Guru Dunia Akhirat

Guru Dunia Akhirat
Rindu yang Tersalurkan


__ADS_3

"Masshhh," desah Sisil di sela ciumannya, lalu tangannya meraih tangan Heru yang semakin memainkan puncak gunung milik Sisil untuk segera menghentikannya.


Heru pun melepasan pangutan mereka, kini mereka saling menatap, rasa rindu yang amat dari keduanya saling teruraikan. Kembali Heru menempelkan dahinya ke dahi Sisil, membuat kedua hidung mereka pun menyatu.


"Ini masih di sekolah, "lirih Sisil tersenyum.


"Ayo kita pulang!" Heru menarik pergelangan tangan Sisil, tapi diluar kelas terlihat seorang guru tengah berjalan dan akan memasuki kelas. Heru pun dengan sepontan menarik Sisil untuk bersembunyi di balik pintu, keduanya saling berhadapan, dengan Sisil yang bersandar di tembok.


Ternyata guru itu adalah guru BK, di mana dia tengah mengecek barangkali ada sesuatu di sekolahnya. Di saat guru itu membuka pintu, Sisil dan Heru pun semakin menempelkan badan mereka di balik pintu itu.


"Gak ada siapa-siapa di sini, kemana Pak Heru tadi? Perasaan jalan ke lorong ini, " gumam guru itu lalu kembali menutup pintu, sedangkan Heru dia sudah tidak sabar untuk menyentuh istrinya.


Ciuman kembali mereka lakukan, saling menyesap saling melilitkan lidah satu sama lain hingga mengeluarkan decakan nafsu mereka.


"Biar aku yang keluar duluan," usul Sisil melepaskan paksa ciuman itu. Tapi Heru tidak bergeming dia kembali mendekatkan mulutnya pada mulut Sisil sampai menarik tengkuk Sisil memperdalam ciuman itu, sebelah tanganya mulai menjelajahi tubuh Sisil.


Di bukannya kancing bagian atas seragam Sisil, setelah terlepas dan menampakan dua gundukan yang berlapis kacamata kain berenda, Heru segera menyembulkan isi dari kacamata itu menyesapnya kuat hingga Sisil pun berlirih dengan mata terpejam.


"Massshh, aku ini akh mas hentikan! " Sisil mencoba mendorong Heru, tapi Heru malah mengangkat kedua tangan Sisil keatas dengan tangan kanannya dan menekannya di tembok agar tangan Sisil diam.


Mulut Heru beralih menyesap setiap lekuk leher Sisil, hingga tangan kirinya mulai berkeliaran di bawah sana.


"Mas Hentikan! " hentak Sisil, dia merasa malu jika harus melakukannya di sana. Apalagi ini adalah sekolahan walupun mereka telah sah tapi Sisil merasa hal itu memalukan jika harus di lakukan di sekolah.


"Hanya untuk memegangnya yak, " tawar Heru dan mulai mengusap permukaan milik Sisil, di balik roknya.


"Nggak mas, hentikan nggak! "


"Aku sangat merindukan ini untuk berair sayang! "


"Yak aku nggak akan memberikan jatahmu nanti malam! " ancam Sisil dan hal itu sukses membuat Heru menghentikan semua aktifitasnya, dan mulai mengerucutkan bibirnya.


Sisil merapikan pakaian dan rambutnya, "Aku duluan pulang nanti kita ketemu di rumah saja, karena aku bawa motor, " ucap Sisil lalu begitu saja meninggalkan Heru dengan tatapan sedihnya karena dia belum menyalurkan keinginannya.

__ADS_1


"Jahat memang dia, yang sabar ya tong, nanti kita habisi kue apem itu! " Heru mengusap miliknya yang sudah seperti angka satu itu.


Sesampainya di rumah Sisil meletakan beberapa kantung plastik diatas meja makan, yang berisi bahan masakan.


"Sore ini aku akan memasakan sesuatu untuk Mas Heru," Sisil berjalan lalu memasuki kamar.


Beberapa menit berlalu, Heru pun sampai sambil membawa koper dengan gagahnya. Heru terlihat sangat bersemangat hari ini, tentu saja karena dia kembali kerumah dan ini pertama kalinya dia pulang dari perjalanan jauh dan akan disambut oleh sang istri. Perlahan Heru membuka pintu rumah, tapi tidak ada siapa pun, hingga akhirnya dia menuju kamar dan membuka pintu.


"Subhanallah, " kagum Heru melihat sang istri di hadapannya yang tengah mengeringkan rambut, serta handuk yang hanya melilit bagian inti tubuhnya saja. Sedangkan Sisil tidak mengetahui kedatangan suaminya itu.


"Gagal di sambut istri, tapi dapat sambutan yang lebih menggairahkan," gumam Heru, dia pun mendekati istrinya yang membelakanginya, lalu dengan cepat dia memeluk perut Sisil dengan manja.


"Mas Heru! " Sisil terkejut, dan spontan memegang handuk bagian atas yang akan terlepas.


"Hm, " seru Heru, menghirup wangi segar dari tengkuknya. "Lain kali kalau mau mandi atau sedang apapun itu, kunci pintu! "


"Maaf tadi lupa, " Sisil membenarkan handuknya, tapi Heru menahannya.


"Mas mandi dulu, mas udah ninggalin aku selama tiga hari pasti selama itu mas belum mandi! " Ucap Sisil, mencoba untuk melepaskan dekapannya.


"Aku setiap hari mandi, jadi hari ini absen ada kepentingan pribadi." Sahut Heru mengeratkan tangannya diperut Sisil.


"Hm, baiklah sekarang nggak ada absen-absenan! Mas harus mandi sekarang, aku akan dibaju dan memasak setelah itu," Sisil melepas paksa pelukan Heru.


"Di sini yang harus dipatuhi itu suami jadi jangan pernah membantah! " tegas Heru mengangkat tubuh Sisil lalu membaringkannya di ranjang, tidak peduli brontakan yang Sisil lakukan, Heru hanya ingin menyalurkan semua kerinduannya di sana.


Di tempat lain terlihat Ginanjar memandang seseorang dari kejauhan, seseoarang yang selama ini membuat pertemanannya hancur bersama Heru serta seseorang yang sangat dia cintai. Di depan gerbang sekolah TK, Ginanjar terus memperhatikannya.


"Aku tau aku cuma bisa meraihmu dengan pandangan bukan dengan tanganku, ku akui aku sangat bodoh karenamu walau beberapa kali kau membuatku sakit! " Ginanjar mengepalkan tangannya, kembali rasa takut itu menyelimuti hati dan pikirannya setelah mengingat kejadian malam tadi.


"Kenapa kau malah memilih Heru yang jelas-jelas tidak mencintaimu, " Heru bermonolog sendiri.


"Kau itu bodoh! "tiba-tiba suara laki-laki terdengar di telinga Ginanjar membuat dirinya pun menoleh.

__ADS_1


"Alga! " lirih Ginanjar hampir tidak terdengar.


"Apa? Kau melupakanku, walau aku pindah sekolah aku selalu mengingat kalian. Heru dan kau, " Alga tersenyum kecut.


"Dia bukan temanku! " tukas Ginanjar membuat Alga mengerutkan dahinya.


"Apa karena wanita yang tengah mengajar anak-anak itu? Kau tau dia siapa? " Alga melilatkan tangannya di dada.


"Dia, kau mengenal Wulan? " tanya Ginanjar dengan raut muka terkejut.


"Dia-" perkataan Alga terhenti saat suara nada dring di ponselnya berbunyi.


"Aku baru saja sampai sini dan akan melanjutkan kerjaku dirumah itu! " suara Alga, menjawab telepon itu dan membuat Ginanjar penasaran, karena pembicaraan itu begitu singkat.


"Sudah lama ada sekitar sepuluh tahunan aku tidak melihat mu, jadi kau kerja di mana sekarang? " tanya Ginanjar, sedangkan Alga tengah memasukan ponselnya ke dalam saku celana.


"Satpam, " dengan percaya dirinya Alga menjawab, membuat Ginanjat terdiam untuk sesaat.


"Aku kira kau akan menjadi tentara seperti yang kau inginkan,"


"Jauh dari keluarga itu tidak enak! "


"Kau dari dulu emang anak mami! "


"Keu meledeku! " Alga menatap tajam Ginanjar.


"Tidak, hanya saja sekarang aku tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan mu, kalau boleh tau kenapa kamu ke TK ini?"


"Aku menjemput anak,"


"Anak? "


"Ya anak ku! "

__ADS_1


__ADS_2