Guru Dunia Akhirat

Guru Dunia Akhirat
Ketahuan


__ADS_3

"Kau baik-baik saja?" tanya Ginanjar pada Wulan dengan hati-hati.


Wulan terus menangis, dia tidak bisa menghentikan laju air matanya yang terus saja keluar hatinya begitu sangat sakit. Wulan sadar dulu dia begitu buruk dia begitu sangat egois hanya mementingkan dirinya sendiri, di usir sang papa dan tinggal di rumah sang bibi yakni ibunya Ratna. Awalnya sang bibi tidak mengizinkan Wulan untuk tinggal, tapi melihat keadaan Wulan yang sangat buruk dan sedang mengandung dia pun memperbolehkannya asal biaya makan ditanggung sendiri.


Menjadi guru Tk bukan keinginanya, dia sangat membenci anak kecil! Tapi setelah melahirkan Wulan mencari pekerjaan, dia berhasil menjadi pegawai pabrik sampai suatu hidayah datang kepadanya. Dia meliahat seorang anak perempuan yang sangat cantik terdiam di depan pabrik sendiri tidak ada yang menemani, baju yang dia kenakan sangat kotor.


Wulan menghampirinya dan berbicara dengan anak itu, hingga akhirnya rasa iba keluar dari diri Wulan dia sempat menangis saat itu, anak itu menceritakan keseharian yang sangat menyedihkan ditinggal di stasiun oleh sang ibu dan sampai sekarang dia belum menemukannya, hingga harus hidup sebagai anak jalanan yang hanya mengandalkan tepuk tangan dan bernyanyi untuk mencari uang recehan. Dan yang membuat Wulan tertegun dia melihat di kantung plastik hitam yang di ikat dengan tali plastik, sehingga menjadi tas slempang itu terdapat beberapa buku belajar anak.


Dari situ Wulan teringat akan anak yang dia lahirkan beberapa tahun ke belakang, dia menjadi terinsfirasi menjadi seorang guru, dia pun akhirnya mendaftar ke perguruan tinggi dengan jurusan PGTK dan mengambil kelas karyawan kala itu lalu berniat akan mencari anaknya itu.


"Aku baik-baik saja," suara parau dari mulut Wulan. Dirinya kini selalu terbayang akan dosa di masa lalu, selain selalu menggoda pria kaya dia pun telah menyakiti perasaan laki-laki di hadapannya itu.


"Baiklah aku akan mengambilkan sesuatu untukmu," Ginanjar beranjak, tapi di tahan oleh Wulan.


"Tidak perlu, aku tidak menolak ajakanmu ke apartemen ini hanya ingin berbicara sesuatu,? " Wulan mengambil nafas, " Aku minta maaf."


Melihat Wulan kembali menunduk dan menangis, membuat Ginanjar memeluknya lalu menepuk punggung nya mencoba menenangkan.


"Sedari dulu aku sudah memaafkanmu, aku hanya tidak tau diri selalu mencintaimu tanpa sadar membuatmu risih terhadapku! " Hati Ginanjar kali ini terasa ngilu, dan perlahan melepas pelukannya.


"Aku pernah mengatakan kalau aku tidak akan kembali mencintai siapapun, itu karena aku terlalu bodoh, aku terlalu terobsesi dengan kekayaan, aku di butakan oleh uang dan tidak bisa melihat orang yang tulus mencintaiku. Kali ini aku meminta maaf kepadamu, aku adalah wanita hina yang tidak pantas untukmu, jadi jangan pernah mencintaiku lagi. Hidup lah dengan semestinya tanpa ada pikiran karenaku!" Wulan pun beranjak pergi meninggalakan apartemen itu


"Bagaimana bisa aku melupakanmu, kenapa kau jahat sekali! Kau memang wanita yang sangat egois! Kenapa kau meminta maaf kepadaku, setelah penderitaan yang kau alami karenaku! " teriak Ginanjar, menghentikan langkah Wulan.

__ADS_1


"Kau-"


"Seenaknya kau bicara aku harus melupakanmu setelah kau membuat ku semakin menderita! Kau hampir membuat ku gila Wulan dan kau akan meninggalkanku! Tidak akan, mulai sekarang kau harus tetap bersamaku, " Ginanjar menghampiri Wulan dan meremas pundaknya dengan keras, membuat Wulan sedikit mengerang karena sakit.


"Lepaskan aku! "


"Kau telah melahirkan anakku! Dan membuangnya begitu saja! Kau memang wanita hina, kau sadar ternyata! " Ginanjar mengapit kedua pipi Wulan dengan sebelah tangannya, membuat bibir Wulan mengerucut dan sakit di bagian rahang.


"Aku tidak menyangka! Aku sangat mencintai wanita seperti mu yang mempunyai hati busuk! " sambung Giananjar melepasakn tangannya dari pipi Wulan, sedangkan Wulan menangis karena sakit.


"Lepaskan aku, aku sekarang sudah insaf sekarang pun aku sangat ingin bertemu dengan anakku, aku sangat menyesal sungguh," Wulan terus menangis sejadi-jadi, Ginanjar pun mengusap mukanya kasar menghapus air mata yang mengaliri pipinya.


🌹🌹🌹


Suara pintu rumah terdengar nyaring dari ruang tamu, Heru memasuki rumahnya. Hari sudah gelap dan keadaan lampu padam, Heru mencari stopkontak di tembok lalu menekannya, kemudian terlihat sosok Sisil dengan baju lingeri yang membuat Heru menelan ludahnya, Sisil berdiri beberapa senti dari Heru.


"Mas Heru! " Walau berpakaian menggoda tapi nada bicara Sisil terdengar tegas, tatapannya pun tajam melihat suaminya itu, membuat Heru pun bingung terlihat dari dia yang mengerutkan keningnya.


"Hm, " sahut Heru, perlahan Sisil berjalan menghampiri suaminya itu, tangganya ia lipat di dada sambil terus menatap tajam seperti akan mengintrogasi. Heru yang saat ini masih diam, dan tangan masih memegang stop kontak hatinya telah siap, mungkin ini kejutan untuknya. Heru senang di dalam hati, mungkin Sisil akan langsung memeluk, mencium dan mengajaknya keranjang kali ini. Karena sebelumnya Sisil tidak pernah seperti


ini.


"Mas Heru kau hari ini sangat malam pulangnya, capek ya? " Sisil telah sampai di hadapan Heru, tangannya terulur mengusap bagian belakang telinga Heru membuat sang pemiliknya pun bergidik geli, kali ini nada bicaranya di buat semenggoda mungkin.

__ADS_1


"Sayang kau membuatku pinging sesuatu, apa kau sengaja hm? Apa kau sudah tidak sabar menginginkannya juga? Kalau begitu kita tidak jadi ke hotel biar nanti saja, apa ada kejutan yang sangat sepesial untukku? Penyambutamu malam ini berbeda, " berbagai pertanyaan terucap dari mulut tebal Heru, tangannya beralih menarik dagu Sisil. Heru yang tidak bisa menahan hasratnya itu segera mendektkan bibirnya ke bibir Sisil, tapi sebelum benar-benar bersentuhan senyum evil Sisil pun terlihat.


"Aaaaaaaaaa,,, sayang sakit, ini sakit lepaskan tanganmu! " Heru mengerang kesakitan, karena Sisil yang awalnya mengelus bagian telinga itu menjadi menjewer telinganya sekuat yang Sisil bisa.


"Mas ini keterlaluan! Kau membuatku geram! " teriak Sisil, membuat Heru semakin bingung dengan ucapan istrinya itu.


"Kita bicarakan ini, tapi lepaskan dulu tanganmu ini sangat sakit, " Heru memegang telinganya yang memerah itu , setelah Sisil melepaskannya. Sisil terlihat menghembuskan nafasnya kasar dan kembali menatap suaminya itu dalam-dalam.


"Mas dari kapan mengirim mata-mata untukku? " tanya Sisil kembali melihat tangannya di dada.


"Hah! Mata-mata? Tidak, aku tidak pernah memerintahkannya," Heru pun mengelak.


"Bohong! " Sisil memajukan mukanya, dan semakin menatap Heru penuh curiga.


Cup


"Bohong dosa sayang, " suara lembut itu keluar dari mulut Heru, setelah mencium bibir ranum milik Sisil.


"Yak! " teriak Sisil, sedangkan Heru sudah lari menuju kamarnya.


Beberapa menit berlalu Sisil menunggu Heru yang sedang berpakaian. Tangannya memeluk guling sambil berbaring dikasur, pikirannya tidak henti menyusun kata-kata menurut hatinya yang akan dia sampaikan pada suaminya itu, hingga akhirnya Heru pun menghampiri dan berbaring menghadap Sisil serta memeluk perutnya.


"Mas tau kan kalau aku pernah di celakai oleh Ginanjar dan kejadian tadi juga aku hampir celaka, Mas tadi tau kan? " Sisil menoleh dan langsung menyemprot Heru dengan berbagai pertanyaan membuat Heru menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Benarkah? Apa kamu baik-naik saja, apa ada yang sakit? Mana sini biar aku obati. Memang siapa yang berani membuat istriku tercinta ini celaka, akan aku pastikan mereka akan menerima akibatnya! " ucapan Heru membuat Sisil menatapnya malas, dia tau kalau suaminya itu sedang berakting.


"Mas itu guru kimia bukan guru bahasa indonesia, jadi hentikan dramanya aku udah tau, kamu ketauan mas! " Sisil mengerucutkan bibirnya, lalu kembali membelakangi Heru.


__ADS_2