
Suasana kamar masih sama seperti sebelum menikah, beberapa foto penghargaan terpajang di dinding, piala berjejer di lemari kaca serta beberapa piagam tergantung disana. Sisil menatap hasil jerih payah dirinya selama bersekolah itu, mulai dari TK sampai SMA.
"Sepertinya sia-sia semua yang telah aku dapatkan ini kalau aku menuruti perkataan suami kejam itu! Aku sangat pintar tapi kenapa hari ini aku merasa bodoh! " gumam Sisil berbalik dan berjalan mendekati kasur empuk yang menjadi saksi keuletan dirinya.
Sisil begitu melihat foto yang dikirim kepadanya waktu di sekolah pun, langsung pulang kerumah orang tuanya dan kebetulan mamah dan papanya sedang tidak dirumah, jika mereka ada bakalan banyak pertanyaan darinya dan Sisil lagi tidak ingin menjawab kebawelan mamanya nanti.
"Huh, aku benar-benar merasakan bagaimana sakitnya melihat orang yang disayangi berkhianat, kenapa menjadi malang sekali nasibku! Kalau di pikir-pikir setelah menikah dengan Heru hidupku banyak sekali cobaan, dan lagi kenapa aku mencintai dia jadi susah kalau harus melupakannya! Aku sangat cinta sama guru itu hiks hiks, " Sisil menangis, meluapkan segala emosinya pada bantal dan guling di hadapannya untuk dia pukul sekuat tenaga nya, membiarkan isinya bertebangan. Mulutnya pun tak henti berteriak masa bodo sama mereka yang di luar.
Sedangkan Heru yang kini mencari Sisil di rumah mereka pun terlihat kalang kabut, kesana kemari sampai pikirannya menuju rumah mertua.
"Benar dirumah mamah! " gumam Heru dan berlari kelaur rumah menghampiri kediaman mertuanya yang berada disamping rumah mereka.
"Pak bos ada apa? " tanya Alga, tapi di hiraukan oleh Heru yang semakin menjauhi darinya.
Sesampainya dirumah sang mertua, Heru kembali berlari menghampiri pintu kamar sang istri.
"Dikunci?" Heru mengayun gagang pintu berkali-kali. "Pasti Sisil ada di dalam! " Heru pun mulai mendobrak pintu itu.
Brakkkk
Pintu berhasil di buka, pertama kali yang terlihat oleh Heru adalah Sisil yang tengah terduduk dengan derai air mata, melihat hal itu Heru langsung menghampiri sang istri.
"STOP! Jangan mendekatiku! " teriak Sisil tangannya terulur mengisaratkan Heru tidak boleh mendekatinya.
"Ku mohon kasih kesempatan aku untuk menjelaskannya, " Heru perlahan melangkahkan kakinya.
__ADS_1
"PERGI! " Sisil kembali berteriak dan memundurkan badannya, karena Heru tidak mengindahkan perkataannya.
"Aku tidak ingin kehilanganmu, jadi percayalah padaku! "
"Tidak ingin aku menghilang dari mu? Kenapa malah aku yang ingin menghilang darimu,"
"Foto itu yang membuat Ginanjar juga salah paham padaku saat aku dibangku sekolah, tragedi yang kau lihat waktu itu," Heru menaiki kasur dan Sisil pun bangun tidak ingin berdekatan dengan Heru.
"Dengarkan aku kali ini, mau percaya atau tidak nantinya itu terserah padamu yang pasti ucapanku tidak bohong! " Heru merangkul perut Sisil lalu membaringkannya, serta memeluknya erat supaya Sisil berhenti meronta. Kini mereka berada di kasur, dengan Sisil yang membelakangi Heru sedangkan tangan dan kaki Heru memeluk erat Sisil, hidung nya menghirup aroma leher sang istri yang tengah menangis.
"Aku bilang lepas! Lepaskan aku! " Sisil berteriak dan berusaha melepaskan diri dari rangkulan Heru yang sangat erat itu, walau pada akhirnya tidak bisa.
"Pulang sekolah kala itu, Wulan terlihat pucat dengan terus menagis meminta tolong kepadaku untuk memberi tumpangan kerumahnya, aku pun terpaksa meng iyakan padahal sebelum itu aku beberapa kali menelepon Ginanjar tapi ponselnya tidak aktif. Ditengah jalan, Wulan mengeluh sakit kepala sampai mau pingsan aku pun berinisiatif untuk membawanya ke rumah sakit terdekat tapi Wulan menolaknya, dia hanya ingin ke apotek saja untuk membeli obat, hingga aku menepikan mobil di halaman apotek kecil dipinggir jalan." Heru menghembuskan nafas,sebelum melanjutkan penjelasannya, sambil mengeratkan pelukannya pada Sisil, dan Sisil pun mulai terdiam.
"Tiba-tiba Wulan datang dari pintu menghampiriku dan mengatakan aku harus bertanggung jawab, aku merasa bingung dengan semua itu. Aku tidak mungkin melakukan hal itu, apa kau percaya padaku Sil? Bisakah laki-laki pingsan melakukan hal itu? Sedangakn dia tidak sadar! " Heru sangat berharap Sisil percaya, matanya mulai berkaca dia benar-benar tidak ingin kehilangan Sisil.
"Ku mohon percayalah! "gumam Heru tepat ditelinga Sisil.
"Aku perlu waktu sendiri, bisakah kau pergi dari ku dulu, " Sisil melepaskan tangan Heru.
"Baiklah, dan ingatlah semua yang aku ucapkan itu adalah benar adanya. " Heru melepaskan pelukannya dan turun dari ranjang.
"Aku sangat sayang padamu Sil! " lirih Heru tapi tidak terdengar oleh Sisil. Dia pun keluar meninggalakan Sisil sendiri di kamar.
Lain disebuah rumah terlihat Wulan celingukan manatap beberapa ornamen rumah itu, matanya menatap indah pada sudut dan barang di rumah itu. Tadi saat dia pulang sekolah mengajar anak-anak ada seseorang yang menghampirinya, tentu dia adalah Alga.
__ADS_1
"Langsung saja aku ingin mengatakan sesuatu padamu! " Alga bersuara, mereka tengah berada di rumah Alga.
"Harusnya aku yang mengatakan hal tersebut kepadamu, kembalikan anak ku! "
"Anak yang pernah ada di rahim mu, anak Ginanjar apa Heru! " Alga menatap manik mata indah itu dengan tatapan tajam dan menyelidik.
"Menurutmu? Dan lagi kenapa kamu memikirkan hal itu? Aku akui dia anaku. Aku menyesal telah menelantarkannya!"
"Aku bilang siapa ayah dari anak itu! " teriak Alga sangat keras, membuat Wulan terkejut dan sedikit merasa takut.
"Kenapa kau menanyakan hal tersebut padaku! Bukankah kau sendiri tau! " tidak kalah berteriak Wulan berbicara kepada Alga.
"Baiklah, aku menganggap ayah dari anak itu adalah Ginanjar tapi yang aku sangat ingin tahu dari dulu, kau pernah melakukan itu bersama Heru? " pertanyaan Alga membuat Wulan bergetar, tangannya mendingin dia sedikit terganggu setelah nama Heru di sebut.
"A aku! " Wulan menunduk pandangannya mulai buram dengan air mata.
"Kenapa? Kau melakukannya? Apa kau virgin bersama Heru? Kau bius dia dan mulai membuat kesalah pahaman kepada kami, hingga tidak bisa mengembalikan persahabatan kita sampai sekarang! "
"Diam! Bisa kau tidak mengintrogasiku terus! " Wulan menutup kedua telinganya.
"Ini penting bagi hidupku, kau telah merusak persahabatanku! Bisa kau menjawabnya hm? " Alga mendekat pada Wulan telunjuknya meraih dagu Wulan supaya menatap matanya.
"Kau tau aku membius Heru waktu itu, kau tau? " Bibir Wulan bergetar, setau dia hanya temannya sendiri yang tau rencananya waktu itu.
"Aku tidak ingin bertele-tele, jawab! " Heru melepaskan telunjuknya di dagu Wulan.
__ADS_1