
Setelah hujan dan badai kehidupan itu pun akhirnya reda, Sisil kini berada di kamarnya dengan sang suami yang tengah menatapanya. Rasa risih pun dirasakan Sisil hingga beberapa kertas formulir yang kini dia pegang pun disimpannya di atas nakas.
"Apa kamu masih marah padaku? " tanya Heru, kedua tangannya di pakai untuk menopang dagunya.
"Tidak, " Sisil turun dari kasur lalu menghampiri Heru yang kini berada di sofa yang bentuknya aneh itu, menurut Sisil.
"Mas ini kursi bentuknya aneh, lekungannya seperti gitar spanyol dapat dari mana? " tanya Sisil membuat Heru gelegapan untuk menjawabnya.
"Ini dari aplikasi belanja online, aku beli karena bentuknya keren, " Heru memalingkan pandangannya dari Sisil.
"Mas boleh aku bertanya? " Sisil duduk di sofa itu tepat bagian ujung yang melengkung.
"Untuk mu apa saja boleh, " Heru meraih pinggang Sisil, dan kini Sisil menjadi di pangkuan Heru tepat mereka duduk di bagian tengah sofa.
"Hm, mas?" Sisil menjadi gugup sekarang, setelah mereka salah paham beberapa hari kemrin.
"Kenapa? " Heru sengaja menatap manik bola Sisil dengan pandangan lembut.
"Mas adakah wanita yang sebelum aku mengisi hatimu? "
"Tidak! " sepontan Heru menjawab, dia tidak ingin ada perkara lagi.
"Kemarin aku bertemu dengan Wulan, tapi sebelum aku menemuinya asisten Rian yang lebih dulu akan membawanya, aku tau itu suruhanmu lalu kau mau apa sama Wulan? " ucapan Sisil membuat Heru bingung, bukannya dia mengetahui bahwa hal itu untuk memperjelas masalah itu biar Sisil tidak salah paham.
"Tentu saja meminta penjelasan darinya agar kamu tidak salah paham lagi! " Heru menelesupkan tangannya pada bagian bawah Sisil.
"Mas maaf aku sudah salah paham terhadap mu, aku sudah tidak percaya, " Sisil memegang tangan Heru agar berhenti menggerayanginya.
"Tidak apa, emang beginilah hidup jika tidak ada masalah tidak akan bisa mengetahui kalau ternyata istriku ini sangat mencintaiku kan, " Heru mencium telinga Sisil.
"Mas!" Sisil merasa geli dengan perlakuan Heru.
"Ingatlah, semenjak aku melihat wajah imutmu waktu itu aku langsung ingin memilikimu dan sekarang setelah aku mendapatkannya aku tidak akan melepaskannya! " Heru memeluk erat perut Sisil dan kepalanya bersender di antara gundukan kenyal milik Sisil.
"Mas kau merindukanku kan? " Sisil iseng membuka atasan baju tidurnya itu.
__ADS_1
Heru seketika membelalak, bukan hanya sekedar rindu dia sudah sampai ubun-ubun menahan rindu yang mendalam. Heru mengusap bagian atas dari benda kenyal itu yang masih memakai kemasannya, seketika Sisil pun tersenyum.
"Apa mau aku membuka bagian bawahnya hum? " entah ada apa dengan Sisil hari ini, dia menjadi berinisiatif sendiri, karena sebelumnya hanya Heru yang selalu inisiatif.
"Kau juga merindukan ku, aku suka kamu seperti ini sayang, " Heru meraih kaki sebelah Sisil sehingga kini mereka saling berhadapan, tidak lama dari itu Heru langsung meraup bibir Sisil lembut.
"Mas pindah," Sisil melepaskan tautan itu paksa.
"Tidak usah pindah karena kursi ini dirancang untuk lebih fokus membuat dede bayi dengan berbagai gaya, "Heru melepasakn benda seperti kacamata itu pada dada Sisil, sehingga kini terpangpanglah sepasang gunung putih yang akan membuat Heru mabuk kepayang menjelajahinnya.
"Mas, "
Heru mengiraukan ucapan Sisil dia kini sangat fokus untuk memeriksa seluruh tubuh sang istri, Heru mulai menyesap bagian puncaknya itu menggerakan lidahnya disana, membuat sang pemilik meracau nikmat hingga menekan kepala Heru agar terus melakukan hal itu.
Tangan Heru pun tidak diam dia merayap, meraba seluruh permukaan kulit istrinya itu hingga Heru merubah posisi Sisil menjadi membelakangi dirinya.
"Aku tidak bisa menahannya lagi, setelah beberapa hari berjauhan darimu, " ucap Heru tangannya mulai menyentuh inti dari tubuh Sisil dan perlahan menggerakannya.
"Terserah mau Mas apakan aku, " pasrah Sisil sambil mengigit bibir bawahnya. Mendengar hal itu membuat Heru semakin bersemangat.
"Kenapa kau memintaku kesini, apakah ini rumah mu? " Elsa melihat dekorasi yang unik menurutnya.
"Iya, " Alga menyesap teh hangatnya lalu menatap Elsa.
"Kemana Ulan? " Elsa mamalingkan pandangannya agar tidak memandang Alga.
"Dia sedang mengaji di masjid, nanti pulang jam delapan, "
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku, kenapa kamu membawaku ke rumahmu? "
"Maaf kan aku Nona, kemarin dan hari ini pikiran dan mood ku sangat buruk." Alga menyimpan cangkir itu ke meja dan kembali menatap Elsa.
"Apa hubungannya dengan ku?" selidik Elsa, tadi sore saat Elsa sedang di jalan pulang kampus menerima telepon dari Alga dan katanya ada hal penting, makanya dia menuruti Alga untuk menemuinya.
"Entah, hati ku mengatakan hanya Nona yang bisa membuatku lebih baik. Maaf jika menggangu! "
__ADS_1
"Emangnya aku seorang penghibur untukmu yang sedang terpuruk, bisa-bisanya kamu berfikiran seperti itu dan lagi kau sangat mengganguku! " ucap Elsa ketus.
"Tapi anda menurutiku juga untuk kemari, " goda Alga, dirinya tengah memantapkan hatinya semenjak awal dia merasa tertarik pada adik temannya itu. Tidak peduli walau pun dia tidak sangat cerewet.
"Karena kau mengatakan ada hal penting makanya aku kemari jangan salah paham! "
"Baiklah kalau begitu mari saya antar pulang, " Alga berdiri hendak berjalan.
"Hai! Kau ini sudah mengganguku, dan lagi aku baru datang sudah main usir saja dasar memang tidak tau malu! " Elsa kesal, kedua kakinya ia lipat dikursi.
"Aku hanya tidak tau diri saja untuk kali ini makanya aku menghubungi Nona, kalau menggangu biar aku antar pulang bukan maksudku mengusir. " Alga kembali duduk dikursi menghadap Elsa.
"Hah hari ini cukup aku menyelesaikan masalah orang-orang itu dan aku akan berhenti bekerja menjadi satpam," ucapan Alga sukses menarik perhatian Elsa.
"Apa maksudmu! " Elsa mengerutkan dahinya.
"Tidak ada hanya saja aku akan berpisah dengan anda Nona, dan jaraknya sangat jauh! " Alga menunduk dan membuat Elsa semakin tidak mengerti.
"Kalau bicara yang benar dan harus mudah di mengerti aku tidak paham dengan yang kau ucapkan barusan! "
"Menjadi satpam itu bukan pekerjaan tetapku, aku hanya menyamar saja. Huh sekarang tugasku di kota ini selesai dan aku harus kembali ke negri gingseng itu, waktu libur yang dinantikan ternyata tidak terkabulkan. "
"Apa? Sebenarnya apa pekerjaanmu!"
"Apa kau mulai penasaran? Aku akan kasih tau apa pekerjaan ku asal kamu mau jadi kekasihku!" tegas Alga.
"Apa! Kau gila? " Elsa berdiri dengan mata yang membulat sempurna.
"Yah aku memang gila karenamu, aku pikir tidak akan bertemu denganmu lagi ternyata kita bisa saling melihat lagi, dan ini menurutku kesempatan untuk aku mendekatimu, "
"Kau bisa kena marah papa sama mas Heru! "
"Kenapa? tidak kaya itu dulu, sekarang aku bisa lah beli mansion untuk rumah kita dan makasih berkat kau aku jadi sukses ini. Awalnya juga aku minder jika menyukaimu tapi aku berusaha untuk menjadi orang yang bisa sepadan denganmu dan berhasil,"
"Kau banyak berkicau! Apa sebenarnya pekerjaan mu itu! "
__ADS_1
"Seorang penyelidik masalah, termasuk masalah antara kita! " Alga tersenyum sangat merekah.