Guru Dunia Akhirat

Guru Dunia Akhirat
Curiga


__ADS_3

"Apa yang Ratna rencanakan? " Sisil bergumam di depan gerbang dengan tas slempangnya.


"Aku rasa kita harus menjaga kamu Sil! " Rina menyahuti di sampingnya dan di ikuti Oliv menganguk.


"Aku udah besar nggak perlu di jagain! "


"Kita khawatir Sil, takut kamu kenap-napa. "


Tidak lama kemudian, mobil dengan warna hitam model terbaru berhenti di depan mereka lalu keluarlah sosok laki-laki yang pagi tadi berada di sekolah, tentu saja dia sekertaris Rian. Melihat hal itu mereka bertiga pun kebingungan, hingga Sisil mengingat sesuatu.


"Nona mari saya antar, " ucap Rian membuka pintu belakang, sedangkan Rina dan Oliv menatap Sisil dengan geram.


"Sisil kamu selalu membatalkan acara kita! " Rina dengan nada kesalnya.


"Aduh aku lupa kalau Rian akan menjemputku." Sisil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tapi kalian bisa kerumahaku aku tunggu di rumah! " tambah Sisil.


"Maaf Nona! Tuan memerintahku untuk mengantar Nona ke mension." Ucap Rian membuat ketiganya kembali di buat terkejut.


"Kenapa? Bukannya mama dan papa sedang berada di Amsterdam? " tanya Sisil memastikan.


"Pagi tadi mereka sudah sampai, dan meminta Nona untuk menemuinya. "


"Nggak apa. masih ada waktu lain hari lah," nada lemah Oliv dan di ikuti anggukan oleh Rina.


"Baikalah kita pulang duluan, " ucap Rina lemah, dia sempat kecewa karena di rumahnya tidak ada siapa pun. Hingga akhirnya Rina pun berniat menarik tangan Oliv, tapi karena tidak fokus Rina malah menarik tangan Sekertaris Rian.


"Khm! " Rian berdehem setelah di tarik Rina sampai pinggir jalan. Rina pun menoleh dan tentu saja terkejut.


"Kenapa kamu ikut sama saya! " ucap Rina dan menghempaskan kasar tangan Rian dengan nada ketus dan mata yang melotot.


"Anda yang menarik saya! "


"Mana mungkin! Aku menarik tangan Oliv! "


"Tangan teman anda sejajar dengan tangan kiri saya, tapi malah tangan saya yang anda tarik! Sengaja? " jelas Rian, Rina pun menoleh ke belakang dan di sana terlihat Sisil dan Oliv tengah tertawa.


"Tentu tidak sengaja!" nada ketus itu di hiraukan oleh Rian, dia berjalan meninggalkan Rina di pinggir jalan dan menghampiri nonanya itu.


"Ada apa dengan ku! " Rina merasa ada yang berbeda dengannya sedari pagi tadi, entah mengapa bertemu dengan sekertaris suami temannya itu menjadi ada getaran di hatinya.


Tidak lama Oliv pun menghampiri Rina yang tengah bengong masih dengan tawanya Oliv pun menyenggol bahu Rina.


"Kamu ini! Jelas-jelas aku tadi di sampingmu bukan di depanmu malah main gaet tangan orang saja, kasian sekertaris Rian harus jalan mundur karena kamu tarik ha ha ha.. " Oliv terus dengan tawanya, sedangkan Rina tambah kesal, dia akhirnya berjalan meninggalakan temannya itu.


"Hey tunggu aku! Aku akan menginap di rumahamu! " Oliv mengejar Rina sampai sebrang jalan.


"Benarkah! " Rina kemudian terdiam dan raut kesal itu berubah menjadi senyuman yang indah, seperti habis hujan datanglah pelangi.

__ADS_1


"Iya! tapi teraktir aku makan nanti! " sahut Oliv.


"Tenang saja urusan makan aku gang tanggung! " ucap Rina, merangkul bahu Oliv lalu berlalu pergi


Sedangkan di dalam sebuah mobil, Sisil sempat terbesit omongan temannya itu yang mengatakan bahwa sekertaris bukannya harus mengikuti kemana pun bosnya pergi. Dengan keberanian, Sisil pun bertanya pada Rian di depannya.


"Maaf bolehkah saya bertanya?"


"Iya? "


"Kenapa kamu tidak ikut Mas Heru ke luar Kota? "


"Aku sebenarnya ikut, tapi ada seauatu hal yang tertinggal di sini maka saya harus mengambilnya, dan setelah saya mengantar Nona, saya pun harus kembali menyusulnya." Jelas Rian membuat Sisil menggut-manggut kepalanya, tanda paham dengan apa yang di bicarakan Rian.


"Oh ya aku harus ke rumah dulu untuk mengambil baju! "


"Tidak perlu disana sudah di siapkan! "


"Benarkah? " Sisil meninggikan nada bicaranya,


"Apakah aku harus menginap? Kalau menginap kan harus bawa buku untuk di bawa besok ke sekolah, yakin sudah di siapkan?" Sisil mencoba untuk bisa kerumahnya dulu, setidaknya mengambil buku yang akan besok bawa mengingat dia di hari esok ada ulangan epaluasi.


"Sudah ada di mension semua buku nona. jadi jangan khawatir! " Rian terlihat diam dengan rahang yang sedikit mengeras.


"Tuan muda ini kenapa bisa begitu mencintai dia, padahal dia terlihat seperti suka membantah! Apa karena dia masih sekolah! Benar-benar, tuan menyukai daun muda! " gumam Rian dalam hati.


"Apakah mama dan papa suka yang manis? " Sisil bertanya, dia tidak mau membawa buah tangan untuk mertuanya tapi tidak di makan. Rian pun tersenyum.


"Nyonya suka sekali dengan kue tart, sedangkan tuan, dia suka apa saja asal tidak memakan yang terlalu manis." jelas Rian, membuat Sisil sesaat bingung.


"Baiklah aku pergi dulu, kamu diam lah di mobil! " Ucap Sisil dia pun segera membuka pintu mobil, padahal Rian sudah turun untuk membukakannya tapi tidak jadi.


"Nona, " ucap Rian.


"Membuka pintu mobil ini nggak susah, jadi biasa saja sekertaris Rian. " Sisil pun berjalan melewati Rian di sampingnya dan menghampiri toko itu.


Sisil membuka toko kue, lalu matanya berbinar ada berbagai bentuk dan aneka rasa kue di setiap etalase tersebut hingga dia seperti akan mengeluarkan air liurnya, Sisil selain menyukai bakso, dia pun paling menyukai kue apa lagi gue yang di gulung dan di dalam nya terdapat lelehan krim strowberry, itu sangat menggoda lidahnya.


"Wah! " Sisil menghampiri kue tart dengan ukuran sedang dan berbentuk bulat, di atasnya terdapat serutan coklat yang di tumpuk strawberry, serta krim putih di setiap sisinya.


"Enak kali keliatannya! " gumam Sisil.


"Tapi ini terlalu manis kayanya, jika mama suka kue tart dan papa gak suka yang terlalu manis berarti harus cari kue tart yang nggak terlalu manis. Ada nggak ya? "


"Permisi ada yang bisa saya bantu? " ucap karyawan di toko tersebut menghampiri Sisil dengan senyumnya.


"Aku mencari kue tart yang tidak terlalu manis ada? " tanya Sisil kemudian.


"Ada! Di sebelah sini! " karyawan toko itu memberi jalan Sisil untuk menemukan kue yang di cari.

__ADS_1


"Sayang aku mau yang itu! " terdengar suara manja dari seseorang membuat Sisil terdiam sejenak.


"Sepertinya aku pernah mendengar suara itu! " gumam Sisil.


"Mbak ayo!" ajak karyawan tersebut karena melihat Sisil tidak kunjung jalan.


"Bisakah bungkus satu yang paling spesial, nanti saya tunggu di kasir." Ucap Sisil tersenyum.


"Baiklah, " karyawan itu pun berlalu, Sisil yang masih penasaran seketika menghapiri wanita itu, dan benar saja dugaannya, dia adalah Ratna dan laki-laki tadi yang berada di palkiran sekolah. Sisil pun berjalan menuju rak di belakangnya supaya Ratna tidak mengetahuinya.


"Kenapa pacarmu itu belum kunjung datang! " suara Ratna sedikit kesal.


"Dia buka pacarku baby!" laki-laki itu mengusap dagu Ratna . "Dia hanya pacar bohongan dan kamu adalah kekasih hatiku. " kemudian ucap laki-laki itu.


"Jangan seperti itu di sini, nanti ketauan gimana? "


"Dia belum datang kan. "


"Ish! Lagian kenapa dia mau ke sini? atau aku duluan pulang aja nanti kamu susul aku." ucap Ratna.


"Berlian! Baiklah kamu duluan nanti setelah urusan ku dan pacar bohonganku selesai aku akan menemuimu, aku udah gak sabar ingin memakanmu! "


"Ih dasar memang! " Ratna terlihat keluar dari toko itu dan Sisil pun ke meja kasir untuk mengambil kuenya. Tapi di saat Sisil akan keluar terlihat Elsa akan masuk.


"Kakak Ipar! " Elsa terlihat terkejut.


"Elsa, mau beli kue juga? " tanya Sisil.


"Ia hari ini ulang tahun pacarku, dan dia sepertinya sudah berada di sini! " Elsa terlihat celingukan.


"Hai sayang! " ucap laki-laki itu menghampiri Sisil dan Elsa, Sisil yang menoleh pun seketika mematung dan


Dwarr


Seperti ada petir disiang bolong, dia adalah laki-laki yang tadi bersama Ratna. Tatapan Sisil pun pekat terhadap sosok laki-laki tersebut.


"Oh iya, dia kakak iparku!" ucap Elsa memperkenalkan Sisil.


"Ginanjar. " Laki-laki itu menyodorkan tangannya tapi Sisil malah melongo.


"Hai kak! " Elsa menepuk pelan bahu Sisil dan membuat Sisil tersadar.


"Eh, Sisil! " Sisil dan Ginanjar pun bersalaman.


"Kak, tunggu dimansion ya! "


"Kau tau aku akan kesana? " tanya Sisil sedangkan Elsa hanya tersenyum sambil meraih tangan Ginanjar.


"Baiklah, " Sisil pun keluar dengan seribu pemikiran di otaknya, tak tik apa lagi yang akan Ratna rencanakan? Kenapa Elsa terbawa?

__ADS_1


__ADS_2