Guru Dunia Akhirat

Guru Dunia Akhirat
Foto


__ADS_3

Malam hari suasana rumah tingkat itu sunyi, hanya terdengar dentingan jarum jam menggema rumah itu. Dikamar yang hanya bercahayakan lampu tidur, Ratna terlihat sedang melihat lembaran foto ditangannya dengan senyum licik terlihat di wajah cantik itu.


"Kau akan nangis darah Sil, awalnya aku pun tidak menyangka! " Ratna pun menyimpan foto-foto itu di laci dan membaringkan tubuhnya di kasur.


Pagi hari yang cerah dari sinar mentari yang menghangatkan bumi , terlihat tetesan embun meluncur dari ujung daun yang segar, membuat suasana hati menjadi tenang dan damai. Pagi hari yang memberi semangat bagi siswa kelas 12 untuk melakukan ujian kelulusan tahun ini.


Sisil terlihat mengerutkan dahinya sambil memainkan pensil ditangannya, mengingat jawaban yang akan dia pilih.


"Pst pst! " suara kode Oliv kepada Sisil, tentu saja untuk meminta bantuan jawaban. Sisil pun menoleh dan menggeleng membuat Oliv mengerucutkan bibirnya sedangkan Rina dia terlihat bergumam sambil menyentuh satu persatu kancing bajunya, entah apa yang dia lakukan.


Hari demi hari pun berlalu satu minggu sudah mereka menyelesaikan ujian itu, tinggal menunggu hasil yang memuasakan. Di sekolah itu, terlihat siswa melas 12 tengah sibuk mempersiapkan pendaftaran kuliah, walau berita kelulusan itu belum ada. Sisil memegang sebuah kertas yang di dalamnya terdapat beberapa nama universitas yang memintanya untuk menjadi mahasiswanya, mengingat bahwa dia merupakan wanita cerdas.


Mukanya menengadah dia sangat ingin kuliah, meneruskan apa yang telah menjadi rencananya tapi ada sesuatu yang menghalanginya.


"Sayang kau bingung? " Heru tiba-tiba duduk di sebelah Sisil, mereka tengah berada di ruang kelas.


"Mas ini di sekolah, " Sisil mengingatkan suaminya itu.


"Mas tau ini bukan di lestoran! " Heru mengangkat pinggang Sisil sampai dia berada di pangkuannya.


"Jangan seperti ini Mas! " Sisil berusaha melepaskan diri tapi pegangan Heru kuat. Dan di kelas itu cuma ada mereka berdua saja.


Hingga pandangan Heru teralih pada kertas yang di pegang Sisil, tangannya mengambil paksa kertas itu dan terkejut, " Bahkan beberapa universitas menginginkanmu kuliah di sana! "

__ADS_1


Seketika Sisil merasa tidak enak pada Heru, mengingat ucapannya dulu yang akan mengabulkan untuk program anak setelah lulus sekolah.


"Iya, " Sisil menunduk.


"Kamu mau pilih universitas mana? " Heru menatap manik mata Sisil, sedangkan yang di tatap malah mengalihkan pandangannya.


"Hm, kamu terbebani kan? Aku mengijinkanmu kuliah, kau istriku aku perlu mengerti apa yang seharusnya menjadi keinginanmu, soal anak biar tuhan lah yang menentukan. Maaf aku sempat membuatmu tertekan untuk hal itu, sekarang kau boleh memilih universitas yang kau inginkan asal jangan yang jauh-jauh! " Heru membelai rambut Sisil.


Perlahan air mata Sisil keluar, rasa senang dan rasa tidak enak menjadi satu tapi dia harus memilih yang terbaik untuk dirinya dan suaminya itu.


"Mas mengizinkaku, benarkah? " Sisil seakan tidak percaya dengan apa yang Heru katakan tadi.


"Iya kamu boleh kuliah aku mendukungmu, setidaknya kau merasakan bagaimana membuat skripsi itu! Tapi cuma satu syaratku, kamu tidak boleh sampai mengacuhkanku dan lagi setiap hari pakailah cin-cin pernikahan kita, mengerti! " ucapan Heru diselingi tawa, Sisil yang melihat hal tersebut malah merasa iba bukan merasa senang.


"Siapa? " tanya Heru, melihat Sisil yang tengah melihat ponselnya itu.


Seketika wajah Sisil memerah hatinya berdegup kencang, keduan tangannya bergetar serta matanya berkaca. Rasa terkejut yang amat dalam sampai tidak sadar ponsel yang tadi dia pegang terjatuh ke lantai. Heru yang melihat hal itu menjadi penasaran, dia pun mengambil ponsel itu dan mulai melihat apa yang Sisil lihat.


"Asstagfurullah, Sil ini salah paham aku bisa jelaskan! " Heru menjadi ikut panik setelah melihat foto yang dikirim untuk Sisil.


"Mau jelaskan bagaimana hm? " Sisil berdiri dan menoleh, air matanya mulai menetes membasahi pipinya.


"Aku dijebak waktu itu. aku pun tidak sada-"

__ADS_1


"Cukup Mas! Aku memang bodoh dalam segi perasaan, jadi kau bisa sepuasnya menyakitiku. Tapi sekarang aku mengerti, bukan harus pintar dalam pelajaran saja perasaan pun harus di pelajari supaya tidak menimbulkan sakit yang teramat seperti ini. Kau jahat Mas, Kau Jahat! " Sisil memukul Heru sekuat tenaga hingga ujung bibir Heru mengeluarkan darah dan tersungkur di lantai.


"Sisil ku mohon percayalah itu aku dijebak!" teriak Heru, tapi percuma karena Sisil sudah tidak di ruang kelas itu lagi.


"Sial! foto ini telah menghancurkan persahabatanku dan sekarang jangan harap akan menghancurkan rumah tangga ku! " ucap Heru dengan rahang yang mengeras lalu mebanting kursi dan meja dihadapannya itu.


Sisil terus berlari sekencang-kencangnya menerobos apa saja yang ada didepannya, dia berencana akan cepat pulang tapi tidak ke rumah mereka, melainkan kerumah orang tuanya.


Foto yang dikirim kepada Sisil adalah foto Heru dan Wulan yang saling merangkul disebuah tempat tidur tanpa busana, tentu saja yang mengirimkan foto itu adalah Ratna. Dia menemukan foto itu di sebuah laci yang memiliki gembok di tempat tidur bekas Wulan tinggal waktu masih tinggal dirumahnya, awalnya Ratna mendatangi kamar itu hanya ingin melampiaskan kemarahannya pada Wulan, sesudah kejadian tempo dulu dipinggir jalan.


Tepat di ujung rak Ratna menemukan laci yang memakai gembok, karena rasa penasarannya mendominasi kala itu dia menggunakan berbagai cara untuk membukanya dan akhirnya dia bisa menemukan isi laci itu. Ratna pun terkejut dengan apa yang ada di laci itu, sebuah foto orang yang dia kenal.


Foto itu juga yang membuat Ginanjar membenci Heru, saat masih sekolah dulu. Ginanjar sampai berani mengajak orang lain untuk berkelahi menghajar Heru waktu itu.


Heru yang kini masih berada di ruang kelas itu menghembuskan nafas kasar, mencengkram kepalanya dan mengerang prustasi dia tidak mau kehilangan Sisil, karena baginya Sisil adalah seseorang yang sangat penting untuknya. Hatinya telah penuh dengan nama istrinya itu, dan dia tidak terima dengan semua tuduhan yang selama ini menimpanya gara-gara foto itu.


Heru mengambil ponselnya di saku dan mulai menghubungi seseorang disebarang sana, "Cari Wulan sekarang dimana keberadaannya! " teriak Heru, membuat asisten Rian di sebrang sana menjauhkan ponselnya sesaat.


"Wulan yang dulu suka ngejar-ngejar tuan itu! " ucap Rian, tapi sambungan telepon itu sudah putus.


"Dasar tuan Heru! Mudah-mudahan tidak terdengar oleh para menejer ini, " gumam Rian melihat sekelilingnya. Dia sedang mengadakan rapat akhir bulan, di mana nanti hasil laporan keseluruhannya diberikan kepada Heru.


"Apa bisa kita lanjut lagi sekertaris Rian? " ucap laki-laki paruhbaya itu membuat Rian sedikit terperanjat dan kembali menduduki kursinya. Tentu saja seharusnya Heru yang berada di sana tapi akhir-akhir ini tuannya itu lagi sibuk dengan hatinya sampai Rian yang menjadi korbannya.

__ADS_1


__ADS_2