
Pagi ini Sisil sangat pagi sekali bangun, mengingat di rumah tidak ada asisten rumah tangga jadi pekerjaan rumah dia yang kerjakan sendiri. Sisil memeng sangat jarang sekali mengerjakan pekerjaan rumah sebelum menikah dengan Heru, tapi dia berfikir bahwa sekarang dirinya harus bisa merubah kebiasaan malas itu. Seperti sekarang, terlihat Sisil tengah menata serapan untuk suami dan dirinya di meja makan karena pekerjaan rumah yang membuat waktunya habis, jadi Sisil tidak sempat memasak dia hanya menyajikan roti panggang dan beberapa selai di sana.
"Akhirnya selesai juga," gumam Sisil membuka clemek nya lalu menatap jam diruangan itu. Betapa terkejutnya dia kini jam menujukan pukul 06:30, dirinya segera berlari ke kamar mandi.
Sedangkan Heru kini sudah terlihat rapi dengan setelan kemeja biru langit yang agak ketat, dan celana hitam panjang, tidak lupa kacamata yang membuat dirinya hampir sempurna dengan kegantengannya.
"Yang kenapa terburu-buru sekali, udah mulai besok aku akan mempekerjakan asisten rumah tangga. " Ucapa Heru kasihan melihat istrinya yang tengah tergesa kesana kemari memakai seragam dan mempersiapkan peralatan sekolah yang akan dia bawa hari ini.
"Ini semua gara-gara kamu Mas! Aku jadi gak sempat memperisapkan jadwal buat hari ini!" kesal Sisil lalu segera memesukan beberapa buku ke tasnga. Sedangkan Heru hanya menggelengkan kepalanya.
"Mau berangkat sekarang? " pertanyaan Heru membuat Sisil tambah kesal.
"Mas ini sudah siap, dan tolong masukan beberapa roti itu untuk kita dan selai coklat pada kotak makan, kotak makan ada di rak bagian atas. " Ucap Sisil, Heru yang mendengar itu malah memeluk Sisil posesif. " Apa yang Mas lakukan ini sudah siang! " tambah Sisil mencoba untuk melepaskan pelukannya, tapi Heru makin mengeratkannya.
"Mas! " seru Sisil, perkataannya terpotong karena telunjuk Heru yang membungkam mulut Sisil.
"Kamu liat jam di tanganku! " Heru menyodorkan lengannya yang memakai jam tangan.
"Ini masih jam 05:45? Tapi tadi aku liat di ruang makan sudah jam setengah tujuh! " keget Sisil, sedangkan Heru hanya cekikikan melihat tingkah istrinya itu yang terburu-buru.
"Jam di sana mati!" ucap Heru melepaskan pelukannya.
"Syukurlah kalau begitu, kita serapan aja, " ajak Sisil mengabil tasnya lalu pergi dan di susul Heru di belakangnga.
Di meja makan Heru terlihat menunduk membuat Sisil heran.
"Mas kanapa? " tanya Sisil mengunyah rotinya.
"Tidak! " jawab Heru dengan suara parau, membuat Sisil tambah Heran. Sisil pun menghampiri Heru tapi dia malah memalingkan mukannya, Sisil tidak menyerah, dia membalikan tubuh Heru dengan sekuat tenaganya dan betapa terkejutnya dia meliahat Heru yang tengah menitikan air mata.
"Mas kamu kenapa? Gak suka serapan sama roti? apa aku manggangnya kegosongan? "pertanyaan Sisil bertubi, dia menjadi tidak mengerti dengan sikap Heru.
"Sisil!" seru Heru dan tiba-tiba memeluk Sisil sangat erat membuat sedikit dirinya sesak dan membuat terbatuk, tapi Heru tidak menyadarinya dia sangat fokus memeluk Sisil seakan jangan pernah meninggalkannya.
"Mas... " Sisil memukul punggung Heru sambil terbatuk. Membuat Heru tersadar lalu merenggangkan pelukannya.
"Jangan berubah ya! tetaplah seperti ini! " ucap Heru kembali Sisil dibuat heran dengan suaminya itu.
"Berubah jadi gradion x maksudnya, ya nggak bakalan Mas! " seru Sisil lalu mendapat cubitan di hidungnya. "Sakit mas"
__ADS_1
"Baru kali ini ada seseorang yang sangat perhatian sama aku selain kedua orang tua ku, apalagi ini orang yang aku sayangi. Mulai sekarang aku ingin setiap hari di masakin kamu gak boleh bolong sehari pun. " Jelas Heru membuat Sisil memanggut.
"Iya, udah tuh hapus tuh air matanya perasaan kok seorang guru bisa cengeng, gak malu? " Sisil kembali menduduki kursinya setelah mengusap pipi heru dengan kedua ibu jarinya.
"Ingusnya? "tambah Heru, menghiraukan ucapan Sisil
"Yang itu lap sama Mas aja! Mas lebay ih! " Sisil bergidik dan segera meminum susu.
"Tidak apa lebay sama istri ini, perlu kamu tau lebay itu mendakan suatu hubungan yang romantis! " Perkataan Heru berhasil membuat Sisil tersedak, Heru pun segera menghampiri Sisil dan menepuk pundaknya pelan.
"Mas, hari ini aku merasa Mas mejadi aneh deh. "
"Itu karena kamu istriku, membuat aku kesenangan melebihi batas. "
"Hm... cepat makannya habisin, nanti telat beneran! " suruh Sisil dan Heru pun menurut.
Di sekolah kini tengah ribut dengan pertunangan Heru dan Sisil, semua penjuru sekolah tengah membicarakan hal tersebut membuat Oliv dan Rina khawatir dengan Sisil.
"Temanmu itu ternyata pandai menggaet guru sendiri!"
"Bagaimana Pak Heru bisa menyukai Sisil padahal kalau cantik ya cantikan aku. "
Rina dan Oliv kesal mendengar ucapan dua orang dihadapannya, Oliv terlihat sudah sangat gatal dengan tangannya ingin menamparnya tapi Rina menyentuh bahunya, dan menggeleng.
Sisil dan Heru terlihat memasuki gerbang sekolah, tapi agak berjauhan karena itu keinginan Sisil agar semua orang tidak mengetahui statusnya dengan heru. Oliv dan Rina yang menunggu kedatangan Sisil segera berlari dan menghampiri Sisil.
"Sil jangan terkejut ya!" tiba-tiba ucap Oliv membuat Rina mengukut lengan Oliv.
"Kenapa emang? " Tanya Sisil mengerutkan dahinya.
"Mending yuk kita ke kelas takutnya telat. " Rina mengajak menarik bahu Sisil dan di ikuti Oliv.
Di sepanjang jalan menuju kelas, Sisil merasa ada yang aneh semua tatapan benci mengarah padanya, terlebih beberapa orang yang menyebutnya penggoda, dan mengejeknya.
"Sebenarnya ada apa ini? " Sisil nggak sabar ingin mengetahui apa yang twrjadi di sekolah itu.
"Sil, pertunangan kamu dan Pak Heru terbongkar mereka menjadi syirik pada mu. " Terang Rina ragu takut Sisil menjadi was-was.
"Siapa yang memberi tahu?" Sisil menatap kedua temannya itu.
__ADS_1
"Kamu tidak menjurigai kita berdua? " tanya Oliv karena tatapan Sisil yang membuat mereka aneh.
"Aku mencurigai Ratna! " Sisil menekan kata Ratna.
"Aku kira mencurigai kita!" sahut Oliv.
"Kalau kalian bukan sahabatku mungkin aku mencurigai kalian,"
"Bagai mana kalau Ratna kita labrak aja! " Ucap Oliv membuat Sisil dan Rina tertawa.
"Itu persi kamu Oliv, kalau aku sih acuh aja emang bener kan! Itu bukan gosip! " ucap Sisil. 'Malahan aku sudah menikah dengannya, ' tambah Sisil dalam hati.
"Kalau di dieumin tuh si Ratna bakalan ngelunjak. " Sahut Rina.
"Hm, kalian memang baik deh, gak apa kita lihat saja sampai mana dia berani berurusan dengan aku! " ujar Sisil.
"Waw, Sisil memang yang terbaik! " sorak keduanya dengan mangancungakan jempol mereka.
🔅🔅🔅
"Pak gak salah,hm.. maksudnya Bapak tunangan sama Sisil? "tanya Ratna mereka kini berada di ruang guru dan kebetulan mereka hanya berdua karena guru yang lain tengah mengajar sedangkan Heru baru ada kelas nanti di jam kedua.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Heru dengan acuh, dia baru mengetahui pagi tadi kalau orang yang menjaili istinya itu adalah orang di hadapannya ini.
"Saya cuma mastiin saja Pak? "
"Itu bukan urusan kamu, mending kamu pergi dan masuk kelas kamu sudah telat! " usir Heru membuat Ratna mengerutka bibirnya.
"Pak sebenarnya aku suka sama bapak sedari pertama datang ke sekolah ini, " Ucap Ratna tapi tak di gubris sama sekali oleh Heru.
"Kenapa bapak memilih Sisil? Apa yang sepesial darinya hanya siswi cerdas malahan cantikan juga cantikan aku, malahan aku lebih menarik di banding Sisil, aku cantik dan kau tampan Pak jadi kita... "
Brakkkk
Heru menggebrak meja sekerasnya, membuat Ratna terdiam.
"Ingat! Jangan sentuh Sisil se inci kukunya saja atau kamu tau akibatnya! " ancam Heru, tapi Ratna malah ketawa, memang wanita gila cinta.
"Jadi benar-benar bertunagan Bapak sama Sisil apa dia memelet Bapak! " ejek Ratna membuat, Heru mengeratkan rahangnya menahan emosidia pun mendekatkan mukanya ke muka Ratna membuat Ratna ketakutan karena tatapan tajam yang diberikan Heru.
__ADS_1
"Kamu bocah! Kau tau, yang cerdas sudah pasti pintar dan yang cantik belum tentu pintar. Sisil sangat jauh berbeda denganmu dia tidak merayu, tidak keganjenan seperti kamu dia lebih menarik berkalilipat dari pada kamu, yang dengan berpakaian sexy membuat pria hanya memandang rendah kamu! Kamu bodoh! Dengan sikap mu seperti ini tidak akan ada yang tulus mencintaimu! "terang Heru lalu menjauh dari Sisil.
"Akan aku uji kesetian kalian, ingat itu Pak! Aku tidak bisa memiliki Bapak begitu juga Sisil saya jamin Pak!" ancam Ratna dan pergi dengan amarah yang menggebu. "Aku gak boleh kalah sama Si Sisil ini, sebelumnya juga aku selalu bisa mengalahkan wanita-wanita itu!" kemudian Ratna dengan segenap keyakinannya.