
Suara balpoin pada meja menyeruak memenuhi ruangan yang kini berada beberapa orang didalamnya, tidak ada yang bersuara hanya saling pandang dan saling menyiratkan rasa amarah. Di ruangan yang luas dengan nuansa abu hitam itu, Heru yang berada di kursi kerjanya menatap seseorang yang di kenalnya saat sekolah menengah yang kini berada satu ruangan bersamanya.
"Apa yang kau inginkan? " Suara Heru memulai pembicaraan, dengan masih mengetukan balpoin.
"Aku? Aku ingin melihatmu menderita!" ucap tegas Ginanjar, yang kini berada di depan meja Heru bersama ke empat kawannya.
"Atas dasar apa kau menginginkah hal yang tidak mungkin!" seru Heru menatap tajam Ginanjar.
"Tidak ada yang tidak mungkin! Kau menikahi anak kecil itu dan mengabaikan perasaan wanita yang sampai kini masih berharap terhadapmu! "
"Tidak ada yang mengharapkanku! "
"WULAN! Dia selalu menunggumu, apa kau begitu saja melupakannya!" teriak Ginanjar, seketika Heru berdiri dan mendekatinya.
"Bukankah kau bilang dia kekasihmu! Mau sampai kapan kau membahasa wanita itu, aku tidak mencintainya sedari awal, dan jangan pernah mengaitkan hal menjijikan ini dengan Sisil. Dia tidak tau apa pun tentang hal ini! " sahut Heru dengan kalimat akhir yang dia lantangkan.
Bukhh
"Ini adalah ganjaran buat kamu karena Sisil hampir celaka oleh mu! " Heru menghembuskan nafas kasar lalu mengusap mukanya, sedangakan Ginanjar terlihat terduduk di lantai sambil memegang pipinya yang dipukul Heru.
"Apakah sebegitu berartinya wanita kecil itu untukmu? Sampai kau memukulku, aku jadi semakin ingin membuat wanita itu terluka dan-"
bukk
bukk
"Jangan pernah berharap kau mau menyelakai Sisil, ingat! Aku tidak akan membuatmu menyentuh istriku walau hanya seujung rambutnya pun," Heru sudah terpancing amarah, dia memukul Ginanjar beberapa kali.
"Ha ha ha, kau itu sangat lucu. Aku akan semakin berusaha untuk membuat seujung rambut yang aku tidak bisa sentuh, menjadi beberapa tubuh yang akan aku sentuh. "
__ADS_1
"Kau! "
"Kenapa? Aku berhak marah padamu, gara-gara kamu aku menjadi tidak bisa merasakn kebahagian pada Wulan. "
"Kau itu laki-laki yang suka di manfaatkan Ginanjar! Kau menginginkan bahagia bersamanya? Mustahil, dia itu bukan wanita baik, dia hanya bahagia jika menemukan pria kaya yang bisa memenuhi semua keinginannya!"
Bukkk
"Jangan mengatai Wulan seperti itu, kau mengerti! " teriak Ginanjar dengan rahang yang mengeras menahan amarah.
"Aku menyesal pernah berteman denganmu, hanya karena wanita kau membenciku dan melupakan apa yang pernah kita lalui ingat lah sedari dulu aku selalu mengalah untuk mu. Tapi kali ini aku juga sangat membencimu, kau telah melukai istriku aku tidak akan membiarkanmu!" ucap Heru memegang sudut bibirnya yang berdarah karena di pukul oleh Ginanjar.
"Bawa mereka keluar! " teriak Heru, lalu terlihat asisten Rian masuk bersama beberapa pria ber jas hitam.
"Aku bisa keluar sendiri, ingatlah! Wulan adalah prioritas pertamaku dia adalah hal yang paling penting untukku jadi aku akan melakukan apa saja asal dia bahagia."
"Kenapa kau tidak menikahi dia saja? Apa karena dia tidak mencintaimu? Aku kasih saran jadilah orang yang paling kaya menurutnya dan kau bisa membuat dia bahagia," senyum meledekpun keluar dari raut wajah Heru. Sedangkan Ginanjar begitu saja berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu.
"Kau sangat kejam Ginanjar! " ucap Elsa, matanya mulai berkaca. Ginanjar yang sudah beberapa minggu menjadi kekasihnya itu ternyata ada maksud lain di balik hubungannya itu.
Ginanjar tidak bergeming dia terus melangkahkan kakinya meninggalkan Elsa, dan hal itu membuat Elsa geram.
"Ginanjar! " teriak Elsa dan tetap Ginanjar tidak memberi respon. Hingga Elsa berlari menghampirinya lalu meraih bahunya hingga Ginanjar berbalik dan menghentikan langkahnya.
Plakkkkk
Elsa menampar pipi Ginanjar, "terima kasih kau telah mempermainkan perasaan ku, aku akan menjadi lebih berhati-hati lagi!" Dengan suara bergetar menahan tangis Elsa begitu saja berlari menjauh dari Ginanjar.
"Wanita bodoh! " gumam Ginanjar dan kembali melanjutkan jalannya.
__ADS_1
Elsa terlihat sangat sedih dan terpukul, dia baru saja memberikan hatinya yang tulus pada laki-laki yang dia anggap awalnya adalah yang terbaik, ternyata Ginanjar sama saja dengan laki-laki lainnya.
Di dalam mobil Elsa terus saja menangis, air mata itu seakan berlomba untuk keluar melewati pipinya yang putih mulus. Tanpa dia sadari ada seseorang yang akan dia tabrak di depannya. Elsa yang terkejut seketika menepikan mobilnya dan untungnya jalanan itu terlihat sepi.
"Woy buka pintunya! " teriak seorang laki-laki berseragam satpam itu menggedor kaca mobil depan, Elsa pun membuaka kaca mobil itu dengan ragu.
"Kau hampir membuat ku mati! Kau lihat kakiku berdarah dan jalanku menjadi pincang karena mu! Kau harus ganti rugi! " teriak Satpam itu malah membuat Elsa menangis dengan keras.
"Kenapa hari ini begitu sial! Kenapa aku begitu bodoh kenapa? " gak kalah berisiknya teriakan Elsa dari satpam tadi, Elsa merasa hari ini adalah hari yang bermasalah hingga satpam yang hampir dia tabrak pun jadi kena amarah Elsa.
"Kalau kau merasa bodoh jangan mengemudikan mobil dulu, sana pakai sepeda aja yang gampang. Aku tidak butuh air matamu, kau jelek sekali menagis di tengah jalan tanpa alasan, harusnya aku yang nangis karena kesakitan tapi aku adalah laki-laki jadi mana mungkin menangis, apalagi di hadapan wanita gila ini! "
"Bahkan kau menyebut ku gila, aku tidak sengaja menabrakmu lagian kamu nggak mati kan! aku hanya perlu memberi mu uang! " Elsa merogoh tasnya.
"Mana dompetku? " gumam Elsa sambil terus mengobrak abrik tasnya.
"Hey nona jangan sok kaya kalau kenyataanya melarat, "
"Jaga bicaramu! " kembali Elsa berteriak sambil melemparkan ponselnya tepat di kepala satpam itu yang terlihat masih muda dan sedikit menawan.
"Dasar wanita gila! Baiklah aku akan membawa ponsel ini sebagai ganti rugi karena kakiku berdarah, makasih. " Satpam itu sedikit berlari dengan sebelah kakinya berdarah karena terserempet mobil Elsa tadi.
"Woy kembalikan ponselku! " Elsa keluar dari mobilnya lalu mengejar satpam itu
"Waw, ponselnya bagus sekali kayaknya ini mahal soalnya di bagian belakangnya ada gambar apel bekas digigit, mudah-mudahan ini asli biar aku jual ke konter dan bisa untung banyak," gumam satpam itu di tengah lariannya hingga sebuah motor berhenti di hadapannya.
"Dek kamu sangat mengerti sekali, pas banget." ucap satpam itu segera menaiki motor itu, "Cepat jalan! " Satpam itu menepuk bahun yang dipanggil dek olehnya.
"Hei! Tunggu jangan kabur itu ponselku, hey! " Elsa terus berlari hingga dia kesal karena satpam itu telah jauh dari pandangannya.
__ADS_1
"Arragghhhh," erang Elsa menjambak kepalannya prustasi.