
Buket bunga mawar yang indah di bungkus dengan plastik bergembar tanda cinta, nuansa merah dan aroma yang harum menyeruak di hidung Sisil. Bunga pemberian suami membuatnya sangat ingin bertemu walau baru di tinggal satu hari tapi rasanya sudah seabad.
Di taman sekolah, Sisil terduduk dibangku dengan temannya yakni Rina. Terlihat ponsel itu memebuat Rina tak bergeming, dirinya seakan hanyut dalam dunianya sendiri hingga Oliv menghampiri mereka pun dia tidak menyadarinya.
"Basreng balado! " sahut Oliv tepat di telinga Rina, tapi yang di panggil tidak merespon dia tetap fokus pada ponselnya.
"Hei Oliv! Kamu sedang jualan?" kekeh Sisil lalu Oliv pun tertawa.
"Nih kenapa? " Oliv menunjuk Rina.
"Kalau dia begitu sudah pasti ada yang menggangu ketenangannya!" sahut Sisil sambil terus mencium aroma bunga mawar itu.
"Bener-bener kalian! Yang satu sedang bucin yang satunya sedang galau, dan semua itu gara-gara laki-laki! Kalian tau aku yang jomblo mulai meronta! "Oliv duduk di samping Rina .
"Emang dia kenapa? Putus sama pacarnya? "Sisil menatap Rina.
"Mana bisa putus, dia gak punya pacar! Masa kamu gak tau? "Oliv menyahuti sambil memasukan potongan basremg balado milik Rina.
"Tadi kamu bilang gara-gara laki-laki? "
"Dia begitu gara-gata asistenmu itu, siapa namanya? " Oliv mengetukan telunjuk di keningnya, mencoba mengingatnya tapi nihil gak tau. Mana bisa tau! Laki-laki itu tidak menyebutkan nama malah kalau bicara ketus sekali.
"Namanya Rian! "Sisil menimpali, membuat Rina terdiam lalu menoleh ke arah Sisil.
"Hai Sisil! Bilang sama suamimu itu dan katakan pada sekertaris Rian kalau ngomong yang ada sopan-sopannya dikit, udah tua ngeselin lagi! " nada bicara Rina dengan kesal.
"Emang kenapa? " Sisil malah di bikin bingung sedangkan Oliv mulai mengibaskan tangannya ke muka.
"Nggak! " kembali Rina mengahuti dengan kesalnya.
"Awas benci jadi cinta! " ledek Sisil, sambil terus menepuk tangan Oliv karena sedari tadi tangannya terus menggoyangkan bahunya.
"Mana mungkin, aku gak suka yang tua-tua ya! "
"SISIL AIR! " teriak Oliv, membuat Sisil terkejut lalau menoleh, begitu pun Rina.
"Ha ha ha....... " Sisil dan Rina pun ketawa melihat Oliv, matanya melotot, keringat yang bercucurnan dan mulut yang merah serta lidah yang menjulur.
"Ketawa! Terus... huh,, terus... hah... " Oliv sangat susah untuk meredakan rasa pedas di mulutnya, hingga air matanya keluar.
"Nih!" Sisil segera memberikan botol mineral yang sudah dia buka tutupnya. Seketika Oliv meneguk air itu sampai habis tapi tetap dia masih kepedasan.
__ADS_1
"Hei Oliv! Tau gak tahan pedas kenapa kamu makan!" ucap Rina tapi tidak ada sahutan dari Oliv, karena Oliv kini terlihat berdiri sibuk mengibaskan tangannya ke mulut.
"Bentar! " Sisil berdiri lalu berlalu meninggalkan kedua temannya itu.
"Ngapain Sisil? "tanya Rina.
"Hah huh hah au, "
Memang ya Oliv ini, tau nggak suka pedas gak tahan masih saja dimakan tuh? Kalau sudah begitu siapa yang repot! Kasian kan! keluar air dari semua area mukanya, seperti hidung, mata, dari dahi sebab keringat.
Sedangkan Sisil dia terlihat sedang berada di kantin menunggu sesuatu yang dia pesan.
"Nih neng, " ucap ibu kantin menyodorkan segelas air hangat.
"Bu dibungkus saja jangan pake gelas. " ucap Sisil dengan senyumnya.
Setelah itu Sisil tidak sengaja melihat Ratna dengan seorang laki-laki di tempat palkir, karna kantin berada di samping tempat palkir hanya ada pembantas pagar besi yang berongga.
"Sama siapa dia? " Sisil menjadi penasaran, karena laki-laki itu tidak mengenakan seragam.
"Apa kakaknya,? Aduh aku jadi penasaran! "
"Neng! " panggil bibi kantin, Sisil pin sedikit terkejut karenannya.
"Duh kenapa jadi begini aku! " Sisil tentu saja merutuki dirinya sendiri, sebenarnya hatinyalah yang berkata harus seperti itu mengingat Ratna selalu membuatnya kesal.
Tanpa di sadari Sisil saat ini sudah berada di palkiran agak dekat dengan Ratna dan laki-laki itu. Tentunya di balik tembok sekarang Sisil berada sambil menenteng pelastik di tangannya.
"Aku tidak mau gagal! " terdengar suara Ratna, lalu laki-laki itu pun mengelus puncak kepalanya.
"Aku gak akan gagal sayang!" Laki-laki itu berucap dan hendak mencium Ratna.
"Ini di sekolah! " ucap Ratna, ternyata masih punya adab sekolah dia.
"Nanti pulang aku jemput! Kita bersenang-besenang sampai aku puas!"
"Baiklah aku juga rindu! " sahut Ratna, lalu terlihat tatapan aneh menurut Sisil di antara Ratna dan laki-laki itu.
"Baiklah aku pulang dulu! " pamit laki-laki itu mencium sekilas kening Ratna, membuat sang pemilik kening itu bersemu merah di pipinya. Laki-laki itu pun berbalik bersamaan Sisil pun berlari kecil meninggalkan palkiran itu.
"Sudah punya kekasih masih ngejar suami orang! Ada sesuatu yang dia rencanakan sama laki-laki itu. Haruskan aku waspada! " gumam Sisil dan terus berjalan sampai taman.
__ADS_1
Terlihat kedua temannya tengah duduk sambil memegang ponsel mereka, melihat Sisil menghapiri membuat keduanya menoleh.
"Dari mana? " tanya Rina.
"Nih air hangat! Aku sangat kasian sama kamu liv! " Sisil menyodorkan kantung pelastik itu ke Oliv lalu Oliv pun mengambilnya.
"Makasih tapi sudah dingin mulut ku! " Ucap Oliv.
"Minum Oliv, aku sengaja belain kamu sampai lari tadi loh. " Sisil menunduk sambil terus memikirkan sesuatu.
"Ia ia deh, " Oliv meminum air itu sampai habis.
"Sil" panggil Rina tapi tidak ada sahutan.
"Sil!" kembali Rina memanggil tapi tetap tidak ada sahutan darinya, akhirnya Oliv menyiku lengan Sisil baru dia pun menoleh.
"Kenapa? " tanya Rina heran.
"Tidak! "
"Kaya gak tau saja, dia kan lagi di tinggal sama paksu! " ledek Oliv.
"Hm, memang berapa hari dia kerja di luar kotanya? Kalau masih lama kita nginep di rumah kamu aja, biar nggak kesepian, ia kan Liv? " ucap Rina sambil mengedipkan matanya sebelah ke arah Oliv.
"Itu mah inginnya kamu aja Rin, aku tau kamu yang kesepian karena mama sama papamu lagi gak ada di rumah. " sahut Oliv membuat Rina cekikikan.
"Sil! sekertaris pak Heru itu kenapa nggak ikut kerja ke luar kota? Biasanya kalau bosnya kemana-mana sekertarisnya selalu ikut. " ucapan Rina tapi cepat di sahuti gelengan sama Sisil.
"Betul juga, biasanya seperti itu! "
"Hey kalian tidak akan membuat aku bimbang, dia 5 hari di sana kalau mau nginep ya nginep aja. " Sisil menoleh menatap kedua temannya itu.
"Baiklah Oliv, Sisil kalian kerumah ku dulu ntar ke rumah Oliv dan finis kerumah kamu Sil. " Rina kegirangan.
"Sil kamu hutang penjelasan sama kita, nanti ceritakan di rumah tentang bagaimana pak Heru bisa menjadi sua.. " ucapan Oliv terhenti karena Sisil membungkam mulutnya.
"Ini bukan saatnya aku menjelaskan apapun, ada hal penting yang aku pikirkan sekarang. " ucap Sisil serius.
"APA?" tanya Oliv dan Rina bersamaan.
"Ratna sedang merencanakan sesuatu!"
__ADS_1
"APA! " kini mereka terkejut membuat Sisil menutup kedua telinganya.
"Berisik! " Sisil berdiri lalu berjalan dan di ikuti oleh kedua temannya.