Gema Di Hatiku

Gema Di Hatiku
Terpesona


__ADS_3

Seorang pemuda tampan berkaos putih dengan kemeja dan celana pendek berwarna hitam serta memakai sneakers senada kaosnya tengah turun dari bus pertama dengan tampang gagah berjalan menghampiri rombongan. Alana yang tengah berada di antara rombongan itu seakan terbius oleh pesonanya, sampai-sampai ia tak berkedip saat menatap wajah sang pemuda. Memang kharisma Gema akan keluar dengan sendirinya ketika ia berpakaian casual seperti sekarang. Tidak seperti biasanya saat ia memakai kemeja kantor dan celana panjang serta sepatu vantofel. Ia terlihat percaya diri saat berpenampilan non formal seperti saat ini, saat-saat ia tengah mendampingi rombongan untuk tour. Lamunan Alana buyar dengan sendirinya ketika Gema menyapanya dan membuat Alana salah tingkah.


“Selamat malam Nona Alana,” sapa Gema seraya menyunggingkan senyum manisnya.


“Eh, eh, malam Gema.” Alana tergagap seketika.


“Silakan memasuki bus pertama untuk Nona Alana dan keluarga.” Gema dengan sopan mempersilahkan Alana masuk ke dalam bus. Diikuti Alka, Meta, Pak Alex dan Bu Anne. Keluarga Meta tidak ada yang mengikuti tour ini karena mereka sedang ada seminar kedokteran di luar kota.


“Baik Gema, terima kasih,” ucap Alana malu-malu tapi masih belum melangkahkan kakinya juga.


Alana masih tak bergeming disitu, Alka memperhatikan adiknya yang sedang salah tingkah sejak tadi. Ia pun tak lupa menyapa Gema, karena kemarin saat acara pertunangan ia belum sempat bertemu dengan Pak Asep dan Gema.


“Hai, kenalkan aku Alka, kakaknya Alana dan ini Meta tunangan ku,” kata Alka memperkenalkan dirinya dan Meta.


“Oh iya Mas Alka, Mbak Meta. Saya Gema,” jawab Gema seraya menjabat tangan Alka dan Meta.


“Maaf saat acara pertunangan kemarin, kami tidak sempat menyapamu dan Pak Asep,” ucap Alka.


“Tidak apa-apa mas, saya mengerti karena memang banyak tamu yang datang saat itu. Mari silakan masuk ke dalam bus. Mas Alka dan Mbak Meta bisa duduk di kursi nomer 5 dan 6.” Gema mempersilahkan Alka dan Meta masuk ke dalam bus.

__ADS_1


“Pak Alex dan Ibu, Anda berdua bisa duduk di kursi nomer 3 dan 4, di bagian depan. Silakan masuk,” imbuh Gema.


"Baik Nak Gema,terima kasih," jawab Pak Alex dan Bu Anne seraya masuk ke bus dan duduk di kursi sesuai arahan Gema.


“Aku di kursi nomer berapa dong kok semuanya di depan?” gerutu Alana yang belum kebagian kursinya.


“Khusus Nona Alana, kursi Anda di nomer 1 dan 2, sesuai pesanan.”


“Oh iya aku lupa kalau sudah booking duluan. Baiklah aku masuk,” ucap Alana seketika masuk ke dalam bus dan langsung duduk di kursinya. Ia menaruh ranselnya di bagasi di atas tempat duduknya, lalu ia duduk kembali seraya memasang earphonenya.


“Ehemmm," Alka berdehem tepat di telinga Alana dan membuat Alana terjingkat.


“Kakak, ngagetin aja sih,” Alana mencebikkan bibirnya.


“Husshh, Kakak. Ngomong apaan sih?” Alana makin merona wajahnya ketika Alka bertanya demikian.


“Jangan bohong deh sama Kakak. Aku udah tau waktu kamu bicara sama Papa di ruang makan waktu itu,” ujar Alka.


“Al, udah dong jangan godain Alana terus,” ucap Meta di sampingnya.

__ADS_1


“Ih, sayang. Aku tuh lagi klarifikasi sama Alana, bukan sedang godain dia. Bentar deh,” jawab Alka yang tetap bersikukuh membuat Alana menjawab rasa penasarannya. “Jadi cowok tampan itu yang udah nemuin kunci buat buka hati adik aku ini?” kata Alka dengan senyum sarkasnya.


“Kakak, bisa stop ngomongin dia dulu nggak. Please jangan disini ya, nanti aku ceritain kalo udah nyampek di Jogja. Bentar lagi dia naik tuh.” Alana menghentikan ulah Alka itu karena Gema tengah berjalan masuk ke dalam bus. Alka pun mengiyakan dan kembali ke tempat duduknya, ia harus menahan rasa penasarannya hingga tiba di Jogja besok pagi. Meta pun hanya bisa menahan tawanya melihat Alka tengah memanyunkan bibirnya karena harus menunggu besok.


“Udah deh, besok Alana pasti cerita kok. Kamu tenang aja Al, udah sini duduk yang manis ya,” goda Meta dan Alka semakin memonyongkan bibirnya.


Alana merasa gugup ketika Gema sudah di dalam bus bersama Pak Asep. Pak Asep tadi masih mendampingi Rani di bus dua karena mereka dijemput di tempat yang berbeda dengan Gema.


“Selamat malam keluarga besar Alana Jaya Tekstil yang kami hormati.” Pak Asep membuka acara keberangkatan ini dengan menyapa semua rombongan yang telah masuk ke dalam bus.


“Selamat malam,” jawab semua penghuni bus satu.


“Perkenalkan saya Asep dan mas ganteng di samping saya ini namanya Gema, kami berdua akan mendampingi perjalanan Bapak Ibu dan keluarga menuju kota Jogja,” kata Pak Asep yang disertai senyuman dari Gema. Pak Alex, Bu Anne, Alana, Alka, Meta dan yang lainnya pun tersenyum mendengar pujian Pak Asep untuk Gema. Terdengar pula penumpang bus bagian belakang yang tengah bersiul dengan riangnya.


(Mas ganteng kata Pak Asep,iya juga sih, Gema emang ganteng, apalagi dengan penampilan kayak gitu, bikin meleleh hati ini, gumam Alana dalam hatinya).


“Baiklah, untuk memulai perjalanan ada baiknya kita berdoa terlebih dahulu menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Semoga perjalanan kita lancar tanpa hambatan hingga tiba di Jogja besok pagi. Berdoa dimulai,” kata Gema memimpin doa dan diikuti seluruh penumpang bus satu. “Berdoa selesai,” ucap Gema lagi. Dan bus pun mulai bergerak pelan meninggalkan area parkir pabrik.


Alana yang berada tepat di depan Gema merasa ada yang tengah berdesir di dalam hatinya. Entah kenapa ia sangat nyaman melihat wajah Gema, merasa teduh ketika Gema yang memimpin doa. Alana semakin merona wajahnya ketika Gema menatapnya balik seraya menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


(Oh Tuhan, lama-lama aku bisa kena diabetes karena keseringan lihat senyum manis Gema seperti itu, batin Alana).


Pak Asep dan Gema duduk di depan bersama sopir bus dan asisten sopir. Tak lama kemudian, Gema memutar musik untuk mengiringi perjalanan mereka. Setengah jam perjalanan menuju Jogja, Gema dan Pak Asep berjalan dari arah belakang untuk membagikan air mineral dan roti kepada rombongan sebagai snack pembuka perjalanan. Itu memang ciri khas dari pelayanan travel mereka agar memiliki kesan khusus di mata pelanggan. Gema menyerahkan air mineral dan roti terakhir kepada Alana, tak sengaja ia menyentuh tangan Alana, manik mata mereka bertemu dan membuat mereka saling bertatapan agak lama. Tak ada yang menyadari bahwa mereka tengah menjadi perhatian seluruh penumpang bus. Hingga pandangan itu pun buyar ketika sopir bus menginjak rem secara mendadak, dan membuat Alana hampir jatuh, Gema yang ada di depannya pun dengan sigap menangkap tubuh Alana hingga membuat mereka saling menatap kembali. Suasana itu pun makin romantis dengan alunan musik yang tengah berputar di dalam bus itu.


__ADS_2