
Alana melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang agar segera tiba di rumah. Tubuhnya yang penuh keringat minta segera diguyur air. Dalam perjalanan yang jaraknya masih jauh dari rumah, tiba-tiba mobilnya mogok. Alana berpikir apakah mobilnya kehabisan bensin, tapi terlihat jarum di spidometer masih menunjukkan bahwa bensinnya masih full. Ia mencoba menyalakan kembali dan berhasil, ia melajukannya pelan dan tiba-tiba berhenti lagi.
“Kenapa sih dengan mobil ini, perasaan bensinnya masih full. Bulan lalu juga habis diservice” gumam Alana yang mencoba menyalakan kembali mobilnya tapi tidak berhasil. Untungnya ia berada di pinggir jalan, jadi tidak mengganggu kendaraan lain yang tengah berlalu lalang. Alana keluar dari mobil, ia mencoba membuka kap mesin dan ingin mengecek apakah terjadi sesuatu dengan mesin mobilnya. Berhubung ia tidak tahu tentang mesin mobil, Alana menelepon kakaknya tapi tidak ada jawaban.
“Kemana sih Kak Alka, apa dia masih kencan. Hufffft” Alana menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Dari kejauhan Gema sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya, dan melihat seseorang yang ia kenal tengah berada di pinggir jalan dan kelihatan sedang bingung.
“Alana” gumam Gema dalam hati. “Lagi ngapain dia di pinggir jalan jam segini?”
Lalu ia menghentikan vespanya di depan mobil Alana, seketika Alana terkejut ada orang yang dari kejauhan sedang menghampirinya. Alana takut ada orang yang akan berbuat jahat padanya. Namun seketika ia lebih tenang setelah orang yang itu mendekat.
Dag dig dug... suara detak jantung Alana yang berirama tak karuan. Perasaan yang tadinya takut jika ada orang yang akan berbuat jahat bercampur menjadi satu dengan perasaan tak bisa diartikan.
(Gema... kamu datang di saat yang tepat, batin Alana).
“Alana.. mobil kamu kenapa?” tanya Gema pada Alana yang masih melongo itu.
“I..Iya Gema, mo.. mobilku sepertinya mogok” kata Alana sedikit tergagap.
“Apa kamu perlu bantuan?” tanya Gema yang membuat Alana makin gugup.
“Emm, i..iya deh. Kalo kamu mau sih?” Alana mencoba menenangkan hatinya yang tengah berkecamuk.
“Iya pasti aku bantuinlah. Mana tega aku melihat cewek sendirian membetulkan mobil di pinggir jalan malam-malam gini” ucap Gema yang menenangkan Alana.
“Makasih ya Gema, kamu udah mau bantuin aku” kata Alana bersyukur Gema yang membantunya. Setidaknya ia dibantu oleh orang yang ia kenal daripada orang lain.
“Iya, sama-sama Alana” jawab Gema sambil mengecek mesin mobil Alana. “O iya kamu dari mana kok sampai jam segini baru pulang?”
“Emm, iya tadi pulang kantor, aku mampir makan malam dulu di cafe O” jawab Alana seraya memainkan ponselnya yang masih tetap menghubungi kakaknya. Sejenak Gema memperhatikan Alana yang tengah bingung menelepon seseorang.
“Kemana sih tuh orang, dari tadi ditelepon gak diangkat-angkat” umpat Alana sedikit kesal.
__ADS_1
(Apa dia sedang menghubungi kekasihnya, batin Gema).
“Alana, ini radiatornya kering jadi harus ditambah air biar bisa nyala lagi mesinnya” jelas Gema dan Alana tidak tahu harus berbuat apa.
“Terus gimana dong? Apa perlu dibawa ke bengkel? Tapi kan ini udah malam, mana ada bengkel buka malam-malam gini?” tanya Alana beruntun dan Gema pun langsung sigap mengambil botol minumannya di dalam tas yang ada di motornya. “Eh.. eh.. eh.. Gema, kamu mau kemana? Kok malah ditinggalin sih? Terus nasib mobil aku gimana ?” Alana terdengar masih nyerocos di depan mobilnya dan seketika diam melihat Gema kembali ke depannya.
“Aku cuma ambil air ini Alana, bukannya mau kabur?” ujar Gema yang membuat pipi Alana merona.
“Hehehe, aku kira kamu bakal pergi dan gak mau bantuin benerin mobil aku lagi” ucapnya tersipu malu.
“Iya enggaklah, kan tadi aku udah bilang kalo mau bantuin. Kata ibuku, kalo mau bantuin orang harus ikhlas dan gak boleh setengah-setengah. Apalagi yang lagi butuh bantuan itu seorang perempuan” Gema bertutur panjang lebar sambil menuangkan air dari botol minumnya ke dalam radiator hingga penuh.
“Iya iya, aku percaya deh. O iya, gimana kabar ibu kamu?” tanya Alana mengalihkan pembicaraan Gema.
“Alhamdulillah, kabar ibuku baik. Pak Alex apa kabar?” tanya balik Gema yang telah lama tak bertemu dengan ayah Alana itu.
“Papa baik. Dia lagi ke Bogor tadi siang untuk memantau pembangunan pabrik disana”
“Iya, Papa bangun pabrik lagi disana. O iya apakah kamu udah selesai?” Alana melihat Gema tengah mencuci tangannya dengan air dalam botol minumnya tadi.
“Udah selesai Al, coba kamu nyalakan mesinnya?” Seketika Alana masuk ke dalam mobilnya dan mulai menyalakan mobilnya dan akhirnya berhasil. Dengan senangnya ia keluar dari mobil dan tanpa sadar ia memeluk Gema dengan erat.
Seketika Gema membulatkan matanya dan terkejut dengan pelukan dari Alana. Ia bingung harus berbuat apa, apakah harus memeluk balik Alana atau tidak. Namun ia malu untuk memeluk gadis, jantungnya berdetak lebih cepat seperti naik roller coster yang berlika-liku dengan kencangnya. Saat tangan Gema ingin membalas pelukan Alana, Alana tersadar akan pelukannya pada Gema. Ia melepas pelukannya dengan tersipu malu, wajahnya berubah menjadi merah seperti udang rebus. Gema pun juga merasakan hal sama.
“Maaf Gema aku gak sengaja” Alana menundukkan kepalanya dan tak berani menatap mata Gema.
”Iya gak apa-apa. Emm...aku pamit pulang dulu ya” pamit Gema dengan salah tingkah, ia menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal itu. Dan tiba-tiba..
“Krucuuuukkkk” perut Gema berbunyi dengan nyaringnya, seketika Alana tertawa terpingkal-pingkal.
“Itu tadi suara perut kamu Gema?”
“Hehehe, iya Alana. Tadi suara perut aku, kayaknya cacingnya lagi minta makan” ucap Gema tersipu. “Aku pulang dulu ya, nanti cacingnya semakin meronta-ronta kalo gak cepat sampai rumah” imbuh Gema berpamitan pada Alana.
__ADS_1
“Tunggu dulu, tuh tuh, ada tukang sate mau lewat, bentar ya aku panggilin. Kamu makan dulu aja disini. Tunggu bentar ya” Alana segera memanggil tukang sate yang kebetulan akan lewat di depan mereka. Dengan senangnya, tukang sate itu sedikit berlari mendorong gerobaknya hendak menghampiri Alana dan Gema.
“Satenya mau berapa tusuk Neng?” kata abang tukang sate itu ramah.
“20 tusuk deh Mang, sama nasi putihnya ada?” tanya Alana agar Gema makan nasi agar perutnya tidak perih.
“Nasinya ada Neng, mau berapa?”
“Satu porsi aja Mang” ucap Alana seraya menghampiri Gema yang sedang duduk di trotoar.
“Kamu gak perlu repot-repot Alana, aku bisa makan di rumah aja” kata Gema segan menerima kebaikan Alana.
“Udahlah, gak usah sungkan gitu. Kalo nunggu makan di rumah nanti maag kamu kambuh lagi lho” Alana makin perhatian pada Gema.
(Alana takut maagku kambuh, kenapa dia jadi perhatian begini, gumam Gema dalam hati).
“Iya deh, aku nurut. Makasih banyak ya” ucap Gema tersenyum.
“Iya, sama-sama. Kamu kan udah bantuin aku juga tadi” kata Alana seraya membalas senyuman Gema.
Tak lama kemudian abang penjual sate telah selesai dan menyerahkan nasi dan sate itu pada Alana. Alana menerimanya dan berterima kasih, ia menyerahkan pada Gema. Seketika Gema heran karena pesanannya cuma satu porsi.
“Lho kok cuma satu porsi Al, buat kamu mana?”
“Aku tadi udah makan kok, udah kamu makan aja. Aku masih kenyang”
“Baiklah aku makan ya, beneran kamu gak kepengen nih?” goda Gema.
“Hahaha, udah makan aja Gema” dibalas anggukan oleh Gema. Baru kali ini Gema menikmati makanan terenak di pinggir jalan ditemani cewek secantik Alana. Tak lama kemudian Gema selesai makan, dan Alana mengembalikan piringnya pada abang penjual seraya membayarnya.
“Gema, aku pulang dulu ya. Makasih udah bantuin aku. Kamu hati-hati di jalan. Salamkan pada ibumu” kata Alana seraya berpamitan.
“Iya Alana, nanti akan aku sampaikan. Makasih juga satenya. Kamu hati-hati di jalan” ucap Gema seraya naik ke vespanya dan Alana masuk ke mobilnya. Kemudian mereka pulang ke rumah mereka dengan kendaraan mereka masing-masing.
__ADS_1