Guru Dunia Akhirat

Guru Dunia Akhirat
Sahhh untuk Alga dan Elsa


__ADS_3

Ginanjar yang kini berada di gedung pernikahan Alga pun terlihat senang karena Ulan berada di sampingnya.


"Dady aku ingin makan es krim, " pinta Ulan dan Ginanjar pun menurut dia mengambil dan memberikan es krim pada anaknya itu.


"Kau suka? " tanya Ginanjar.


"Aku suka Dady. " jawab Ulan dengan suara khas anak kecilnya itu, sampai seseorang dibuatnya terpaku melihat adegan Ginanjar dan Ulan.


Wulan kini berada tidak jauh dari Ginanjar dan Ulan, tangan dan kakinya gemetar rasa sedih menyelimutinya, ternyata anaknya selama ini adalah anak didiknya di sekolah. Tidak heran jika Wulan merasa sangat sayang pada Ulan dan ternyata anaknya sendiri.


"Ibu guru disini juga ya? " tanya Ulan pada Wulan membuat Ginanjar menoleh. Wulan pun menghampiri mereka lalu dengan sigap memeluk erat Ulan.


"Anakku, kau anakku! " Wulan tidak bisa menahan air matanga untuk jatuh, dia sangat bodoh untuk tidak mengenali anaknya sendiri.


"Ibu guru menangis? " tanga Ulan lalu Wulan pun melepaskan pelukannya dan memandang lekat anaknya itu.


"Maafkan ibu nak," lirih Wulan. Ginanjar yang mengetahui suasan di sekelilingnya mencoba untuk menarik tangan Wulan untuk berdiri, sedangkan Ulan hanya diam tidak bergeming masih tidak memahami situasi.


"Jangan menangis di sini, tidak enak di lihat orang! " Ginanjar menghapus jejak air mata Wulan sedangan Ulan hanya diam memandang Ginanjar dan Wulan bingung.


"Ulan sini gendong sama Ibu!" Wulan merentangkan kedua tangannya pada Ulan.


"Ibu aku sudah besar mana boleh di gendong! " ucap Ulan membuat Ginanjar dan Wulan tersenyum. Ternyata Alga mendidik anaknya itu dengan sangat baik.


"Tidak apa, nanti ibu bakalan kasih gula-gula kesukaanmu yang banyak sekali! " bujuk Wulan


"Benarkah? " tanya Ulan antusias dengan senyumnya.


"Ia, mana mungkin Ibu berbohong! "


"Baiklah, " Ulan pun akhirnya mau di gendong sama Wulan rasa haru menyelimuti hati Ginanjar dan Wulan, sesaat mereka saling pandang.


"Aku harap kita bisa seperti ini selamanya, " Bisik Ginanjar tepat di telinga Wulan lalu tangannya menarik bahu Wulan agar semakin menempel.


"Dady kenal sama Ibu guru? " tanya Ulan.


"Tentu saja, dia istriku! " sahut Ginanjar dan membuat Wulan melotot padanya.


"Oh gitu ya, " Ulan manggut-manggut dan hal itu membuat Ginanjar dan Wulan semakin gemas pada anaknya itu. Dengan refleks Ginanjar mencium pipi kanan Ulan sedangkan Wulan mencium pipi kirinya.

__ADS_1


Cekrek


Suara seseorang memotret pun terdengar di telinga mereka hingga akhirnya mereka menoleh, dan mendapati wanita paruh baya tengah tersenyum pada mereka.


"Momih! " Ginanjar sangat terkejut mendapati sang momih yang kini berada di hadapannya, sesaat Ginanjar memandang Wulan yang kini malah menunduk.


"Apakah anak perempuam cantik ini cucuku? " tanya Momih membuat Ginanjar dan Wulan saling pandang.


"Aku ini cucunya emak Roroh dan abah Didin seorang pengusaha kue terkenal dan seorang petani yang handal," ucap Ulan dengan angkuhnya membanggakan sang nenek dan kakenya itu. Membuat momih tertegun sedangkan Ginanjar dan Wulan hanya tersenyum menaggapi.


"Begitu kah, bagaimana kalau aku juga nenekmu? " tanya Momih.


"Hm... Ibu terlalu cantik untuk aku panggil nenek," sahut Wulan denga raut muka bingungnya.


"Benarkah, aku memang awet muda kan? " tanya momih dan Ulan pun mengacungkan kedua jempolnya.


"Siapa namamu? " tanya momih.


"Aku adalah Wulandari," sahut Ulan dan membuat momih tersenyum.


"Kamu memang menggemaskan dan pintar siapa yang mengajarimu? " kembali momih bertanya.


"Benarkah? Bisakah nenek menggendong mu? " tanya momih sedangkan Ulan melirik Wulan untuk meminta persetujuannya, karena kali ini yang membuat Ulan percaya adalah Ginanjar dan Wulan karena Alga tidak ada di sana.


Melihat Ulan menatap Wulan, akhirnya Wulan pun mengangguk walau dalam hatinya tidak mengijinkan karena ada rasa takut jika anaknya itu akan di bawa oleh momihnya Ginanjar.


Ulan pun kini berada di pangkuan momih, Wulan menatap Ginanjar penuh selidik melihat hal itu Ginanjar pun mengerti.


"Sebelumnya aku sudah bicarakan semua tentang ku dan kamu serta momih pun bisa menerima,pada akhirnya dia tidak keberatan untuk hal ini, " ucap Ginanjar yang tau kehawatiran Wulan akan Ulan.


Di Toilet Rina terus mencari keberadaan Oliv sampai dia pusing sendiri, dan akhirnya dia pun nekat untuk berteriak di toliet wanita itu.


"Oliv kau di mana? Bisakah keluar sekarang juga! " teriakan Rina membuat beberapa orang di sana berdecih, tapi hal itu di hiraukannya oleh Rina sedangkan Oliv pun berhasil keluat dari toliet.


"Suaramu itu udah kaya speker Rin! " ucap Oliv.


"Oliv aku berteriak karena sudah pusing mencarimu tidak kunjung ketemu! " Protes Rina membuat Oliv terkekeh.


"Ayo kita pergi dari sini, acaranya akan dimulai sebentar lagi!" ajak Oliv.

__ADS_1


"Harusnya aku uang bilang seperti itu padamu! "kesal Rina.


"Udah jangan marah lagi! " Oliv menggandeng tangan Rina dan keluat dari toilet wanita itu.


Acara yang paling di nantikan akhirnya datang juga, Alga dengan baju pengantin berwarna putih dan peci yang senada dengan bajunya menamabah kesan gagah padanya, padahal hatinya sangat gugup.


"Pengantin wanita diharap untuk keluar dan menemani calon suminya," ucap pembawa acara.


Semua orang pun menoleh pada Elsa yang baru menginjakan kaki kegedung itu, Sisil dengan erat memegang tangan Elsa yang gugup.


"Kok dag dig dug? " bisik Elsa pada Sisil.


"Nanti juga nggak bakalan kok, tenang saja ambil nafas lalu buang," Sisi mencoba menenagkan Elsa sedangkan Lina yang berada di sisi lain hanya tersenyum.


"Anak mamah yang tenang ya, jangan gugup! " ucap Lina.


Elsa akhirnya sampai dan duduk di kursi samping Alga, Alga yang melihat Elsa pun hanya tersenyum dirinya kini menjadi percaya diri untuk menjadikan Elsa istrinya. Terlihat Alga membuang nafas, menyingkirkan rasa gugup yang dideritanya saat ini.


Kini tangan Alga dan Bastian sudah saling berpegangan, seketika suasan gedung menjadi senyap menatikan suara Bastian dan Alga.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Alga Rahardian bin Didin dengan anak saya yang bernama Elsa Pertiwi Bastian dengan maskawin seratus gram mas murni serta uang, tunai! "


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Elsa Pertiwi Bastian binti Bastian dengan maskawin yang tersebut tunai! "


"Bagaimana para saksi? " tanya penghulu.


"Sahhhhhhhhh!" Ucap saksi dan di ikuti oleh semua orang yang berada di gedung itu.


Suara tepuk tangan memenuhi gedung itu, Sisil dan Heru terlihat senang melihat pernikahan ini hingga Heru mengingat sesuatu.


"Sayang, " panggil Heru berbisik pada Sisil.


"Apa? " tanya Sisil tapi tidak menoleh.


"Aku ingin pesta pernikahan kita digelar besar-besaran, bagaimana? " tanya Heru.


"Mas, benarkah aku mau! " sahut Sisil antusias lalu menoleh pada suaminya itu.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN VOTE NYA YA 💞💞💞

__ADS_1


__ADS_2