
Sepanjang perjalanan menuju lestoran, rasa malu dan takut itu tidak pernah hilang di benak Rian terhadap tuannya itu, sesekali matanya melirik kaca sepion melihat sang atasan itu.
"Apa yang kau lihat? " Heru menyadari gelagat aneh dari sekertarisnya.
"Ah i itu tidak ada, " Rian menajamkan pandangannya pada jalanan di depannya.
"Cepat menikah! " tiba-tiba Heru berucap yang membuat mobil itu mendadak berhenti, untung di belakang tidak ada kendaraan lain.
"Rian kamu mencoba membuatku celaka kali ini! " teriak Heru bercampur terkejut.
"Maaf tuan, perkataan tuan yang menyuruhku menikah membuat kakiku bergetar dan spontan menginjak rem," Rian melajukan kembali mobilnya dengan kepala yang masih bingung. Tentu saja semua itu gara-gara mimpi singkat dan mengejutkan itu apalagi dengan wanita yang hanya beberapa kali bertemu, itu sangat aneh, lagi wanita itu sangat muda dan tidak pernah terpikirkan oleh nya.
"Kau sudah bekerja untuk ku selama ini, dan kau juga sepupuku tapi kenapa kamu begitu kaku padaku! "
"Tuan walau pun begitu tapi jika dalam lingkup pekerjaan itu berbeda, saya harus profesianal."
"Kalau begitu selama perjalanan mulai dari saat ini kau sepupuku. "
"Hah, "
"Sebenarnya aku tidak peduli dengan yang sedang kau alami kali ini. tapi hal itu membuat pekerjaanmu terhambat dan merugikan bagiku. Sebenarnya ada apa denganmu? Tidak biasanya seperti pagi tadi?" Heru melirik sepion depan dan melihat pantulan tatapan Rian yang gugup.
"Sial mimpi itu membuatku gila hari ini! " kesal Rian dalam hati.
"Tidak ada apa-apa jangan khawatir, itu hanya masalah kecil maafkan aku untuk kelakuan gila ku pagi tadi,"
"Kau memang tidak mau memberi tauku, aku pernah mengalami hal seperti mu basah di calana mu aku tau, makanya aku bilang cepat menikah takutnya cairan santan mu itu membeku jika tidak segera dituangkan dalam wadahnya, " Heru senyum sendiri setelah mengucapkan hal itu, baru kali ini dia bercanda dengan sekertarisnya. Menyenangkan ternyata mengerjai orang, pikir Heru.
Sedangkan Rian hanya menelan ludahnya susah dan matanya melongo, bisa-bisanya tuannya berbicara omong kosong seperti itu biasanya hanya membahas tentang lestoran saja. Memang berbeda jika laki-laki sudah mengetahui wadah penyimpan santan kental itu!
"Sudah sampai tuan! " Rian bergegas keluar dan membuka pintu untuk tuannya itu.
Heru pun turun dari mobil dan senyumnya masih menghiasi wajah yang berkaca mata itu, harusnya dia begitu marah karena perlakuan sekertarisnya tapi dia malah senang.
"Saya harap tuan bisa melupakan hal tadi, dan tidak lelahnya saya meminta maaf, " ucap Rian sebelum Heru melangkah berjalan.
__ADS_1
"Baiklah, mulai sekarang jangan mengecewakan ku lagi! " Heru pun bergegas memasuki lestoran yang mewah dan megah itu, dan di belakangnya Rian mengikuti.
Lain di sebuah kedai seblak Rina terlihat cemberut dan marah pada Oliv di depannya, tatapannya mengarah tajam pada sahabatnya itu.
"Kenapa kamu masih marah kepadaku? Dia sudah membacanya, " Oliv menyendokan seblak itu kemulutnya.
"Kamu itu membuatku sangat kesal, aku jadi tidak punya harga diri pada laki-laki dingin itu! Aku malu jika nanti bertemu dia! " Rina memukul seblak di depannya sengan sendok hingga kuahnya berceceran.
"Yak! Hentikan, aku yang mengirim pesan kepadanya sore kemarin juga diperhitungkan kok, habisnya mau ngungkapin perasaan saja ribet amat, nanti kalau dia menghilang baru tau rasa! Perasaan yang tidak terungkapkan akan membuat mu tersiksa tau! " ucapan Oliv pun membuat Rina menghentikan aksinya itu.
"Tapi masa perempuan yang ngungkapin perasaannya duluan! Kan malu, bisa-bisa dia menyangka aku wanita gampangan! "
"Terus mau sampai kapan kamu menunggu dia ngungkapin perasaannya? Kamu harus mengerti, tidak ada yang bisa kau dapatkan selama kamu menunggu apa lagi dia juga tidak memperlihatkan bintik-bintik suka kan, jadi apa salahnya mengungkapkan perasaanmu lagian kan cuma memberi tau kalau kau mencintainya, bukan menjadikan dia kekasihmu. " jelas Oliv, menatap tajam sahabatnya itu.
"Hah kau menyuruhku harus tebal muka! "
"Dia sibuk, dan lagi kau memang percaya dia bakalan bertemu dengan mu lagi? Dia itu sekertaris suami Sisil mana ada waktu luang untuk menemuimu, paling kalau dia juga cinta sama kamu pasti nyempetin untuk menemuimu, slow saja jangan terlalu di pikirkan perasaan hati itu sensitif membuat sakit." Oliv menyeruput jus jambunya.
"Huh, baiklah lagian pesan itu sudah terkirim, menerima nasib saja kalau sudah begini! " Rina mengendokan seblak itu kemulut nya dengan malas.
"Tenang aja jika sekertatis dingin itu menyakiti mu biar aku yang menghajarnya, kau mempunyai aku yang akan membuat dia babak belur! " kembali Oliv menghibur Rina.
"Iya-iya! " Rina pun menghembuskan nafas panjangnya.
"Oke! Biar aku telpon Sisil dulu! " Oliv mengambil ponselnya di tas dan mulai menghubungi Sisil.
"Hallo ada apa liv?" suara Sisil di sebrang sana.
"Sil kita main ke tempat wisata alam, yang ada pemandangan air terjun yuk! "
"Aku harus bilang sama pak suami dulu, takut dimarahi kalau tidak dapat ijin darinya,"
"Gimana kalau dia tidak memberi mu izin? "
"Biar aku membujuknya, "
__ADS_1
"Kami harap kamu bisa membujuknya, kali ini bisa ya jalan sama kita ada yang lagi bad mood nih! " ucap Oliv dengan nada berbisik, agar Rina tidak begitu mendengrnya.
"Aku mendengarnya Oliv," seketika Rina berbicara membuat Oliv senyum di paksakan.
"Aku mengerti aku akan bicarakan ini dulu, kalau begitu aku tutup sambungan teleponnya! "
"Ya Baiklah, " Oliv pun menyimpan ponselnya di meja.
"Kau menjadikan ku alasan untuk Sisil menemani kita? "tanya Rina.
"Rina udah dong ngambeknya, aku melakukan itu karena aku peduli padamu ayo lah jangn salah paham! " Oliv menggoyangkan lengan Rina dengan mata yang di buat berkedip-kedip itu.
"Hentikan matamu itu, kau terlihat sedang merajuk! "
"Kalau begitu jangan marah lagi! "
"Hah, kau itu memang pandai membujuk orang," Rina memegang dadanya, tidak si sangka dia akan mendapatkan sahabat macam Oliv ini. Walau dia telah melakukan hal yang membuat Rina kesal tapi dia juga bisa membuatnya kembali ceria.
"Aku juga merasa bersalah padamu, tapi udah terlanjur dan lagi aku pernah mengalami jika perasaan tidak tersampaikan kau akan merasa penasaran bahkan sampai betahun-tahum lamanya, ibarat jika berlari sangat lah membuat kita lelah maka aku akan memilih hal itu di banding menunggu yang tidak pasti akan datang, itu lebih dari sekedar lelah bahkan bisa menyiksa mu! " Oliv menepuk bahu Rina.
Hingga suara tringgg dari ponsel Rina membuat keduanya menoleh, pada sumber suara itu.
Rina pun mengambil ponselnya di atas meja, seketika matanya membulat dan sebelah tangannya menutup mulut, dia seperti sedang terkejut.
"Rina kenapa ada yang salah? Apa seketaris itu membalas pesan mu?" Penasaran Oliv, hingga Rina pun dengan cepat menoleh pada Oliv.
"Sekertatis itu... " Rina menggantungkan ucapannya.
"Iya sekertaris itu? "
"Dia.. "
"Dia membalas pesanmu? Kenapa kau membuatku penasaran! " kesal Oliv.
"Bukan sekertaris itu tapi paket ku hari ini akan sampai! " Rina menyengir kuda. membuat Oliv menepuk keningnya.
__ADS_1