
Diruang penginapan pasien di rumah sakit, Sisil terlihat membuka matanya perlahan, di sana Heru nampak memegangi tangan Sisil seketika menoleh melihat istrinya yang sudah terbangun.
"Sayang, " Heru mengusap puncak kepala istrinya itu.
"Hm, " gumaman Sisil terdengar pelan di telinga Heru lalu Sisil pun terduduk pelan di kasur. "Aku ingin pulang, " suara Sisil terdengar parau, dia teringat kejadian tadi rasa kesal dan takut pun tercampur dalam dirinya.
"Tunggu sampai cairan infus ini habis, baru kita pulang,"bujuk Heru, lalu membelai pipinya, "Maaf atas semalam dan kesalah pahaman tadi," Heru menghentikan gerakan tangannya pada pipi Sisil.
"Mas tidak marah padaku? Mungkin aku hanya memikirkan diriku saja padahal aku sudah menjadi istri orang,Huh!" Sisil terlihat menunduk, dia sadar kejadian di sekolah tadi pasti hanya akal-akalan Ratna yang sekarang dia khawatirkan adalah kejadian semalam, dia masih teringat bagaimana marahnya Heru saat itu.
"Tidak apa, aku tau diri telah menikahi anak SMA yang mungkin belum siap untuk berumah tangga, sekarang aku akan lebih memperhatikan emosi ku lagi. "
"Mas, kau sudah benar ! Aku yang selalu membantah mu, itu salah! Kau juga ingin punya anak itu adalah keinginanmu dan itu wajar serta aku pun wajib mematuhi hal itu. "
"Kau juga ingin segera punya anak? "
"Tidak untuk sekarang, aku masih harus lulus SMA! "
"Jadi setelah lulus sekolah bisa langsung program bikin anak? " Heru bertanya dengan sangat antusias terlihat dari wajahnya yang menampkan senyum semuringah, tangannya memegang erat jemari Sisil.
"Hm, " hanya gumaman yang Sisil lakukan untuk menjawab pertanyaan Heru.
"Mungkin ini yang terbaik, tapi setidaknya aku masih bisa kuliah kan? " ucapan Sisil sepontan membuat raut wajah Heru berubah cemberut, tapi dia tepis setidaknya harus ada toleransi.
"Oke, baiklah! " sedikit berat dalam hati Heru.
Sisil kuliah itu memang keinginannya tapi Heru merasa kalau dirinya tidak akan di perhatikan, jadi dia sedikit tidak ingin istrinya itu kuliah. Tapi apa boleh buat ini untuk membuat sang istri senang.
"Tidak apa kan? Mas terlihat murung, apa aku tidak boleh kuliah? " kini malah Sisil yang cemberut.
"Bukan seperti itu, aku hanya memikirkan apakah kamu akan perhatian nantinya sama anak dan suamimu ini? " Heru sangat berhati-hati dalam menyampaikan perkataannya, takut salah.
"Aku akan usahain, hm... susah ya? Atau bagaimana nanti aja! " Sisil menggaruk kepalanya.
__ADS_1
"Mulai kapan istriku ini menjadi plin plan seperti ini, aku tidak menekankan hanya menginginkan sesuatu jangan di pikirkan. " Heru mencium kening Sisil.
"Bagaimana aku tidak kepikiran, Mas ini aneh sekali!" Sisil mencubit pinggang Heru, sedangkan Heru hanya tersenyum menanggapi.
"Pagi tadi kamu tidak serapan. jadi seperti ini kan! " ucap Heru menyelidik.
"Semalam Mas membuatku kesakitan dan sangat lelah juga membuatku bisa tidur jam 3 lagi, jadi pantas kesiangan! " jawab Sisil dengan ketusnya.
"Maafkan aku, " kembali maaf Heru terlontar, lalu dia pun mengecup bibir Sisil lembut.
Sisil menengadah melihat botol infus itu, "Air infusnya sudah habis, aku ingin pulang,"
"Baiklah aku akan memanggil dokter. "
Didalam sebuah mobil silver Elsa sendiri mengendarainya, masker yang di pakainya dengan paksa ia buka dan membantingnya ke kursi disebelahnya.
"Mereka semua hanya orang asing bagiku, aku tidak usah kepikiran hal-hal aneh tentang mereka! " gumam Sisil
Mobil telah sampai di gerbang rumah Heru dan Sisil, Elsa berniat mampir setelah pulang dari kampus karena sang ibu menitip bingkisan untuk mereka. Bunyi klakson terus Elsa tekan tapi tidak ada siapa pun yang menghampirinya untuk membuka gerbang itu.
"Apa dia tuli? Padahal bunyi klakson itu sangat keras, menyebalkan! " Elsa pun membuka gerbang yang tidak di gembok itu, lalu mendorongnya hingga peluhnya keluar.
"Mas Heru beli gerbang berat amat, mana tinggi banget lagi huh...cape! " Elsa mengibaskan tangannya ke leher, karena merasa gerah dan kakinya mulai menghampiri Alga.
"Itu bagus! Ginanjar bisa bersama denganmu lagi, tapi untuk mengambil Ulan dari ku untuk saat ini kalian tidak bisa!" Suara tegas itu terlontar dari mulut Alga, ternyata dia lagi menerima telepon dari Wulan.
Elsa yang mendengar nama Ginanjar disebut, menghentikan kakinya dan malah terdiam di balik tembok lalu bergumam dengan dirinya sendiri, "Apa yang di maksud Ginanjar si mantan itu? "
"Atas perbuatan mu beberapa orang terluka karenamu, selain Ulan! Heru pun menjadi sasaran amarah kalian kan! " ucapan Alga, membuat Elsa membungkam kedua mulutnya agar tidak berteriak. "Bahkan istri Heru pun menjadi sasaran balas dendam konyol Ginanjar, itu alasannya karena kamu!"
Alga terlihat akan mematikan telponnya tapi suara di sebrang sana sangat nyaring berkata, "Aku tau kau selama ini menjadi satpam hanya pura-pura aku ta-"
"Bagaimana pun ancaman mu, aku tidak peduli yang terpenting aku tidak akan memberikan Ulan untuk saat ini! " Alga mematikan paksa sambungan teleponnya, dia pun terlihat berbalik dengan gontai, pikirannya sedang tidak baik hingga dia pun memukul tembok dengan tangannya karena kesal.
__ADS_1
"Aw, arrghhh" erang Alga mengibaskan tangannya. Alga pun kembali melanjutkan langkahnya hingga berbelok dia menemukan Elsa yang tengah pura-pura menelepon seseorang.
"Nona? Ada yang bisa saya bantu? " tanya Alga lalu menghembuskan nafas panjang menenangkan hatinya.
"Ah, tidak aku hanya sedang mencarimu dan kebetulan kamu disini, aku mau memasukan mobil berat rasanya mendorong gerbang itu, " ucap Elsa menyimpan ponselnya ditas, Alga pun tersenyum.
"Maaf tadi ada telpon, "
"Aku tau! " Elsa spontan.
"Nona pasti sudah mengetahui pembicaraan ku?"
"Hm, "
"Apa perasaan nona setelah mendengar percakapanku barusan,"
"Ternyata kau bukan duda, " gumam Elsa sangat pelan hingga yang terdengar Alga hanya gumaman tidak jelas.
"Apa? " Alga penasaran.
"Ah! itu aku jadi penasaran apa hubungan kau, Mas Heru sama Ginanjar. Karena aku sempat menjadi sasaran Ginanjar. " jawab kaku Elsa, untung Alga tidak mendengar jelas gumaman tadi.
"Maksudmu? "
"Akh itu masa lalu, tapi itu menyangkut keselamatan kakak iparku. Entah lah aku juga bingung, hari ini banyak sekali kejadian aneh terlihat oleh ku! " Elsa pun tersenyum di paksakan sehingga terlihat seluruh giginya. Entah bagaimana Elsa kini malah meraih tangan Alga.
"Aku sangat sayang sama anak itu, aku tidak mau kehilangan dia untuk saat ini! " ucap Heru, dan sedikit gugup karena perlakuan Elsa tiba-tiba seperti mengerti keadaan hati Alga sekarang.
"Aku tidak memikirkan perasaanmu, aku hanya kasihan sama tangan ini pasti sakit mana keluar darah lagi. " Elsa melepaskan genggaman tangannya, dan sukses membuat Alga menepuk keningnya.
"Maaf, saya sudah terbawa suasana, " ucap Alga malu. Sedangkan Elsa hanya tertawa tertahan dan segera meninggalakn Alga. Setelah agak jauh Elsa berbalik dan berteriak.
"Bukakan gerbang untukku! "
__ADS_1
"Baik! " jawab Alga lalu berlari menghampiri gerbang.