Grandmaster Of Secret Strategy

Grandmaster Of Secret Strategy
Chapter. 75 - Kemarahan Kaisar Langit dan Pelayan Setia


__ADS_3

Sebuah kilatan putih menyambar alam surga bersamaan dengan datangnya seekor burung Phoenix merah yang menyala-nyala hingga ke menyentuh alam fana. 


Kepakan sayap burung Phoenix membuat beberapa Dewa alam surga merasa sangat terkejut dengan kedatangan Kaisar langit yang menginjakkan kakinya bersama dengan mereka. 


Beberapa Dewa menyambut kedatangan kaisar langit tidak terkecuali siapapun yang melakukannya, semua wajah ketakutan telah terpampang jelas di wajah para pejabat-pejabat ini. 


Salah seorang Dewa mulai berkata, "Yang Mulia, kami telah melakukan apa yang Anda perintahkan. Sekarang, Dewa perang telah mendapatkan hukumannya dan akan segera mati." 


Wujud Kaisar langit dengan membawa kain putih di atas kepalanya yang membuat para dewa tidak bisa melihat wajahnya, tampak sangat marah begitu dia mendengar alasan yang dikatakan oleh salah satu Dewa disana. Peliharaannya pun juga tidak tinggal diam. Dia mengepakkan sayapnya dengan keras hingga membuat angin besar yang menerbangkan benda-benda kecil disekitarnya sebagai bentuk kemarahan darinya, mulai membuat para dewa disana ketakutan melihatnya.


Alasan yang sangat yakin dikatakan oleh salah satu dari para dewa disana membuat Kaisar langit menjadi sangat marah dan langsung berteriak pada mereka, "Apakah aku menyuruh kalian untuk membunuh dewa perang?! Siapakah yang telah mengirimkan pesan dariku dengan salah?!" 


Dewa bela diri Xing Chen berjalan maju dengan hati-hati, dia menghadap Kaisar langit dan berkata, "Yang Mulia, kami menemukan secarik kertas yang memiliki tulisan sama seperti milik Anda yang memberikan perintah kepada para hakim Dewa untuk segera melakukan penghukuman pada Dewa perang." 


Kaisar langit mengeraskan tinjunya dan mengebaskan tangannya sebelum dia menjawab dengan keras, "Aku sama sekali tidak memerintahkan kalian untuk membunuh dewa yang setara dengan kalian! Aku hanya memerintahkan agar dewa perang bisa memperbaiki kesalahannya bukan untuk dibunuh!" 


Salah satu dari Junior Dewa spiritual memberikan secarik kertas yang dimaksud oleh Xing Chen pada Kaisar langit dan membuat dia bisa membacanya.


Kaisar langit terlihat begitu terkejut ketika dia membacanya. Surat ini bukanlah tulisan miliknya! Sebuah ilusi telah terbuat disini dan orang itu telah menuliskan hal yang sangat berkebalikan dengan apa yang diinginkan olehnya. 


Kaisar langit mengeluarkan dua jarinya dan menunjukkan tulisan asli yang seharusnya tertulis di secarik kertas tersebut. Memangnya siapa yang bisa melakukan hal ini dengan begitu detailnya?! Benar-benar sebuah pengkhianatan dan orang ini hanya menginginkan kehancuran yang dialami oleh alam surga dan fana.


Kaisar langit kemudian membakar kertas tersebut dengan tangannya dan berkata pada para Dewa yang tampaknya ketakutan ketika mereka melihat kemarahannya, "Siapapun akan mendapatkan hukuman atas keteledorannya dalam menerima surat dariku. Siapa orang pertama yang menerima surat ini dan dari mana ini berasal?!" Ucapnya sambil melihat sekeliling. 

__ADS_1


Lan Yue berkata dengan perlahan, "Yang Mulia, orang yang menerima surat itu adalah jenderal Jun Wu dan juga yang memberikan surat itu padanya adalah burung Phoenix milik Anda." 


Kaisar langit kembali membentak, "Apakah kalian tidak bisa membaca dan tidak bisa memeriksanya terlebih dahulu?! Jika kalian sudah mengetahui bahwa leluhur Zhen Bei telah kembali, seharusnya kalian lebih berhati-hati!" 


Seluruh Dewa yang berada disana tidak berkata dan hanya menundukkan kepalanya. Sebelum Kaisar langit kembali berkata, "Lalu dimana jenderal Jun Wu sekarang?!"


Lan Yue menjawab, "Jenderal tidak kembali lagi setelah dia menghantarkan suratnya." Ucapnya yang kemudian memancing salah satu junior dewa untuk berteriak pada kaisar langit dan juga para dewa disana. Junior itu langsung berteriak dengan panik, "Yang Mulia! Jenderal Jun Wu telah dibunuh di dalam kuilnya sendiri!" 


Sementara ini, diwaktu yang bersamaan. Ketika keadaan di alam fana sedang sangat berantakan setelah kematian seorang Dewa, ditambah lagi dengan pertarungan habis-habisan yang dilakukan oleh Guzhu She dan juga Xiang Hu yang semakin membuat berantakan alam fana. 


Ada banyak korban meninggal akibat peristiwa tersebut. Dan juga Li Ruo yang sudah selesai membersihkan Xiao Guang Yu dari darah yang masih melekat pada kulitnya. Dia memutuskan untuk tidak mengkremasi mayat Xiao Guang Yu melainkan menyimpannya di dalam sebuah peti mati dan menempatkannya di dalam kuil miliknya. 


Li Ruo tidak sanggup berkata disaat dia melihat mayat Xiao Guang Yu yang semakin dingin dan hanya bisa menangisi kematiannya. Jika pun dia pergi untuk membalaskan dendamnya pada alam surga, mungkin saja Xiao Guang Yu juga tidak akan terima dengan apa yang diusahakan oleh Li Ruo untuk melindunginya. 


Li Ruo berkata dengan pelan, "Gege, seharusnya Dewa sepertimu tidak boleh disia-siakan. Mereka dengan seenaknya telah membunuhmu tanpa memandang dirimu yang sebenarnya. Aku akan memperlihatkan padamu, bahwa alam surga akan menjadi kacau berantakan ketika mereka kehilangan Dewa pelindungnya." Ucapnya sambil menutup kembali peti mati miliknya. 


Li Ruo berjalan menuju inti dari kuilnya dan mengambil sebuah pedang yang bercahaya, memiliki arwah gelap yang memenuhi setiap sudut dari bagian pedang tersebut. 


Pedang yang telah melakukan banyak dosa dan telah mengumpulkan banyak arwah jahat di dalamnya. Pedang yang haus darah yang akan melumuri di setiap logam tajam. Bahkan pernah terjadi sebuah peristiwa dimana sepuluh darah para Dewa yang telah menantang dirinya, telah tercampur di dalamnya dan menjadi suatu kekuatan terbesar yang ada pada pedang tersebut. Pedang itu dinamakan sebagai pedang Jianshi. 


Li Ruo berkata pada pedang Jianshi, "Balaskan dendam Gege pada alam surga dan alam iblis yang telah membuatnya terbunuh." 


Suara percikan air yang sangat berantakan. Dengan adanya tumpukan batu yang menghambat jalannya aliran air yang seharusnya mengalir deras dan lancar. Menjadi tersendat akibat adanya sebuah pertarungan besar yang dilakukan oleh dua siluman yang masing-masing tidak membela siapapun. 

__ADS_1


Xiang Hu berjalan dengan tangan kanan yang sudah menghilang sedangkan, Guzhu She berlutut tanpa kaki yang melengkapi tubuhnya. 


Genangan darah mulai terlihat dimana-mana dan kebakaran yang telah dipadamkan oleh air hujan yang menetes cukup lama disepanjang pertarungan mereka. 


Xiang Hu mencoba untuk menghentikan pendarahan yang ada pada tangannya yang putus sebelum berkata dengan serak, "Aku tidak menyangka kau akan mengambil tanganku semudah itu dan langsung membuatku cacat permanen. Tapi, sebagai gantinya aku mengambil satu kakimu agar semuanya menjadi seimbang." 


Guzhu She perlahan menjawab, "Kau dan juga aku sendiri sudah cacat permanen dan sudah kehabisan darah cukup banyak. Apakah kau masih ingin melanjutkan pertarungan ini? Lagipula sebentar lagi, aku juga akan mati." 


Xiang Hu melengkungkan senyuman dan kemudian terjatuh di tempat yang sama sebelum dia berkata, "Bukan hanya kau saja yang akan mati. Aku pun, juga akan merasakan hal yang sama."


Guzhu She menjawab, "Setidaknya, kita tidak akan meninggalkan jasad dan akan langsung menjadi abu yang menyatu dengan udara." 


Xiang Hu sedikit tertawa dan bertanya, "Apakah kau sedang membandingkan dirimu dengan manusia? Bukankah kau tahu bahwa majikanmu yang dulu adalah manusia juga?" 


Guzhu She menjawab, "Tentu saja aku mengetahuinya. Hanya tinggal beberapa detik saja aku akan menghilang dari sini. Kau sudah menang, Xiang Hu!" 


Xiang Hu menjawab dengan perlahan, "Tidak. Aku anggap pertarungan ini seri dan aku, juga akan menghilang bersamaan denganmu." 


Dengan perlahan, kedua iblis yang telah kehilangan majikannya ini, memancarkan cahaya hitam dan merah bersamaan dengan rontoknya seluruh kulit dan daging mereka yang berubah menjadi abu dan menyatu dengan udara. 


Beberapa detik sebelum dia menghilang, Xiang Hu berkata pada Guzhu She, "Jika kau dan aku kembali bereinkarnasi, aku harap yang menemukannya adalah Yang Mulia." 


Sebelum dia menghilang sepenuhnya, Guzhu She berkata, "Dasar bodoh! Yang Mulia sudah mati. Tidak mungkin dia hidup kembali." 

__ADS_1


Hembusan angin yang kencang, membawa abu mereka pergi menyatu dengan udara dan berpencar ke seluruh tempat menjadi setitik cahaya hantu. Dan pada saat itu juga, tercatat pada catatan Kaisar langit mengenai dua iblis yang setia terhadap tuannya dan pelayan yang selalu berada disamping tuannya. 


__ADS_2