Guru Dunia Akhirat

Guru Dunia Akhirat
Ulang tahun Ginanjar


__ADS_3

Tiba waktunya makan, Sisil turun menuju ruang makan lalu di susul Elsa di belakangnya. Terlihat Lina tersenyum kepada anak dan menantunya itu.


"Sini duduk! " ucap Lina menepuk bangku di sampingnya kepada Sisil karena dia terlihat bingung mau duduk di sebelah mana. Sedangkan Elsa yang sudah terbiasa duduk di depan sang mama.


"Iya mah," Sisil pun duduk di kursi sebelah Lina.


Masakan yang berjejer rapih terhidang di atas meja yang panjang, berbagai menu masakan ada di sana. Sisil melihat ada potongan kue tart darinya terhidang di atas meja membuat bibirnya tertarik, membentuk senyuman.


"Baiklah semua sudah berkumpul mari kita berdoa. " Ucap sang Papa Bastian membuat semua orang yang berada di ruang makan tertunduk.


"Mari kita makan! " kembali sang papa bersuara.


Diruang makan yang hikmat itu hanya terdengar suara sendok dan garfu yang saling berbenturan, terlihat tatapan Elsa tajam ke arah Sisil. Sisil yang merasa diperhatikan Elsa hanya tersenyum. Dia tau kalau Elsa sudah terpengaruh oleh Ratna dan Ginanjar.


"Elsa, sayang kenapa makannya kasar begitu! " Lina yang melihat Elsa makan dengan tergesa serta suara sendok yang nyaring, membuat heran dengan sikap anaknya ini.


"Maaf aku ada urusan malam ini, jadi harus buru-buru! " Elsa menunduk pada piringnya, berusaha untuk segera menghabiskan makanannya.


"Baiklah, tapi jangan seperti itu juga nanti kamu.... "


"Uhukk uhuukk" Elsa terbatuk.


"Tuh kan belum mamah selesai bicara, sudah terjadi kan! " ucap sang mama.


"Ini, " Sisil menyodorkan segelas air putih kepada Elsa tapi tidak di terima olehnya, dia malah mengambil gelas sendiri.


"Aku pergi dulu! " Elsa berdiri dan segera meninggalakn meja makan, sedangkan Sisil kini masih memegang gelas berisi air itu.


"Sini biar mama yang minum, " ucap Lina meraih gelas di tangan Sisil.


"Mah.. " Sisil mencoba meraih kembali gelas itu, tapi Lina sudah meminumnya sampai habis.


"Kami tidak tau ada masalah apa kamu dengam Elsa, tapi tidak baik jika terus seperti ini, maka setelah makan bereskanlah permasalahan kalian! " tiba-tiba sang ayah bersuara, membuat Sisil menunduk malu.


Tiba waktunya malam, Sisil terlihat berbaring di kasur milik suaminya itu dengan memeluk guling yang hangat serta selimut yang tebal membungkus badannya.


"Kenapa Elsa bisa ketemu sama Ginanjar? Apa hubungan mereka baru? Benar-benar ratu kedongdong si Ratna ini, dilihat dari luar terasa menggiurkan padahal dalamnya penuh duri mana rasanya asam lagi." Gerutu Sisil mengeratkan pelukannya pada guling tersebut hingga Sisil pun mengingat sesuatu.


"Besok ada ulangan epaluasi, memang ya mama perhatian banget sampai semua buku sekolahku di bawa kesini, seperti mau pindahan saja, " Sisil bangun lalu menghampiri meja yang penuh dengan bukunya.


"Akhir-akhir ini aku jadi banyak pikiran gara-gara si kedongdong itu! " ucap Sisil membuaka bukunya.

__ADS_1


Dwarrr


Tiba-tiba terdengar letusan dari luar membuat Sisil seketika terdiam, hingga suara ketukan pintu meminta Sisil untuk segera membukanya.


"Elsa! " pekik Sisil setelah membuka pintu itu.


"Ikut denganku! " Elsa membawa Sisil keluar dengan paksa.


"Kau mau membawaku ke mana? "


"Aku menyuruhmu untuk membelikanku lilin berwarna di mini market! " ketus Elsa.


"Hari mulai malam Sa, "


"Baru jam sembilan, jangan manja! "


"Baiklah! " karena Sisil tidak mau banyak bicara lagi dengan Elsa dia pun mulai keluar dari mension itu.


Setelah Sisil tidak terlihat lagi, kedua orang tua Elsa pun keluar menghampiri anakanya itu.


"Elsa di luar ada apa? " sang mama kaget sedangkan, sang papa menuju keluar untuk melihat apa yang terjadi.


"Kenapa tidak di rumahnya saja El? " mama terlihat menghembuskan nafas lega.


"Di rumahnya tidak ada siapa-siapa mah, lagian cuma bertiga aja kok tidak banyakan. " alasan Elsa.


"Baiklah, dan jangan membuat keributan ini sudah malam. "


"Iya, iya! " sahut Elsa.


"Gak ada apa-apa kok mah di luar, " kemudian sang ayah berucap sambil menghampiri Lina dan Elsa


"Itu kerjaan teman Elsa dia mau ngadain pesta ulang tahun temannya di taman belakang," terang Lina, Bastian pun hanya mengagguk paham lalu kembali kekamarnya dan disusul Lina.


Di taman mansion milik keluarga Bastian, Ratna terlihat menatap kagum di sekelilingnya dia merasa tidak salah kalau Heru adalah incarannya secara dia sangat kaya.


"Kau akan melupakanku baby, jika rencana kita berhasil? " Ginanjar terlihat dibangku taman itu dengan dua kembang api di tangannya.


"Mana mungkin aku melupakanmu, aku hanya ingin uangnya saja." Sahut Ratna yang kini tengah mengeratkan jaketnya.


"Si Elsa itu lama sekali padahal kita hanya menyuruh supaya Sisil yang membeli lilin itu kan?"

__ADS_1


"Jangan pikirkan dia aku akan melanjutkan rencana kita! "


"Dipikir-pikir anak perempuan Bastian itu sangat bodoh ya, aku jadi ingin tertawa kalau melihat dia, "


"Dia itu sangat manja, terkadang aku juga sampai tidak tahan kalau dia sedang merajuk, " Ginanjar celingukan, melihat kondisi takutnya ada yang mendengar percakapan mereka.


"Kau begitu berperan dalam skenario ini beb, aku jadi tambah cinta. " Ratna menyenggol bahu Ginanjar.


"Ini tidak gratis baby, lagian hari ini bukannya aku sedang ulang tahun! " Ginanjar terkekeh menatap Ratna.


"Ulang tahun pala kamu! " sahut Ratna lalu mereka pun tertawa.


"Baiklah aku pergi dulu sebentar, " Ginanjar pun berbalik meninggalkan Ratna sendiri dengan kue di meja kayu itu.


"Sisil kau akan menerima apa yang sudah menjadi takdirmu, tidak ada yang bisa menghalangi keinginanku! " gumam Ratna, dan tidak lama Elsa pun datang dengan membawa cemilan.


"Mana Ginanjar? " tiba-tiba Elsa bertanya membuat Ratna terkejut.


"Di dia tadi membeli sesuatu sebentar juga dia kembali, dari kapan kakak berada di sana? " tanya Ratna cemas.


"Baru aku menginjakan kakiku kemari, kenapa? Kau takut? " ucapan Elsa membuat Ratna menghembuskan nafasnya lega.


"Ah tidak! Apakah Sisil sudah pergi untuk membeli lilin? "


"Dia terlihat baru berangkat dengan motorku, kau yakin akan mengajak Sisil untuk acara kita ini? "


"Aku rasa, walau dalam hati aku kesal sama dia tapi dia kan teman aku juga lagian kalau hanya kita bertiga kan kurang seru, ya intinya aku tidak mau menjadi obat nyamuk! " sahut Ratna, membuat Elsa menanguk.


"Apa kau benar kesal terhadapnya karena dia selalu menggoda guru di sekolah?" tanya Elsa sambil menata cemilan itu di meja.


"Ten tentu saja! Siswa lain yang berprestasi murni akan tersingkir oleh orang curang macam Sisil! Aku juga sering mendengar keluhan dari yang lainnya dan hal itu yang membuatku kesal tapi untuk kali ini aku berusaha untuk tidak begitu memikirkannya! " jelas Ratna menyungingan senyum jahatnya.


"Kenapa? " Elsa menoleh ke arah Ratna.


"Bukannya kakak ini pacarnya kak Ginanjar dan Sisil tunangan Pak Heru, kita akan menjadi keluarga bukan! " kekehan Ratna membuat Elsa sedikit mengerutkan dahinya.


"Apa kau yakin aku akan menikah dengan Ginanjar? " antusias Elsa, membuat Ratna membuang mukannya sesaat lalu tersenyum manis ke arah Elsa.


"Dia sangat mencintaimu kak! "


"Benarkah! "

__ADS_1


__ADS_2