
Sudah menjadi umum jika dalam suatu hubungan pasti ada masalah, kalau kata pepatah bagai sayur tanpa garam. Bagaimana sepasang manusia itu menyikapi masalah mereka, dan pastinya harus ada yang mengalah salah seorang bila tidak ada yang merasa bersalah, jika hubungan ingin di lanjutkan. Seperti hal nya mendayuh perahu, bila ingin sampai tujuan maka harus kerjasama walau ada badai atau ombak yang menerjang, saling percaya bahwa tujuan mereka satu arah walau banyaknya pendapat mereka harus saling memahami agar ada jalan untuk memecahkan masalah. Komitmen, itulah yang harus mereka punya. Mau bagaimana hubungan ini kedepannya? Tujuannya apa?
Heru yang merasa cinta dan sayang terhadap Sisil, walau mengambil resiko menikahi gadisnya yang masih sekolah karena dia benar-benar tidak mau kehilangan lagi wanita kecilnya itu walau ada keegoisan dalam dirinya, tapi dia mempunyai maksud dan tujuan menikahi Sisil. Tujuannya sederhana, ingin selalu bersamanya sampai akhir hayat, dan untuk kedepannya dia harus memahami situasi jika ada masalah agar tujuan awal tidak gentar.
"Ratna! Dia yang mengirim foto itu! Dapat dari mana? " teriak Heru menggema di seluruh penjuru ruang kantor miliknya, sedangkan asisten Rian hanya terdiam sambil menunduk.
"Dasar anak sialan itu! Bawa dia kemari! " titah Heru pada asistennya itu.
"Baiklah, " Rian pun meninggalakan ruangan Heru yang terpenuhi hawa amarah yang membara, dan membuatnya sedikit kepanasan sehingga menimbulkan peluh di dahinya.
Sedangkan dirumah Alga, Wulan masih bergetar menghadapi pertanyaan darinya. Kepalanya terus menunduk lidahnya terasa menjadi kelu, sekarang dia tidak menyangka dengan perbuatannya dahulu akan menjadi seperti ini. Foto itu memang di ambil olehnya saat masih sekolah kelas tiga menengah atas, hari itu tepat dimana hari diumumkannya kelulusan.
"Kau tau Ulan mempunyai riwayat penyakit leokimia yang harus segera operasi susum tulang belakang, di usianya menginjak 5 tahun menurutmu bagaimana? " Heru menumpangkan kakinya di sofa depan Wulan dengan mata yang menajam menatap orang di hadapannya.
"Apa yang kau katakan! Di dia? " Wulan pun menoleh dengan raut muka sedih.
"Kau peduli dengannya? Maka katakan yang sebenarnya tentang kejadian foto itu benar tidaknya! " teriak Alga.
Brakkkkk
Suara pintu dibuka paksa, menyisakan Ginanjar yang terengah dari balik pintu itu.
"Apa yang kau mau ketahui! " teriak Ginanjar.
"Ginanjar! " lirih Wulan pelan, dia merasa semakin tidak tenang.
"Bagus kau berada di sini, aku cuma ingin menanyakan perihal foto tanpa busana mereka dahulu kala yang mengakibatkan kau dan Heru bermusuhan sampai sekarang! "
__ADS_1
"Kenapa di bahas, aku sudah menerima dia apa adanya!" ucap Ginanjar membuat Wulan tersenyum.
"Ini harus di bahas karena keponakannya itu, Ratna! Mempunyai fotonya dan memberikannya sekarang pada istri Heru, kebayang pasti bagaimana dia sakit dan terpukulnya melihat foto itu. Dulu apa yang kau rasakan?"
"Bukannkah itu salah Heru dia yang pertama membuat Wulan pingsan dan melakukan itu terhadapnya! " Ginanjar berteriak tepat di depan Alga, senyum jahat pun terlintas di wajah Alga.
"Ini lah yang kau tidak tau, kau terlalu percaya pada dia yang baru kau kenal beberapa bulan dulu, tanpa mau mendengar penjelasan sahabat yang telah beberapa tahun berada di sisimu." Alga berdiri dan menghampiri Ginanjar.
"Kau harus tau kalau dialah yang membius Heru, " Alga berbisik tepat di telinga kanan Ginanjar. Perlahan tangan Ginanjar mengepal dan
Bughh
Dia memukul Alga sampai terjatuh, dan berkata" Wanita seperti Wulan mana mungkin berbuat seperti itu! "
Alga kembali berdiri memegang ujung bibirnya yang mengeluarkan cairan merah itu, lalu berjalan menuju sebuah laci dan membawa beberapa kertas di dalamnya.
Ginanjar memungut kertas itu, dia sungguh sangat mengerti dengan semua hal yang ada di dalamnya. Satu persatu kertas itu di buka, ada foto Heru yang keluar dari sebuah apotek disana, keterangan sidik jari Heru dan Wulan yang berhasil ditemukan dikemudi mobil milik Heru serta salinan foto Heru dan Wulan diatas ranjang.
"Kau mengetahui semua ini dari mana? Kau hanya seorang satpam rumahan!" teriak Ginanjar.
"Kau tidak percaya kalau itu semua benar adanya? " Alga melipat kedua tangannya di dada.
"Kau? " tatapan Ginanjar menyelidik.
"Bawa dia kesini! " teriak Alga, lalu keluar lah seorang perempuan dengan rambut panjang yang acak-acakan, di papah oleh seorang laki-laki berbadan besar berotot.
Wulan yang melihat itu seketika melemas, lutut dan tangannya bergetar hebat mulutnya menganga dengan mata membulat sempurna.
__ADS_1
"Nai.. " lirih Wulan pelan.
"Hai Wulan kau tau dia siapa kan, kau tidak bisa mengelak. Cepat katakan yang sebenarnya!" Alga kembali berteriak pada Wulan.
"Sebenarnya kau ini bekerja apa Alga?" gumam Ginanjar tapi tidak ada yang mendengar karena terlalu pelan Ginanjar mengucapkannya.
"A a aku, " Wulan sangat gugup dan takut, apalagi ada Ginanjar dihadapannya yang tengah menatapnya tajam dan penuh selidik.
Kali ini Alga sangat geram terlihat dari rahangnya yang mengeras dan kepalan kedua tangannya yang mengerat, dia tidak sabar mendengar penjelasan dari mulut Wulan.
"Ji jika aku berkata yang sesungguhnya pun kalian pasti tidak akan mempercayaiku bukan, " Wulan menoleh memberanikan diri berhadapan dengan Alga dan Ginanjar.
"Kau bicara atau anak mu-" Alga menunjuk perempuan yang di pegang temannya itu.
"Dia memang akan melakukannya, tapi..." perkataan perempun itu membuat Wulan kembali melebarkan matanya menatap teman sekolahnya waktu itu. "Tapi tidak jadi karena dia lagi haid. "
Semua yang disana terdiam terkecuali laki-laki yang memegang perempuan itu, dia tertawa dengan bahaknya mendengar hal itu.
"Heh ini bukan lelucon! " Alga menghampiri perempuan itu dan menjambak rambutnya.
"Ku mohon lepaskan itu benar, aku berkata benar! " teriaknya, Alga pun melepaskan cengkraman pada rambut perempuan itu.
"Dia benar, sebelumnya jika aku yang bicara kalian tidak akan percaya padaku kan! Kau juga tau dia yang mengambil foto pas kejadian itu, " Wulan berdiri.
"Aku sudah lelah dengan semua ini, bukan hanya kalian yang merasa terpisahkan, tersakiti dan tersiksa aku pun mengalami karmanya. Aku mengakui itu! Aku menyadari selama apa pun aku menyimpan masalah pasti bakalan terbongar juga! Dan sebagaimana pun berusaha kalau bukan takdirnya tidak akan kudapatkan. Jadi yang dikatakan dia benar. Walau aku sempat berbuat keji tapi takdir berkehendak lain, ternyata disinilah tuhan sedikit merasakan kasihan padaku walau harus menempuh perjalanan yang sangat menyebalkan!" Wulan berjalan menghampiri pintu, berniat untuk meninggalakan mereka semua disana dengan hati yang sangat sakit bagai teriris pisau yang tajam.
"Ku harap kau mengembalikan anak ku segera, karena aku sudah mengakui kesalahan dan dosaku aku tidak mempunyai siapapun di dunia ini, setidakanya aku bisa memperbaiki diri dengan sedikit rasa bahagia bersama anakku! " Ucap Wulan sebelum benar-benar meninggalkan rumah itu.
__ADS_1