Guru Dunia Akhirat

Guru Dunia Akhirat
Penjelasan


__ADS_3

Entah kapan berbuat masalah, yang pasti hal itu akan selalu membekas di hati. Seakan selalu mengejar bagai menghantui jika tidak lekas terselesaikan, bahkan jika sudah selesai pun terkadang membuat kewaspadaan dimasa mendatang untuk tidak mengulanginya lagi.


Berlari dari masalah merupakan salah satu cara meredakan masalah sementara, dan tidak memungkinkan bagi yang berbuat merasa tenang, dia akan selalu bersembunyi.


Wulan menatap jendela bus yang dia tumpangi, sesekali membenarkan mantel yang melorot dari hidung dan bibirnya, serta mata yang mulai mengeluarkan buliran bening itu. Hatinya merasa sakit dia mulai menyalahkan diri sendiri, derita hidup yang menghampirinya membuat pelajaran baginya untuk sadar bahwa sifat yang dimilikinya harus di ubah. Dan sialnya tidak ada yang bisa dia salahkan dari penderitaan dirinya ini, walau tragedi ulang tahunnya dahulu sampai melahirkan anak dia tidak bisa menyalahkan Ginanjar. Nasib buruknya dimulai dari kejadian itu.


Bus berhenti di halte, Wulan berjalan lunglai menuju kontrakan hingga seseorang telah tertabrak olehnya dan mulai mengaduh.


"Bisakan kau berjalan dengan benar, membuat orang emosi saja! " hardik seorang perempuan itu pada Wulan, tapi Wulan tidak bergeming dirinya hanya terus saja berjalan.


"Hei ada apa denganmu, apa kau mau membuat masalah denganku! " kembali perempuan itu bicara kini tangannya menarik bahu Wukan hingga menoleh, menatap perempuan itu.


"Hanya gara-gara tersenggol kenapa kau emosi sekali, belum pernah kah merasakan hal yang lebih sakit dalam hidup? " Wulan berteriak, menatap nanar perempuan di hadapannya.


"Maksud mu ap-"


"Jangan sampai aku bertemu denganmu lagi, lagian tersenggol sedikit tidak perlu kerumah sakit kan? Dan aku pun tidak memiliki riwayat penyakit menular, jadi tenang saja! " ucap Wulan lalu berlalu meningglkan perempuan itu yakni Rina.


Ya! Yang tadi ditabrak Wulan saat berjalan adalah Rina, dia awalnya ragu tapi untuk memastikan kalau wanita itu adalah wanita yang berada di foto bersama suami sang sahabat. Tangannya merogoh ponsel di saku celananya dan mulai menelepon seseorang.


"Kirimkan foto yang waktu itu kamu perlihatkan kepadaku!" ucap Rina, dia tengah menelepon Sisil. Hingga suara tringg pada ponselnya pun terdengar dia buru-buru membuka pesan itu.


"Yak! " terkejut Rina.


Wulan telah sampai di halaman kontrakan itu, tapi matanya menangkap sosok laki-laki berjas berada di depan pintu kontrakannya.


"Permisi mau cari siapa? " tanya Wulan, hingga laki-laki itu pun menoleh.


"Kamu! " jawab asisten Rian. "Saya perlu membawa anda pada bos saya, ada hal penting yang akan dia bicarakan bersama anda! " tambahnya dengan nada ketus.

__ADS_1


"Maaf hari ini saya sangat lelah mungkin besok saja! " Wulan pun mengelak, dia tidak tau bos laki-laki itu bisa-bisa dia mau menculiknya bukan?


"Tapi anda harus melakukan perintah kami!" tegas Rian bersiap meraih tangan Wulan.


"Bos anda itu siapa? Saya tidak ada kenalan seorang bos dan jangan harap bisa menculiku! "Wulan menepis tangan Rian yang akan meraihnya, lalu dengan terburu-buru membuka pintu itu.


"Tidak bisa ini perintah, dan kau dalang masalah bos saya! " Rian terpaksa menggendong Wulan ke pundaknya, tidak peduli Wulan berteriak atau memukul punggungnya.


"Sial, kuarang ajar! Turunkan aku! Memang siapa bos kurang ajarmu! " teriak Wulan sepanjang jalan, hingga orang-orang mulai memperhatikan mereka.


"Heru! " jawab singkat Rian, membuat Wulan terdiam.


"Heru! Pasti dia akan membicarakan masalah foto itu, huh lagi-lagi! " gumam Wulan dalan Hati.


"Anda pasti mengenalnya kan! Saya harap anda bisa bekerja sama dengan saya untuk diam dan jangan memberontak," Wulan pun terdiam di bahu Rian.


Wulan dibawa oleh Rian kedalam mobilnya, tapi seseorang berdiri dihadapan mobil itu menghadang.


"Turunkan dia! " titah Sisil, setelah diberi kabar oleh Rina, Sisil bergegas menghampiri temannya itu.


"Tapi ini perintah tuan, Nona! "


"Aku bilang lepaskan dia! " teriak Sisil tepat di hadapan Rian.


Rian pun menurut dia menurunkan Wulan, setidaknya Heru pun menyuruhnya untuk membawa Wulan hanya untuk istrinya ini kan, maksudnya untuk menjelaskan di antara mereka yang sebenarnya pada Sisil.


"Bisa kah kau ikut dengan ku? " Sisil pun begitu saja pergi tidak memberi kesempatan pada Wulan untuk menolak, hingga pada akhirnya dia mau tidak mau menuruti Sisil apalagi di sana maskh ada Rian jadi Wulan tidak bisa kabur.


"Hari ini aku sibuk di panggil orang gara-gara perbuatanku dulu, ternyata dampaknya sangat besar! " hati Wulan pun berbicara.

__ADS_1


Sisil membawa Wulan kesebuah taman di area itu, dia duduk di bangku panjang dan di ikuti oleh Wulan di sampingnya.


"Aku membawamu ke sini untuk mendengar penjelasan dari mu tentang foto ini, laki-laki yang berada didalan foto itu sekarang adalah suami ku!" Sisil memberikan lembaran foto Wulan, senyumnya pun merekah yang dia pikirkan tadi benar adanya. Foto itu memang membuat nasib sial sekarang.


"Mulai dari mana aku harus menjelaskannya? " Wulan menoleh menatap perempuan di sampingnya.


"Sebenarnya foto itu kau ambil kapan? " nada ketus terdengar dari mulut Sisil.


"Waktu aku SMA, kira-kira delapan tahunan dulu, " jawab Wulan.


"Baiklah, kau yang mengirim foto itu kepadaku? Apa alasanmu! "


"Hm, aku tidak tau siapa yang mengirim foto itu kamu isti Heru pun aku baru tau. Sekarang aku tidak memperdulikan hal itu, aku akui itu memang salah dulu aku egois menginginkan Heru menjadi miliku tapi dia tidak menginginkanku, sampai aku melakukan hal kotor kepadanya pun dia tidak bisa aku miliki. Tenang saja aku tidak merenggut kesucian Heru, foto itu hanya formalitas dan menjadi bumerang bagiku sekarang. Aku harus pergi hari ini aku sibuk jangan mencariku lagi, aku sudah tidak peduli pada siapa pun! " Wulan pun berdiri dan mulai melangkahkan kakinya.


"Terima kasih setidaknya untuk tidak peduli pada kami! " Ucap Sisil, perasaan wanitanya keluar dia takut suatu hari nanti Wulan akan melakukan hal lain yang membuat dirinya dan Heru salah paham, walau Wulan berkata meyakinkan tapi hatinya masih merasa takut akan kehilangan suaminya itu.


"No problem! " Wulan menoleh sesaat dan kembali melanjutkan langkahnya.


Di balik semak terlihat Rian dan Rina tengah mengintip Wulan dan Sisil.


"Untung mereka tidak saling menampar atau saling menjambak rambut! " ucap asal Rina hingga Rian menoleh kepadanya.


"Itu cuman kelakuan anak kecil sepertimu! Mereka mungkin sudah dewasa, menyelesaikan permasalahan dengan kepala dingin," sahut Rian.


"Aku udah lulus SMA, mana mungkin aku juga bersikap seperti itu memalukan! " cibir Rina.


"Anak gadis sekarang! " Rian beranjak dari tempatnya dan membuat Rina melongo.


"Kau meninggalkanku! "

__ADS_1


"Kenapa aku harus menunggu mu! Bukannya kau kesini sendiri!" kata Rian, membuat Rina mengerucutkan bibirnya sampai senyum Rian mengembang.


__ADS_2