
Selama perjalanan, tidak ada percakapan antara mereka berdua karena Alana masih sedikit kesal dengan Gema. Tak lama kemudian Gema dan Alana sudah tiba, mereka disambut hangat ibu Gema. Ketika masuk ke dalam rumah, Alana menerima pesan dari Bu Amalia yang mengatakan ia akan kembali berkunjung jam 7 malam nanti. Bu Amalia menanyakan apakah Gema sudah tiba di Bandung, dan Alana menjawabnya Gema sudah pulang tadi pagi dan sekarang sudah ada di rumah.
Setelah makan malam bersama, Alana dan ibu Gema memulai pembicaraan yang terlihat serius hingga membuat Gema curiga sebenarnya apa yang terjadi selama ia berada di Jogja.
“Bu, sebaiknya Ibu bicara langsung dengan Gema sebelum Bu Amalia datang,” bisik Alana pada ibu Gema.
“Kamu saja yang mengawali bicara sama Gema, nanti Ibu yang melanjutkan,” jawab ibu Gema juga dengan berbisik.
“Kalian lagi ngomong apa sih? Kok pakai bisik-bisik segala,” kata Gema seraya mengernyitkan dahinya.
“Gema, ada hal penting yang aku mau bicarakan sama kamu,” kata Alana memulai pembicaraan, ia menoleh pada ibu Gema untuk mendapat persetujuan. Ibu Gema menganggukkan kepalanya pada Alana hingga semakin membuat perasaan Gema tidak nyaman.
“Ada apa Alana? Dari tadi kamu ingin mengatakan hal serius sama aku, apa kamu akan meninggalkan aku?” tanya Gema beruntun karena seperti ada yang tidak beres dan ibunya pun terlihat diam menunggu Alana berbicara.
“Kamu bicara apa sih? Bukan hal itu yang mau aku bicarakan. Sebenarnya dua hari yang lalu, Papaku bertemu dengan klien lamanya, kami bekerja sama lagi setelah bertahun-tahun pabrik itu tutup karena pemilik pabriknya meninggal dunia. Sekarang pabrik itu bangkit dan menjalin kerjasama lagi dengan pabrik Papa. Dan pemilik pabrik itu mengenal Ibu dan mencari-cari keberadaan kalian, iya kan Bu?” ujar Alana. Gema menoleh pada ibunya, ia masih tidak mengerti arah pembicaraan ini.
“Iya Nak. Gema, pemilik pabrik sekarang adalah Bu Amalia, istri almarhum Pak Burhan. Pemilik pabrik benang tempat almarhum ayahmu bekerja dulu. Sejak kejadian itu, ternyata Bu Amalia mencari Ibu dan kamu. Memang dari dulu Ibu menyembunyikan keberadaan kita, Ibu tidak mau lagi berhubungan dengan orang lain. Ibu dari dulu berjuang sendiri untuk membesarkan kamu, karena Ibu tidak mau orang melihat Ibu karena kasihan,” kata ibu Gema dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
“Iya Gema mengerti Bu, lalu sekarang apa masalahnya?”
“Gema, saat Bu Amalia bercerita tentang ayah kamu, dan ia mengatakan bahwa selama ini ia mencari kamu dan Ibu. Dia sempat menyebutkan nama kamu, hingga aku meyakinkan apa benar kamu orang yang selama ini dia cari. Lalu aku mengajaknya kemari dan ternyata benar, Bu Amalia dan Ibu saling mengenal. Bu Amalia bahagia bertemu dengan Ibu, beliau akan kembali kemari nanti jam 7 malam. Katanya ada hal penting yang akan disampaikan pada kamu dan Ibu.” Alana menghembuskan nafasnya lega setelah berbicara dengan Gema.
“Jadi mereka bertahun-tahun mencari kita Bu? Ada apa sebenarnya? Apa dulu ayah punya hutang pada mereka?”
“Sepertinya ayahmu tidak pernah berhutang Nak. Ibu juga tidak tahu hal penting apa yang ingin disampaikan pada kita nanti. Kita tunggu saja mereka.”
Mereka bertiga saling diam satu sama lain, tak ada pembicaraan lagi karena mereka tengah sibuk dengan pikiran masing-masing. Terlebih Gema yang merasa tidak tenang dari tadi, ia berjalan mondar-mandir seraya menunggu kedatangan Bu Amalia. Ia khawatir akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan karena Bu Amalia telah lama mencari keberadaan mereka berdua.
Sebenarnya Alana sudah mengetahui hal apa yang ingin disampaikan Bu Amalia pada Gema dan ibunya. Namun ia memahami posisinya saat ini, ia tidak berhak menyampaikannya terlebih dahulu, ia pun tak mau ikut mencampuri urusan ini. Dia hanya sebatas perantara untuk membantu Bu Amalia bertemu dengan Gema dan ibunya.
“Bu Nani, apakah benar ini Gema?” tanya Bu Amalia yang kagum dengan sosok Gema yang wajahnya begitu mirip dengan Pak Arya.
“Benar Bu Amalia, ini Gema. Gema kenalkan ini Bu Amalia dan anaknya. Itu mas Bagus dan mbak Ayu namanya,” ucap ibu Gema.
“Perkenalkan saya Gema Bu,” ucap Gema sopan namun masih diselimuti dengan perasaan was-was.
__ADS_1
Setelah berkenalan dan saling berjabat tangan, mereka duduk bersama. Ibu Gema dan Alana berpamitan ke belakang untuk membuat minuman namun dilarang oleh Bu Amalia karena mereka hanya sebentar dan jam 9 nanti mereka harus sudah tiba di bandara untuk kembali ke Jogja. Akhirnya Alana dan ibu Gema kembali duduk bersama mereka.
“Jadi begini Bu Nani dan Gema, maksud kedatangan saya kemari karena ada hal yang sangat penting yang harus saya sampaikan kepada kalian berdua. Dari dulu saya mencari kalian atas amanat almarhum suami saya. Dan dalam surat wasiat yang ditulisnya, dia mengatakan bahwa Pak Arya meninggalkan saham yang sangat besar di pabrik. Dan waktu itu saya ingin menyerahkan saham itu pada Bu Nani, namun saya tidak pernah menemukan keberadaan Bu Nani. Hingga akhirnya, dua hari yang lalu saat kami datang ke pabrik Pak Alex dan mbak Alana, kami mendapat titik terang keberadaan kalian berdua. Dan mbak Alana dengan senang hati mengantarkan kami kesini. Saya sungguh bahagia, takdir mempertemukan kita agar saya dapat mengembalikan hak kalian berdua.” Bu Amalia seketika bernafas lega, beban berat yang dipikulnya selama berpuluh-puluh tahun akhirnya terlepas juga.
Gema dan ibunya terkejut dengan penjelasan Bu Amalia barusan, mereka saling memandang dalam kebingungan. Apa benar yang mereka dengar barusan? Apakah itu memang hak mereka berdua. Gema masih ragu, antara senang atau tidak dengan hal itu.
“Bu Amalia apa benar yang Ibu katakan tadi?” tanya ibu Gema.
“Iya Bu Nani, saya mengucapkan yang sesungguhnya. Ini saya bawa surat wasiat suami saya beserta surat penyerahan saham itu. Bu Nani dan Gema hanya perlu tanda tangan disini, dan kami akan transfer uangnya ke rekening kalian,” kata Bu Amalia seraya menyerahkan beberapa berkas yang harus ditandatangani Gema dan ibunya.
Gema dan ibunya membaca surat wasiat itu dan memang benar, ayahnya telah memiliki saham sebesar 30 persen pada pabrik itu. Namun ia tak pernah mengatakan pada ibunya dulu. Ibunya tidak membutuhkan harta yang banyak asal kehidupan mereka tercukupi dan bahagia dalam susah maupun senang. Mereka berdua akhirnya menandatangani surat itu.
“Saya masih tidak percaya dengan semua ini Bu, suami saya ternyata begitu baik. Dia masih memikirkan masa depan kami berdua. Tapi dia tidak pernah mengatakan itu, mungkin dia belum sempat mengatakannya saat itu. Maafkan saya telah membuat Bu Amalia menunggu terlalu lama untuk bertemu dengan kami. Tolong maafkan saya Bu,” kata Ibu Gema menyesali perbuatannya dulu yang menutup diri pada semua orang.
“Tidak masalah Bu Nani, Ibu berhak mengambil keputusan saat itu, itu sudah keputusan yang terbaik. Ibu juga tidak tahu tentang saham ini sebelumnya, jadi Bu Nani tidak pantas disalahkan. Sekarang saya yang berterima kasih, beban saya terlepas sekarang, saya lega akhirnya dapat mengembalikan hak itu pada kalian.”
“Bu Amalia, terima kasih atas semua ini. Sebenarnya kami tidak membutuhkan itu, namun bagaimanapun saya tetap menghargai ayah saya. Maaf sudah menjadi beban Bu Amalia dan keluarga selama ini” Gema yang dari tadi hanya diam karena tidak tahu seluk beluk permasalahan sebenarnya akhirnya membuka suara.
__ADS_1
“Iya Nak Gema, tidak apa-apa. Hanya itu yang bisa saya sampaikan. Kami harus segera kembali lagi ke Jogja. Terima kasih sudah mau menyambut kami bertiga.”
Bu Amalia dan kedua anaknya berpamitan dan segera menuju bandara untuk melanjutkan perjalanan ke Jogja. Tak lama kemudian Alana juga berpamitan pulang, Gema mengantarkan Alana ke rumahnya.