Guru Dunia Akhirat

Guru Dunia Akhirat
Amarah


__ADS_3

Diruang kelas yang tidak begitu rame mengingat ini jam istirahat, terlihat Sisil tengah menangis dan ditemani kedua sahabatnya itu. Kejadian tadi membuat hatinya sangat sakit hingga tidak bisa menghentikan laju air dari pelupuk mata itu.


"Sil mungkin Pak Heru di jebak, " ucap Rina mencoba menenangkan Sisil dengan tangan yang terus mengelus punggungnya.


"Benar Sil, pasti si Ratna yang menjebaknya agar kau salah paham pada Pak Heru, " tambah Oliv, mengusap pundak Sisil.


"Kalian," Sisil tidak meneruskan ucapannya, ada sedikit ragu membicarakan rumah tangganya pada temannya itu.


"Kau bisa mengandalkanku! " Rina menyahuti, dia tau keraguan Sisil.


"Kau sudah lama menjadi teman ku, apa kau tidak mempercayaiku? " tanya Oliv.


"Mungkin saja kejadian tadi juga di sengaja, karena aku sedang bertengkar dengannya! " ucap Sisil, kembali menangis.


Kejadian beberapa menit yang lalu.


"Woy! " Sisil membanting pintu perpustakan sekencang-kencangnnya setelah melihat suaminya dan Ratna berduaan di sana. Sebenarnya Sisil tidak sengaja melihat mereka, hanya saja jalan menuju kantin harus melewati perpustakaan terlebih dahulu.


Heru mendorong kasar tubuh Ratna hingga tersungkur ke lantai, dan cepat menghampiri Sisil dan berkata, "Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, aku tidak bermaksud berbuat demikian! "


Sisil menghembuskan nafasnya, menenangkan pikirannya dan mulai menyahuti pembicaraan Heru. "Kau tau tidak di sengaja pun kejadian tadi membuatku salah paham kepadamu, apa lagi malam tadi kau marah padaku bisa saja hal ini adalah senjata membuatku sakit karena aku selalu membantahmu. Kamu sukses Pak Guru rencana mu telah berhasil, lain kali cari orang yang lebih dari diriku! " bisik Sisil tepat di telinga Heru.


"Aku tidak berniat seperti itu, percayalah! " Heru memegang kedua pundak Sisil.


"Apa hanya ini yang di sentuh oleh wanita kedongdong itu! " Sisil menyentuh bibir Heru dan tidak lama kemudian **********, membuat kedua sahabatnya dan Ratna melongo, untung perpustakaan sepi jadi tidak banyak orang yang mengetahui kejadian ini.


"Hei kedongdong! Kau jadi wanita murahan sekali, aku yakin kau kali ini juga sudah tidak perawan lagi! " Sisil menghampiri Ratna dan menggebrak meja di depan Ratna. Di saat Ratna akan menyahuti perkataannya, Sisil malah berbalik dan segera meninggalakan ruang perpustakaan itu.

__ADS_1


Begitulah kejadian beberapa menit yang lalu, kini Sisil masih sesegukan bersama kedua temannya di kelas.Hingga tidak terasa jam masuk pun berdering dan sang guru kimia itu masuk ke kelas.


"Siang semua, buka buku halmana 125," ucap Heru pandangannya mengarah pada Sisil yang menunduk. Rasa khawatir pun menjalar di tubuhnya, dia masih berfikir kalau Sisil masih salah paham pada kejadian tadi.


"Sisil apa kau sakit? " tanya Pak Heru, Sisil pun menoleh dan tersenyum kecut.


"Iya Pak saya sakit semalam badan saya serasa digebukin satu kampung, dan siang ini kepala saya sedikit pusing karena melihat ada yang berbuat tidak senonoh di sekolah, membuat ku tidak nafsu makan dan sekarang pun Bapak terasa meremang," Sisil awalnya tidak berani mengatakan hal tersebut, tapi karena rasa emosinya mendominasi dan badannya merasa tidak enak apalagi di bagian kepala membuat Sisil berani mengungkan isi hatinya. Walau sesudah ini Heru bakalan marah seperti semalam, Sisil berencana untuk pulang ke rumah orang tuanya.


"Kamu boleh pul-" perkataan Heru terhenti, Sisil pingsan membuat semua teman sekelasnya segera menghampiri, begitu juga dengan Heru dia sedikit berlari dan segera menggendong Sisil bukan menuju ruang UKS, Heru membawa Sisil pulang kerumahnya. Membuat semua yang berada di kelas itu di buat terkejut dengan sikap Pak Heru kepada Sisil.


"Sil bangun! " Sebelah tangan yang menyetir dan yang sebelahnya menepuk pipi Sisil.


"Maafkan aku, aku yang salah tidak seharusnya aku berbuat seperti itu! " gumam Heru dan menepikan mobilnya di halaman rumah sakit.


Di sekolah Ratna dengan seringainya dan kedua tangannya menepuk serta berkata, " Setidak nya kejadian tadi membuat si wanita genit itu terpukul, ini baru permulaan tenang saja masih ada hal lain yang akan membuatnya nangis darah nanti. "


"Kejutan dan yakin tidak akan gagal, baiklah waktunya pulang. " Ratna dan kawan-kawannya itu pergi.


Di jalan tidak sengaja Ratna melihat Wulan dan Ginanjar sedang berjalan menelusuri trotoar, hal itu membuat dia menepikan mobilnya.


"Gianjar! " teriak Ratna dan sedikit berlari menghampiri Ginanjar dan Wulan yang sekarang tengah menoleh ke arahnya.


"Oh kalian pacaran? " tanya Ratna, dengan tangannya yang dilipat di dada.


"Tidak kami hanya teman, kau kenal dengan Ginanjar? " Wulan bertanya balik.


"Oh syukur lah, setidaknya Bibi tidak mendapatkan apa yang telah menjadi bekasku," nada meremehkan Ratna sukses membuat Ginanjat emosi.

__ADS_1


"Kau memang wanita menyebalkan! " Ginanjar menarik tangan Wulan untuk menjauh dari Ratna.


"Kalian kalau berkomplot pun tidak apa, sama-sama pecundang! " teriak Ratna membuat Wulan menghentikan langkahnya begitu juga dengan Ginanjar.


"Apa maksudmu? Ini di tengah jalan kalau mau cari ribut kau bisa membawaku ketempat lain! " Wulan menghampiri Ratna.


"Tidak usah kemana-mana! Di sini aku akan bicara, aku tau Ginanjar berubah sikap kepadaku dan mengacukkanku itu gara-gara kau kan! Tidak habis pikir! " Ratna menatap tajam Wulan.


"Apa maksudmu, sekarang ikut aku! " Wulan menarik tangan Ratna tapi seketika itu juga dihempaskan olehnya


"Kenapa malu? Hamil tanpa tanggung jawab pun kau tidak malau dan bicara di jalan kaya gini kok malu. "


Plakkkkk


Satu tamparan dipipi Ratna mendarat dengan mulus dari telapak tangan Ginanjar, Ratna yang merasa terhina pun mulai berteriak dengan keras.


"Kau tidak percaya, dia itu seorang ******! "


Plakkk


Kini tamparan itu dari Wulan, dia tidak habis pikir dengan sepupunya itu.


"Kenapa? Memang benar adanya seperti itu kan? Kau Hamil tidak tau siapa ayahnya kau sendiri bingung kan, karena kau terlalu banyak tidur dengan laki-laki," teriakan Ratna mengundang orang disekelilingnya untuk menoleh dan menyimak apa yang mereka katakan.


"Bisa kau tutup mulut hinamu itu? Kau juga tak hayal seorang ****** yang rela ingin mendapatkan apapun dengan cara kotor sekalipun, bahkan dengan tubuhmu kau berani membayar seseorang kan!" Ginanjar mengelus pipi Ratna lembut tapi nada bicaranya penuh penekanan, sedangkan Ratna sendiri menghempaskan tangan Ginanjar dari pipinya paksa.


"Sebelum mengatai seseorang pikirkanlah dirimu dulu, berkaca itu jangan cuma mukanya saja lihat keseluruhan dirimu agar kau tau, seberapa busuk nya kamu dan seberapa hinanya kamu! Lagi dia itu wanitaku semenjak dulu, dia hamil mengandung anakku aku yang mengambil keperawanannya. Tidak seperti kau, aku masuki sudah lebar dan semulus jalan tol!" Bisik Ginanjar pada Ratna, membuat si emounya mengeratkan tangannya lalu pergi menuju mobilnya.

__ADS_1


Mereka tidak menyadari ada seseorang dengan masker pink nya yang sedari awal menyimak pembicaraan mereka, Elsa! Dia orang yang sedari tadi menguping bahkan yang berani mendekati mereka. Posisi Elsa menyamping Ratna, jadi dia tau semuanya bahkan yang Ginanjar bisikan juga.


__ADS_2