Gema Di Hatiku

Gema Di Hatiku
Lucunya Gema


__ADS_3

Hari kedua, Gema dan tim mendampingi rombongan untuk tujuan pertama di Candi Ratu Boko. Mereka berkeliling area candi, dan pada saat istirahat Gema mencoba membuka ponselnya. Ia melihat ada pesan masuk dari Alana yang rupanya dikirim tadi pagi saat Gema memasuki bus bersama rombongan. Kemudian ia membaca pesan itu seraya mengulas senyumnya.


(Ternyata dia sampai rumah dengan selamat, mungkin kekhawatiranku aja yang berlebihan, padahal ia sedang tertidur pulas di kamarnya. Alana.. Alana.. batin Gema).


Ia mengetikkan sesuatu disana untuk membalas pesan itu sesuai permintaan Alana.


“Syukurlah kalau kamu sampai di rumah dengan selamat. Maaf aku terlalu mengkhawatirkanmu karena pulang malam-malam sendiri. Sekarang aku ada di Candi Ratu Boko, jadi ingat saat kamu foto selfie disini. Aku kangen kamu..”


Love,


Gema


Setelah ada notifikasi terkirim, ponsel Gema berdering, terlihat nama “Alanaku” disana. Kemudian ia segera mengusap ikon berwarna merah agar bisa mendengar suara kekasihnya itu.


“Hallo Alana,” kata Gema seraya mendekatkan ponsel itu ke telinganya.


“Hallo sayang.” Alana dengan santainya mengucapkan kata sayang yang begitu terdengar jelas di telinga Gema hingga membuat hatinya berdesir kembali.


“A.. Apa kamu bilang barusan?” Gema ingin Alana mengulangi ucapan yang membuat jantungnya serasa ingin loncat dari tempatnya itu.


“Iya sayang. Kenapa sih? Aku nggak boleh panggil kamu sayang?” Alana heran kenapa Gema ingin mengulangi ucapannya, padahal ia tidak tahu bahwa Gema disana terlihat gemetar setelah dipanggil sayang oleh kekasihnya.

__ADS_1


“Enggak gitu, boleh kok boleh banget malah. Aku sedikit gemetar aja dipanggil gitu sama kamu,” ujar Gema yang tengah menahan gemuruh di jantungnya.


“Ya ampun, aku kira kamu nggak suka. Jadi pengen lihat wajah kamu yang lagi gemetaran kayak gitu deh. Hahaha,” ucap Alana sambil tertawa, baru kali ini kekasihnya itu merasa terkejut, senang, atau apalah ia tak bisa menafsirkan. Kemudian ia mengalihkan panggilannya ke video call, hingga ia dapat melihat jelas wajah tampan Gema dari sana.


“Hai,” ucap Gema dengan melambaikan tangannya ke kamera. Ia makin kangen setelah melihat wajah cantik Alana dari ponselnya.


“Hai, kamu kok jadi merah padam kayak udang rebus gitu sih?” Alana menahan tawanya.


“Aku jadi malu tau, kamu ngapain sih video call, aku bingung taruh muka aku dimana nih?” Gema menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangannya.


“Hey, ngapain ditutupin, aku kan jadi nggak bisa lihat wajah pacar ganteng aku. Halloooo sayang,” goda Alana.


“Tuh kan aku makin malu nih. Jantung aku rasanya mau lompat dari dalam sini,” kata Gema seraya menyorot kamera ponselnya itu ke dadanya.


“Bentar-bentar aku minum dulu biar tenang.” Kemudian ia mengambil botol minumannya dan segera meneguknya hingga habis tak tersisa setetes pun. (Ih mas Gema macam habis lari marathon aja, author makin gemes pengen lihat muka malunya. Enaknya bikin visual pemeran Gema nggak ya? Kasih saran author dong para pembacaku.)


Setelah tenang, ia menatap layar ponselnya kembali dan disana Alana terlihat dengan setia menunggunya.


“Kamu lagi sibuk banget ya?” tanya Gema mengalihkan perhatian Alana agar tidak menggodanya lagi.


“Enggak terlalu sih, setelah ini mau ketemu klien dari Sleman,” jawab Alana sambil menandatangani berkas-berkas di depannya.

__ADS_1


“Dari Sleman? Jauh amat?”


“Iya, itu klien Papa dulu, pabriknya sempat tutup karena pemilik pabrik mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Sekarang istri dan anak-anaknya membuka kembali pabrik itu,” jelas Alana dan hanya dijawab anggukan dari Gema.


“Iya sudah, kamu kerja lagi ya. Aku sudah mau keluar dan melanjutkan perjalanan lagi. Nanti kita sambung lagi. Bye sayang.” Gema berpamitan sambil memberanikan diri menyapa Alana dengan panggilan sayang juga.


“Ihh udah mulai berani panggil sayang juga. Hahaha.” Alana terkejut Gema mengucapkan kata sayang meskipun terlihat canggung.


“Tuh kan mulai lagi, aku cemberut nih.” Gema mencebik kesal.


“Hahaha, enggak-enggak. Maaf deh. Iya udah semoga perjalanannya lancar. Aku tunggu kabar kamu nanti malam. Bye sayang. Miss you,” ucap Alana seraya melambaikan tangannya.


“Siap Tuan Putriku. Miss you too.” Gema dan Alana mengakhiri panggilan video yang berlangsung lumayan lama itu.


Tak sengaja banyak orang yang tengah memperhatikannya, terutama rombongan pabrik Alana Jaya Tekstil yang telah mengetahui bahwa Gema adalah kekasih anak pemilik pabrik tempat mereka bekerja. Gema dengan menahan malu segera bangkit dari duduknya dan memberikan pengumuman bahwa rombongan akan melanjutkan perjalanan selanjutnya.


(Jadi dari tadi aku diperhatikan semua orang disini. Ya ampun, batinnya sambil menggaruk-garukkan kepalanya).


Alana tertawa sendiri di dalam ruangannya, ia mengingat wajah lucu Gema tadi. Baru kali ini ada lelaki yang malah grogi setengah mati saat dipanggil sayang, tapi ia mengerti Gema lain dari yang lain. Saat kebanyakan para lelaki dengan senangnya dirayu, justru Gema malah malu. Betapa ia bersyukur memiliki Gema saat ini. Laki-laki yang apa adanya, tak pernah berpura-pura setiap di depannya. Ia juga merasa selalu diperhatikan oleh Gema, walaupun hanya sekedar menanyakan kabar lewat pesan singkat, itupun lebih dari cukup. Gema bahkan tidak pernah mengekang dirinya, tak pernah menuntut akan kepribadiannya yang kadang jauh dari kata sempurna dibandingkan dengan wanita lainnya.


Setelah menyelesaikan keperluannya, Pak Alex segera mengemudikan mobilnya menuju pabrik karena ia tadi sudah berjanji pada Alana untuk datang sebelum meeting dimulai. Dalam perjalanan, Pak Alex mampir ke toko oleh-oleh khas Bandung untuk diberikan pada kliennya yang mau datang jauh-jauh dari Sleman, meskipun mereka juga sekalian liburan ke Bandung. Tidak ada salahnya memberikan sedikit kenang-kenangan pada mereka karena lama tidak bertemu.

__ADS_1


Pak Alex masuk ke dalam toko dan menyusuri rak-rak berisi pisang bollen yang menjadi oleh-oleh wajib jika berkunjung ke Kota Kembang itu. Setelah mengambil 10 kotak dan memasukkan ke keranjang, Pak Alex menuju kasir untuk membayar belanjaannya. Kemudian ia masuk ke dalam mobil dan menuju toko kerajinan tangan di dekat pabriknya. Ia memilih beragam kerajinan dari bambu dan keramik sebagai buah tangan yang unik dan menarik. Beberapa kerajinan itu kemudian dibungkus serapi mungkin oleh pegawai toko, setelah membayar semuanya Pak Alex pergi meninggalkan toko itu dan segera menuju pabrik yang jarang ia kunjungi akhir-akhir ini.


Pak Alex turun dari mobilnya dan disambut hangat oleh satpam pabrik yang langsung sigap membawa barang-barang Pak Alex ke dalam ruangannya. Para pegawai terlihat ramah menyapa Pak Alex, mereka jarang sekali bertemu pemilik pabrik itu karena Pak Alex memutuskan pensiun dini namun masih tetap memantau perkembangan pabriknya. Pak Alex pun dengan ramah membalas sapaan para pegawainya itu, ia tetap disegani di lingkungan pabrik sampai saat ini.


__ADS_2