
Brukkkkk
Suara tabrakan Rina pada Rian yang tengah duduk dan memegang note book itu.
"Ah maafkan aku, " Rina setelah menoleh dan mendapati Rian yang kini tersungkur di lantai. Sedangkan Rian tidak menyahuti dia hanya terdiam dan mengambil note book itu tanpa melihat ke arah Rina.
"Apa ada yang sakit? " tanya Rina sambil terus memperhatikan Rian di depannya.
Perlahan Rian pun menoleh dan medapati Rina tengah menatapnya dengan khawatir, seketika jantungnya berdegup dengan kencang dan dirinya merasa kaku.
"Hai! " Rina melambaikan tangannya tepat di depan wajah Rian karena sedari tadi yang Rina liat, Rian hanya melongo menatapnya. Sesaat Rian mengerjap dan melihat sesuatu yang tidak harus dia lihat.
Srrreeeeet
Rian membuka sweteernya lalu memakaikan pada tubuh Rina yang basah dan menampakan bulatan warna merah pada dadanya, waran itu jelas terlihat karena Rina memakai kaos berwanra putih.
"Niat sekali membuatku tergoda, aku tidak suka pada wanita yang memperlihatkan hal yang harusnya di sembunyikan malah di umbar! " Ucap Rian lalu pergi meninggalkan Rina dengan keterkejutannya, dia baru menyadari hal yang sangat ini memalukan padanya.
"Aku tidak sengaja, " Rina memukul pelan kepalanya.
Sedangkan Rian kini berada di kamarnya, nafasnya memburu dia sangat tidak tenang bayangan yang dilihatnya tadi menambah dirinya semakin menginginkan mimpinya terjadi.
"Sial! " umat Rian, dia duduk di pinggir kasur yang memiliki tirai putih yang mengarah pada sungai di depannya. hari memang cerah di siang hari ini tapi rasa sejuk masih terasa di sekeliling nya.
Rian sesekali menghembuskan nafas panjangnya dan kembali fokus pada pekerjaannya, walau pun Heru mengajaknya kewisata itu tapi dia juga tidak bisa meninggalakn pekerjaannya. Hingga seseorang disebrang sana menggetarkan ponselnya, Heru pun meraih ponsel dan menggeser tanda hijau bulat itu.
"Apa semua sudah disiapkan? " tanya Heru pada orang yang meneleponnya.
"Kerja bagus! " ucapnya lagi.
Sedangkan diderasnya air mancur Oliv dan Elsa telah bermain air di sana hingga Oliv menepi mencari sesuatu.
"Di mana Rina? " Oliv bergumam sambil celingukan, hingga matanya menemukan sosok perempuan yang agak jauh dari pandangannya, tengah mengendap membelakanginya, enatah apa yang di lakukannhya.
__ADS_1
"Seperti Rina, tapi bukanya tadi dia memakai kaos warna putih? Kok warna kaosnya menjadi warna hitam? " Oliv menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu kaki nya berjalan menghampiri perempuan itu.
"Oliv mau ke mana? " tanya Elsa, Oliv pun menoleh.
"Aku mau nyari Rina,"
"Tunggu, aku tidak mau sendirian! " Elsa pun cepat berenang ketepi dan menyusul Oliv pergi.
Sesampainya didekat perempuan itu, Oliv dan Elsa hanya mengerutkan dahi melihat tingka aneh nya.
"Hai! " Elsa menepuk pundak perempuan itu dan membuatnya terkejut.
"Ratna! " seru Oliv dan Elsa bersamaan dengan mata mereka yang membulat sempurna.
"Ngapain kamu kesini! " teriak Oliv. Tidak ada sahutan dari Ratna, dia malah mendorong Oliv dan Elsa kesungai lalu lari entah kemana.
"Kak kejar dia! " Oliv dan Elsa pun berenang ke tepi dan langsung mengejar Ratna.
Sedangkan Sisil yang kini melihat adik ipar dan sahabatnya berlari hanya mengerutkan dahinya bingung, "Kenapa mereka? " gumam Sisil.
"Aku melihat Oliv dan Elsa berlari ke atas sana, mana mereka terlihat basah kuyup! "
"Mungkin dia lagi main kejar-kejaran, " sahut Heru membuat Sisil berdecak.
"Aku rasa bukan deh, kita susul mereka saja gimana?"
"Nggak usah mereka sudah besar, "
"Mas tempat ini banyak tumbuhan besarnya mirip seperti hutan, apa tidak khawatir jika mereka tersesat? "
"Tempat wisata ini aman banyak yang jaganya, jadi jangan khawatir, "
"Tapi aku was-was lho mas, hati aku enggak tenang,"
"Ish dasar calon ibu-ibu pikirannya jadi was-was! " ledek Heru.
__ADS_1
"Serius Mas! " Sisil mencubit pinggang Heru dan membuat suaminya itu kesakitan.
"Ia aku akan nyuruh Rian, kalau aku yang nyusul takutnya kelamaan karena harus pakai baju dulu. "
"Ya udah aku akan ke kamar Rian," Sisil beranjak pergi tapi tangannya di pegang Heru.
"Nggak boleh biar Mas yang nelpon dia! " Heru segera mengambil ponselnya dan menelpon Rian.
Oliv dan Elsa masih berlari mengejar Ratna walau pada akhirnya dia kehilangan jejak.
"Tadi dia kemana? Cepat sekali ngilangnya!" Oliv meletakan tangannya disiku kaki menumpu badannya, yang kelelahan berlari.
"Huh hah cape sekali, gini nih jiwa yang kurang olah raga! " Elsa duduk di tanah dengan menselunjurkan kedua kakinya.
"Mending kita pulang hari mulai sore, " ajak Elsa berdiri.
"Baiklah, tapi pakaian Kakak gimana? " tanya Oliv membuat Elsa menepuk keningnya.
"Sampai lupa mau beli baju, ke enakan main air terjun sih! " Elsa menggerutu membuat Oliv tersenyum. Ternyata Elsa orannya mengasikan dan mudah akrab, pikir Oliv.
Mereka pun mulai berjalan menelusuri jalan tapak yang telah dia pijak sebelumnya.
"Kak aku jadi khawatir disini ada Ratna! " Oliv menoleh pada Elsa.
"Kenapa dia bisa di sini ya, padahal tempat ini sudah Mas Heru sewa dan lagi sepertinya dia lagi merencanakan sesuatu terlihat dari gerak geriknya tadi,"
"Eh asisten Rian! " seru Oliv menghentikan langkahnya begitu juga dengan Elsa.
"Mau kemana? " tanya Elsa, Rian masih terengah karena berlari.
"Kalian, ngapain lari kesini? " Rian malah balik bertanya.
"Kami lagi nyari si Ratna, entah sejak kapan dia berada di sini! " ucap Elsa membuat Rian mengerutkan dahinya.
"Cepatkah turun ada hal yang membuat khawatir sekarang! " Rian mengajak Oliv dan Rian untuk turun.
__ADS_1
Disaat ketiganya sampai di penginapan dan mulai ke kamar masing-masing seseorang dari balik rumput yang lebat, senyumnya mengembang. Ratna! Dia sempai mengikuti rombongam Elsa , menyamar menjadi seseorang yang merupakan anggota darinya.