
Pak Alex dan Bu Anne tengah bersiap pergi ke Bogor untuk melihat pembangunan pabrik baru mereka disana. Mungkin hanya 2 hingga 3 hari karena minggu ini bertepatan dengan keberangkatan rombongan gathering pegawai pabrik. Jadi mereka tidak bisa berlama-lama di Bogor, dan harus segera kembali untuk mendampingi rombongan. Pak Alex menghubungi Alana yang sedang berada di kantor selepas berkeliling memantau kegiatan produksi pabrik.
Kring.. kring..kring. Dering ponsel Alana terdengar nyaring hingga membuatnya terkejut. Tak lama Alana mengambil ponselnya, seketika ia tersenyum melihat ayahnya yang menelepon.
“Hallo Pa” sapa Alana sambil tetap fokus menatap layar komputernya.
“Hallo Nak, Papa sama Mama mau berangkat ke Bogor siang ini. Kamu hati-hati ya selama Papa Mama pergi” suara Pak Alex dari sambungan telepon.
“Lho Papa sama Mama berangkat siang ini? Bukannya masih nanti sore?"
“Iya tadi ada sedikit masalah dengan pabrik di Bogor, makanya Papa buru-buru mau kesana. 2 atau 3 hari lagi Papa sama Mama baru pulang ke Bandung” jelas Pak Alex pada putrinya itu.
“Baiklah Pa, semoga masalahnya cepat selesai ya. Alana doakan dari sini. Papa Mama hati-hati di perjalanan” kata Alana yang sedikit khawatir karena keberangkatan ayahnya terkesan buru-buru.
“Iya Nak. Salamkan pada kakakmu ya, Papa gak sempat mengabarinya” pamit Pak Alex.
“Iya Pa, nanti Alana sampaikan pada Kak Alka. Dahhh Papa” Alana menutup teleponnya.
Alana keluar ruangannya menuju ruangan Alka, ia mengetuk pintu dan terdengar sautan Alka dari dalam. Alana masuk dan duduk di depan meja Alka.
“Ada apa lagi Al?” tanya Alka yang mengira Alana akan mengajaknya keliling pabrik seperti tadi.
“Aku tadi udah keliling pabrik kok Kak. Jangan khawatir, aku kesini bukan mau ngajak keliling pabrik” Alana seakan bisa membaca pikiran kakaknya.
__ADS_1
“Hehehe, Kakak kira kamu mau..... Ah sudahlah jangan dibahas” ucap Alka kepalang malu. “Ada apa Al?”
“Aku kesini cuma mau kasih tau Kakak kalau Papa sama Mama berangkat siang ini ke Bogor”
“Lho bukannya masih nanti sore berangkatnya?”
“Iya, awalnya gitu, tadi Papa bilang ada sedikit masalah disana, jadi Papa buru-buru berangkat”
“Baiklah kalau begitu. Nanti malam Kakak akan menghubungi Papa, barangkali Papa butuh bantuan Kakak” kata Alka santai tidak sekhawatir Alana tadi. “Udah kamu tenang aja, Papa bisa kok mengatasi masalah disana?” imbuh Alka yang melihat raut wajah Alana sedikit khawatir.
“Iya Kak, aku sedikit lega sekarang. Aku disini sebentar ya Kak, bosan di ruangan sendirian”
Alka yang masih fokus dengan berkas-berkasnya mengiyakan pertanyaan Alana. Alana menuju sofa di ruangan Alka, sejenak ia menggeliatkan tubuhnya dan menguap beberapa saat. Hari ini begitu melelahkan baginya. Lalu Alana dikejutkan dengan dering pesan masuk di ponselnya, jemari lentiknya meraih ponsel yang tergeletak di atas mejanya. Ia melihat notifikasi ponselnya, ada pesan masuk dari Gema.
Alana yang sedari tadi membaca pesan Gema hanya tersenyum. Baru kali ini ada yang tulus perhatian kepada Alana selain keluarganya. Alka melihat dari kejauhan Alana senyum-senyum sendiri, rasanya ia telah lama tak melihat adiknya tersenyum setelah kejadian pertengkarannya di kantor dengan Bobby beberapa minggu lalu. Apakah dia sedang jatuh cinta?
“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri Al?” tanya Alka mengagetkan Alana yang wajahnya sudah bersemu merah.
“Siapa yang senyum-senyum sendiri sih Kak?” Alana mengelak dengan pertanyaan Alka.
“Udahlah, Kakak gak bisa kamu bohongi Al. Apa sudah ada laki-laki yang mengisi hati kamu sekarang?”
“Apaan sih Kak. Pertanyaan Kakak gak perlu Alana jawab deh” Alana mengalihkan pandangan dari kakaknya.
__ADS_1
Alana sendiri juga bingung dengan hatinya, ia masih belum siap menjalin hubungan dengan laki-laki. Ia masih merasakan luka yang teramat perih karena pernah disakiti oleh seorang laki-laki. Luka yang tergores kemarin masih belum sembuh karena belum ada yang bisa mengobatinya. Menurut Alana, hanya ayah dan kakaknya yang selalu tulus dan tak pernah menyakitinya sedikitpun.
“Menurut Kakak, sudah waktunya kamu membuka hati kembali Al” kata Alka seketika Alana menoleh pada kakaknya.
“Kak, aku belum siap jika harus tersakiti lagi. Luka dihatiku ini masih belum kering” kata Alana berkaca-kaca, seakan ada yang ingin ia tumpahkan segala gundah di hatinya.
Alka sejenak menghentikan kegiatannya. Seketika ia teringat akan masa lalunya dulu, yang pernah dicampakkan mantan kekasihnya dan memilih laki-laki lain yang lebih kaya dan mapan. Sejenak ia menaruh berkas-berkas itu, menghampiri Alana di sofa dan duduk di sebelahnya.
“Kakak tau Al bagaimana perasaan kamu sekarang. Kakak juga pernah mengalaminya, bukan hanya kamu. Kakak tau persis rasa sakit itu, tapi kita tidak boleh terus-terusan terikat oleh masa lalu. Saat itu Kakak juga berpikiran sepertimu, bahkan tidak ingin menjalin hubungan dengan wanita kembali. Tapi Kakak sadar, bahwa Kakak tidak bisa selamanya bersikap egois. Kakak juga butuh membahagiakan hati Mama dan Papa, kebetulan saat-saat terpuruk itu, Kakak bertemu dengan Meta yang mampu menyembuhkan luka di hati Kakak. Perlahan Kakak mulai membuka hati untuk Meta, dan ternyata Kakak sangat bersyukur dipertemukan dengan Meta, hingga kini ia tetap menjadi wanita yang mampu meluluhkan hati Kakak tanpa rayuan dan permintaan yang berlebihan” ujar Alka panjang lebar dan membuat Alana menitikkan air matanya. Alana baru pertama kali ini mendengarkan Alka mencurahkan segala isi hatinya yang tak pernah ia bagi sebelumnya. Alana sekarang memahami bahwa bukan hanya dirinya saja yang pernah terluka.
“Kak, ternyata luka yang Kakak alami lebih pedih dari yang aku rasakan. Sepantasnya aku lebih bersyukur saat ini karena aku masih diberi kekuatan untuk menghadapi rasa sakit ini”
“Iya Al, Kakak mengerti. Kakak hanya ingin kamu jangan terlalu terikat dengan masa lalumu. Kamu harus bangkit dari keterpurukanmu, kamu harus mulai membuka hatimu untuk laki-laki lain. Mungkin dia lebih baik dari Bobby, kamu tidak akan mungkin jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya” imbuh Alka seraya memberi harapan baru pada adik kesayangannya itu.
“Baiklah Kak. Aku akan mencoba membuka hatiku, aku yakin perlahan luka ini akan sembuh dengan sendirinya. Tapi adakah laki-laki yang mau menerimaku? Alana sedikit ragu dengan ucapannya.
“Alana, adik Kakak yang paling manis, eh salah, bukan yang paling sih, adik aku kan cuma kamu doang. Hahaha. Bercanda-bercanda” kata Alka menggoda adiknya kembali.
“Issshhhh, mulai deh. Emang Kakak punya adik lagi selain aku?” Alana mencebik kesal.
“Ada adik lain dong selain kamu. Adik Meta namanya” kata Alka membuat Alana seketika tak bisa menahan tawanya. “Ingat kata-kata Kakak, Alana. Kalau kamu udah nemu cowok yang bisa menyembuhkan luka dihatimu itu, jangan lupa kasih tau Kakak. Biar Kakak lihat, seperti apa kriteria cowok idaman kamu” Alana menganggukkan kepalanya tanda setuju.
“Makasih ya Kak, Kakak sudah mau memberi semangat baru untuk Alana” ucap Alana seraya memeluk Alka dan Alka membalas pelukan Alana seraya mengusap-usap kepala Alana.
__ADS_1
Adik kakak itu kelihatan akur sekali saat ini, ya memang jarang sekali mereka untuk berbicara berdua. Bahkan lebih sering bertengkar, inilah suasana baru bagi mereka yang mencoba saling berbagi satu sama lain.