
Pemandangan mansion yang sangat megah, memanjakan pandangan keluarga Alga. Kini mereka tengah duduk di kursi ruang tamu dan di sana pun sudah ada mamah dan papah Elsa.
"Assalamualaikum," terdengar salam dari balik pintu dan ternyata itu adalah Heru dan Sisil yang baru datang.
"Waalaikumsalam," sahut mereka semua yang berada di ruangan itu. Sisil dan Heru pun duduk di samping mamah Lina, dan percakapan pun di mulai.
"Senang Alga dan keluarga bisa kesini," Bastian yang merupakan papah Elsa membuka pembicaraan, suasana canggung pun menyelimuti mereka.
"Ia, kami pun senang bisa di terima untuk masuk kerumah bapak Bastian. " sahut sang bapak Alga dengan senyumnya dan kedua tangan yang di usapkan ke paha, karena gugup. Setelah itu hening sesaat membuat Alga dan Heru saling pandang.
"Khm! " Alga berdeham membuat sang bapak terkejut, lalu menoleh sesaat pada Alga dan beralih pada Roroh.
"Emak apa yang harus bapak katakan, " kata itu di isaratkan bapak pada Roroh dengan menggigit bibir bawahnya dan dahinya yang mengerut. Sedangkan Roroh hanya menelan ludah sambil menggeleng.
"Duh gawat kak, bisa-bisa kakak nggak jadi nikah! " bisik Roni pada Alga yang berada di sampingnya.
Sedangkan di atas meja sudah ada beberapa kue, buah dan sayuran. Lina yang melihat pemandangan di depannya itu hanya tersenyum.
"Kak lihat singkong di meja itu mungkin melambai pada calon mertua kakak, dia tersenyum gitu. " kini suara Dinar menyeruak di telinga Alga membuat Dinar dan Roni cekikikan.
"Mungkin dia tersenyum melihat ubi jalar itu! " sambung Roni membuat Alga kali ini ingin menangis karena malu, terlihat dengan mata dan wajahnya yang memerah.
"Terima kasih telah membawakan kami buah tangan, maaf merepotkan kami juga sudah menyediakan makanan untuk makan malam," kembali Bastian berbicara ternyata dia mengetahui kecanggungan keluarga Alga.
"Maafkan kami, ini pertama kali kami berkunjung kesini buah tangan yang kami bawa mungkin tidak ada harganya tapi itulah yang membuat kami bisa bertahan hidup, dan sebenarnya kami ke sini dengan lancang ingin meminang putri bapak untuk anak tunggal saya Alga." ucap sang bapak lalu bernafas dengan lega.
"Ah makannan yang ada di meja ini memang kesukaan kami, terutama singkong papah sangat menyukainya apa lagi jika di buat kolek, " ujar Lina mencoba menyingkirkan suasana canggung itu.
"Benarkah? Saya hanya takut jika makanan yang kami bawa tidak sesuai dengan selera keluarga Elsa." ucap Roroh lalu tersenyum. Sedangkan Heru sudah tidak bisa menahan tawanya, dia dengan sekuat tenaga menekan bibirnya dengan tangannya.
"Pak Didin kan? " tanya Bastian dan membuat sang bapak menoleh lalu mengangguk bingung.
"Ia itu nama saya, Bapak mengenal saya? "
"Pak Didin yang mempunyai perkebunan sayuran dan buah yang bekerja sama dengan perusahaan saya kan? " Bastian menatap sang bapak yakni Didin itu.
"Iya sebenarnya saya bekerja sama dengan perusahan Bastian, yang berada di kota ini kami udah bekerja sama selama lima tahun, " sahut Didin.
"Bapak tidak mengenal saya? Padahal saya ingat sama bapak saat tanda tangan kontrak."
"Kontrak apa ya pak? " tanya Didin acuh, membuat Heru, Dinar dan Roni cekikikan menahan tawa sedangkan Alga hanya menunduk.
__ADS_1
"Ih Bapak ini gimana sih! Bapak nya Elsa ini yang bekerja sama dengan perkebunan kita, bapak tidak ingat apa wajahnya? " tanya Roroh kesal.
"Oh jadi bapak ini namanya Bastian ya, aku tidak tau maaf saya pelupa, " Didin tersenyum, dan di susul senyumam dari Bastian dan Lina.
"Maaf saya jarang melihat Bapak, kalau aku ingat kita bertemu cuma dua kali dalam lima tahun ini, saya hanya dekat dengan sekertaris bapak yang bernama Haris itu. " terang Didin.
"Iya memang baru dua kali, kalau begitu jangan sungkan sama saya kita partner kan, " ucap Bastian memangkas rasa canggung.
"Alga partner itu teman kan? " tanya Didin pada Alga tapi masih terdengar oleh Roni yang ada di sebelah Alga.
"Iya Pak! " bukannya Alga yang menjawab tapi malah Roni yang menjawab.
"Baiklah, karena niat baik untuk melamar putri kami Elsa, saya dan keluarga hanya akan ikuti keputusan darinya saja," sambung Bastian dan menoleh pada Elsa, begitu pun dengan semua orang yang ada di sana menoleh kepada Elsa.
Elsa yang sekarang menjadi pusat perhatian menjadi gugup dan berdebar sedangkan Sisil yang melihat itu hanya tersenyum. Jika sekarang Elsa bisa memilih beda dengan Sisil yang dulu tidak bisa menolak hanya bisa menyetujui. Mengingat hal itu Sisil menoleh dan tersenyum pada suaminya itu, dan Heru yang merasa ada yang memperhatikan pun melihat ke arah sang istri lalu tersenyum dan berbisik,
"Apa sekarang kamu menginginkanku? Nanti saja kalau udah bubar ini ya sayang, sabar ya, "
"Pikiran krikilmu itu Mas kumat! " kesal Sisil dan membuat Heru tersenyum dan memegang tangan Sisil.
"Aku-" ucap Elsa menggantung membuat semua orang yang ada di sana penasaran, pandangannya lekat pada Alga yang sekarang sedang menanti jawaban daru mulut ranum nya itu.
"Aku sih yes!" ucap Elsa dengan cepat membuat semua orang melongo dan terdiam.
"Kenapa dengan semua orang ini, apa kurang jelas? Ini lagi Mas Alga masa gak ngerti!? gumam hati Elsa.
"Dia bilang yes! " bisik anak 15 tahun itu yakni Dinar kepada Roni.
"Iya aku juga denger, nggak budek lho dek! " sahut Roni.
"Tapi kenapa semua orang pada melongo bukannya tepuk tangan kaya gini! " ucap Dinar sambil tepuk tangan dan semua yang ada di sana jadi menoleh padanya.
"Duh," gaduh Roni menepuk keningnya, melihat kelakuan adiknya itu. Sedangkan Dinar sendiri hanya terdiam sambil memelankan tepukannya.
"Ah ini aku, itu tadi mendengar itu anu, aishhhhh, " gugup Dinar.
"Kakak Elsa bilang yes kan! Kami senang sekali akhirnya punya kakak perempuan secantik kakak ini," Roni menimpali dan
membuat Dinar bernafas lega.
"Elsa kamu bicara kecepetan mamah sama papah sampai gak jelas mendengarnya, bisa ucapakan sekali lagi? " pinta Lina dan Elsa pun menurut.
__ADS_1
"Iya, aku menerima lamaran Mas Alga, "
"Allhamdulilah, " sentak semua orang yang ada di sana, jangan tanyakan Alga dia sangat senang melebihi batas ruang hatinya.
"Terima kasih nak, sudah mau menerima anak saya, " ucap Didin.
"Baiklah mulai sekarang jangan pada canggung lagi, " Heru angkat bicara.
"Oh nak Heru dari tadi saya lihat makin tampan saja, " ucap Roroh dan tersenyum pada Heru.
"Makasih Mak! " sahut Heru.
"Kau juga masih memanggilku Emak! " ucap Roroh tak percaya.
"Iya apa kabat Emak sama bapak, maaf baru nyapa sekarang. " Heru mendekati Roroh dan Didin lalu Sisil mengikuti dari belakang Heru untuk menyalami kedua orang tua Alga itu.
"Ini, " ucap Roroh mengusap tangan Sisil.
"Dia istri saya, " jawab Heru.
"Apa kabar Om dan Tante, " sapa Sisil.
"Alhamdulillah kami baik nak, " ucap Didin dan Roroh. Sedangkan Sisil dan Heru kembali ketempat duduknya.
"Alga baru ketemu lagi sekarang sudah mau jadi menantu saya saja! " hardik Bastian membuat Alga bergeming lalu menghampiri Bastian.
"Om apa kabar? " tanya Alga menyalami Bastian.
"Baik nak, " sahut Bastian tersenyum.
"Dulunya Alga suka ngajak main Elsa, sekarang tau-taunya ngajak nikah memang kalau udah jodoh kali ya nggak bakalan kemana! " Lina bicara membuat semua orang tersenyum.
"Dia memang sudah cinta sama Elsa dari sejak Elsa masih sekolah dasar! " Ujar Heru dan membuat semua orang melongo.
"Bener kamu Alga? " tanya Roroh.
"Ah itu baru rasa suka aja sekarang beda, padahal bukan cuma aku saja yang suka sama pasangannya sedari mereka kecil. " Sahut Alga.
"Maksudmu? " kini Lina yang bertanya.
"Heru juga menyukai Sisil saat dia SD kan! " bongkar Alga dan membuat Heru tertunduk.
__ADS_1
"Udah tidak aneh ternyata dia memaksa kita dulu Mah! " ucap Bastian pada Lina.
"Gak apa-apa yang penting mereka bahagia! " ucap Lina