Guru Dunia Akhirat

Guru Dunia Akhirat
Tentang Hidup


__ADS_3

Pagi hari disebuah kamar terlihat semua barang berserakan, bantal serta guling yang isinya berhamburan di mana-mana,figura yang menempel di dinding pun sudah tidak pada tempatnya lagi.Sedangakan Ratna yang memiliki kamar itu sendiri terlihat menunduk dengan duduk yang ditekuk dilantai, matanya melukiskan bulatan hitam dibawahnya menandakan bahwa dirinya tidak tidur semalaman di tambah bekas jejak air mengalir dipipinya menandakan dirinya tengah terpuruk.


"Kenapa dunia tidak adil kepadaku! Aku hanya menginginkan sesuatu kenapa begitu sangat sulit untuk di dapatkan! Aku ingin bahagia! Aku ingin hidupku berkecukupan!" teriak Ratna, sambil memecahkan pas bunga itu.


"Dunia ini terlalu kejam! Aku dibuat sengsara semenjak ayahku tiada! Ini tidak adil! " Ratna mulai melemparkan barang-barang didekatnya, dari semalam dia seperti tengah kerasukan sesuatu hingga sebuah pintu yang dibuka paksa itu terdengar memenuhi penjuru kamar.


"Ratna! Apa yang kau lakukan! " Wulan datang menghampiri Ratna, dia terlihat terkejut dengan keadaan yang berantakan itu.


"Bahkan kau juga membuatku menderita! " tiba-tiba Ratna berucap membuat Wulan mengerutkan dahinya bingung.


"Apa yang kau bicarakan! Aku hany-"


"Kau! Kenapa berubah, bukannya menjadi jahat dan licik sangat menyenangkan!" Ratna menatap tajam Wulan sambil tangannya memegang pisau kecil yang sempat ia ambil dari dalam laci dan membuat niat awal Wulan untuk menghardik Ratna karena masalah foto itu sirna, dia baru tau semalam dari Alga jadi dia berniat mendatangi Ratna pagi ini. Tapi sekarang suasana berbeda, ada apa dengan Ratna?


"Aku yang kurang perhatian dari keluargaku harus mencari kebahagiaan sendiri! Tapi dunia malah membuatku mendapatkan penderitaan!" Ratna mendekat membuat Wulan menelan ludahnya susah.


"Ratna tenangkan dirimu, kau bisa bicara pelan kita bahas bersama dan pecahkan masalahnya bersama. " Wulan mulai bergetar, Ratna semakin mendekat dengan pisau itu yang makin mengikis jarak di antara mereka.


"Apa kau bisa aku percaya, aku sudah membantumu juga kali ini ,pasti keluarga Heru itu mendatangimu kan! Gimana kau dihajar si Sisil sialan itu! Hah! Bahkan aku mendapat kabar semalam kau malah membuat mereka tenang, itu semua salahmu! Kenapa kau tidak berontak! Kenapa kau malah menjadi seorang pecundang, kau perlu pertanggung jawaban kan! Kau sengsara dulu gara-gara mereka kan! Anak yang kau kandung dulu pasti anak Heru, ada apa dengan kau ini hah! " Ratna berteriak dan nafasnya menggebu dia terlihat sangat berantakan.

__ADS_1


"Hentikan! " Wulan tidak kalah keras berteriak.


"Aku tidak akan berhenti! Aku tidak ingin seperti mu nantinya, aku akan mendapatkan apa yang harus menjadi milikku, yah benar aku hanya perlu membunuh si Sisil itu! " Ratna mengacungkan pisau itu hati Wulan menjadi bergetar, tatapannya terlihat kosong.Wulan tidak menyangka dengan kelakuan ponakannya itu, yang dulunya hanya seorang anak perempuan manja, dan selalu menebarkan senyum kini menjadi seperti seorang iblis yang berniat untuk membunuh manusia.


"Ratna dengarkan aku , tolong lihat lah! Aku memang peduli sebenarnya padamu, aku mengerti dengan yang kau inginkan! "Wulan meraih tangan Ratna dan mengelusnya lembut, mencoba menenangkan.


"Ibumu sibuk bekerja jadi jangan merasa kau tidak dipedulikan olehnya, dia bekerja untukmu dan sekarang aku juga akan menemanimu, " jiwa seorang guru itu seketika menguasai Wulan, seperti menenangkan anak kecil menangis lalu membujuknya.


"Seolah kau seperti benar-benar keluargaku sekarang! " Ratna berbalik lalu


Crssss


"Salah sasaran! " Ratna menaikan alisnya sebelah.


"Hentikan semua ini Ratna, sadarlah! " teriak Wulan lalu dengan berani mencabut pisau itu.


"Kau harus tau anak itu bukan anak Heru,memang dulu aku terlalu terobsesi dengannya berbagai cara aku lakukan untuk mendapatlannya, tapi dia bukan takdirku bagai manapun dia tidak akan menjadi miliku bukan. Jadi bisakah aku bicara padamu sebagai keluargamu? " perlahan Wulan mendekati Ratna sambil melipat pisau itu dan memasukannya ke dalam saku jaket.


Ratna perlahan menunduk lalu duduk dengan lunglai di atas kasur, Wulan yang melihat itu merasa bersyukur.

__ADS_1


"Bahagia dan sedih semua itu tergantung dari diri kita sendiri, mau dibawa kemana hidup kita itu semua ada pada diri masing-masing. Memang lingkungan yang berdampak, tapi kita harus mempunyai keyakinan diri. Kau merasa terhina, merasa terkucilkan, merasa tidak disayangi coba pikirkan lebih mendalam kau masih bernafas itu merupakan rasa sayang dari tuhan hanya kamu nya saja yang dibutakan oleh lingkungan," Wulan melirik Ratna yang masih menunduk, dia meraih kedua tangannya.


"Kau benar, jangan seperti ku! Aku pun sependapat, tapi bukan seperti itu caranya karena hal itu akan lebih membuatmu merasakan kesediahan dan ketidak tenangan yang sangat mendalam. Kita hidup hanya perlu mementingan diri kita saja, jangan biarkan orang lain masuk mempengaruhi, kuatkan hatimu! Menerima nasib dan keadaan akan merasa ringan jika kita percaya diri dan mengacuhkan lingkungan, terserah orang-orang akan mencemooh kita sehina apapun! Ingat lah mereka hanya bisa menghina, tanpa bisa mengoreksi diri. " ucapan Wulan sukses membuat Ratna menoleh lalu mengerutkan dahinya.


"Kau menasehatiku! Bagaimana denganmu! " Ratna tersenyum mengejek, sedangkan Wulan hanya bisa menghembuskan nafasnya.


"Mencari solusi masalah itu lebih baik dari orang yang sudah mengalaminya, jadi dia bisa tau mana yang harus dilakukan mana yang harus dihindari dan bisa membedakan mana yang terbaik untuknya." Ratna sedikit mengaduh karena rasa sakit di bahunya.


"Kau bilang peduli padaku! " Ratna mendengus kesal.


"Aku telah mengalami keburukan sangat buruk dalam hidupku, bukannya kau tau bukan? Aku bicara panjang lebar seperti itu hanya ingin membuka hatimu agar tidak sama sepertiku, itu bisa di katakan peduli kan? Cobalah untuk berhenti mencari tau sesuatu yang tidak perlu kau tau, itu akan membuatmu jauh lebih tenang.Sebelum terlambat aku akan mengatakan kepadamu, Setiap orang bisa berdamai dengan lukannya tapi tidak semua orang bisa sembuh dari traumanya! Jangan sampai membuat dirimu terjerumus lebih dalam lagi. Bahagia bisa dirasakan jika kita iklas dalam menghadapi hidup ini, bahkan tidak semua orang menganggap kekayaan simbol dari kebahagiaan! " Wulan berbalik dan melangkahkan kakinya meninggalkan Ratna yang tengah menunduk.


"Kau tidak sendiri, dekatkan diri pada tuhan maka kau akan sadar masih ada yang menyayangimu! Aku pergi jangan berbuat hal yang merugikan diri sendiri, jika berkenan kau bisa mampir ke kontrakanku! " ucap Wulan sebelum benar-benar meninggalakan kamar itu.


Wulan sangat lega sekarang, hidup yang begitu menyakitkan dulu menjadi pelajaran berharga untuknya, hingga seorang wanita paruh baya menatap nanar dibalik pintu keluar.


"Wulan! " suara familiar itu memenuhi pendengaran Wulan, dia pun menoleh.


"Bunda! "

__ADS_1


__ADS_2