Guru Dunia Akhirat

Guru Dunia Akhirat
Akhirnya Pulang


__ADS_3

Diruang kelas yang sunyi, hanya suara kertas dan suara sepatu menyeruak di ruangan tersebut. Hari ini kelas itu sedang melakukan ulangan. Sisil terlihat serius memainkan palpoin itu di atas kertas, matanya menatap tajam serta sesekali alisnya berkerut memikirkan jawaban atas soal dihadapannya.


Tinggghhh


Suara bel berbunyi menandakan jam pelajaran sudah selesai, dan memberi istirahat sejenak kepada para siswa.


"Kumpulkan semuanya sekarang! " seru guru wanita itu dengan lantang, para siswa pun berlarian ke depan untuk memberikan kertas ulangan itu.


"Baiklah sekarang waktunya istirahat, "sang guru pun pergi dengan tumpukan kertas dan beberapa buku di genggamannya.


"Sil ngantin yuk!" Rina menepuk bahu Sisil.


"Kalian aja duluan, aku nitip aja deh! " sahut Sisil tangannya di lipat di meja dengan raut muka yang sudah tidak bersemangat.


"Kamu kenapa Sil? Masih belum pulang paksunya? " tanya Oliv tiba tiba berada di bangku depan Sisil dan Rina.


"Aku baik kok! " jawab Sisil lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela.


"Pasti dia lagi kangen," ledek Oliv.


"Jangan godain dia, udah pasti dia merindukannya! Sisil kau mau titip apa? " Ucap Rina lalu bertanya kepada Sisil.


"Aku titip jus jeruk aja, " Sisil menyodorkan uang kepada Rina.


"Baiklah, Oliv cepet! " Rina menarik pergelangan tangan Oliv.


Kini Sisil sendiri di kelas semua temannya kini sedang menikmati waktu istirahat di luar, Sisil menghembuskan nafasnya, dia masih memikirkan kejadian malam tadi yang sempat membuatnya terluka. Dia mengangakat tangannya yang dilapisi kain kasa itu, sudut bibirnya tersenyum dia baru saja di serang oleh orang yang membenci dan mencintai suaminya itu.


"Ginanjar tau dari mana kalau kita udah menikah? " gumam Sisil pelan.


Kruukkkmm


"Aduh perutku, mana tadi aku cuma pesen minum aja lagi sama mereka," dengan tangannya yang terus memijit perut."aku susul aja mereka".


Sisil pun beranjak dari duduknya lalu berniat menyusul kedua temannya itu, dijalan terlihat ada sesuatu yang menyita perhatian Sisil. Sebuah poster lomba sains tingkat Iinternasional terpampang jelas ditembok itu.


"Aku jadi juaranya tahun lalu. kini siapa yang akan menggantikanku? " gumam Sisil mengusap poster itu.


"Aku yang akan menggantikan kamu Sil! " tiba-tiba dari arah belakang Ratna menyahuti, Sisil pun hanya tersenyum kecut.

__ADS_1


"Kau udah tidak layak umur untuk mendaftar lomba ini! " ledek Sisil


"Maksudnya aku yang akan menggantikan posisi kamu yang akan mendampingi Pak Heru! " Ratna menyilangkan tangannya lalu menatap Sisil dengan amarahnga.


"Kau sudah tidak layak untuk hal itu, karena Pak Heru sudah bertunangan dan dia sangat menyayangi wanita itu!"


"Aku masih layak untuk hal itu, pertunangan itu bisa di putuskan lho dan lagi aku lebih segalanya dari kamu! "


"Terserah kamu saja aku sudah muak mendengar kamu bicara! " Sisil pun begitu saja pergi meninggalkan Ratna.


Lain hal nya dikelas nampak Rina dan Oliv bingung karena Sisil belum kunjung kembali, sedangkan sang guru sudah sampai untuk mengajar.


"Kenapa tiba-tiba seperti ini, bukankah masih ada 10 menit lagi waktu istirahat!" tanya Rina pada Oliv di belakangnya.


"Dia lagi giat mengajar kali,"


"Mana mungkin! "


"Hm.... "


Sisil di kantin celingukan mencari kedua kawannya itu, tapi tidak kunjung ketemu akhirnya Sisil memutuskan untuk membeli bakso lalu membawanya ke kelas.


Di pintu kelas Sisil mengernyitkan dahinya, karena pintu itu tertutup dan keadaan kelas sepi, hingga akhirnya Sisil membuka perlahan pintu itu.


"A aku dari kantin Pak! " sahut Sisil lekat menatap sang guru.


"Apakah kamu lupa kalau pelajaran saya dimajukan beberapa menit! "


"Ma maaf Pak, " Sisil menunduk, dia menangis sekarang setelah beberapa hari akhirnya dia bisa bertemu sang suami. Ingin rasanya dia langsung memeluk dan menciumnya karena rindu tapi dia masih sadar kalau sekarang masih di sekolah.


"Cepat masuk! Dan sebagai hukumam kamu bersihkan kelas ini dulu sebelum pulang," Pak Heru kembali menulis di papan tulis, dan Sisil pun duduk di bangkunya dengan masih menenteng kantong plastik yang berisi baso itu.


"Sil kamu baik? Kenapa menangis aku baru liat kamu nangis karena di tegur guru. " Rina menyiku tangan Sisil dengan senyum menggodanya.


"Diam kau! " Sisil segera menghapus air matanya lalu melihat Heru yang tengah menerangkan pelajaran di depan.


"Baiklah, di buku ada soal pelatihan kalian kerjakan sekarang! " perintah Heru lalu duduk di bangkunya, ekor matanya menatap Sisil ada rasa rindu menyeruak dalam dirinya.


"Syukurlah kamu baik-baik saja sayang! " gumam Heru dalam hati.

__ADS_1


Setelah Heru mendengar kalau istrinya itu hampir celaka oleh temannya dulu, dia langsung menjadi sangat khawatir setelah bersiteru dengan Ginanjar dini hari tadi, Heru segera menyiapkan pesawat pribadinya dan menyerahkan pekerjaan yang masih tersisa pada sekertaris Rian.


Berkemeja putih dengan bagian tangan yang digulung setengah memperlihatkan lengan berototnya, celana panjang hitam serta kacamata yang tersemat di hidung mancungnya, menambah Sisil semakin menatap takjub kepada suaminya itu.


Hingga akhirnya jam pelajaran pun selesai, semua murid terlihat merapikan barang mereka termasuk Sisil.


"Baiklah sampai di sini pelajaran hari ini, dan buat Sisil jangan dulu pulang, bersihkan kelas ini sampai bersih. " Ucap Pak Heru, menatap Sisil dan di balas Sisil dengan tatapan tajam. Bukannya rindu malah dibuatnya kesal.


"Emang guru ini kadang bikin kesel! Apa dia tidak merindukanku malah menyuruh bersih-bersih, ih dasar suami tua emang! " grutu Sisil dalam hati.


Semua siswa pun telah meninggalakn kelas itu, begitu pun Heru dia terlihat keluar dengan bukunya.


"Sil mau kita bantuin? " tanya Oliv.


"Gak usah kalian pulang saja duluan, lagian cuma bersihin kelas ini kan! Itu mah hak kecil," Sisil beranjak dan mengambil peralatan kebersihan.


Sisil mulai menyapu ruang kelas itu, sekarang sekolah itu sepi hanya segelintir orang di dalamnya.


"Dasar suami gak ada akhlak! Apakah dia tidak merindukanku padahal aku sangat merindukannya! Suami macam apa dia malah membuat istrinya sengsara gaya gini! "gumam Sisil, menghentakan kakinya. Hingga....


Plakkkk


Sisil kaget bukan main saat punggungnya ada yang memeluk, dengan gerakan sepontan Sisil memukul sekuat tenaga dengan sapu hingga yang di pukul meringis kesakitan di bagian mukanya.


"Yank kamu tega sekali! " Heru dengan nada yang dia buat sedih.


"Mas Heru! Aku gak sengaja, lagian main peluk saja! " Sisil kembali melanjutkan menyapunya tanpa memperdulikan Heru.


"Yak aku merindukanmu! " Heru kemabali mendekati istrinya itu lalu kembai memeluknya, membuat sapu yang si pegang Sisil itu terjatuh di lantai.


"Maaf pak ini masih di lingkunagn sekolah, tidak baik berprilaku seperti ini! " Sisil memperingati.


"Aku sangat merindukanmu, apa kamu sehat? " tanya Heru taoi tidak melepaskan pelukannya.


"Aku sehat! " Sisil pun akhirnya menangis ia ditak bisa berpura-pura tidak merindukan suaminya itu akhirnya Sisil membelas pelukan suaminya.


Heru menarik bangku dibelakangnya dengan kakinya dan posisinya masih memeluk Sisil, setelah bangku itu menghadap dirinnya, Heru memutarkan dirinya sehingga Sisil pun ikut memutar lalu terduduk di bangku itu, sedangkan Heru menunduk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Sisil serta tangannya yang masih berada di pinggang istrinya itu.


"I miss u baby! " Heru mengangakat dagu Sisil perlahan lalu mencium bibirnya dengan lembut, Sisil pun memejamkan matanya mengalungakn kedua tangannya pada bahu Heru. Lama sekali mereka melakukannya, menyalurkan rasa rindu mereka. Hingga tangan Heru mulai menelusupkan pada punggung Sisil di balik seragam sekolahnya.

__ADS_1


"Miss you too. " Sisil pun kembali memjamkan matanya, hingga tangan itu mulai menggerayanginya dengan tanpa permisi, kini tangan itu berada di puncak gunung milik Sisil.


"Massshhh.. "


__ADS_2