Guru Dunia Akhirat

Guru Dunia Akhirat
Rencana Ratna dan Ginanjar


__ADS_3

Di dalam mobil Sisil terus memikirkan kejadian tadi di toko kue, dirinya kini bingung. Apakah dia langsung bicara saja sama Elsa? Tapi bagaimana kalau dia tidak percaya? Apa rencana Ratna?


Semua pertanyaan di benak Sisil keluar menyeruak bagai petasan di siang hari, hingga Rian yang kini melihat Sisil di kaca sepion terlihat kebingungan akhirnya mengajak nonanya itu bicara.


"Apa anda baik-baik saja? " tanya Rian.


"Akh! Ia aku tidak apa-apa." Sahut Sisil sedikit terkejut.


"Tuan Heru baik-baik saja. " Tiba-tiba suara Rian mengingatkan Heru terhadapnya, membuatnya semakin menambah pikiran.


"Syukurlah,"


"Jangan khawatir, tuan terlihat sangat merindukanmu dia menyelesaikan pekerjaannya sampai tidak tau waktu, supaya cepat selesai semuanya dan bisa menemui Nona. "


"Kau malah membuat ku tambah khawatir pada Mas Heru, pantesan dia jarang mengaktifkan ponselnya , bagaimana dia makannya? Aku harap dia makan dan tidur dengan baik. "


"Khm! Niat mau membuat dia tenang malah jadi tidak tenang." Ucap Rian dalam hati.


"Akan saya pastikan itu, Tuan Heru akan baik-baik saja. "


"Emang itu yang di harapkan! " Sisil kembali menunduk, masih sangat berbelit pemikirannya.


Kini mereka telah sampai di mansion yang sangat mewah. terlihat dari pagarnya pun yang menjulang tinggi. Sebenarnga Sisil sudah tidak asing karena mama dan papanya pun punya mansion seperti ini tapi bukan di daerah sini.


"Assalamualaikum" Sisil mengucapkan salam setelah dibukakan pintu oleh Rian, di sana terlihat mama Lina tengah menghampiri Sisil dengan senyumnya yang merekah.


"Waalaikumsalam," sahut Lina, lalu memeluk Sisil.


"Sini nak masuk. " Ajak Lina merangkul bahu Sisil lalu menuntunnya duduk di sofa.


"Apa mama sehat? " Sisil mengulurkan tangannya pada Lina, dan Lina pun menerimanya.


"Allhamdulilah sehat," jawab Lina, terlihat Sisil pun mencium tangan mama mertuanya itu. "Ini buat mama? " kemudian tanya Lina membuat keduanya menoleh ke arah bungkusan yang di pegang Sisil.


"Oh ini ada sedikit kue buat Mama dan Papa. " Sisil menaruh kotak kue itu di meja, lalu Lina pun membukanya.


"Wah kue tart, " ucap Lina dengan mata yang berbinar. "Kamu tau aja selara mama, ini kue tart kesukaan mama! "


"Benarkah! Kalau begitu aku senang Mama menerimanya. " Sisil dan Lina pun tersenyum bersama. Hingga seseorang masuk ke rumah membuat perhatian Sisil dan Lina teralihkan dari kue tart itu.


"Assalamualaikum. " salam Elsa, begitu saja melewati Sisil dan Lina.


"Waalaikumsalam," sahut Sisil dan Lina bersamaan. Terlihat wajah Elsa yang kesal, entah karena apa tapi sukses membuat kedua orang itu kebingungan.


"Kamu juga pergi mandi, lalu setelah mandi kita makan bersama. " suruh Lina membuat Sisil mengangguk.


"Aku ke kamar yang mana mah? " tanya Sisil karena sangat banyak pintu di sana.


"Kamu kesini, di sini kamar suamimu sayang. " Lina menuntun Sisil menuju kamar Heru.


"Makasi ya mah, "

__ADS_1


"iya, mamah akan melihat dapur dulu." Lina pun meninggalakan Sisil.


Sisil membuka pintu itu dan pertama kali yang terlihat adalah kasur dan nuansa hitam abu yang mendoninasi kamar. Perlahan Sisil masuk dan menutup pintu dari dalam, wangi Heru seakan menyengat di hidung Sisil kini dia semakin merindukan sosok suaminya itu.


Dilihatnya lemari baju berwarna hitam lalu dia menghampirinya, tangan Sisil terulur membuka pintu lemari itu hatinya semakin bergemuruh dia menjadi sangat merindukan pelukan Heru. Di ambilnya baju Heru lalu dipeluknya sangat erat, di ciumnya aroma khas suaminya itu tidak terasa buliran air itu keluar dari pelupuk matanya.


"Benar-benar guru yang sangat menjengkelkan! kenapa lama sekali dia pergi! " gerutu Sisil, padahal baru di tinggal dua hari, tapi Sisil merasa sudah sangat lama Heru meninggalkannya. Hingga suara ponsel berdering membuat Sisil mengambil benda pipih itu di tas nya, seketika senyumnya mengembang.


"Assalamualaikum," salam Sisil pada seseorang yang meneleponnya.


"Waalaikumsalam, sudah sampai ke mension? " tanya seseorang di sebrang sana, tentu saja yang menelepon adalah Heru.


"Sudah, " Sisil menghapus air matanya.


"Ada apa dengan suaramu? Kau sakit? " tanya Heru, karena suara Sisil terdengar serak di telinga Heru.


"Tidak! "


"Lalu? Kenapa suaramu serak? "


"Tidak! "


"Kau merindukan aku? "


"Tidak! " Sisil malah menggigit bibirnya, rasa rindu yang amat tengah menguasai dirinya hingga dia ingin menangis.


"Benarkah? Padahal aku sangat ingin memelukmu! "


"Bicaralah yang keras, ada apa dengan mu sayang? aku tidak bisa mendengar mu! "


"Yak! Kapan kamu pulang! " teriak Sisil menahan isak tangisnya.


"Mungkin tiga hari lagi aku akan pulang, kalau rindu jangan di tahan lho! "


"Jangan menggodaku! " hentak Sisil kesal.


"Kau menangis? Apa sebegitukah merindukanku? "


"Aku tidak pernah merindukanmu, ingat! Kau hanya perlu cepat pulang! " Kilah Sisil lalu segera memutuskan sambungan telponnya, membuat Heru yang kini berada di ruangannya pun tersenyum.


Tidak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar, Sisil segera menghampiri dan membuka pintu itu.


"Elsa! "


"Bisakah aku masuk! "


"Hm, " Sisil pun mengangguk, lalu Elsa pun masuk dan duduk di kasur di ikuti Sisil di sampingnya.


"Kau terlihat telah menangis, " selidik Elsa.


"Akh mana mungkin, aku tadi hanya kelilipan. " Sisil menghapus jejak air matanya.

__ADS_1


"Itu baju Mas Heru, kau merindukannya?"


"Hm. " Sisil pun kembali hanya menjawab pertanyaan Elsa denga menganggukm


"Apa kau benar merindukan Mas Heru? "


"Tentu saja! "


Kini mereka duduk berdampingan di kasur itu, terlihat Elsa menghembuskan nafas membuat Sisil bingung sendiri.


"Ada yang mengganggu pikiranmu?" kini berbalik Sisil yang bertanya kepada Elsa.


"Aku hanya memastikan bahwa yang aku khawatirkan tidak terjadi. " ucapan Elsa membuat Sisil mengerti mungkin Ginanjar sudah mempengaruhinya.


"Apa yang kau khawatirkan!"


"Kau hanya memanfaatkan cinta Mas Heru! " Ucap Elsa.


"Kau meragukanku? Apa ada seseorang yang menjelekanku? Sekarang aku mengerti! " Sisil menyeringai, membuat Elsa mengerutkan dahinya bingung.


"Apa maksudmu?" Elsa bertanya balik.


"Tidak! Tapi perlu kamu tau aku sangat mencintai Mas Heru, tanpa alasan apa pun!"


"Aku bukan tipe orang yang suka berfikir terlalu berkalut, jadi sekarang aku akan mengeluarkan semua yang ada di otaku. Ginanjar mengatakan kalau kau hanya memanfaatkan Mas Heru agar nilai mu di sekolah bagus, lagi! Dia berkata kalau kamu bukan hanya merayu Mas Heru tapi beberapa guru yang memengaruhi nilai mu sehingga sampai saat ini kau dijuluki siswa cerdas. Itu semua yang membuat Ratna geram jadi dia membulimu. " Jelas Elsa menatap tajam Sisil.


"Apa kau mempercayainya? "


"Ada sedikit rasa percaya karena Gianjar adalah pacarku, dan selama ini dia selalu jujur padaku dan sangat perhatian."


"Semua yang dikatakan olehnya adalah kedustaan semata, aku tidak pernah merayu siapa pun! Terserah mau percaya atau tidak!" Sisil pun berdiri dan beranjak ke kamar mandi, sekarang dia tau rencana Ratna dan Ginanjar mendekati Elsa. Terlihat Elsa terdiam lalu menunduk masih ada keraguan di hatinya.


"Aku harap kamu tidak dibodohi olehnya! " ucapan Sisil membaat Elsa tersinggung, dia pun langsung menatap Sisil dengan tajam.


"Apa kau mengira aku bodoh! Umurku lebih di atasmu, kau jangan terlalu percaya diri!" Elsa bicara dengan keras membuat Sisil terdiam.


"Terkadang cinta bisa membuat seseorang tidak berfikir dengan logikanya, karena hanya perasaan yang dia kuasai sedangakan perasaan belum cukup meyakinkan diri sendiri. Terkadang semua yang di anggap benar akan terlihat salah! Bahkan kata hatinya pun tidak akan di dengar! Bukan menganggapmu bodoh, hanya takut diakhir akan ada rasa penyesalan setidaknya cukup hanya sekedar suka karena aku melihat dimatamu masih ada keraguan terhadap kekasihmu itu!" ucap Sisil menatap adik iparnya itu.


"Tau dari mana aku meragukan cinta Ginanjar! Aku sangat mencintainya!" Elsa malah semakin kesal.


"Maaf kan aku, aku mengetahui sesuatu yang kamu belum ketahu tentang kekasihmu itu tapi, walau sekarang aku mengatakannya kau tidak akan percaya kepadaku."


"Apa yang kau ketahui! " teriak Elsa menggema di kamar itu.


"Setidaknya kamu percaya padaku maka aku akan memberitahumu, tapi kau terlihat ragu jadi percuma aku mengatakannya!"


"Apa kau berniat mempermainkanku, apa sebenarnya yang di ucapkan Ratna ada benarnya juga! " tebak Elsa.


"Aku mau mandi dulu. " Sisil pun segera menuju kamar mandi.


"Dasar, awas sampai kau menyakiti Mas Heru! " teriak Elsa dan masih terdengar oleh Sisil di kamar mandi.

__ADS_1


"Ternyata Ratna sangat licik! Menjadikan Elsa sebagai duri didalam rumah tanggaku. Kali ini dia berhasil membuat Elsa membenciku, tapi lihat saja nanti! " Sisil pun menyeringai.


__ADS_2