
Hari yang ditunggu para siswa SMA kelas 3 tiba yaitu hari kelulusan. Sisil terlihat menyunggingkan senyumnya, tentu saja dia lulus dan dengan kedepannya dia sudah memutuskan untuk kuliah di jurusan kebinanan.
"Kita berpisah, " Oliv yang terbawa perasaan itu memeluk kedua sahabatnya.
"Aku masih satu universitas sama kamu Oliv cuma beda jurusan saja! " Rina mendorong kepala Oliv dengan telunjuknya.
Begitu juga dengan Sisil dia pun melakukan hal yang sama seperti Rina dan mengatakan, "Kita juga masih satu kota, masih bisa bertemu! "
"Kalian membuatku pusing, kepalaku dibuat kesana kemari! " Oliv melepaskan pelukan pada kedua sahabatanya itu. Sisil dan Rina pun hanya terkekeh menanggapi.
"Eh Sil, Pak Heru keliatannya menuju kesini deh! " beritahu Rina, Sisilpun menoleh mengikuti pandangan Rina pada Heru yang semakin mendekati mereka.
"Aku tiba-tiba menjadi sangat lelah, aku pulang duluan ya! " Sisil beranjak dari duduknya dan segera berlari meninggalakan kedua sahabatnya itu dan tentu saja untuk menghindari Heru, mereka masih salah paham.
Heru yang mengetahui Sisil mencoba untuk kabur darinya hanya tersenyum, sambil tetap mengejar Sisil dia tidak mau jauh lagi dari sang istri itu yang sudah beberapa hari tidak seranjang dengannya, dia sangat merindukannya.
"Sampai mana pun akan aku kejar wahai istriku! " Heru melajukan jalannya menuju palkiran karena Sisil terlihat sedang mengambil mobilnya di sana. Setelah insiden rem blong dulu Sisil jadi suka memakai mobil.
Di jalanan yang cukup ramai, terlihat dua mobil saling mengejar. Heru tidak mengalah dia terus meladeni Sisil yang semakin mempercepat jalan mobil itu.
"Sudah lah di bandingakan aku, dia memang jago mengemudi. " Sisil menuju rumah kedua orang tuanya, yang beberapa hari ini dia tinggali.
Sesampainya di dalam rumah sang mama pun mengerutkan dahi, melihat anaknya itu yang terlihat kelelahan.
"Sil kamu kenapa?" Mirna menaruh majalah di meja lalu menghampiri anak satu-satunya itu.
"Tidak ada mah, " Sisil beranjak menuju kamar.
"Gimana lulus tidak? " pertanyaan Mirna membuat Sisil menghentikan langkahnya lalu menoleh.
"Pasti lulus dong,"Jawab Sisil dan kembali berbalik.
__ADS_1
"Pulanglah kerumah kalian! " Ucapan Mirna kembali membuat Sisil terdiam.
"Kenapa? Tidak boleh tinggal di sini lagi? " Mendengar Sisil berbicara membuat Mirna menggelang lalu menghampiri anak semata wayangnya itu.
"Jangan salah paham, ini sudah seminggu kamu tidak pulang kerumah mu setiap hari Heru menjemput mu tapi kamu selalu menolaknnya. Selesaikan masalah kalian berdua dengan kepala dingin jika seperti ini terus tidak akan ada penyelesaiannya. Bukalah hati mu nak, kau seorang ibu berfikirlah dewasa mama tau kamu sangat sakit dan merasa terhina olehnya tapi jika dibiarkan tidak ada jalan keluar maka akan menjadi sangat runyam. Didalam rumah tangga ada masalah itu wajar, kita yang harus menyikapinya dengan bijak. Mama juga merasa sakit hati melihat anak mama seperti ini, tapi sebelum ada keputusan dari kalian berdua mama dan papa tidak berhak mengambil keputusan sendiri, kami hanya mengarahkan yang terbaik untuk kalian. " Mirna mengelus lembut rambut Sisil, menatap sayang pada anaknya itu.
"Tapi aku mah, aku sudah sangat sakit hati, " Sisil menunduk, Mirna pun memeluk erat Sisil memberi ketukan pada punggungnya menenagkan anaknya itu yang semakin mengeluarkan tangisannya.
"Di sini ada mama sama papa, kamu hanya harus berani menyelesaikannya jangan lari dari masalah! " Mirna mengeratkan pelukannya pada Sisil.
"Mama pikir kamu akan menangis jika hanya ingin sesuatu seperti sebuah permen loli, " Mirna merenggangkan pelukannya.
"Mah itu dulu waktu masih kecil, " rengek Sisil menghapus air matanya. "Sekarang aku tidak seperti itu lagi, "
"Begitulah hidup maka kita di tuntut untuk lebih dewasa dalam menghadapi persoalan dunia ini. Dulu kamu ingin permen dan resikonya harus menagis dulu kalau mau di kasih, sekarang juga kamu menikah dengan Heru harus terima resikonya apapun itu jika kamu yakin dengan pernikahan kalian, yang terpenting tanyakan hatimu, dia lebih tau. Dan mama mau kasih saran ,selama kamu rumah tangga sama Heru apa yang kau rasakan? Bagaimana Heru memperlakukanmu? Apakah dia mampu menghidupimu seperti memberi nafkah? Selama ini kamu bahagiakah bersamanya? Semua yang mama tanyakan menjadi renunganmu untuk dijawab, semoga kamu mengambil keputusan yang tepat mama akan selalu mendukungmu apapun itu. " Mirna kembali mengusap puncak kepala Sisil dan mengecupnya.
"Mama akan kedapur dulu! " Mirna pun berbalik, tapi Sisil menahannya dengan pelukan.
"Makasih Ma, " ucap Sisil.
Dibalik pintu, Heru pun menyembulkan kepalanya melihat situasi di dalam sana. Heru sempat melihat Mirna dan Sisil tengah berbincang dan Heru pun enggan untuk masuk. Setelah melihat lagi di sana tidak ada siapa pun maka Heru pun menekan bel, hingga seorang wanita parubaya membukakan pintu.
"Assalamualaikum Bi, "
"Waalaikumsalam Den Heru, mau jemput Neng Sisil lagi ya? " tanya sang Bibi, membuat Heru tersipu karena setiap kali ke sana dia tidak berhasil membujuk istrinya itu untuk pulang.
"Iya Bi, "
"Den Heru memang gigih ya, salut jadinya! "
"Iya, "
__ADS_1
"Siapa Bi? " Mirna dari arah belakang, dan tersenyum kala melihat Heru yang datang kerumahnya.
"Heru sini masuk, "
"Iya mah," Heru pun masuk dan duduk dikursi ruang tamu itu.
"Mau jemput Sisil? Huh tentu saja iya kan, " Mirna menghembuskan nafas panjang.
"Mama harap kamu bisa menyelesaikan pertikaian kalian, tapi mama harap jangan sampai hal ini terulang lagi dan membuat anak mama menderita. Pergilah ke kamarnya, dia baru saja pulang sekolah," ucap Mirna membuat Heru menelan susah air liurnya.
"Percayalah Ma, masalah ini hanya salah paham dan aku tidak akan membuat Sisil sedih lagi aku janji!"
"Mama pegang janjimu!" tegas Mirna.
Heru membungkuk sebentar pada Mirna, meminta izin untuk pergi dan menghampiri kamar Sisil. Sesampainya di depan pintu Heru sedikit ragu, karena sebelum-sebelumnya Sisil enggan membuka pintu itu. Hingga tangannya mulai menempel pada pintu, pintu itu pun terbuka tentu saja Heru terkejut.
"Assalamualaikum sayang, " Sapa Heru ragu, sambil mengusap tengkuknya. Sedangkan Sisil kembali masuk dan duduk di ranjangnya.
"Khm! Aku masuk ya, " Heru sangat berhati-hati takut jika Sisil mengusirnya lagi seperti beberapa hari kemarin.
"Iya, " nada ketus dari mulut Sisil, tapi Heru tidak memudarkan sedikit senyumannya itu
"Aku duduk di samping mu boleh? " kembali Heru bertanya, dalam hati Sisil dia ingin ketawa sekarang tapi sebisa mungkin Sisil menahannya.
"Hm, " jawaban Sisil hanya gumaman, Heru pun duduk dengan tempo pelan.
"M...maaf lancang tapi sekarang aku ingin memelukmu boleh? " Heru menatap Sisil yang sedang menunduk itu di sampingnya.
"Aku sangat merindukanmu, " lanjutnya, Sisil pun menoleh mereka kini saling pandang, rasa rindu pun kini terpancar dari bola mata mereka.
Ginanjar tidak mampu lagi ingin memeluk istri tersayangnya itu, hingga akhirnya dia pun memaksakan diri untuk segera memeluk Sisil.
__ADS_1
"Rinduku sudah tidak tertampung lagi, Maaf kan aku! " Heru mengeratkan pelukannya matanya mulai menitikan cairan itu, semua kerinduan itu bertumpah ruah dia tidak ingin berjauhan lagi dengan istrinya itu.
"Mas, kau jahat! " Sisil memukul punggung Heru pelan, sama! Sisil pun sebenarnya sangat merindukan suaminya itu.