Gema Di Hatiku

Gema Di Hatiku
Ungkapan Hati


__ADS_3

Taman Wisata Kaliurang menjadi tujuan wisata selanjutnya. Pemandangan sekitar sangat indah dengan banyak pepohonan yang tumbuh tinggi menjulang, ditambah lagi dengan pemandangan puncak Gunung Merapi yang gagah. Kaliurang memiliki kuliner yang rasanya enak, terlepas dari gudeg Jogja dan bakpia, disini terdapat kuliner yang wajib dicoba seperti jadah tempe,nasi klenyer dan sate donal yang akan menjadi menu makan malam rombongan. Setelah dari Kaliurang, rombongan kembali ke hotel untuk beristirahat, karena besok hari terakhir dan malamnya akan kembali ke Bandung.


Gema dan tim kembali ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan beristirahat. Di kamar lain Alana sedari tadi terlihat murung, ia masih memikirkan kebersamaan Gema, Pak Asep dan Rani tadi. Ia terlihat tak bersemangat lagi, selepas mandi, ia langsung merebahkan tubuhkan di kasur dan seketika tertidur pulas. Meta merasakan keanehan pada sikap Alana, ia begitu diam dan enggan untuk diajak berbicara, ia pun akhirnya menyusul Alana tidur.


Pagi harinya mereka semua berangkat ke Keraton Jogjakarta setelah sarapan. Tidak ada wajah lelah dari mereka, malah semakin bersemangat karena besok mereka sudah tiba di Bandung dan kembali menjalankan aktivitas seperti sebelumnya.


Mereka berkeliling Keraton dengan dipandu oleh abdi dalem khusus yang ditugaskan untuk menemani wisatawan. Mereka terpesona dengan kehidupan adat yang masih kental di dalam Keraton, terutama pada pakaian yang dipakai seluruh abdi dalem tersebut. Dua jam berlalu, rombongan menuju Taman Sari, wisata sejarah dan edukasi lagi yang disuguhkan kepada para rombongan.


Bangunan milik kesultanan Yogyakarta ini difungsikan sebagai destinasi wisata, namun pada saat tertentu masih digunakan sebagai tempat ritual oleh para keluarga raja. Dengan bentuk bangunan arsitektur ala Portugis-Jawa menjadi daya tarik utama, meskipun kondisi bangunnannya sekarang tak lagi utuh , namun tetap terpancar aura yang kuat dari bangunan di taman ini. Sangat berbeda kesannya dengan Keraton Jogja, karena bangunan di Taman Sari lebih mengutamakan bagian pemandian yang memiliki julukan “Istana Air Jogja.”


Di sekitar area pemandian itu, Alana masih tampak murung. Ia menghindari banyak orang dan memilih berdiam diri di salah satu sudut bangunan. Bahkan keluarganya pun tak berani bertanya apa yang sebenarnya terjadi dengan Alana. Dari arah belakang, Rani menghampiri Alana. Ia sekedar ingin mengenal lebih dekat dengan gadis yang disukai Gema itu. Semenjak Rani ikut ayahnya ke acara pertunangan Alka dan Meta minggu lalu, ia tak sempat menyapa bahkan berbicara dengan Alana.


“Hai,” sapa Rani seraya duduk di sebelah Alana.


“Hai.” Alana menjawab singkat dan enggan menoleh ke arah Rani.

__ADS_1


“Kita belum sempat berkenalan waktu itu, aku Rani.”


“Aku Alana.” Alana menjabat tangan Rani seraya menepiskan senyum getirnya.


“Kamu baik-baik saja Alana?”


“Iya aku baik-baik saja. Aku pergi kesana dulu ya.” Alana mencoba menghindari Rani, namun tangan Alana ditahan oleh Rani. Alana bingung, sebenarnya apa yang diinginkan Rani. Ia terlalu malas berbicara dengan siapapun saat ini.


“Tunggu Alana, aku ingin bicara sebentar denganmu. Duduklah kembali,” pinta Rani dan Alana kembali duduk di sebelahnya.


“Aku ingin kamu tahu, dari dulu aku sangat menyukai Mas Gema. Aku selalu mencari perhatian dari darinya, aku ingin diperlakukan manis olehnya. Tapi semakin kesini, aku merasa dia hanya menganggapku seperti adiknya sendiri tidak lebih. Bahkan saat aku tahu dia menyukai gadis lain, hatiku memang sakit, bahkan lebih sakit setelah aku menyadari bahwa aku jatuh cinta sendirian. Rasa sayangku memang masih ada untuk Mas Gema, tapi aku ingin dia bahagia dengan pilihannya nanti. Sekarang aku ingin membahagiakan Papaku dengan menerima perjodohan dengan anak rekan bisnisnya. Papaku bilang, semua orang tua hanya menginginkan anaknya bahagia, terlebih setelah menemukan jodohnya. Kakakku belum siap menikah, adikku pun masih kuliah. Hanya aku harapan satu-satunya untuk Papaku agar dia bahagia dengan aku menerima pilihannya. Pesan aku untuk kamu Alana, jangan pernah menutup hatimu untuk seorang laki-laki yang baik dan tulus mencintaimu. Dan nanti kamu akan tahu siapa dia. Aku permisi dulu karena harus kembali mendampingi rombongan,” ujar Rani panjang lebar dan Alana hanya bisa mematung setelah mendengar pernyataan Rani barusan.


“Jadi selama ini aku sudah salah paham dengan kedekatan Gema dan Rani. Dan saat ini Rani mengalah demi kebahagiaan ayahnya dan Gema. Apa yang harus aku lakukan Tuhan?” Alana mengusap kasar wajahnya. Ia ingin sekali menyusul Rani, ia ingin berbicara kembali dengan Rani. Mungkin waktunya belum tepat untuk saat ini.


“Alana..” Alka berteriak dari kejauhan memanggil adiknya yang tengah melamun itu.

__ADS_1


“Iya Kak, aku kesana.” Alana bangkit dari duduknya dan menghampiri Alka dan keluarganya yang sedang berfoto. “Ada apa Kak?” tanya Alana dengan nafas ngos-ngosan karena setengah berlari ia tadi.


“Sini fotoin kita berempat,” pinta Alka seraya menyerahkan kameranya pada Alana. Mereka memang sengaja mengerjai Alana. Hingga Alana pun hanya bisa menggerutu kesal, ia sampai berlari hanya untuk diminta memotret keluarganya.


“Menyebalkan sekali sih? Jauh-jauh aku lari-larian dari ujung sana hanya untuk fotoin mereka.” Alana mengumpat dalam hatinya. Lalu ia mengambil posisi yang tepat untuk mengambil gambar keluarganya itu. Tiba-tiba ia menginjak sebuah batu kecil dan hampir terpeleset ke dalam kolam. Beruntungnya Gema yang ada di belakang Alana saat itu segera menahan tubuh Alana hingga Alana tak jatuh ke dalam kolam. Alka, Meta, Pak Alex dan Bu Anne pun setengah berteriak saat Alana hampir terjatuh. Lalu mereka seketika tersenyum ketika melihat Gema tengah menolong Alana.


Entah sudah tak terhitung berapa kali mata mereka kembali bertemu, degup jantung terdengar semakin kencang dari sebelumnya. Di saat seperti itu, Gema berpikiran mungkin ini saatnya ia mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya. Alana melepaskan tangan Gema perlahan, ia ingin mengucapkan terima kasih pada Gema karena telah menolongnya.


“Makasih Gema, kamu udah nolongin aku. Kalau nggak ada kamu mungkin aku sudah tercebur di dalam kolam,” ucap Alana seketika ingin berlalu dari hadapan Gema. Ia tak sanggup berlama-lama menatap mata indah itu. Gema tak menjawab, dalam sekejap ia menahan tangan Alana hingga membuat Alana berbalik.


“Alana. Ada hal yang ingin aku sampaikan sama kamu. Di depan Papa Mama kamu, di depan Mas Alka dan Kak Meta, dan di depan semua orang yang ada di Taman Sari ini.” Jantung Alana semakin berdetak tak karuan, ia tak bisa berkata apa-apa. Ia merasakan tangan Gema gemetar saat memegang tangannya. Gema pun melanjutkan, “Aku sayang sama kamu Alana, entah sejak kapan rasa ini hadir dalam hatiku, tapi aku yakin saat ini dengan perasaanku. Aku mencintaimu Alana, mau kamu menerimaku menjadi kekasihmu?” ucap Gema dengan suara yang bergetar.


“Gema, apa yang kamu lakukan? Ini di depan banyak orang.” Alana menahan malu karena mukanya terlihat memerah. Semua yang melihat mereka berdua ikut deg-degan menantikan jawaban Alana. Tak terkecuali Pak Alex, Bu Anne, Alka dan Meta.


“Jawab aku Alana, apa kamu juga mencintaiku?” ulang Gema kembali.

__ADS_1


“Gema, aku.....” Alana menggantungkan ucapannya.


__ADS_2