
"Sebuah rasa ternyata bukan rahasia yang harus di pendam, aku cinta sama kamu. Walau kenyataannya pahit untuk diucapkan dan ragu untuk disampaikan karena kamu seperti tidak menyukaiku, tapi aku akan tetap melakukannya ibarat sebuah obat yang pahit, jika akhirnya cintaku tidak terbalaskan aku akan segera menelannya menganggap rasa itu hilang walau membekas."
Terdengat suara Rina didepan kolam ikan yang berada tidak jauh dari gedung pernikahan Alga dan Elsa, dengan di temani seorang laki-laki yang merupkan sekertaris dari suami temannya itu.
Terlihat Rian hanya terdiam menunduk, dia dicintai anak muda yang umurnya terlampau jauh darinya hatinya merasakan sesuatu yang berbeda setelah Rina mengatakan itu. Perlahan kepalanya menoleh, melihat wanita di sampingnya lalu menghembuskan nafas beratnya.
"Kau menyukaiku? Kenapa? " tanya Rian.
"Entah! Pokoknya aku sangat ingin memilikimu! " ucapan Rina membuat Rian tersenyum.
"Mungkin kau harus segera menelan obat itu!" ucap Rian kemudian berlalu meninggalakan Rina sendirian.
"Kenapa? " teriak Rina kesal, tapi tidak digubris oleh Rian.
"Apa karena kamu sudah tua? Kamu minder jika pasanganmu seorang daun muda?" pertanyaan itu dilontarkan Rina dengan sangat geram dan membuat Rian terdiam.
"Aku memang tahu jika kamu tidak menyukaiku, tapi setidaknya aku mengungkapakan rasa ku ini padamu tidak semata karena ingin balasan darimu. Seumur hidupku baru kali ini aku yang bilang cinta sama laki-laki terlebih dahulu, walau kesannya sangat buruk terhadapku! " teriak Rina lalu berlalu dengan air mata yang berderai membasahi pipinya.
Rian perlahan manatap kepergian Rina, tatapannya melontarakan rasa iba di hati. Bukan niat untuk menolak dia merasa kurang pantas jika harus berhubungan dengan Rina mengingat Usia yang sangat jauh.
Dirinya sangat pintar dalam berbagai hal pekerjaan tapi sebenarnya bodoh dalam hal mengungkapakan rasa, terakhir kali dia merasakan degupan jantung yang terpacu karena cinta saat dirinya berada di bangku kuliah. Wanita yang di inginkannya ternyata hanya menganggapnya sebagai teman, walau kelihatannya wanita itu perhatian padanya tapi dia tidak menerimanya sebagai pasangan.
Rian menengadah melihat tumpukan awan putih yang berjalan dari pandangannya, untuk kebeberapa kalinya dia harus menolak wanita yang mencintainya termasuk Rina. Dia berfikir bahwa rasa yang mereka rasakan bukan cinta tulus melainkan cinta yang hanya ingin memiliki tanpa dasar sayang.
Padahal Rian belum mengetahui bahwa dalam cinta akan ada rasa sayang yang menghampiri walau lambat dia pasti akan datang.
Rina terus berlari dengan sekencang kencangnya hingga dia tidak melihat seseorang yang akan dia tabrak.
"Eh Embak! Embak! Stop! " Roni akhirnya memegang kedua bahu Rina dan Rina pun menghentikan lariannya.
"Embak baik-baik saja kan? " tanya Roni, dia mengadari ada air mata yang terlintas di pipinya.
Rina pun mendongkak dan mendapati sepasang kekasih yang sedang menatapnya.
"Maaf, aku baik-baik saja! " Rina pun menunduk lalu lembali berjalan melewati Roni dan kekasihnya itu.
"Kasian dia pasti di tolak sama laki-laki itu! " kekasih Roni menunjuk ke arah Rian yang tengah berdiri yang agak jauh darinya.
"Biarkan saja!" Roni menatap sang kekasih pujaannya.
Tidak mereka sadari Rian kini berada tidak jauh dengan mereka. Rian menggeleng melihat sepasang sejoli itu yang tengah berpandang mesra. hingga akhirnga merekapun mengetahuinya.
"Sayang ada yang melihat kita, " ucap kekasih itu sambil mengelus dada Roni.
"Biarkan saja mungkin jiwa jomblonya keluar sehingga iri sama kita, " ujar Roni terkekeh.
"Kalian menyindirku! " hardik Rian.
"Sayang, mending kita kedalam acara lempar bunga akan segera dimuali. Aku ingin mendapatkannya," ucap manja kekasih Roni sambil bergelayut manja di lengan Roni, sedangkan Roni sendiri melirik Rian sambil mengedipkan sebelah matanya mengejak.
__ADS_1
"Ayo sayang, " Roni dan sang kekasih pun ke dalam gedung kembali.
"Ih menjijikan!" gumam Rian dan berjalan masuk ke gedung mengikuti Roni dan pasangannya itu.
Sisil berada ditoilet dirinya merasa sakit perut, hingga suara tangisan dari kamar toilet di sampingnya terdengar.
"Khm! " Sisil mencoba memulihkan tenggorokannya yang terasa kering itu, suara tangisan itu justru semakin keras.
Sisil buru-buru membereskan dirinya di toilet lalu membuka pintu, lagi dirinya di buat terkejut dengan suara tangis yang di iringin kegaduhan di dalamnya. Dengan berani Sisil melangkah mendekati pintu itu.
"Permisi, " Sisil dengan ragu mengetuk pintu hingga seseorang dikenalinya membukakan pintu.
"Rina! Kamu kenapa? " Tanya Sisil membuat Rina menunduk.
"Tidak! " bohong Rina.
"Eh kamu yang tadi mau nabrak pacar saya ya..." ucap seseorang membuat keduanya menoleh.
"Kamu siapa? " tanya Sisil,
"Aku orang yang tidak sengaja melihat seseorang di tolak oleh laki-lakinya. Maafkan aku yang terlalu buruk untuk berucap hanya saja aku ceplas ceplos, tidak bisa mengontrol ucapanku. " ucap kekasih Roni membuat Rina kesal.
"Kau memang seperti itu hingga akan banyak orang yang akan mendoakanmu dengan sangat jelak karena ucapanmu! Saya harap anda pergi!" Rina menunjuk pintu keluar dan kekasih Roni pun menghentakan kakinya menuju keluar.
"Aku akan mendengarkanmu, " ucap Sisil.
Mereka telah berkumpul di depan pelaminan, terkecuali Rian dia hanya duduk di pinggir makanan yang terhidang di sisi ruangan.
"Rina aku yang akan mendapatkannya!" Oliv udah tidak sabar sedangkan Rina hanya membulatkan matanya.
"Iya, jika aku yang mendapatkannya aku akan memberikannya padamu yang sudah ngebet pengen move on dari si Galih itu!" sindir Rina.
Hingga acara yang di tunggu pun akhirnya tiba, Elsa dan Alga sudah membelakangi para tamu sambil memegang buket bunga yang indah itu.
"Kita hitung mundur dimuali dari satu.... " ucap pembawa acara dan membuat semua orang menarik tangannya ke atas.
"Dua.... "
"Tiga, lempar! " teriaknya.
Oliv melompat dan hanya bisa menyentuh ujung bunga itu, melihat Oliv kesal Rina segera berlari dan mengambil bunga itu yang di ikuti banyak orang di belakangnya sampai Rina melompat sambil merogoh bunga itu tapi sialnya dia tersandung kakinya sendiri hingga dia terjatuh.
Brakkkkkkkk
Suara meja yang berisi makanan itu terjatuh beriringan dengan Rina yang menimpa Rian diatasnya, dan semua orang pun bersorak kaget.
"Awh! " Ringis Rian dan dia manatap sesuatu di atasnya dan langsung membulatkan matanya tidak berkedip.
"Dapat! " Rina tersenyum senang mendapati bunganya telah dia genggam tapi bukan hanya dia yang menggenggamnya hingga pandangaannya menuju ke bawah.
__ADS_1
Mereka kini berada di atas lantai dengan kaki mereka yang berada di meja yang telah jatuh itu akibat keduanya, jangan di tanya soal makanan semuanya berserakn di lantai.
"Aaaaaaa" Rina berteriak lalu menekan dada Rian untuk berdiri.
Kini mereka pun berdiri sambil memegang bunga di tangan mereka.
"Lepaskan tangan mu itu bunga ku! " ujar Rina dan menepis tangan Rian yang memegang bunga.
"Itu bunga kalian, selamat ya bisa saja kalian berjodoh! " ucap pembawa acara mencairkan suasana, hingga suara riuh tepuk tangan terdengar di gedung itu.
Lain halnya di sebuah toilet, Sisil merasa sakit perut hingga Heru yang menunggu di luar cemas.
"Sayang keluar? " tanya Heru panik.
"Apanya yang keluar?" hingga Sisil balik bertanya tidak mengerti.
"Buaknkah kamu diare? "
"Bukan! "
"Kenapa? "
"Aku hamil! "
"Apa? "
"Aku hamil sayang! "
"Benarkah? "
"Masa aku berbohong, " Sisil menyodorkan tas kehamilan pada suaminya itu.
"Ini apa? "
"itu alat tes kehamilan dan aku positif! "
"Aku akan menjadi seorang ayah! " teriak Heru sangat keras lalu menggendong Sisil sambil berputar-putar saking senangnya.
"Lain kali aku harus berbicara dengan baik, aku telah membuktikan kalau ucapan adalah doa itu benar! " sambung Heru
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA CERITA INI SAMPAI AKHIR,
MAAF KARENA KARYA AUTHOR YANG PEMULA BANYAK TYPO DAN HAL LAIN YANG MENGGANGU PEMBACA,,,
NANTIKAN NOVEL TERBARU DARI AUTHOR YA
TERUS DUKUNG DENGAN LIKE, KOMEN, DAN VOTE
😍😍😍😍
__ADS_1