
"Mas, panggil mas!" Ucap Heru tegas menekan setiap kalimatnya, membuat Sisil yang kini berada dipelukannya menatapnya lalu mengerutkan keningnya. "Ekspresi apa itu? " tanya Heru kemudian.
"Gak mau di sebut Bapak?" Sisil malah balik bertanya sesekali menggoda suaminya, boleh kali ya?
"Aku itu memang bapak rumah tangga kita dan akan menjadi bapak dari anak kamu sayang, tapi untuk saat ini aku pengen di bilang Mas. " Jawab Heru mengeratkan pelukannya pada Sisil.
"Aku belum punya anak Pak, " sahut Sisil membuat Heru sedikit geram dengan kelakuan Sisil ia pun menyambar bibirnya dengan kasar. Sisil yang diperlakuan seperti itu memukul punggung Heru keras.
"Aku bilang panggil mas! " terang Heru beralih mengelitiki pinggang Sisil.
"Iya ha ha iya tolong hetikan geli! iya Mas! " pasrah Sisil dengan menekankan kata Mas. Heru menghentikan aksinya itu terdengar nafas memburu dari Sisil.
"Kamu akan punya anak bersamaku Sil. " Tiba-tiba Heru berucap membuat Sisil melongo, lalu pikirannya melayang pada keinginannya di masa depan.
"Maaf mas, aku mau ngomong sama mas. hm... aku pasti akan memiliki anak sama kamu tapi, " Sisil menggantungkn kalimatnya takut suaminya marah, perlahan Sisil menatap lekat bola mata milik Heru lalu mengecup kening suaminya itu membuat Heru bingung dibuatnya. "Bisa kah untuk tidak saat ini. " sambung Sisil dengan sangat cepat mengatakannya.
"Oh begitu ya. " Sahut Heru santai membalikan badannya membelakangi Sisil.
"Apa Mas marah?" tanya Sisil tapi tidak ada sahutan dari Heru. Sisil mencoba menepuk pelah bahunya tapi tetap Heru tak bergeming.
"Maafkan aku, mungkin terdengar egois bagi kamu Mas tapi aku..."
"Kamu mau pakai alat kontrasepsi? Sampai kapan? " sederet pertanyaan Heru membuat Sisil terhenyak, kini dia terlihat bingung dan ragu.
"Itu, aku juga belum menentukan batas waktunya. " Sisil malah membelakangi Heru mereka kini saling membelakangi. Sisil bisa saja bicara banyak soal masa depannya pada Heru, dan bisa aja bicara karena alasana meraka menikah ini sangat mendadak dan mana mungkin dirinya mengandung sedangkan masih bersetatus siswa SMA, tapi dia urungakn niat seperti itu, dia masih mempunyai pikiran dan hati untuk mengatakannya.
Terlihat Heru berbalik merangkul pinggang Sisil lalu memeluknga hangat, perlahan kepalanya ia sandarkan pada celuk leher Sisil mencium aroma meskulin yang wangi.
"Khm!" sedangkan Sisil hanya berdehem menahan rasa geli yang dia rasakan.
"Aku menikahimu begitu sangat cepat, aku tidak sabar ingin menjadikanmu miliku seutuhnya. Wanita yang selalu aku pikirkan, itulah yang aku rasakan pada mu Sil. Kata maaf memang yang harus aku ucapkan, ke egosinku membara saat kembali melihat mu. Tapi untuk kali ini aku gak akan menuruti ego ku, cukup! Aku tidak mau kehilangnmu Sil." Terang Heru membuat Sisil berbalik menelungkupkan tangannya pada pipi Heru mencari kebohongan pada bola mata coklat milik suaminya itu, perlahan senyuman Sisil terang menghiasi wajahnya.
"Sebegitunya cinta sama aku? Jadi aku akan memakan pil kb sekarang. " Sahut Sisil, memang sangat membuat geram ucapan Sisil ini. Heru pun sampai menjitak pelan kepala Sisil.
__ADS_1
"Kurang asem emang kamu! Setidaknya hargai perasaan orang!" hardik Heru membuat Sisil cekikikan.
"Maaf sayang jangan marah, makasih udah mengerti aku. Makin suka sama guru ganteng ini! " Ucap Sisil kegirangan memeluk posesif pinggang Heru.
"Tiga bulan saja!" Ujar Heru segera membalikan tubuhnya membelakangi Sisil lalu menyembunyikan seluruh badannya dengan selimut. Sedangkan Sisil hanya memanyunkan bibirnya.
"Ingin ku berteriak! " sahut Sisil dan memejamkan matanya, Heru yang berada di balik selimut hanya tertawa tertahan.
Pagi hari yang diawali dengan rintikan hujan itu membuat sebagian orang menjadi pemalas, Sisil yang terbangun itu kembali menarik selimbutnya tapi di tahan oleh Heru.
"Bangun ini udah pagi, harusnya kalau sudah subuh gak boleh tidur lagi! " ucap Heru.
"Ini masih pagi lagian hari ini tanggal merah jadi gak pergi sekolah," sahut Sisil masih memejamkan matanya.
"Tanggal merah bukan berarti harus bermalas malasan, cepat bangun sudah menjadi ibu rumah tangga kok masih malas. " Sindir Heru.
"Ia Mas ini udah bangun. " Sisil pun bangun dari kasurnya lalu berjalan gontai menuju kamar mandi.
"Gak usah makasih! " Sisil segera menutup kamar mandi menyisakan senyuman pada Heru. "Bisa lima jam dikamar mandi kalau sama dia. " kemudian gumam Sisil.
Di meja makan kini kedua orang tua Sisil melihat anak dan menantunya mendekat, senyum mereka pun mengembang.
"Sini na kita serapan bareng, " ajak Mirna. Kemudian Sisil dan Heru pun duduk berdampingan.
"Maaf mah, aku gak bantuan mamah masak. " Ucap Sisil membuat Mirna ketawa.
"Tumben minta maaf biasanya suka malas kalau di ajak masak bareng, gak apa yang masak sekarang si bibi bukan mamah." Sahut Mirna membuat Deni yang merulakan papah nya Sisil, dan Heru tersenyum.
"Hm, mamah memang gak bisa di ajak komproni. " Manyun Sisil lalu menyuapkan nasi goreng itu kemulutnya.
"Nak Heru papa dengar lestoran cabang yang berada di pusat kota mengalami sedikit kendala," Ucap Deni mengkhawatirkan mentunya itu.
"Kemarin udah saya bereskan pah,"
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu. "
"Memang Mas Heru selain jadi guru jadi pengusaha lestoran juga? " tiba-tiba pertanyaan Sisil mebuat semua yang ada di meja makan menatapnya.
"Sil kamu gak tau pekerjaan suami mu sendiri? " ucap Mirna gak percaya.
"Maaf mah, saya belum menceritannya pada Sisil, " sahut Heru lalu terliahat sepasang paruh baya itu menggangguk.
"Papa harap kalian bisa saling terbuka. " ucap sang papa membuat Heru tersenyum kikuk.
"Iya pah. " ucap Heru.
Sebenarnya sedari malam ada hal yang ingin Heru katakan pada istrinya itu perihal motornya yang berantakan itu, karena semalem membuat hatinya sesikit emosi dia mengurungkan niatnya. dan kini dia tidak sabar bicara denga Sisil, mereka tengah berada di ruang tv.
"Boleh kan kalau aku panggil sayang. " Heru mencairkan suasana membuat Sisil mengganguk mengiya kan.
"Hanya untuk dirumah saja ya Mas. "
"Tentu lah untuk saat ini." Ucapan Heru membuat mata Sisil mendelik.
"Sayang, kemarin motor kamu berantakan kenapa? " tanya Heru penasaran.
"Oh kemarin, jangan khawatir Mas, itu ada orang yang sirik sama aku jadi dia berusaha membuat aku kesal." Jawab Sisil santai sedangkan kini Heru yang menjadi kesal.
"Mulai sekarang berangkat dan pulang sekolah harus sama Mas, kalau ada apa-apa telepon langsung. Mas telah memasukan nombernya dan menjadikan nomor darurat,"
"Mas, soal berangat dan pulang sekolah itu, " ucapan Sisil menggantung.
"Gak ada bantahan! " tegas Heru.
"Terserah deh Mas, tapi jangan sampai depan sekolah atau palkiran ya, aku gak mau menjadi pusat perhatian satu sekolah. "
"Hm.... " Heru hanya ber hm ria, selalu saja membantah.
__ADS_1