Guru Dunia Akhirat

Guru Dunia Akhirat
Berangkat Wisata


__ADS_3

Mencintai itu sebuah keanehan, harus suka dulu atau di sukai duluan, harus merasa sakit dulu baru bahagia atau sebaliknya. Salah paham yang sering timbul mengakibatkan pertengkaran tapi setelah melaluinya, hal itu menjadi penambah kemesraan atau malah menjadi sebuah perpisahan.


Setiap orang pasti merasakan yang namanya jatuh cinta, ada yang terang-terangan dan ada yang disembunyikan. Sebenarnya cinta saja belum cukup untuk menyatukan dua insan, dia harus mendapatkan kasih sayang yang tertanam dari diri masing-masing.


Sisil menatap jendela itu jauh, pikirannya mengarah pada kejadian nikah dadakannya. Seorang Sisil yang begitu belum mengenal namanya cinta dulu, sekarang dia merasakannya. Cinta yang menggetarkan hati, setiap bertemu jantungnya berdegup dengan cepat.


Tidak ada pikiran untuk menikah muda, tapi dia mengalaminya takdir tuhan memang susah di tebak. Terkadang kita suka mengeluh menyalahkan takdir, bahkan iri kepada seseorang yang menurut kita sendiri hidupnya sempurna padahal belum tentu bukan, karena setiap hidup hanya mereka sendiri yang mersakannya.


Sisil menghembuskan nafasnya panjang, dia beruntung pertama bertemu dengan laki-laki yang mencintainya dan langsung menjadikan istrinya, mungkin itu yang terbaik untuknya jika saat itu dia tidak jadi menikah mungkin dia akan menyesal. Terkadang takdir mempermainkannya dulu lalu jika seseorang itu berhasil melaluinya dia akan mendapatkan hadiah yang istimewa.


Tiba-tiba perut Sisil ada yang memeluk membuat dirinya sedikit terkejut dan menoleh ke belakang, melihat siapa yang memeluknya itu?


"Mas, "


"Hm... "


"Kau mengagetkan ku! "


"Aku sengaja, " Heru menyentuh hidung Sisil sekejap, lalu mengecup bibirnya lembut.


"Ini ditempat kerja Mas, jangan seperti itu malu dilihat orang, " Sisil melepaskan tautan bibirnya itu.


"Tempat ini aman, ini ruangnku jika ada yang mau masuk pasti mengetuknya dulu. Sayang ini pertama kalinya kamu menghampiriku ke lestoran ada apa? " tanya Heru, dan menarik pinggang Sisil agar mereka saling menempel sedangkan Sisil mengalungkan kedua tangannya pada leher milik suaminya itu.


"Hari ini Oliv dan Rina mengajak ku untuk berwisata alam, kedatanganku ke sini ingin meminta izin dari mu," suara lembut itu memenuhi gendang telinga Heru.


"Ternyata ada maunya? " Heru melepaskan pelukannya tapi Sisil mencegahnya dengan memegang tangan Heru di belakangnya


"Hm, Mas tidak memberiku izin? "


"Tadinya kamu ke sini karena inisiatif. ek ternyata. .."


CUP


Sisil mengecup kilat bibir Heru, sedangkan Heru hanya terdiam.


"Mas... " suara itu terdengat seperti suara kenikamatan yang selalu Heru dengar saat mereka sedang bermesraan di kasur.


"Hm, baik lah tapi aku yang sarankan tempat untuk kalian berwisata alam!" Heru menatap Sisil.


"Yah terserah Mas aja, " pasrah Sisil, setidaknya dia masih bisa keluar dan menikmati alam bersama kedua sahabatnya itu.


"Pulau Neuhel!"


"Dimana? "

__ADS_1


"Tempat aku dibesarkan, kamu perlu bersamaku untuk ke sana! " Heru menyeringai.


"Mas berniat untuk ikut? " tanya Sisil, akhirnya dia mengetahui rencana Heru yang ingin ikut itu.


"Tidak baik seorang istri pergi tanpa bimbingan suaminya, " Heru mendekat, membuat Sisil tersenyum kaku.


"Mas aku akan berwisata bersama kedua sahabatku, emangnya Mas gak malu cowoknya sendirian? "


"Rian akan ikut bersama kita! "


"Apa? Terus pekerjaan Mas gimana? "


"Itu urusanku sayang, lagian cuma sehari semalam kan? "


"Menginap?" Sisil terkejut, bahkan dia sama sahabatnya itu hanya berencana seharian saja tidak sampai menginap.


"Sekalian berwisata sambil itung-itung bulan madu singkat, di sana juga ada tempat penginapan yang sangat bagus dan bahkan sangat indah. " Heru beragumen, membuat Sisil melongo. Dari awal bukannya berwisata itu rencana sahabatnya, kenapa menjadi Heru yang antusias dan mengatur semuanya?


"Tap-"


"Kita berangkat dua jam dari sekarang aku ada rapat sebentar! " Heru memotong pembicaraan Sisil.


"Jika sahabatmu mau ikut, mereka harus setuju dengan apa yang aku usulkan sekarang! " Ucap Heru sebelum dia meninggalkan ruangan itu.


Sisil hanya menghembuskan nafasnya berat, dan dengan malas dia mengambil ponselnya di dalam tas dan memulai percakapan bersama sahabatnya.


"Rapat untuk sore nanti dipajukan sepuluh menit dari sekarang!" Ucap Heru pada sekertarisnya itu.


"Baik tuan, " jawab Rian diujung telpon sana.


Setelah sambungan telepon terputus Rian kalang kabut memberi kabar pada karyawan yang lain.


"Tuan Heru sepertinya menganggap aku ini super hero," gumam Rian dan berlari keruangannya, untuk mempersiapkan berkas yang akan di bawa rapat sepuluh menit yang akan datang.


Sisil yang kini sudah berada si rumah, terlihat tengah bersiap mempersiapkan keperluan untuk berwisata nanti. Mulai dari baju dan peralatan mandi miliknya dan juga suami, dia simpan didalam koper yang besar itu. Hingga terdengat suara deringan telpon dari Rina.


"Ada apa Rin? " tanya Sisil setelah menggeser tombol biru di ponselnya.


"Benarkah kita akan bermalam di sana? Oliv baru memberitauku tadi," jawab Rina di sebrang telpon sana.


"Iya, aku kira tadi pas aku telepon kamu lagi bersama Oliv?"


"Tidak aku lagi ketoilet, Sil kalau harus menginap aku harus bicara dulu sama ibu kalau boleh tau wisata itu daerah mana? "


"Tenang lah yang pasti aman, cukup bilang sama ibu mu kalau kau pergi juga bersama kami."

__ADS_1


"Baiklah, aku sudahi dulu ntar kalau di izinin aku akan kerumah mu. "


"Iya, jangan ngulur waktu ya dua jam dari sekarang harus sudah ada di rumah ku! "


"Iya! "


Sisil pun mematikan sambungan telepon itu, dan kembali fokus pada pekerjaaan di depannya.


Akhirnya waktu yang ditentukan telah tiba, setelah rapat itu selesai Heru menatap Rian yang terlihat menunduk.


"Rian cepatlah berkemas kita akan ke tempat wisata alam dan rencana yang sudah kita susun tempatnya kita ganti di tempat wisata nanti. "


"Baik tuan! " jawab Rian menyetujui, kalau nantinya di bakalan kerepotan.


"Baiklah kali ini kamu jangan telat, setelah semuanya selesai cepat kerumah ku! "


"Iya tuan, pasti tidak akan mengecewakan lagi untuk kali ini, "


"Baiklah, "


Satu jam berlalu semua sudah kumpul di rumah Heru dan Sisil, kecuali Rian yang kini baru saja tiba.


"Mari Tuan, " Rian mengulurkan kedua tangannya menggiring tuan dan nonanya itu untuk masuk kedalam mobil.


"Tidak! Kau bawa kedua sahabat istriku itu, aku biar menyetir sendiri dan membawa istriku. " ucapan Heru pun membuat Rian menoleh dan seketika jantungnya berdegup setelah melihat Rina yang kini sedang menatapnya, serta bayangan mimpi itu begitu saja melintas di pikirannya. Membuat sekejap Rian pun menggelengkan kepalanya.


"Ma mari, " entah kenapa Rian menjadi gugup, dia bergegas masuk ke mobil tanpa membukakan pintu untuk Oliv dan Rina.


"Tunggu! " tiba-tiba dari arah gerbang Elsa berteriak membuat semua yang ada di sana menoleh. "Mau kemana kalian?"


"Bersenang-senang, " jawab Heru.


"Ikut, " Elsa pun segera memasuki mobil Heru, tapi beberapa detik kemudian dia pun keluar lagi. "Takut jadi obat nyamuk, aku di mobil sekertaris Rian aja ya?" tanpa persetujuan siapa pun Elsa begitu saja menaiki mobil Rian di bagian belakang.


"Ya gimana mobilmu? " tanya Heru pada Elsa.


"Asisten Rian bisa ya jadikan mobilku terparkir ditempatnya," Elsa melempar kunci mobil itu dan Rian pun menangkapnya.


"Huh... " Rian melengguh, dia merasa perjalan kali ini tidak menyenagkan hatinya dia harus satu mobil dengan beberapa wanita apa lagi ada sesorang yang beberapa saat ini mempengaruhi pikirannya.


"Mimpi buruk itu! " gumam Rian.


Setelah semuanya telah Siap mobil Heru telah jalan, tapi mobil yang di kemudi Rian belum maju membuat Elsa, Rina dan Oliv bingung.


"Asiaten Rian kenapa belum jalan? "

__ADS_1


"Ah ia, " Rian pun bergegas menyusul tuannya yang sudah beberapa menit yang lalu meninggalkannya. "


"Posisi duduk ini membuatku sangat kesal, kenapa dia bisa di sebelah aku! Benar -benar, ah lihatlah bahkan cuma melirik bibirnya pun kenapa membuat ku berdesir. Mimpi itu membuat ku gila! " ucap Rian dalam hati.


__ADS_2