Guru Dunia Akhirat

Guru Dunia Akhirat
Aku Cinta Kamu


__ADS_3

Seperti biasa Sisil dan kedua temannya berada di kantin untuk mengganjal perut mereka, terlihat Sisil sangat lahap memakan bakso itu begitu juga dengan Rina, dia sampai tidak merasa panas memakan seblak ceker padahal makanan itu baru saja di tuang dari wajan ke mangkung.


"Tiup dulu Rin! " peringat Oliv, sambil menyendokan nasi goreng ke mulutnya.


"Ini enak tau, bikin pusing jadi hilang kau mau? " Rina menyodorkan mangkuk yang mengeluarkan asap dari makannan itu, membuat Oliv bergidik.


"Ya panas, ya pedas itu bukan makanan aku!" tolak Oliv.


"Biasanya kamu main comot aja makanan milik oramg lain, " ucap Sisil tanpa menoleh dan hanya fokus pada makanan di depannya.


"Itu kagak sadar! " Oliv melirik Sisil, dan tanpa sengaja melihat sesuatu yang seharusnya dia tidak lihat, "Khm Sil? " panggil Oliv kemudian.


"Apa? " Sisil masih dengan mulutnya yang penuh.


"Telen dulu!" Oliv menjadi berhenti menyendokan nasi gorengnya.


Sisil pun perlahan menelan makannannya, di samping itu Rina menyimak pembicaraan kedua temannya. Setelah Sisil menghabiskan makanan yang ada di mulutnya Oliv mulai menepuk bahu Sisil, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Sisil.


"Khm! Sil? " Oliv merasa tidak enak dengan apa yang akan dia bicarakan, membuat Sisil heran sedangkan Rina sepertinya tau apa yang akan di bicarakan Oliv.


"Apa, cepat katakan!" sahut Sisil.


"Jejak pak Heru itu sangat jelas lho Sil, mereka ada tiga di lehermu warnanya pun merah merona apa kau tidak menyadarinya?"ucap Oliv membuat spontan Sisil menyentuh lehernya dan melotot terkejut.


"Mana ada, i ini hanya di gigit kecoa kali hehe... " elak Sisil menatap kedua temannya kikuk. Sedangakn Rina dan Oliv hanya tertawa mendengar ucapan Sisil.


"Kecoa? Emang di rumahmu ada kecoa? Menurutku kau sedang mengelak, jujur aja kaliankan udah mer-"


"Diam kau! " Sisil membungkam mulut Oliv, lalu menoleh ke arah Rina yang sedang tertawa dengan renyahnya.


"Oliv mungkin Sisil benar, mungkin itu siluman kecoa sama-sama suka merayap dan membuat memerah seperti itu. " Rina ikut menimpali dan Sisil pun menginjak kaki Rina.


"Hm kalian ini, sini lihat pinjam kaca kecil milikmu! " Sisil menyodorkan tanganya ke arah Rina. Rina pun memberikan kacanya.

__ADS_1


"Ya Ampun! " Kaget Sisil, dia pun akhirnya mulai panik.


"Ini gimana cara ngilanginnya! " batin Sisil, hingga akhirnya Sisil mempunyai sebuah ide, dia mengancingkan bagian atasnya lalu merebut dasi yang tengah Oliv kenakan,"Lumayan, walau masih sedikit terlihat. "


"Jangan sampai panik gitu lah Sil, masa cuma di gigit kecoa harus di tutupin sampai panik lagian nih ya, kalau rumah itu bersihkan sampai bersih biar gak ada kecoa," goda Rina menyenggol bahu Sisil lalu menaik turunkan alisnya, lalu Oliv pun terlihat tertawa.


"Diam kalian! Rina kau benar ini ulah siluman kecoa, kecoa tampan dan suka ngasih duit, mau di cariin siluman yang lain buat kalian? Biar tidak menggoda ku terus! " Sisil kembali melahap bakso nya yang tadi sempat tertunda.


"Mas Heru aku bilang jangan sampai meninggalkan jejak, masih saja tidak menurut mana lebih dari satu lagi apalagi warna nya mencolok sekali, aku jadi malu deh! Emang dasar guru mesum! " teriak Sisil dalam hati dan dengan cepat memakan bakso itu.


"Eh ngomong-ngomong Sil gimana rasanya itu? " Oliv menunjuk tanda di leher Sisil yang sedikit masih terlihat, walau tidak terlalu jelas.


"Kau sakit ya Liv! " Rina memegang dahi Oliv.


"Rasanya seperti sesuatu yang akan membuatmu di mabuk kepayang, " sahut Sisil lalu dengan sengaja menyeruput mie itu dengan suara eksotisnya, membuat kedua bahu temannya itu meremang.


"Jangan di lanjut Sil, bahaya kita belum punya pasangan! " ucap Rina,


"Ntar aja kalian rasain sendiri ya, aku juga gak bakalan bilang hal begituan kurang kerjaan! Apa lagi di sekolah ini! " Sisil pun selesai makan bakso lalu meminum air mineral.


"Aku duluan ya, ada sesutu yang harus aku kerjakan di kelas! " bohong Sisil, padahal dia mau mencari Heru.


"Mau ngerjain pekerjaan rumah? Hm, emang baru tadi soalnya keluar langsung aja di kerjain nah aku bodo amat yang penting besok ngerjain aja pas dikumpulin, " Rina meminum es teh manis itu.


"Kau itu tidak pernah berusaha! " sahut Oliv memetap Rina.


"Ha ah,,, " Rina hanya tertawa, sedangkan Siail dia meninggalakn kesua temannu untuk mencari Heru.


Hari ini Sisil sangat malu mengingat tanda yang berada di lehernya membuat dirinya tidak percaya diri, untungnya tadi Oliv memberi tahunya. Bagaimana kalau tanda ini sampai di lihat banyak orang, bisa salah paham mereka.


"Kemana dia! " Gumam Sisil celingukan di jendela ruang guru itu.


Sisil terus berjalan dan mukanya yang celingukan kesana kemari mencari sosok suaminya itu, hingga akhirnya dia menemukan Heru di ruang leb seorang diri. Pintu di buka oleh Sisil dan Heru menoleh dengan sedikit terkejut. Terlihat Heru tengah mengamati air warna warni itu yang tersusun di depannya, tangannya berhenti menulis karena Sisil masuk ke ruangan itu.

__ADS_1


"Pak Heru! " teriak Sisil tapi tidak terlalu kencang, sedangkan Heru hanya mengerutkan keningnya.


"Iya? " sahut Heru, Sisil buru-buru menutup pintu itu, menyalakan lampu dan menutup semua jendela dengan gorden.


"Langsung saja, kenapa tanda ini hadir begitu saja? " tanya Sisil menunjukan lehernya yang terdapat tiga titik kemerahan itu, Heru yang awalnya panik karena perlakuan Sisil sekarang menjadi tenang.


"Mereka tidak hadir begitu saja, mereka diciptakan oleh ku malam tadi, kenapa? Kamu suka? Mau lagi? " goda Heru menghampiri istrinya itu.


"Hal ini membuat ku malu! Mereka akan salah paham dengan ini!"


"Biarkan mereka salah paham, emang itu kan buatan suamimu harusnya kamu bangga kan? Kalau bisa aku ingin sekali mengumumkan pernikahan kita!" Heru menyentuh dagu Sisil tapi segera ditepisnya


"Tidak untuk saat ini, bagaimana ntar tanggapan teman dan guru yang lain terhadaku kenapa kamu tidak berfikir seperti itu! "


"Surat nikah ada, foto ada, apa yang perlu di khawatirkan. Mungkin perasaan mu belum yakin? " Heru mulai merangkul pinggang Sisil dengan sebelah tangannya.


"Aku hanya belum siap, bukan belum yakin karena pikiranku yang takut akan omongan orang lain saja, walaupun tidak akan berpengaruh omongan itu pada takdir kita tapi akan mempengaruhi lingkungan kita, dan akan merasa tidak percaya diri," Sisil menunduk di dada bidang Heru, kedua tangannya dia gunakan untuk menjadi tumpu dia di dada Heru.


"Biarakan omongan yang menjengkalkan itu, disini kita harus mengurus diri sendiri terkadang kita harus cuek pada mereka hanya untuk diri kita agar selalu berfikir positif. " terang Heru lalu mencium bibir Sisil singkat.


"I love you! " teriak Heru, dan Sisil pun membungkam mulut Heru.


"Jangan kencang-kencang! " peringati Sisil.


"Saranghe! " Heru memegang kedua tangan Sisil dan melipatnya di belakang.


"Aishiteru! " Sisil berusaha melepaskan diri, tapi tidak bisa.


"Abi bogoh ka anjen! " Heru semakin meninggikan suaranya membuat Sisil menginjak kakinya, tapi tidak berpengaruh terhadapnya


"Aku cinta kamu," Heru memeluk erat pinggang Sisil.


"J'te aime! " Heru pun akhirnya mencium lembut bibir Sisil, sebelum Sisil angkat bicara untuk penolakan.

__ADS_1


__ADS_2