
Ginanjar dan Wulan terlihat turun dari mobil dan menatap bangunan polisi itu, sedari tadi sebenarnya Ginanjar ingin menanyakan kenapa Wulan memintanya mengantarkan ke sini?
"Makasih! " ucap Wulan dan beranjak berlari tapi lengannya ditarik oleh Ginanjar.
"A apa? " tanya Wulan gugup karena kini dirinya tepat seperti bersandar di dada bidang Ginanjar.
"Ada perlu apa kemari? " tanya Ginanjar sedikit membungkuk mensejajarkan bibirnya ketelinga Wulan, sedangkan Wulan yang merasakan hembusan nafas Ginanjar di buatnya geli dan bergidik sehingga dengan paksa Wulan mendorong dada Ginanjar kuat.
"Ratna, dia membuat masalah! " jawab Wulan dan berlari meninggalkan Ginanjar dengan senyumnya.
Wulan tiba di ruang Ratna di sel, di sana pun sedah ada sang bibi yakni ibunya Ratna terlihat dia tengah menangis.
"Ini semua salah Mas Pandu, yang memaksa anak ku harus berkencan dengan pemilik lestoran itu! " ucap bibi setelah Wulan datang, Wulan pun memeluk bibinya itu walau dulu dia juga sering diabaikan oleh sang bibi, tapi Wulan sadar bagaimana pun dia adalah saudaranya yang telah menampungnya di kala terpuruk dulu
"Emang apa yang telah Ratna lakukan?" tanya Wulan melepaskan pelukannya dan duduk di samping sang bibi.
"Dia di tuduh telah merencanakan pembunuhan pada keluarga Heru!"
"Apa! " pekik Wulan dia sangat terkejut mendengar penuturan ibunya Ratna itu.
"Dia menaruh ular berbisa di dalam mobil Heru, aku tidak menyangka Ratna, anakku yang manja dan periang itu melakukan hal itu! " kembali sang bibi memeluknya erat dengan sesegukan, dia sangat terpukul anak semata wayangnya harus mendekap di sel tahanan.
"Terus bagaimana dengan keluarga Heru? "
"Mereka selamat karena seseorang dari mereka dengan cepat menyadari ada ular di dalam mobil itu. Semua bukti mengarah pada Ratna dan temannya itu, sehingga kini Ratna di ponis penjara 2 tahun," terang bibi, sedangkan kini Wulan hanya diam dia tidak bisa berbuat apa-apa.
" Bibi Bisakah aku menemui Ratna?" tanya Wulan dan sang bibi pun hanya mengangguk.
Wulan pun melangkahkan kakinya menghampiri jeruji besi yang di dalamnya terdapat beberapa wanita, dan terlihat disana Ratna tengah menangis sambil duduk dan memeluk lututnya.
"Ratna! " seru Wulan, dan semua wanita yang berada di dalam sana menoleh pada Wulan. Sedangkan Ratna hanya diam seakan tidak mendengar ada yang memanggil.
"Ratna! " kembali Wulan memanggil keponakannya itu, sehingga Ratna pun menghampiri Wulan yang terhalang besi.
"Apa? kau mau menertawakanku? Silahkan? " ucap Ratna dengan suara paraunya, sedangkan kini Wulan terlihat iba melihat Ratna.
"Tidak aku ke sini hanya ingin bertemu denganmu, "
__ADS_1
"Sana pergi! Kau sudah melihatku kan! " Ratna pun kembali ke ujung tembok dan duduk.
"Ingatlah Ratna aku selalu ada untuk mu! Ambil hikmah nya dari semua perbuatanmu! " ucap Wulan lalu pergi, dan Ratna pun terlihat meneteskan air matanya.
Sedangkan di mansion milik keluarga Bastian, Alga tengah duduk dengan canggung di sofa.
"Nak Alga lama tidak jumpa," sapa Lina yakni mamanya Elsa.
"Iya tante, tante apa kabar? Ini ada kue tart kesukaan tante, " Alga menyodorkan bingkisan pada Lina.
"Wah kamu masih mengingat kue kesukaan tante, " Lina menerima bingkisan itu, dia senang karena sahabat anaknya itu berkunjung kemari, seperti anak yang telah lama merantau dan baru pulang.
"Iya tante aku selalu mengingatnya, "
"Kamu memang dari dulu suka membuat aku terkesan, apa kamu kemari merindukan mama? " tanya Lina membuat Alga mengusap punduknya dan tersenyum kikuk.
"Ah ia aku merindukan tante dan om sama... "
"Assalamualaikum," terdengar salam dari arah pintu membuat Lina dan Alga menoleh.
"Anak mama udah pulang? Tumben, biasanya suka mampir dulu ke rumah Heru," ucap Lina pada anak perempuannya itu.
"Lah Mas Alga! " terkejut Elsa dan membuat Alga tersenyum kepadanya.
"Ngapain ke sini mau nanya lagi aku ingin jadi kekasih mu? Hah aku masa bodo dengan pekerjaanmu yang penting halal ya kan! "
"Hus! Kamu bicara sembarangan dia tamu kita, sahabat kakak mu! Dia ke sini karena merindukanku dan lagi kapan kalian bertemu? Apa yang kau ucapkan itu benar Sa? " ucapan dan pertanyaan sang mama membuat Elsa sendiri gelagapan, pasalanya dia bingung dengan jawabannya dia telah salah bicara di hadapan sang mama.
"Ah itu... " Elsa menggantungka ucapannya dan melirik Alga yang terlihat acuh.
"Dasar laki-laki ini! " gumam Elsa, merutukinya dalam hati.
"Aku sempat bertemu dengannya di rumah Mas Heru, yah disana, " sambung pembicaraan Elsa tapi jawaban Elsa tidak memuaskan Lina.
"Hah dasar anak muda, sekarang aku mengerti biar mamah meninggalkan kalian! "
Sebelum Lina beranjak Heru dengan sigap berkata, " Mah tunggu ada yang aku mau bicarakan! "
__ADS_1
Lina pun kembali duduk beda dengan Elsa, dia berjalan untuk meninggalakan Alga dan sang mama.
"Mah sebenarnya aku ke sini untuk melamar Elsa, aku sudah lama menyukainya! " ucap Alga dan sukses membuat Elsa menghentikan langkahnya.
"WHAT! " pekik Elsa keras, dan kembali melangkah menghampiri Alga dan Lina.
"Yak! Bercanda mu itu Mas garing banget! "
"Aku sungguh menyukainya tante dan aku juga tau Elsa pun sebaliknya menyukaiku! " Ucap Alga, masih menatap Lina walau Lina sendiri hanya melongo.
"Hai! Kau sekali lagi mengatakan hal yang-"
"Mama setuju! " ucap Lina membuat pandangan Elsa dan Alga menoleh kepadanya.
"Mah! " teriak Elsa.
"Anakku sudah besar, sudah ada yang menyukainya mamah jadi terharu. Nak Alga mamah percaya padamu mama tau kau dulu dan sekarang pun kamu masih menghormatiku. Aku percaya pada mu nak! " Lina menghampiri Alga dan duduk di sebelahnya sambil menggenggam tangan Alga.
"Mah Alga janji, Alga akan berusaha untuk membahagiakan Elsa. " Alga membalas genggaman Lina.
"Ah kalian berencana ngepreng aku kan, aku mana bisa di bohongi! "
"Elsa bukankah aku dulu pernah mengatakannya. kamu tidak percaya padaku dan aku membuktikannya sekarang aku langsung bilang mama agar kamu percaya, aku sangat sayang padamu Elsa! " jelas Alga membuat Elsa menunduk.
"Baiklah kalian perlu bicara!" Lina pun meninggalakan Alga dan Elsa.
"Maaf Mas aku masih mempunyai luka di masa lalu! "
"Aku bukan Ginanjar, jadi jangan samakan aku denganya! Apa aku melamarmu belum cukup membuktikan keseriusan ku padamu? " Alga menghampiri Elsa.
"Tapi Mas, ini terlalu terburu-buru dan aku-"
"Percayalah padaku, jangan samakan laki-laki yang menyakitimu dengan ku karena aku sangat jauh untuk bisa menyakitimu, aku benar-benar sayang sama kamu. Aku bisa menjadi seperti ini karena aku selalu memikirkanmu, saking aku mencintai mu aku pajang fotomu besar di kamarku agar aku tidak kendor menjadi sukses dan bisa mendapatkanmu!" jelas Alga sedangkan Elsa hanya memandang Alga.
"Kau memajang foto ku di kamar mu Mas, kau kurang ajar sekali! " sinis Elsa.
"Ya ampun Elsa," Alga menepuk keningnya, dia tidak habis pikir dengan Elsa tapi hal itu tidak menyulutkan Alga hingga,
__ADS_1
Cup
"Percaya lah, nanti malam keluargaku kemari untuk meminang mu! " ucap Alga lembut, dan Elsa pun hanya menganga tak percaya sambil memegang dahi yang di cium Alga tadi.