Guru Dunia Akhirat

Guru Dunia Akhirat
Pengawal Tersembunyi


__ADS_3

Diruang leb kimia nampak dua insan yang sedang dinaungi asmara cinta, suara decakan dari mulut mereka terdengar indah diruangan itu dan setiap sesepan yang mereka lakukan terhadap bibir, terasa sangat manis seakan tidak bisa berhenti dan menjadi candu bagi yang melakukannya. Peraduan mulut yang sangat mendebarkan hati dan membangkitkan gairah.


Tak terasa kini Heru mulai mengelus dua gundukan putih dan indah itu, yang memiliki puncak yang sangat curam hingga membuat Heru jatuh kepayang saat memasukan puncak itu kemulutnya.


"MMm ashhh... " Suara eksotis Sisil memenuhi gendang telinga Heru, membuatnya menjadi bersemangat untuk terus menjelajahi gunung kembar itu.


"Yak! Hentikan! " teriak Sisil dengan susah payah, karena sebenarnya pemikiran sama nafsunya kali ini mempunyai pikiran yang berbeda.


Dengan terpaksa Heru pun menghentikannya, lalu mengaitkan pembungkus gunung itu dan mengancingkan baju seragam Sisil kembali.


"Aku tidak bisa kontrol kalau ketemu sama istriku ini, " Heru tersenyum.


"Sebenarnya aku juga! " sahut Sisil dan segera menutup mulutnya, membuat Heru tertawa.


"Kalau begitu mari kita lanjutkan! " usul Heru dan kembali menarik Sisil ke dada bidangnya.


"Nanti saja, " Sisil tersipu, entah kenapa dia menjadi seperti itu tidak semestinya.


"Kapan? Kita ke hotel yu? Aku ingin melakukannya di sana," ucapan Heru membuat Sisil menyentil hidung Heru.


"Buang uang," sahut Sisil.


"Nih! "Heru meletakan kartu warna black di meja.


"Ini untukku? " Sisil antusias sambil memegang kartu itu. " Ini kartu tanpa limit, apa benar ini untukku tidak akan menyesal?"


Ctakkkk


Heru menyentil dahi Sisil, "Seharusnya aku memberikan ini sedari awal kita menikah, tapi aku selalu lupa, "


"Sakit tau! " Sisil mengusap dahinnya dengan bibirnya yang sengaja dia pajukan.


"Jadi kita jadi malam ini ke hotel ya? " Heru menggetakan alisnya kepada Sisil.


"Baiklah. apa pun asal bersama Mas," Sisil pun tersenyum.


Tanpa mereka sadari dari celah pintu tengah ada yang melihat keromantisan mereka, Ratna! Dia lah orang nya yang kini berada di depan pintu leb, tangannya mengepal.

__ADS_1


"Pemandangan yang sangat menjijikan! Membuatku muak apalagi wanta itu begitu genit awas saja aku gak rela jika Pak Heru yang tajir itu milik orang lain! Gak apa mereka sekarang bersetatus tunangan, tapi nanti untuk seratus menikah hanya aku yang akan di posisi itu bersama Pak Heru," Ratna pun pergi, dia hanya bisa melihat keromantisan Sisil dan Heru tanpa memdengar apa yang di bicarakan mereka karean Ratna datang baru beberapa menit yang lalu.


Tringgggggg


Bel masuk berdering memberi tahu bahwa saatnya Sisil dan Heru harus berpisah.


"Aku akan ke lestoran dulu setelah sekolah, ada hal lenting di sana, " Heru mengelus lembut kepala Sisil.


"Baiklah hati-hati aku pergi dulu, " pamit Sisil berbalik tapi Heru malah menarik tangannya membuat Sisil kini berada di pelukan Heru.


Chu.....


Satu kecupan mendarat di kening Sisil, membuat yang di cium itu bersemu merah di pipinya.


"Tunggu aku di rumah! " ucap Heru melepas ciuman itu, dan hanya disahut anggukan oleh Sisil.


Jam demi jam pun belalu tidak terasa waktu pulang telah tiba, semua siswa terlihat berbondong-bondong keluar dari gedung itu. Sisil menghampiri motornya di palkiran, matanya menagkap seseorang yang sedari tadi merasa selalu memperlihatkannya. Hingga seseorang menghampirinya.


"Hai Sisil, apa kau baik-baik saja? Hati-hati di jalan ya alalagi cuaca mendung. " Ratna melambaikan tangannya pada Sisil lalu terlihat naik ke mobil hitam itu.


"Wah gawat! " Sisil panik, sedangkan laju motor semakin laju di tambah hujan pun semakin deras.


Terlihat di depan banyak kendaraan lain, untuk kali ini Sisil bisa menyalip dan terus menarik rem itu dengan sekuat tenaga. "Gimana ini bisa celaka! "


"Nona dengarkan aku! Belokan motor itu ke samping arahkan pada pohon besar di depan sana lalu lompatlah ke mobil ini! " tiba-tiba seorang laki-laki berjas berteriak dari dalam mobil bak terbuka itu.


"Aku tidak bisa! " Sisik tangannya gemetar.


"Cepatlah anda bisa! di saat motor itu akan menabrak, nona perlu melompat! "


Sisil dengan berani memfokuskan pada pohon besar itu, perlahan hampir mendekati. Dia mengarahkan motornya pada pohon itu, lalu dia pun berdiri di bagian depan motor dengan berani akhirnya Sisil melompat.


Brukkkkk


Suara motor yang menabrak pohon itu terdengar nyaring, untung nya di pinggiran jalan itu lahan kosong hanya ada pohon besar berjejer di sana. Nafas Sisil menggebu.


"Nona kau baik-baik saja?" tanya Laki-laki lain yang tadi mengkap Sisil saat Sisil melompat ke mobil yang memiliki bak terbuka itu.

__ADS_1


"Aku baik, kalian siapa? " Sisil duduk dengan lemas.


"Kami hanya orang lewat nona, " ucap laki-laki itu, Sisil terdiam untuk kali ini dia hanya bersyukur karena tidak terjadi apa-apa pada dirinya kecuali motornya mungkin sekarang sudah ringsek.


Tidak berapa lama Sisil tiba dirumahnya tapi hal itu makin membuat Sisil curiga, sedari tadi di jalan dia tidak pernah memberi tahukan alamat rumahnya tapi sekarang dia sudah berada di depan rumah.


"Kalian suruhan suamiku? " tanya Sisil, karena mana mungkin orang lain mau menolong apa lagi tau rumah Sisil.


"Tidak nona, " Ucap kedua laki-laki itu kompak.


Alga pun terlihat membukakan gerbang dengan payungnya.


"Anda baik-baik saja? " tanya Alga karena heran, pagi Sisil membawa motor ke sekolah dan sekarang malah di antar oleh orang-orang berjas itu.


"Aku baik, " sahut Sisil dan tanpa sengaja melirik anak kecil di pos itu.


"Siapa anak itu? " tanya Sisil menunjuk Ulan yang sedang menatap mereka.


"Dia anak saya, " jawab Heru dan Sisilpun mengangguk, hingga akhirnya Sisil akan memanggil kedua laki-laki yang menolongnya untuk di ajak mampir, tapi sudah tidak ada.


"Pasti orang itu suruhan Mas Heru, " ucap Sisil dalam hati.


Sisil membuka jas itu, lalu memasuki rumahnya di sana sudah ada bi Mimin yang menyodorkan handuk.


"Makasih Bi, " ucap Sisil meraih handuk itu lalu berlari ke kamarnya.


🌹🌹🌹


Di sebuah rumah yang besar tepatnya diruang kamar yang benuansa pink itu, terlihat Ratna tengah menelepon seseorang.


"Kau bisa di andalkan?" ucapnya, lalu perlahan senyumnya mengembang.


"Saya sudah melaksanakannya dengan rapi, jadi sisa bayarannya harus segera ditransfer, " suara sautan dari sebrang sana membuat Ratna senang mendengar orang suruhannya.


"Bagus, sekarang juga aku akan transfer uangnya. " Ratna mematikan sambungan telepon itu.


"Aku senang mendengar kamu celaka Sisil haha... "

__ADS_1


__ADS_2