
Malam hari yang begitu pekat, menyisakan cahaya bulan yang meremang. Di sebuah keday mie terlihat Elsa tengah duduk dengan gusar serta pandangan yang berkaca, dia tengah bersedih. Laki-laki tampan yang tadi pagi sempat bertemu di kantor sang kakak, telah membuat hatinya sakit. Suapan mie itu tidak henti dia lakukan, kini air matanya sudah tidak bisa di bendung lagi.
"Andai di keday ini sepi, " gumam Elsa, sambil terus mengunyah mie itu.
Tanpa Elsa ketahui di belakangnya tengah ada sepasang manusia yang menatapnya heran. Sampai tangan laki-laki itu terulur menepuk bahu Elsa.
"Kakak! " seru Elsa menoleh, ternyata sepasang manusia itu adalah Heru dan Sisil.
"Ngapain disini malam-malam. mana air matanya keluar, lagi galau? " tanya Heru.
"Lapar sedang makan, dan kepedasan jadi air matanya keluar. " Elsa segera berdiri lalu mengusap air matanya yang membasahi pipi mulusnya itu.
"Aku tau kau lagi sedih, cepat pulang! " Heru menarik tangan Elsa, tapi Elsa menolak.
"Aku bilang aku hanya lapar! " ucap Elsa sedikit berteriak dan membuat orang di sekitatnya menoleh pada mereka. Sedangkan Sisil dia bingung dengan arah pembicaraan adik kakak itu, yang dirinya tidak tau awalnya.
"Ini udah malam, cepet pulang mamah sama papa pasti khawatir. " Heru pun tidak kalah berteriak.
"Ssttt mas jangan kenceng-kenceng malu di liatin banyak orang," Sisil mengisaratkan telunjuknya pada bibir, agar Heru bisa mengontrol nada bicranya
"Mendingan kita pulang dulu ke rumah, biar di bungkus saja lagian aku juga pengen nanti kita makan sama-sama ya Elsa," bujuk Sisil.
"Kau membujuku seperti anak kecil?"
"Maafkan aku, aku hanya ingin agar kau kembali ini sudah malam. "
"Baiklah! " Elsa pun akhirnya menurut, dia pun mengekori Heru menuju mobil.
Di sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam, memikirkan pikirannya masing-masing. Elsa sebenarnya dia sangat malu terhadap Sisil, karena Ginanjar yang sempat menghasutnya. Hingga akhirnya merka tiba di depan gerbang rumah, terlihat satpam pun membukakan gerbang tersebut.
"Sejak kapan satpam ini bekerja?" tanya Heru, sedangkan Sisil hanya menatap aneh suaminya itu.
"Tadi pagi mamah yang nyari satpam baru serta di rumah juga ada Bi Mimin, mamah bilang biar Bi Mimin si sini dan mamah nyari yang baru," seru Sisil dan Heru pun terlihat manggut-manggut.
Sampai di palkiran, satpam itu membukakan pintu untuk Heru sampai mereka bertatapan keduanya di bikin cengo," Heru, " lirih Alga.
__ADS_1
"Kau! " Heru menunjuk Alga. "Jadi kamu satpamnya, wah bagaimana kabarmu? Sudah lama tidak bertemu setelah kamu pindah sekolah dulu, "
"Aku ya baik, nggak nyangka ternyata kamu jadi bos aku. " Alga tersenyum, dan hal itu membuat Elsa dan Sisil keluar dari mobil. Kini keterkejutan Elsa pun terlihat.
"Jangan sungkan kau teman ku, " Heru menepuk bahu Alga.
"Suatu kehormatan Pak Bos,"
"Biasa aja, dulu kamu paling cerewet di antara kita, cerewet ceramahin maksudnya ha... " Heru dan Alga pun tertawa.
"Baiklah aku akan masuk, "
"Silahkan, " Alga pun menyodorkan kedua tangannya pada Heru memberi jalan, sedangkan Elsa tidak lepas memandang Alga.
"Kau ini! " Heru pun berjalan melewati Alga, dan di iringi kedua wanita cantik di belakangnnya.
Setelah depan pintu Elsa berputar balik dia menghampiri Alga dengan tergesa dan hal itu membuat Heru dan Sisil saling menatap satu sama lain.
"Hai kembalikan ponselku! " tiba-tiba Sisil menyodorkan tangannya kepada Alga.
"Ternyata benar kamu wanita itu, tadinya aku ragu. Ponselmu kan sudah menjadi milikku. " Alga duduk di pos sambil menyesap kopinya, dan membuat Elsa berlirih kata "tampan" di hatinya.
"Percaya diri sekali kamu, sini cepat balikin ponselnya ada banyak hal penting di dalamnya. Jika kau butuh uang biar aku berikan asal posel aku lembali. "
"Aku sudah tidak perlu uang nona, aku sudah punya karena aku telah menjual ponsel itu? "
"WHAT! Dasar kamu ya main jual aja aku gak mau tau sekarang kau ambil kembali ponselku! " teriak Elsa, dan Alga malah menutup kedua telinganya.
"Maaf tapi mana mungkin aku bisa mengembalikannya, aku menjualnya langsung pada waktu itu, saat aku masih dikota sebelah. "
"Kau ini ya! " Elsa pun akan menampar Alga, tapi Alga berhasil menghindar dan Elsa terlihat tidak seimbang dan akhirnya terjatuh di lantai. "Dasar kurang ajar! " teriak Elsa dan berdiri tergesa hingga helsnya yang tinggi itu kembali membuatnya terjatuh.
"Hati-hati nona, "ucap Heru tersenyum menatap Elsa, sedangkan Elsa yang kini berada di pelukan Alga sesaat terdiam terkesima.
Hingga suara Heru menyadarkan keduanya, " Apa yang kalian lakukan? "
__ADS_1
Alga dan Elsa pun membenarkan posisinya, hingga Elsa pun segera menyahuti, " Aku meninta ponselku di kembalikan, dia telah mengambilnya! "
"Alga kau mengenal adikku? Dan bagaimana bisa ponselnya ada di kami? " tanya Heru.
"Dia telah menabraku, dan aku meminta ganti rugi karena kakiku cedera tapi dia malah melemparkan ponselnya ya aku bawa. " terang santai Alga.
"Ha... ha.. Alga kau masih sama seperti dulu, tidak mau dirugikan ya! " Heru dan Alga pun tertawa.
"Sudah kalian tertawanya, aku gak niat memberikan ponsel itu karena mulut satpam ini yang nyebelin makanya sepontan aku lempar dia pakai ponsel. " ucap Elsa membuat kedunya menghentikan tertawa mereka.
"Tapi tenang saja jika ponsel itu sangat berharga untukmu, biar aku kembali ke kota itu. Bisakah aku izin untuk hari esok? " ucap Alga dan di akhir kalimat dia menatap Heru.
"Tidak bisa," sergah Heru, Elsa pun memajukan bibirnya. " Kenapa kamu masih menginginkan ponsel itu, tinggal beli yang baru apa susahnya!"
"Tapi di dalam sana, ada hal yang penting seperti foto yang berharga aku dengan Ginanjar walau pun aku sekarang membencinya tapi hatiku tidak bisa menolaknya, " ucap Elsa keceplosan dan segera menutup mulut dengan kedua tangannya, membuat Heru menggeram kesal.
"Dia hampir membunuh Sisil, apa kau tau? " teriak Heru membuat Alga menyimak.
"Apa! " Elsa tidak percaya.
"Apa kamu tidak mendengar omongan dia di kantor? Kau jangan pernah terlibat dengannya lagi dan jangan sekali-kali memikirkannya kau itu telah di manfaatkan! " jelas Heru, sedikit membentak adiknya itu.
"Mas Heru! " Elsa tertegun, baru kali ini dia melihat sang kakak membentak dirinya.
Heru dengan kesalnya meninggalakn Elsa dan alga di pos itu, Alga yang kini mulai sedikit memahami situasi pun berdehem.
"Dia ternyata masih seperti itu," ucal Alga.
"Sebenarnya kau ini siapanya Mas Heru? " tanya Elsa.
"Dulu dia satu sekolah denganku, kau Elsa rupanya yang cerewat dan manja itu ternyata makin cantik, apa kamu tidak mengenaliku aku?"
Elsa yang tadinya kesal karena sang kakak, menjadi tersipu setelah Alga mengingat dirinya, "Tidak aku tidak ingat! "
"Benarkah, biarkan untuk hari ini tidak ingat, tapi jangan sampai untuk esok dan kedepannyan kau selalu ingat kepadaku." Alga tersenyum.
__ADS_1
"Eh dasar laki-laki! " Elsa dengan pipinyanyang memerah segera berlari menjauh dari alga yang kini tengah tertawa, melihat tingkah Elsa.
"Dan masih lucu juga! " ucap Alga.