Guru Dunia Akhirat

Guru Dunia Akhirat
Bunga kertas


__ADS_3

"Sisil bisa bantu saya ambil buku ini? " tanya Heru menyodorkan sebuah buku yang lumayan tebal kepada Sisil di depannya. Sekarang mereka berada di ruang kantor guru, tepatnya di hadapan meja Heru. Di sana terlihat beberapa guru tengah sibuk dengan pekerjaannya masing masing.


"Baik Pak," sahut Sisil mengambil buku seraya berbalik hendak pergi, seketika tangannya dipegang oleh Heru membuat Sisil kembali berbalik dan terhenyak karena jarak mereka sangat dekat.


"Pak disini bukan hanya kita saja," bisik Sisil hampir tak terdengar. Mereka pun celingukan melihat situasi di sana.


"Mereka tidak menyadarinya, aku kangen." Heru berucap sambil mengelus kedua tangan Sisil.


"Mas ini di sekolah jangan seperti ini takut dilihat orang. " Sisil pun melepaskan pangutan tangan mereka pelan. Terlihat Heru memanyunkan mulutnya.


"Sebelum kekelas buka buku itu halaman 15, ada hal menarik untukmu di terima ya itu khusus buatan aku. "


"Iya. " Sisil pun keluar dari ruang guru, sampai di lorong sekolah dia tidak menyadari bahwa sedari keluar ruang guru ada yang memperhatikan dirinya. Ratna dia lah orangnya, setelah mengetahui bahwa Sisil merupakan tunangan Heru dia menjadi benci sama Sisil seperti ingin menyingkirkannya.


Brukk


Sisil terjatuh dan bukunyapun terpental jauh, Ratna dengan sengaja memajukan sebelah kakinya saat hendak Sisil melewatinga. Sisil pun segera bangun lalu menoleh pada Ratna yang tengah tertawa bersama kedua rekannnya itu.


Brukk


Sisil tidak terima, dia pun membalas dengan menendang kaki Ratna dari belakang hingga dia terjatuh dan meringis kesakitan.


"Jangan macam-macam sama aku!" Sisil pun berlalu meninggalkan geng Ratna sambil membawa buku yang tadi Heru berikan padanya.


"Aku akan macam-macam sama kamu, kau dengar! Sebelum janur kuning melengkung Pak Heru bisa menjadi milik siapa saja! " teriak Ratna membuat orang di Sekelilingnya menoleh mentapnya. Sisil pun memberhentikan langkahnya lalu tersenyum mengejek dan kembali berjalan menuju kelasnya.

__ADS_1


"Aku lebih cantik darinya bukan? " sombong Ratna lalu di jawab dengan anggukan oleh teman-temannya.


Sisil telah sampai di kelasnnya dan ternyata kedua temannya pun telah berada di kelas. Sisil duduk di samping Rina dan mulai membuka buku di halaman 15, dia sangat penasaran. Ternyata hanya sebuah bunga dari kertas, seketika senyumnya terlihat di wajah manis Sisil.


"Kekanakan tapi membuat seneng juga. " Ucap Sisil dalam hati membuat Rina mengerutkan keningnya melihat temannya itu.


"Yang udah ketemuan senyam senyum, udah ngapain noh? " tanya Ratna menyenggol bahu Sisil, dengan nada menggoda. Sisil yang menyadari temannya itu tengah memperhatikan dirinya segera bunga kertas itu dia lipat dan masukannya kedalam tas.


"Dia cuman suruh aku bawain buku ini, Rat bisa kamu simpan di meja guru?" pandangnnya mengarah pada meja guru di depan.


"Aki rasa ada yang di sembunyiin tapi gak apalah kalau itu membuat mu bahagia, sini mana bukunya, " Ratna mengambil buku itu dari Sisil dan menaruhnya di meja guru. tidak lama kemudian Heru pun datang.


"Siang para siswa? "


"Baiklah buka buku kalian saya akan menerangkan sebuah unsur atom yang akan kalian temukan di soal ujian nanti. " Ucap Heru, kemudian semua siswa pun menurut.


Terlihat Heru dengan fokusnya mengajarkan materi di papan tulis itu, sambil sekali-kali melirik Sisil yang kejap menunduk karena malu.


"Hm memang kalau masih P baru selalu ingin memandang. " Bisik Rina dari membuat Sisil menatapnya tajam, Rina sengaja berkata P untuk kode pengantin sedangakn kode itu juga yang membuat Oliv mengerti.


"Rin, kata-katamu dulu teralami oleh Sisil, kalau dulu kamu bilang tidak akan fokus belajar memang itu kerjaan kamu, nah ini yang suka belajar menjadi nggak fokus kan aneh. " Ledek Oliv membuat Sisil memutar bola malas.


"Terus ledekin, terus! Aku memang gak fokus puas! " kesal Sisil pada kedua temannya itu.


"Kalian tidak bisa fokus pada pelajaran saya? " tiba-tiba Heru menghampiri meja Sisil.

__ADS_1


pletuk


Balpoin Heru terjatuh di kaki Sisil membuat kedunya menunduk untuk meraih balpoin itu, saat keduanya beradu kepala Heru sempat mencium puncak kepala Sisil kilat, dan untungnya tidak ada yang melihat itu.


"Ini pak," Sisil menyodorkan balpoin itu pada Heru.


"Fokus belajar, jangan suka ribut dikelas," Ucap Heru mengambil balpoin dari tangan Sisil lalu kembali kemejanya.


"Khm! " Sisil mencoba untuk menetralkan pikirannya, memang Heru itu kadang suka ada buat ngeselinnya.


Heru sengaja menjatuhkan balpoin itu, dan rencananya berhasil untuk mengecup Sisil. Entah mengapa Heru tambah cinta berkali-kali lipat pada Sisil, dia tidak mau kehilangannya. Senyuman itu tidak lepas dari wajah Heru, dirinya terus melihat Sisil yang kini tengah menunduk membuat Heru dibuat ingin mengigitnya. Kalau di rumah pasti kali ini Sisil tidak akan selamat dalam kungkungannya.


"Dasar memang istiku itu, kadang suka membantah, kadang penurut dan kadang terlihat malu. Manis sekali," gumam Heru dalam hatinya.


Sedangkan Sisil kini memfokuskan dirinya untuk mengerjakan soal yang diberikan oleh Heru, tapi tak ayal kejadian tadi membuat Sisil terus menyunggingkan senyumnya. Tak menyngka hubungannya dengan Heru bisa seperti ini, yang awalnya hanya suka jadi suka beneran dan nggak mau kehilangan. Mengingat hal itu Sisil menjadi kepikiran ucapan Ratna tadi di lorong.


"Memang tidak ada yang sempurna, terkdang ada orang ketiga yang akan menguji sepasang manusia. Mudah-mudahan kami selalu harmonis dan bisa melewati keaulitan bersama. " Ucap Sisil dalan hati, dirinya mendongkak melihat ke arah Heru dan kebetulan Heru pun tengah melihata padanya, membuat keduanga tersenyum bersama.


Sisil merogoh tasnya membawa bunga kertas yang tadi Heru berikan, dirinya melihat ada tulisan di bunga kertas itu lalu dia pun membukanya dan disana terpampang tulisan yang membuat mood Sisil turun drastis "Ntar malam kita telor ceplok ya! " isi kertas itu, seketika Sisil geram bisa-bisa di sekolah dia memikirkan hal itu. Ternyata Heru berbuat romantis ada maunya.


"Dasar guru mesum, untung masih di kelas kalau dirumah udah aku getok pakau spatula. " Gumam Sisil membuat Rina di sebelahnya menoleh.


"Sil perhatikan ucapanmu untung hanya aku yang dengar, bagaimana kalau orang lain yang mendengarnya bisa mati kutu kamu! " ujar Rina berbisik di telinga Sisil, Sisil pun hanya tersipu malu, membuat temannya itu menggelengkan keoalanya.


"iya, kamu jangan bilang-bilang dengan ucapan aku barusan awas lho!" Sisil memperingati Rina dan hanya anggukan dari Rina untuk mengisaratkan bahwa dia pasti bisa mengandalkannya.

__ADS_1


__ADS_2