Gema Di Hatiku

Gema Di Hatiku
Pulang Bersama


__ADS_3

Gema mengantar ibunya ke kamar dan tak lupa mengambilkan obat untuk diminum ibunya. Seperti biasa, ia menemani ibunya hingga tertidur. Lalu ia kembali ke kamarnya, ia menyiapkan baju untuk kerja besok dan mulai menyalakan laptopnya untuk melanjutkan pekerjaannya agar besok tidak banyak pekerjaan yang harus ia buru-buru untuk menyelesaikan. Ia mengambil ponselnya di atas nakas, dan mengirim pesan pada Alana.


“*Alana, apa kamu sudah tidur?”


Gema*


Tak lama mendapat balasan, ia kembali pada laptopnya. Ia masih fokus mengedit video perjalanan ke Jogja kemarin.


Di tempat lain, Alana baru pulang dari butik untuk menemani Meta dan Alka fitting baju pengantin mereka. Ia pun juga sudah makan malam bersama mereka, sesampainya di rumah terlihat ayah dan ibunya masih menonton tv di ruang keluarga.


“Mama, Papa, Alana pulang.”


“Baru pulang Nak? Alka mana?” tanya Bu Anne yang tidak melihat Alka di belakang Alana.


“Kak Alka masih nganter pulang Kak Meta Ma, tadi Kak Meta nggak bawa mobil.”


“Oh, iya sudah kalau gitu. Kamu makan dulu Nak?”


“Alana dan kakak udah makan di luar Ma. Alana ke kamar dulu ya.”


Saat Alana hendak melangkahkan kakinya, Pak Alex bersuara karena sedari tadi hanya mendengar istri dan anaknya itu berbicara.


“Alana, tunggu dulu. Papa mau bicara sama kamu,” kata Pak Alex dan Alana seketika duduk di depan ayahnya itu sambil mencomot puding mangga di atas meja.


“Bicara tentang apa Pa?” tanya Alana sambil menguyah pudingnya.


“Gimana hubungan kamu sama Gema? Beneran kamu serius menerima Gema dan bukan karena malu karena tiba-tiba kemarin di menyatakan perasaannya pada kamu,” kata Pak Alex yang membuat Alana segera menelan makanannya.


“Kenapa Papa tanya kayak gitu sama Alana? Alana serius menerima Gema Pa, apa Papa ragu dengan Alana?” Alana mencoba meyakinkan ayahnya kembali.


“Papa tidak ragu Nak, memang kamu sudah pernah cerita sama Papa, dan Papa hanya khawatir kamu terpaksa menerima Gema kemarin karena waktunya tidak tepat.”

__ADS_1


“Enggak Papa, Alana yakin menerima Gema apa adanya, jangan-jangan Papa yang tidak merestui kami karena Gema hanya karyawan biasa.”


“Bukan seperti itu Alana, kalau kamu memang yakin dengan Gema, Papa merestui kalian, Papa hanya memastikan perasaanmu saja. Gema memang laki-laki yang baik, Papa yakin dia akan membahagiakan kamu.”


“Terima kasih Pa. Alana kira Papa tidak setuju Alana berhubungan dengan Gema. Iya sudah, Alana ke kamar dulu Pa, Ma.” Alana bangkit dari tempat duduknya dan naik ke lantai atas menuju kamarnya.


Ia masih memikirkan pertanyaan ayahnya barusan, apa ayahnya khawatir dengan hubungannya dengan Gema? Ia akan berusaha juga meyakinkan dirinya bahwa perasaan pada Gema memang tulus, ia mencintai laki-laki itu apa adanya. Ia tidak merasa terpaksa menerima pernyataan Gema kemarin karena memang ia juga sudah lama menaruh perasaan yang sama dengan Gema.


Ia membersihkan tubuhnya, setelah berpakaian ia merebahkan tubuhnya sambil memainkan ponselnya. Ada satu pesan masuk dari Gema yang belum ia baca tadi karena masih di jalan. Lalu ia membalas pesan itu sambil tersenyum.


“*Maaf aku baru pulang Gema, tadi setelah dari butik, Kak Alka dan Kak Meta mengajakku makan malam, jadi kami pulang agak malam. Apa kamu sudah tidur?”


Alana*


Tut, tut..


Ponsel Gema berbunyi, dilihatnya ada pesan masuk dari Alana. Ia mulai mengetikkan sesuatu disana.


Gema


“Baiklah. Cepatlah tidur, lanjutkan besok saja pekerjaannya. Kamu juga kan masih capek. Aku tidur dulu ya. Semoga mimpi yang indah juga.”


Alana*


“*Oh iya besok sore aku jemput ke kantor ya, kamu jangan bawa mobil. Aku sambil menyerahkan album foto dan video perjalanan ke Jogja kemarin.”


Gema*


“*Baiklah, aku tidak akan bawa mobil. Jam 5 sore aku tunggu di kantor ya.”


Alana*

__ADS_1


Alana menaruh ponselnya di atas nakas, dan mematikan lampu, lalu segera memejamkan matanya. Di kamar Gema, ia segera mematikan laptopnya dan memasukkan pada tasnya. Ia menatap layar ponselnya yang baru ia ganti wallpapernya dengan foto Alana saat di Museum Ullen Sentalu kemarin. Ia senyum-senyum sendiri, lalu memejamkan matanya pelan-pelan sambil memeluk ponselnya.


Pagi harinya, Gema sudah berada di kantor untuk menyelesaikan pengeditan video semalam. Ia juga telah mencetak semua foto-foto yang kemarin telah selesai diedit, dan kini sudah dimasukkan ada album foto.


Alana tiba di pabrik bersama Alka, ia sudah kembali ke pabrik untuk bekerja, ia memasuki ruangan yang seminggu ini ia tinggalkan. Terlihat banyak berkas yang tertumpuk di mejanya. Alana terlihat lebih semangat dari biasanya, karena ada sosok lelaki yang kini akan menemani dan mengisi hari-harinya. Tanti telah mendengar kabar bahwa atasannya itu kini telah memiliki kekasih sepulang liburan dari Jogja, karena dia yang masih bertugas menghandle pekerjaan di kantor, jadi dia yang belum ikut ke Jogja. Dia masuk ke ruangan Alana untuk menjelaskan pekerjaan yang selama ini ia tinggal liburan.


“Permisi, Nona Alana,” ucap Tanti sopan.


“Iya Mbak Tanti, ada apa? Duduklah?” kata Alana seraya mempersilahkan duduk pada Tanti.


“Begini Nona, saya mau menjelaskan berkas-berkas yang menumpuk ini selama perjalanan Anda ke Jogja,” jelas Tanti.


“Baiklah, saya juga bingung mulai dari mana semua ini.” Alana menyerahkan satu per satu berkas itu pada sekretarisnya itu. Tanti dengan detail menjelaskan seluruh isi berkas dan Alana memahaminya. Ia telah selesai dengan pekerjaannya jam setengah 5 sore. Kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya. Setelah minta ijin pada Tanti, Gema diperbolehkan masuk ke ruangan Alana.


“Iya, silakan masuk.” Alana berkata sambil merapikan mejanya yang dari tadi berantakan.


“Selamat sore Nona Alana.” Terdengar suara yang begitu ia kenal.


“Gema, kamu udah datang?” Alana menghampiri Gema di belakang pintu kemudian memeluknya.


“Kamu udah nungguin dari tadi?” Gema mengacak-acak rambut Alana gemas.


“Kebiasaan deh. Siapa lagi yang nungguin kamu. Aku malah lupa kalau ini udah sore, habisnya kerjaan aku banyak banget hari ini.”


“Iya udah deh, nih aku bawain puding strawberry kesukaan kamu. Sama aku bawain album foto dan video perjalanan ke Jogja kemarin udah jadi.” Gema menaruh puding itu di meja dan menyerahkan album foto dan video dalam bentuk kaset itu pada Alana.


“Makasihhhhh,” ucap Alana manja dan Gema hanya tersenyum gemas melihatnya. (Wajarlah manja sama kekasih sendiri, hehehe)


Alana segera membuka album itu sambil memutar video perjalanan saat di Jogja. Alana terkesima baru kali ini sebuah perusahaan travel memberi bonus pada pelanggannya dengan sebuah album foto dan video kenangan. Ia makin bangga pada Gema yang terampil dan rapi dalam melakukan pekerjaannya.


Tepat pukul 5, Alana dan Gema keluar dari kantor dan menitipkan album dan video kenangan itu pada Tanti untuk diserahkan pada Alka. Mereka pun pulang dengan naik vespa tua Gema, tapi jangan salah vespa itu tetap bagus dan tidak pernah mogok sekalipun. Mereka pulang bersama dengan berboncengan melalui jalanan yang sejuk di sore hari. Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah taman dekat pabrik Alana Jaya Tekstil untuk sekedar istirahat dan minum es degan di pinggiran taman. Sore ini bisa dibilang kencan pertama nggak ya bagi Alana dan Gema?

__ADS_1


__ADS_2