
📢📢📢HAI PARA PEMBACA YANG BAIK INI AREA TERLARANG BUAT USIA 21 KEBAWAH📢📢📢
MOHON BIJAK DALAM MEMBACANYA,
HAPPY READING 😍😍😍
Sisil, Elsa dan Heru telah sampai rumah. Semua kejadian tadi sudah teratasi dengan baik .
"Telusuri siapa yang mau main-main sama saya! " ucap tegas Heru pada asistennya itu, sebelum dia menaki mobilnya beranjak pergi.
"Baik tuan! " sahut Rian dan pergi dengan mobilnya.
"Kakak aku yakin sekali ini perbuatan Ratna! " Elsa meyakinkan Heru.
"Tapi tidak ada bukti yang kuat Sa, kita harus selidiki ini dulu, " Heru berjalan melewati Elsa dan menarik tangan Sisil menuju rumah.
"Ish," dengus Elsa dan berjalan mengikuti kakanya itu.
Di jalanan yang ramai itu karena menjelang siang hari, Rian menaruh earphone bluetooth pada telinga kirinya dan memulai percakapan dengan seseorang yang dia telpon.
"Mas Alga kau bisa membantu ku? " tanya Rian
"Kau atau tuanmu yang membutuhkan ku, kalau tuan mu katakan aku sudah tidak bekerja dengannya lagi, aku udah berhenti jadi satpam! Dan minggu depan aku akan keluar negri! " jawab Alga di sebrang sana.
"Ini soal pekerjaan asli mu, aku meminta bantuanmu untuk mengatasi masalah tuan! Apakah bisa? " ucap Rian.
"Aku akan di bayar berapa? Kalo se UMR aku ogah! " canda Alga tapi di anggap serius oleh Rian.
"Tentu saja bayarannya sesuai keinginan mu Mas! "
"Cak! Ku pegang kata-katamu awas kalau kau melanggarnya! " ucapan Alga membuat Rian menelan ludah.
"Hallo hai, asiaten Rian kau masih di sana? Apa kau meragukan bayarannya? " pekik Alga terdengar di telinga Rian dengan keras, sampai Rian mencabut earphone itu dari telinganya tapi tidak lama dia memasangnya kembali.
"Iya!" jawab singkat Rian.
"Jadi apa masalahnya? "
"Tadi pagi saat perjalan pulang dari wisata nona Elsa menemukan ular beracun dimobil tuan, dan kami berfikir itu perbuatan di sengaja oleh seseorang, " jelas Heru.
"Apa! " teriak Alga dan Rian kembali harus melepaskan earphone nya karena terlalu memekik.
__ADS_1
"Elsa baik-baik saja kan? Dia tidak sampai di gigit ular itu? Sekarang Elsa di mana?" pertanyaan-pertanyan itu, membuat Rian menepikan mobil lalu beralih mencabut sambungan pada earphone nya dan kini ponselnya yang bertengkar ditelinganya.
"Mereka baik-baik saja dan begitu pula dengan nona Elsa," sahut Rian," Mas Heru bisakah aku menjelaskannya di lestoran, aku menunggu, "
"Iya sekarang aku kesana," Heru menutuskan sambungan telpon itu.
"Huh! Main putusin saja kalau begitu aku tidak jadi ke rumah dulu untuk berganti pakaian, " gumam Rian dan menyalakan mesin mobil itu.
Di rumah, Heru sedang memeriksa beberapa file yang masuk di leptop sambil sesekali melirik sang istri yang tengah menyesap susu kesukaannya.
"Buat kan aku kopi, " suruh Heru dengan kesibukannya itu.
"Iya, " sahut Sisil dan berjalan menuju dapur.
"Walau akhir-akhir ini Rian ceroboh tapi mengenai masalah lestoran dia tidak sampai seperti itu, lengkap dan rapi makanya aku susah melepaskan dia! " gumam Heru tersenyum.
Beberapa menit berlalu Sisil telah kembali dengan nampan yang berisi satu gelas kopi, lalu dia pun menyimpannya di meja.
"Sayang duduk di sini, " manja Heru membuat Sisil bingung, pasalnya Heru menyuruh dia duduk di pangkuannya.
"Nggak Mas! Ntar nggak bakalan fokus lagian kenapa Mas tidak ke sekolah? " tanya Sisil.
"Hadap Sini! " Heru menarik kaki sebelah kiri Sisil dan akhirnya mereka pun saling berhadapan.
"Mas jangan aneh-aneh deh! " Sisil yang merasakan pirasat buruk itu akan menimpanya.
"Buka kancing bajumu sayang! " suruh Heru tapi mata dan kedua tangannya masih sibuk dengan leptop.
"Mas selesaikan dulu pekerjaan mu, nanti kita melakukannya! " ucap Sisil.
"Aku telah selesai, dan lagi membuat surat pengunduran diri dari sekolah itu,"
"Mas mau keluar dari sana? " pertanyaan Sisil seperti nada yang tidak mendukung kalau Heru akan keluar dari sekolah itu.
"Ia aku sudah mendapatkan kamu jadi mau apa lagi di sekolah itu, untuk urusan lestoran semenjak aku mengajar disana jadi tidak terurus dengan baik. Lagian tidak baik jika Rian yang harus selalu mewakilkan aku, kasian dia suka lembur mungkin kecerobohannya kemarin itu adalah epek dia lelah ," jelas Heru dan membuat Sisil mengangguk.
"Tapi kenapa dengan Rian? Kecerobohan apa yang dia buat? " pertanyaan Sisil yang bersamaan dengan Heru yang menekan tombol enter dileptopnya.
"Jangan tau soal orang lain cukup buat aku bahagia aja! " Sahut Heru dan menarik pinggang Sisil agar semakin dekat dengannya.
"Mas! " seru Sisil tapi tidak ada sahutan dari suaminya itu dia malah menarik kancing baju Sisil dan membukanya.
__ADS_1
"Mas disini ada Elsa! " peringati Sisil.
"Ini di ruang kerja ku, dan lagi Elsa sedang tidur di kamarnya kan?"
"He em! " gumam Sisil sambil merasakn jari Heru yang bermain di dadanya.
"Padahal baru aku elus sayang, aku remas ya? " goda Heru dan membuat Sisil tersipu.
"Mas kau nakal sekali! " ucap Sisil dan di telinga Heru itu terdengar seperti nada yang harus membuat perlakuannya lebih pada tubuh istrinya itu.
Heru pun mulai membuka atasan yang di kenakan Sisil beserta wadah benda kenyal yang sangat Heru sukai. Sisil menengadah sambil mencengkaram kepala Heru matanya memejam merasakan rasa nikmat yang diberikan Heru kepadanya, hingga membuat desiran di tubuhnya itu.
Sesaat Heru menghentikan aksinya dia meraih kopi di meja dan menyendokan kopi itu ditiupnya supaya dingin dan menaburkannya pada puncak gundukan milik Sisil.
"Mas apa yang kamu lakukan ini jadi basah! " pekik Sisi karena kopi itu selain mengenai dadanya juga mengenai bagian bawahnya.
"Aku ingin maka kopi dengan suasana berbeda, "
"Mas kamu ini ada-ada saja. mana bisa! Kopi itu cair mungkin rasa kopinya bakalan sedikit karena berceceran ke bawah,"
"Tidak apa, yang terpenting sensasinya! " Heru meraup gundukan itu dengan lahapnya dan tangannya mulai menelusup pada celana yang di kenakan Sisil. Sedangkan Sisil hanya pasrah dengan perlakuan suminya itu, walau membantah pun tidak ada gunanya.
Kini kedua tangan Heru mencoba menyingkirkan celana Sisil tapi tidak melepaskan mulutnya itu dari benda kenyal yang sedang dia makan. Sampai akhirnya Sisil pun polosan sekarang dan Heru sangat leluasa memainkan tangannya, jari tangannya menuliskan huruf o di bagian inti tubuh Sisil dan semakin memasukinya.
"Maasahhhh, " lengguhan Sisil pun terdengar indah di telinga Heru.
"Panggil namaku! " Heru semakin menekan jarinya di bawah sana dan terus menuliskan huruf O dengan kencang.
"Ahhhhh mmmaaassh hhheru, ini mas jangan berhenti, " racau Sisil membuat Heru semangat untuk terus melakukan aksinya.
Selesai dengan urusan mereka beda lagi suasana di ruang kamar milik Ratna. dirinya tengah tersenyum sendiri dan membayangkan jika aksinya itu pasti berhasil.
"Ah aku yakin kali ini gak bakalan gagal, ular itu sangat beracun!"
"Ratna apa yang kamu telah perbuat! " Wulan begitu saja membuka pintu kamar dan membuat Ratna geram.
"Kau lagi! Setelah baikan dengan tante jadi berani sama aku!"
"Kamu tidak pernah mendengarkan ucapanku ternyata, "
"Ceramahan recehan! "
__ADS_1