Guru Dunia Akhirat

Guru Dunia Akhirat
CEO or CAU


__ADS_3

Suasana senja kini menyelimuti kota yang di tinggal Alga sekarang, dia terlihat tengah duduk di halaman rumah orang tuanya sambil tumpang kaki dan menyesap sebatang rokok di mulutnya.


"Yak, enak bener hidup! " tiba-tiba sang emak mengagetkan Alga dengan sapu di tangannya.


"Mak Aga terkejut lho! " sahut Alga dengan nada manjanya.


"Huh, anak ini dari pada diem aja cari mamah noh buat Ulan!" ucap Roroh yang merupakan ibunya Alga, bicara yang keras, bawal tapi penyayang sudah menjadi ciri khas dari Roroh dan hal itu yang membuat anaknya dekat dengannya.


"Tenang Mak, udah ada! " Heru memadamkan roko itu di asbak lalu tersenyum pada Roroh.


"Benarkan? " Roroh terlihat senang dengan ucapannya, mengingat dia hanya punya anak tiga dan semua laki-laki.


"Dia itu anak CEO di prusahaan properti, wajahnya cantik kulitnya putih, huh... Membayangkannya saja jadi ingin segera menikahi dia! "


Pletakkk


"Mak sakit tau! " Alga kesakitan setelah di pukul pake sapu.


"Anak tukang cau? Cau apa tadi pripirti propirti apa susah! Jangan ngada-ngada kalo ngomong yang bener! " racau Roroh membuat Alga menepuk keningnya.


"Mak, mak mentang-mentang kita dari kampung sampai susah buat ngucapin kata asing! " batin Alga.


"Eh malah bengong, gak apa-apa deh anak tukang cau juga lumayan kalau dia ngirim ke sini biar emak bikin kripik! " Roroh membayangkan hobi nya yang suka membuat makanan cemilan, membuatnya senyum sendiri.


"Mak! Bukan cau tapi CEO, C E O! " terang Alga sambil mengejah huruf CEO.


"Apa CEO? " tanya Roroh dan membuat Alga pun menggaruk kepalanya, jika dia terangkan bisa-bisa sampai besok baru paham atau sampai berhari-hari emaknya itu bisa paham.


"CEO itu pemimpin perusahaan, "


"Katanya menejer nama pemimpin perusahaan apa udah ganti ya namanya jadi CEO biar agak pendek! " penuturan sang emak membuat Alga tersenyum malas dengan matanya yang sayu.


"Itu mata jangan dikaya gituin, kesannya Emak ini bodoh! " Roroh mengangkat kembali sapunya.


"Emang emak bodoh mak! " gumam Alga dalam hati dan membuatnya cekikikan, hal itu di lihat oleh Roroh.


"Inget ngatain Emak itu dosa! " teriak Roroh dan menyodorkan sapu pada Alga.

__ADS_1


"Kenapa ini? Ada apa? " tiba-tiba laki-laki paruh baya mendekat dengan cangkul di bahunya.


"Nih Pak si Alga mentang-mentang kerja di luar negri ngomong nya jadi aneh, kan ibu nggak ngerti! " adu Roroh pada suaminya itu.


"Kamu ngomong apa Alga?" sang bapak pun menoleh pada Alga.


"Aku hanya bilang kalau aku sudah punya wanita dan wanita itu adalah anak CEO dari perusahaan properti udah gitu aja, bapak paham kan? " terang Alga dan membuat sang bapak mengangguk.


"Emak ini masa anaknya cuma ngomong gitu nggak ngerti, dia bilang kalau dia punya kekasih anak tukang cau, ia kan? Gitu aja di debatin aneh!" sang bapak menerangkan kepada Roroh dan membuat Alga melongo lalu menggaruk kepalanya dengan kedua tangannya prustasi.


"Terserah kalian! " Alga pun bergegas ke dalam rumah sambil menghentakan kakinya kesal.


"Mak kenapa dia kelihatan marah? " tanya bapak. Sedangkan Roroh hanya mengangkat kedua bahunya tidak mengerti.


*cau itu pisang ya, kata cau di ambil dari bahasa sunda.


Alga yang sekarang berada di kamarnya masih dengan kesal dan geram kepada kedua orang tuanya, mendapati ponselnya berdering. Alga pun mengambilnya dan mengangkat telepon itu.


"Gimana? Sudah dapat apa yang aku suruh! " suara tegas Alga kembali terdengar.


Dan benar saja semua bukti sudah ada di genggaman Alga sekarang tinggal dia menelepon asistem Heru.


"Hah yang kaya gini mah kecil! " Ucap Alga sambil menjentikan jarinya.


"Anak ini berani sekali ngerjain Heru, dasar! " kembali gumaman itu keluar dari mulut Alga.


Alga pun hendak menelepon Rian tapi pikirannga ragu, dia semestinya harus langsung memberi tau Heru biar sekalian bisa mengetahui kabar Elsa.


"Hah jadi bingung gini mau ngasih tau mereka, ya udah deh aku suruh Rian aja ketemuan di rumah Heru biar seklian tanya-tanya keberadaan Elsa, " Heru pun mulai memanggil Rian lewat ponselnya.


Malam pun tiba Alga sudah sampai dirumah Heru. dan Sisil berjalan mendekat dengan dua cangkir kopi di nampan yang dia bawa.


"Alga kamu kenapa berhenti jadi satpam di sini? " tanya Sisil sambil menaruh kopi itu di meja.


"Aku udah cape aja jadi satpam,"


"Ih begitu ya, sekarang rencana kamu mau bekerja apa? "

__ADS_1


"Dia udah banyak uang sekarang jadi buat apa mencari pekerjaan lain, " bukannya Alga yang menjawab tapi malah Heru yang menjawab membuat Alga tersenyum kepadanya.


"Ah gitu! " Sisil tidak memperpanjang pembicaraannya. karena dia menyadari kalau suaminya itu tidak suka dengan dirinya yang seakan mengintrograsi Alga, walau dalam benaknya dia sangat penasaran dengan pekerjaan Alga.


"Aku ke kamar dulu!" kemudian Sisil pun melangkah mundur dan menghampiri dapur untuk menyimpan nampan lalu bergegas ke kamar.


Setelah Sisil sudah tidak keliatan lagi punggungnya, mereka pun mulai serius membagas sesuatu.


"Baca dulu! " ucal Alga pada Heru dia megodorkan tumpukan kertas di hadaoan Heru.


Heru pun dengan tekun melihat isi kertas itu, satu persatu lembaran itu di bacanya dan di lembaran selanjutnya Heru menemukan foto seseorang yang dia kenali.


"Anak ini gak ada habisnya! " gumam Heru tapi masih terdengar oleh Alga.


"Siapa kamu dia. selingkuhanmu? " tanya Alga dan Heru pun melotot padanya.


"Ngaco kamu. dia itu muridku waktu aku mengajar di sekolah Sisil!" terang Heru dan Alga hanya mengangguk.


"Oh ternyata boss Heru suka daun muda ya," ucap Alga dan tidak lama suara pintu di buka terdengar menyeruak membuat Alga dan Heru menoleh.


"Asisten Rian sudah datang! " seru Alga dan Rian pun hanya mengangguk dan menghampiri keduanya.


Mereka kini tengah serius melihat lembaran-lembaran bukti dari Alga.


"Besok kau harus membawa wanita itu ke lestoran, aku akan memberinya pelajaran karena telah berencana membunuh kami! " ucao geram dan tegas Heru, membuat Heru dan Alga terdiam tak berkedip.


"Ba baik! " jawab gugup Rian.


"Satu lagi! Dia meminta ku membayarnya satu milyar, bagaimana pendapatmu?" ucapan Alga sukses membuat Rian tambah diam membeku tidak bisa berkutik, karena itu nominal yang sangat banyak.


"Khm, khm tuan bukankah sepadan dengan pekerjaannya kejadian itu hampir menimpa nyawa tuan dan nona-nona," ucap Alga dan membuat Heru serta Alga tertawa terbahak.


"Kau juga tau bukan pekerjaan itu memang hampir menimpa nyawa, tapi untuk harganya itu terlalu murah!" ucap Heru.


"Apa! " Rian Cengo dan kembali membuat keduanya tertawa.


"Aku menyesal menyuruh Mas Alga untuk menyelesaikan kasus ini, jadi bahan ledekan jadinya! " gumam Alga.

__ADS_1


__ADS_2