Guru Dunia Akhirat

Guru Dunia Akhirat
Gugup


__ADS_3

Sisil dan Heru tengah berada di kamar, setelah kepergian keluarga Alga. Terlihat Sisil tengah berbaring dan memainkan ponselnya sambil ketawa membuat Heru yang baru saja keluar dari kamar mandi menatapanya aneh


"Ada apa? " tanya Heru, Sisil pun menoleh.


"Tidak! " sahut Sisil lalu Heru naik ke atas kasur lalu memeluk Sisil.


"Aku akan memakannmu sampai pagi kalau tidak ingin memberi tahuku," ancam Heru membuat Sisil berdecak.


"Mas kau ini yah, mau membuat aku pingsan nantinya? "


"Makanya kasih tau!"


"Mas kamu jadi manja gini, iya deh iya! " Sisil menyodorkan ponselnya pada Heru.


"Mereka berkencan? " tanya Heru, dia melihat foto Rian dan Rina.


"Bukan Mas!" sahut Sisil.


"Lantas? " tanya Heru mengeratkan pelukannya.


"Mereka hanya kebetulan bertemu saja, "


"Terus apa yang kamu ketawakan? " Heru menaikan alisnya.


"Mas lihat tangan yang memegang pinggang Rina? "


"he em,"


"Itu tangan Rina sendiri lho, bukan tangan Rian. Mas mikirnya itu tangan Rian kan, kita tertipu! Sebegitunya Rina menyukai sekertarismu itu mas padahal dia kan cuek dan dingin lagi dia sampai memaksaku untuk meminta nomor Rian sampai memberikanku boneka kesayanganya. Padahal boneka itu dari neneknya yang sudah meninggal lalu terpaksa aku mencuri nomor Rian dari ponsel Mas, tapi aku juga tidak menerima bonekanya juga. Bukankah hal itu lucu aku baru melihat Rina secinta itu sama laki-laki sampai rela melakuk-" ucapan Sisil terhenti karena Heru membungkam bibir Sisil dengan bibirnya.


"Ternyata istriku ini cerewet juga! " Heru melepaskan bibirnya.


"Mas aku lagi ngejelasin belum beres, " manyun Sisil.


"Udah ngerti kok! " ujar Heru lalu Sisil pun mengambil kasar ponselnya dari tangan Heru.


"Sayang, " Heru mengecup kening Sisil lalu mengelus perut rata Sisil.


"Kenapa? " tanya Sisil ketus.


"Di sini udah ada bayinya lho! "


"Apa! " pekik Sisil, "Apa maksud Mas, aku saja yang mempempunyai rahimnya tidak merasakan apa-apa, Mas kamu ngehalu? Aku jadi sedih, "

__ADS_1


"Emang bener di sini ada baby nya!" kekeh Heru.


"Mas maafkan aku, " Sisil malah berbalik membelakangi tubuh Heru. Dia merasa sedih, dia tau Heru menginginkan anak tapi dia sudah mendaftar untuk kuliah.


"Sayang... " Heru kembali memeluk lembut tubuh Sisil.


"Diam Mas aku ngantuk! " Sisil menangis dalam diam.


Tiga bulan berlalu dan kini pagi hari menjelang, acara pernikahan Alga dan Elsa digelar hari ini .


"Elsa kamu cantik banget, " seru Sisil dari balik pintu lalu menghampirinya.


"Iya harus dong kakak ipar, semenjak kejadian lamaran dadakan itu Mas Alga begitu saja meninggalakan ku ke Korea, kan sedih aku kira dia akan lari dari tanggung jawabnya setelah melamarku, eh ternyata dia memang tulus mencintaiku, " ucap Elsa dan merasa tersipu di akhir kata yang dia ucapakan.


"Mana mungkin Alga tidak seperti itu, aku sudah memperingatimu kan! Dan benar juga! " ucap Heru tiba-tiba membuat Sisil dan Elsa menoleh.


"Hah! Tidak menyangka aku akan beradik dengan temanku sendiri, Elsa jaga sikapmu jangan manja-manja lagi kamu sekarang udah di tuntut untuk dewasa! " peringati Heru, membuat Elsa menangis.


Elsa memang tipikal orang yang manja, dan semua yang dia inginkan harus dia dapatkan tapi setelah dia merasakan paitnya hidup seperti dicampakan Ginanjar dulu dan tidak memiliki banyak teman, Elsa menyadari bahwa sesuatu yang dia inginkan belum tentu membahagiakan untuk dirinya.


"Ia Mas! " sahut Elsa.


"Acaranya sudah mau di mulai, keluarga Alga sudah datang persiapkan dirimu! " beritahu Heru dan Elsa pun menjadi gugup. Sisil yang menyadari kegugupan adik iparnya itu hanya bisa menggenggam tangannya yang berbalut sarung tangan itu.


"Apa maksudmu? " tanya Elsa tidak mengerti.


"Dulu saat menikah dengan Mas Heru tau-taunya udah sah saja, kamu tau aku malah tidur bahkan saat di make up! " cerita Sisil dan membuat Elsa tersenyum tidak percaya.


"Wah kalau begitu aku pun akan tidur saja biar nggak gugup gini! " ucap Elsa.


"Jangan! Sebentar lagi juga kamu bakalan di panggil." sahut Sisil dan Elsa pun hanya cekikikan.


Di sebuah gedung yang mewah terpampang pelaminan yang megah dan indah, bahkan riuh orang memuji dekorasi pernikahan itu. Makanan khas dari berbagai daerah Indonesia tersaji di sana sampai seorang remaja laki-laki mengalihkan pandangan Oliv yang sedang memakan kolek singkong.


"Anak itu tampan! " sahut Oliv dan mulai menghampiri Dinar.


"Hai! " Sapa Oliv dan Dinar pun menoleh.


"Kamu siapa? " tanya Dinar agak ketus.


"Kenalin aku Oliv, " Oliv menyodorkan tangannya di hadapan Dinar.


"Aku Dinar!" Dinar pun membalas uluran tangan Oliv.

__ADS_1


"Hm, bisa temani aku di pesta ini aku sendirian! " ucap Oliv mencoba mendekati Dinar.


"Emang Mbak kesini sendirian suaminya kemana? " tanya Dinar polos membuat Oliv mematung, apakah dipandangan Dinar dia setua itu?


"Aku sendirian dan mana mungkin aku mendekatimu kalau punya suami! " ketus Oliv dan Dinar pun hanya mengangguk.


"Mbak ko sensian, Mbaknya suka sama aku ya? Matanya indah saat menatapku lho! " ucapan Dinar membuat Oliv mati kutu di tempat.


"Mbak aku baru mau masuk SMA, jadi tidak dibolehkan sama Emak kalau mau cinta-cintaan. Maaf ya Mbak! " Dinar tersenyum pada Oliv


"Percaya diri banget kamu! Aku cuman mau ada teman ngobrol saja! Aku juga baru masuk kuliah jadi tidak setua yang kamu pikirkan!" ucap Oliv, walau awalnya dia akan mengajak kencan Dinar malah kena ejek, membuatnya sangat kesal pada Dinar! Apa lagi dia baru putus sama pacarnya akhir pekan lalu, hatinya semakin tidak tertolong.


"Lagian aku tidak suka berondong! " sambung Oliv dan berbalik pergi.


"Tunggu Oliv, " Dinar menarik tangan Oliv.


"Hah! Sekarang kau yang terpesona padaku? " tanya Oliv dan tersenyum mengejek.


"Mbak kau menarik perhatian ku berkat cabe di gigimu," bisik Dinar tepat di telinga Oliv lalu seketika Oliv pun menghempaskan tangan Dinar kasar dan lari secepatnya menuju toilet.


"Kena kau! " ucap Dinar cekikikan.


Di toilet Oliv kalang kabut mencari kaca kecil di tasnya, dan saat ketemu dia pun mengarahkannya pada mulut seketika amarahnya memuncak.


"Dasar bocah tengil itu! Dinar! Itu namanya akan ku pastikan dia bakalan menderita ditanganku! " Oliv mengepalkan tangannya dan mengingat wajah Dinar lekat di pikirannya.


Dinar yang kini masih cekikikan membuat Roni menghampirinya.


"Kenapa? Ini acara sakral sebentar lagi kak Alga bakalan mengucapkan sumpah janji, cepat kita harus lihat! " Roni menarik pergelangan tangan Dinar.


"Iya, iya sabar napa kak!" sahut Dinar sampai seseorang pun mendekati keduanya dan menanyakan sesuatu.


"Maaf apa kalian melihat teman saya yang memakai gaun berwarna ungu muda, dan berambut panjang tadi dia disini, " ucap Rina dan Roni pun menggeleng sedangkan Dinar kembali cekikian.


"Apa kamu temannya Oliv? " tanya Dinar.


"Kamu mengenal temanku, kemana dia? " Rina kembali bertanya.


"Dia ketoliet, tolong sampaikan maafku padanya ya! " ucap Dinar lalu mengajak Roni untuk melihat sang kakak yang akan mengucapkan ijab kobul.


"Kau punya kenalan disini? " tanya Roni.


"Baru kenal tadi! " sahut Dinar.

__ADS_1


"Tidak heran memang! " Roni menggelengkan kepalamya, pasalnya dia juga mengakui ketampanan adiknya itu.


__ADS_2