sudah menggariskan takdirmu. Jadi syukuri saja, semoga kamu masih bisa menemani anak-anakmu kelak,” tutur Pak Asep pada Gema. Pak Asep tahu bahwa Gema merindukan sosok seorang ayah, ia berusaha agar Gema tidak terlalu larut dalam kesedihan.


“Iya Pak, keinginan saya hanya satu, bisa membahagiakan Ibu. Tapi saya tidak tahu bagaimana caranya agar Ibu bisa bahagia. Saya terlalu takut untuk bertanya pada Ibu.” Gema berusaha menahan air matanya, matanya selalu berkaca-kaca ketika ia berbicara mengenai ibunya.


“Yang diinginkan orang tua agar bahagia hanya satu, mereka akan bahagia melihat anak mereka bahagia. Itu kembali lagi pada kamu, apa kamu sudah bahagia dalam hidupmu?” Pak Asep berkata seperti itu karena ia juga orang tua yang menginginkan semua anaknya bahagia.


“Apa saya sudah bahagia? Ya, tentu saja saya sangat bahagia bisa bersama ibu saya hingga sekarang. Apa maksud Pak Asep?” Gema mengerutkan keningnya.


“Apa mungkin Ibu menginginkan aku segera berkeluarga? Tapi Ibu tidak pernah bilang selama ini.” Gema berbicara dalam hatinya.


“Gema, sekarang pikirkanlah kembali ucapan Bapak. Ibumu hanya menginginkan kamu berkeluarga, ia ingin menikmati hari tuanya bersama anak, menantu dan cucu-cucunya. Semua orang tua pasti berpikiran seperti itu Gema, termasuk saya sendiri. Apa lagi yang dibutuhkan ketika usia senja telah tiba, ingin menikmatinya dengan berkumpul bersama keluarganya, bersama anak cucunya.”

__ADS_1


Tak terasa Pak Asep menitikkan air mata, ia merasakan demikian karena anak-anaknya masih belum ada yang berkeluarga. Anak pertamanya sudah berusia di atas 28 tahun, tapi masih sibuk bekerja dan belum memikirkan jodoh. Begitu pula dengan Rani, ia yang masih mengejar cintanya, tak tahu cinta itu bertepuk sebelah tangan hingga Pak Asep berencana menjodohkannya dengan anak rekan bisnisnya. Anak ketiganya masih kuliah, jadi belum waktunya untuk berumah tangga.


“Begitukah perasaan semua orang tua selama ini Pak. Gema baru mengerti sekarang, Ibu memang tidak pernah cerita pada Gema, bodohnya Gema yang tidak peka dengan perasaan orang tua Gema Pak. Pak Asep juga sabar, kelak anak-anak Pak Asep juga akan berkeluarga seperti keinginan Pak Asep.” Gema menepuk bahu Pak Asep, mereka saling menyemangati satu sama lain layaknya ayah dan anak. Rani yang mendengar penuturan ayahnya dari kejauhan seketika teriris hatinya. Ia merasa sakit, melihat keinginan ayahnya yang belum bisa ia wujudkan. Ia bertekad akan memenuhi semua permintaan ayahnya, termasuk dijodohkan dengan anak rekan bisnisnya. Toh laki-laki itu, ia pun telah mengenalnya. Jadi ia bisa pelan-pelan melupakan perasaannya pada Gema dan merelakan Gema untuk wanita yang dicintainya.


“Papa, maafkan Rani selama ini tidak tahu isi hati Papa yang sebenarnya,” ucap Rani seraya memeluk ayahnya itu. Gema pun terkejut dari tadi Rani sudah mendengar pembicaraannya dengan Pak Asep. Semoga ini adalah jalan bagi Rani untuk menemukan jodohnya, dan Gema akan berusaha untuk meyakinkan perasaannya pada Alana.


“Maafkan Papa juga Nak, Papa belum bisa membahagiakanmu. Papa memang melarangmu berhubungan dengan Gema, kalian sudah seperti saudara sendiri.” Pak Asep membelai rambut putrinya itu.


“Aku tidak ingin memiliki hubungan lebih dengan Mas Gema, Pa. Aku ingin menuruti kemauan Papa untuk dijodohkan dengan laki-laki pilihan Papa. Aku siap Pa,” kata Rani sesenggukan menahan air matanya.


“Benar Nak, kamu menyetujui perjodohan itu? Betapa bahagianya Papa.” Akhirnya mereka bertiga bangkit dari duduknya. Ada perasaan lega di hati masing-masing, tak terkecuali Gema yang semakin memiliki semangat baru untuk membahagiakan ibunya.

__ADS_1


Alana yang menyaksikan kedekatan mereka bertiga merasa iri, mereka terlihat akrab satu sama lain. Ia kemudian menjauh dari pandangan yang menyesakkan dadanya itu. Ia kembali berkumpul bersama keluarganya, menikmati keindahan Merapi Landmark secara keseluruhan. Ia ingin mengalihkan pikiran yang sempat terpecah tadi dan ia tengah berusaha menata hatinya kembali.


__ADS_2